Hasil Lomba Burung Presiden Cup 2

Even Presiden Cup yang dikemas BnR pekan lalu di Parkir Timur Senayan Jakarta boleh dibilang jadi semacam pesta akbarnya kicau mania tahun ini. Inilah hasilnya.

Perlu catatan harian penangkaran

Penjodohannya pun tidak mudah, sebab membedakan jantan betina pun tidak gampang. Butuh pengalaman dan kepekaan untuk memastikan jenis kelamin. Banyak sekali kasus breeder pemula gagal.

Kendala selalu ada, tetapi bisa diatasi

Penelurusan ke sejumlah breeder cucakrawa, disebutkan bahwa kendala yang harus dihadapi sesungguhnya cukup banyak. Namun kendala-kendala ini ternyata tidak pernah menyurutkan para breeder, karena biasa diatasi.

Cucakrowo perlu ketenangan dan multivitamin

Meski ada pemodal kelimpungan ketika ikut-ikutan mencoba beternak cucakrowo namun ada saja breeder yang tersenyum lantaran modal yang dikeluarkan relatif sedikit tetapi hasilnya berlipat-lipat.

Harga burung saat ini

Harga burung di wilayah Solo dan sekitarnya (Soloraya) pada pertengahan Maret 2012 menunjukkan beberapa kenaikan yang signifikan. Seperti apa?

Senin, 28 Mei 2012

Kakatua pemain gitar

Kamis, 03 Mei 2012

Menangkar burung murai batu di atas kolam ala Iconk BF

Bagi Ir. A. Haris Ahmi, kicaumania asal Majalengka, Jawa Barat, menjalani ternak burung murai batu dengan konsep sesuai alamnya, adalah Iangkah tepat. Karena, selain bisa memberikan kenyamanan bagi para penghuni kandang, juga memberikan dampak positif bagi kingkungan sekitar kandang.

Halaman belakang milik keluarganya yang luas dan nyaman, ia manfaatkan untuk mengelola breedin berbagai jenis kicauan. Khusus untuk breeding murai batu, ia menerapkan sistem ternak terpadu di atas kolam ikan yang sudah dimiliki sebelumnya.
Di bagian pinggir salah satu sisi kolam ikan yang luas totalnya mencapai 20 m2 dibangun 10 kandang murai batu. Kandang yang dibangun cukup minimalis namun cukup nyaman untuk burung beristirahat dan melakukan aktivitasnya sehari-hari.
Penempatan kandang ternak murai di atas kolam bukan berarti ngin memaksimalkan keterbatasan lahan, karena sebetulnya lahan halaman belakang rumahnya cukup luas dan lebih dan cukup untuk membangun puluhan kandang.

“Saya hanya ingin mengikuti kebiasaan murai di habitatnya. Murai kan terbiasa hidup di lingkungan yang alami, di antaranya terdapat aliran air dan suara gemercik air. Selain itu, dengan menempatkan murai di atas kolam, juga kotoran burung bisa langsung dibuang ke kolam. Sehingga, bisa membuat kandang selalu bersih,” jelas Hans Conk, sapaan akrabnya.
Struktur kandang juga dibiarkan lebih terbuka, tidak terlalu tertutup seperti kandang-kandang ternak murai pada umumnya. Ini dimaksudkan agar burung bisa terbiasa dengan lingkungan apa adanya.
“Kalau dibiasakan terbuka akan bagus bagi perkembangan mental. Sehingga, burung bisa terbiasa dengan kondisi lingkungan yang kadang biasa dilewati manusia,” tuturnya.
Saat memberi makan pun, Hans membiasakan dengan menyodorkan tangan langsung kepada burung. Tindakan ini secara psikologis sangat baik. Akan mendekatkan burung dengan pemiliknya.
Pemberian makanan dilakukan sambil bersiul-siul sebagai tanda panggilan makan. “Jadi nanti jika mereka mendengar siulan saya, sudah terbiasa dan tahu bahwa itu tanda waktunya makan,” tambahnya.

Produksi
Dan 10 kandang yang ada, semuanya sedang produksi. Di samping indukan yang produksi, ia sudah menyiapkan stok pengganti jika suatu saat terdapat indukan yang istirahat mabung.
Komposisinya, stok betina siap produksi lebih banyak dari jantan. Karena jantan biasanya mabung lebih lama dan betina. Perbandingan jumlah betina dengan jantan, 2:1.
Sebagai pengembangan bisnis breedingnya, di samping juga antisipasi rnenutupi permintaan pasar, rencananya ia akan membangun lagi sebanyak 7 kandang baru. “Idealnya sih semuanya 20 kandang, sehingga jika terjadi gagal panen tidak sampai minus. Sepasang ndukan biasanya melakukan produksi setiap 1,5 bulan sekali. Rata-rata sekali produksi menghasilkan tiga anakan.
Jika ada pasangan yang keluar empat anakan, yang diambil hanya tiga anakan saja. Ini dilakukan untuk menjaga kestabilan saat lolohan.
Hans menambahkan, dalam memelihara burung murai, ia menerapkan metode P3, yakni perawataan, pelatihan dan pemasteran.
Perawatan dimulai sejak proses lolohan berlangsung, di saat usia anakan menginjak 7 hari, setelah diangkat dan induknya, hingga anakan berusia di atas sebulan. Pada saat diloloh oleh tangan kita, difokuskan pada pertumbuhan dan peningkatan gizi dan vitaminnya. Ketika anakan sudah berusia di atas sebulan, dimulai pelatihan pembentukan karakter.
Sedangkan pemasteran dimulai sejak burung berusia 7 hari.
Sejak mulai breeding murai batu tiga tahun lalu, lconk BF sudah banyak menghasiikan anakan dengan kualitas istimewa. Bahkan, tidak sedikit produk Iconk yang merupakan keturunan murai jawara.

Bahkan tidak sedikit produk Iconk sudah menyebar ke berbagai daerah di Tanah Air, menorehkan prestasi dan rajin moncer di arena lomba. Sudah diakuinya produk Iconk oleh kalangan murai mania, mengharuskan Hans berupaya menjaga kepercayaannya.
la juga terús menjalin komunikasi dengan para pembeli produk Iconk untuk memantau perkembangannya. “Sehingga, kita bisa tahu produk kita yang sudah tampil di arena lomba,” tandasnya.
Beberapa anakan Iconk yang sudah eksis di arena lomba, antara lain Black Mamba (Abon) dan Zorro (lwan Jatibarang). Sedangkan Oh Lala dan Jenggo, dua andalan terbarunya yang memiliki prospek menjanjikan, kini sedang disiapkan untuk tampil.
Selain itu, ia juga menyiapkan salah seekor generasi terbaru yang baru berusia 6 bulan, anak Borju, yang kualitasnya tidak kalah istimewa.
Selain fokus mencetak murai-murai berkualitas lomba, Iconk juga produktif menghasilkan beberapa jenis kicauan siap lomba, di antaranya di kelas kenari, love bird dan anis kembang, yang juga merupakan hasil produksi sendiri.
Di samping itu, ia juga banyak mencetak beberapa burung master yang berkualitas. (Agrobis)

Rabu, 02 Mei 2012

Ini dia juara di Lomba Burung Presiden Cup 2

Even Presiden Cup yang dikemas BnR pekan lalu di Parkir Timur Senayan Jakarta boleh dibilang jadi semacam pesta akbarnya kicau mania tahun ini. Gaung meriahnya acara ini memang sudah terasa bergema sejak beberapa bulan sebelum perhelatan ini. dari jumlah peserta, ya even tersebut nyaris sama banyaknya dengan Pres Cup pertama yang digelar dua tahun silam di tempat yang sama.

Nyaris seluruh kicau mania tanah air tumplek blek di Senayan, khususnya dari Sumatera dengan jumlah Iebih dari 3000 an peserta dari 66 kelas yang dibuka dengan menggunakan 3 lap.
Bedanya, hadiah yang ditawarkan kali ini memang jauh lebih besar. Panitia menyediakan hadiah seratus juta rupiah buat juara kelas ring khusus BnR yang hari itu digaet Khadafi/Ramadhan dari Aceh Bintang SF sekaligus meraih gelar juara umum single fighter.




Di luar kelas ini, masih banyak burung jawara lain khususnya dari Jabodetabek sendiri yang mencorong siang itu. Di antaranya Ceper milik Kenneth dari Jakarta. Tak tanggung-tanggung, dua kali Ceper menangguk kemenangan di ajang bengengsi tersebut.
Masih di kelas yang sama juara di kelas lainnya ada Guruh milik Jaya dari Sukabumi.  Di kelas murai batu yang persaingannya bak partai neraka, juga tak kalah sengitnya. Gelar juara digaet nyanis merata. Di sesi awal ada Hercules milik Yadi Suzuki Cirebon yang membuka kemengan di awal lomba.
Di kelas yang sama lapangan berbeda, giliran Bayangan kepunyaan Fiqih yang menghentak di posisi pertama.
Bayangan, burung jawara yang selama ini dikenal spesialis turun di even-even akbar hari itu kembali membuktikan kestabilannya di hadapan publik kicau mania.
Kemenangannya hari tu semakin menegaskan kalau sang gaco memang terbilang tangguh di kelasnya.
Pada sesi cucakrawa, dominasi digaet koleksi H. Lukman. Lewat Tunggal di urutan pertama dan Raja Hutan pada posisi tiga besar.
Sukses H Lukman bersama gaconya ini juga semakin mempertegas kalau pria ini tetap konsisten di jalur kelas tersebut.
Jalannya lomba berakhir hingga penghujung senja yang ditutup doorprise puluhan sepeda motor berikut satu unit rumah. Even prestisius hari itu memang menjadi sejarah baru komunitas kicau mania nusantara, ini tak lain dari total nilai hadiahnya yang super jumbo.
Besarnya hadiah ini pula yang membuat even tersebut mendapat rekor dari MURI yang disematkan langsung ketuanya Jaya Suprana kepada Bang Boy selaku petinggi penyelenggara lomba Presiden Cup 2.
Gelar juara pertama hari itu diboyong Sumatera Team. Sementara, Jayakarta Team yang biasanya menjadi pelanggan juara umum harus puas di posisi runner up. Tim yang dimotori Tony Music, Dr Mulyana, Deny Halim dkk itu sebenarnya sudah berupaya maksimal dengan menyiapkan sederet gaconya. Namun, sesuai dengan misinya kemenangan bukan hal yang jadi tujuan utama tapi, menjaga kebersamaan dan persaudaraan itulah yang sampai saat ini yang membuat tim tersebut solid dan kompak.
“Karena, buat Jayakarta Team yang utama kebersamaan dan kekompakan. Kalaupun meraih kemenangan untuk bersama,” jelas Dr Mulyana. (Agrobis Burung)










Anen Paten Bengkulu jadi buah bibir pasca Pres Cup 2

Dalam beberapa bulan nama Anen Paten dari Bengkulu menjadi guncingan kicaumania, tak hanya di Sumatera akan tetapi nasional. Tak lain moncernya jawara-jawara terbaik diberbagai even yang dihadapinya. Kelas kacer menampilkan nama Semar dilanjutkan dengan Robin Hood yang menjadi kartu As. Murai batu ada ABG serta Radja serta cucak hijau menampilkan Gerhana sang jawara terbaiknya di cucak hijau.
Dalam beberapa aksi andalan Anen Paten tak terbendung diberbagai even yang diikutinya. Salah satunya mabung yaitu ABG dan tinggal 4 jawara yang disisakan dilapangan. Gelaran Road to Presiden di Bukit Tinggi, Lampun sampai Jambi jawara milik Anen Paten merajalela dan menjadi buah bibir kicaumania.
Puncaknya kembali 4 jawara Anen Peten Radja di murai batu, Semar serta Robin Hood di kacer serta Gerhana untuk cucak hijau. Tapi yang paling ditargetkan justru di kacer dan murai batu untuk mendulang prestasi. Hasilnyapun diluar dugaan, tak hanya kacer dan murai batu yang moncer, akan tetapi di cucak hijau Gerhana tampil luar bisa dan menggasak lawan-lawannya cukup mutlak di kelas MPR.
Sedangkan Radja di murai batu merebut juara pertama dan kacer yang menonjol ditorehkan Robin Hood yang tampil luar biasa dengan merebut juara pertama di Kacer DPR B serta kalah tipis di Kacer Presiden Cup dan harus puas diurutan kedua, serta terakhir juara kedua di kelas kacer Rakyat.
Tak pelak kehandalan jawara Anen Paten tak dipungkiri lagi, tak hanya di Sumatera seabreg prestasi pertma ditorehkan, akan tetapi di even paling spektakuler sekelas Presiden Cup dibuktikannya dengan prestasi terbaik juara pertama yang direbutnya. (BnR)

Mabung pun Obelix tetap moncer di Pres Cup 2

Tak salah nama Obelix, kenari milik Andre Sutanto dari Jambi menjadi buah bibir di nasional, dari kualitas yang dimilikinya sangat menonjol, terutama isian black troath yang dikeluarkan sangat istimewa.
Muncul di lomba dalam beberapa bulan, seabreg juara pertama diraihnya di berbagai even bergengsi nasional, baik itu di Sumatera dan melanglang buana di Jawa, berbagai even diraihnya menjadi yang terbaik, sehingga didaulat menjadi yang terbaik dikelasnya.
Begitupun saat kondisinya sedang keadaan mabung, Andre tetap memaksakannya untuk turun di even paling bergengsi dan paling fenomenal Presiden Cup II (29/04) di Jakarta untuk menghadapi jawara terbaik nasional. Hasilnyapun tak mengecewakan, walaupun tampil kurang maksimal,tetap Obelix mampu menunjukan keistimewaanya dilapangan.
Kelas Pembuka kenari semi isian MPR, Obelix masih mampu unjuk gigi dengan lagu kasar black troath yang dikeluarkan dan akhirnya hanya dua burung yang meraih nilai terbaik,sehingga penentuan lewat nomor gantangan terkecil dan Obelix kalah nomor gantangan. Sedangkan di kelas Kenari Semi Isian DPR, tampil kurang maksimal dan masih mampu masuk diurutan keempat.(BnR)

Kenari Malang moncer di Pres Cup 2

Malang sebagai salah satu gudang kenari handal nasional, kembali beraksi melahirkan jawara terbaik di even spektakuler Presiden Cup II (29/04) di Parkir Timur Senayan Jakarta. Peragawan salah satu kenari terbaik dari Malang milik Andy Ho, unjuk kebolehan di Presiden Cup II menghadapi jawara kenari standard terbaik dari berbagai blok di tanah air.

Peragawan tampil luar biasa, keistimewaannya maupun dikeluarkan cukup istimewa, terbukti 2 kelas yang dimainkan mampu merebut juara pertama dan kedua dan menjadikannya sebagai kenari menonjol di Presiden Cup I untuk jenis Standard.
Kemenangan Peragawan andalan Andy Ho menjadi bukti sebagai salah satu terbaik di nasional. Burung jenis F3 tersebut kinerjanya tampil luar biasa dilapangan. Tak pelak di even mendatang tahun 2012, aksi Peragawan kini menjai bahaya laten bagi lawan-lawannya untuk menjadi yang terbaik (BnR)

Meski sayap patah, MB Perwira masih bisa unjuk gigi di Pres Cup 2

Bagi mania murai batu di Sumatera, kehandalan Perwira andalan Jas SP dari Kerinci Riau tak bisa dipungkiri lagi. Seabreg juara direbutnya diberbagai even yang diikutinya, baik even regional maupun nasional. Belakangan Perwira mengalami musibah, sebelah sayapnya patah dan menimbulkan cacat fisik.

Walaupun begitu kualitas Perwira tetap tak dipungkiri, baik irama, lagu, tembakan serta isiannya cukup variatif, ditambah lagi stamina dan mental bertandingnya cukup prima diberbagai even yang diikutinya. Tak heran diberbagai even yang diikutinya Perwira tetap menjadi jawara terbaik, salah satunya Road to Presiden Cup II di Bukit Tinggi dengan menggondol hadiah utama 12 juta dikelas bergengsi murai batu excecutive.
Sampai akhirnya Perwira dicoba diturunkan di even paling bergengsi PRESIDEN Cup II (29/02) di Parkir Timur Senayan Jakarta. Bertanding di kelas Murai Batu Wapres B dan berada digantangan 60, aksi yang ditampilkan Perwira cukup luar biasa dengan keistimewaan yang dimilikinya. Tak heran mania murai batu dibuat terpesona melihat tampilannya dilapangan, sayang sayap patah menjadikan Perwira tidak mungkin menjadi yang terbaik.
Walaupun begitu Perwira masih tetap bisa menyodok dengan mendapatkan nominasi bendera, walaupun akhirnya meraih posisi juara ke 4. “Secara hasil kurang puas dari penilaian juri, akan tetapi setelah melihat nilai rekap ternyata diberi tanda tulisan patah sayap dan setelah ditanyakan aturan main di Presiden Cup II bahwa murai batu yang agak cacat tidak mungkin menjadi juara pertama.
Padahal sebelumnya dilomba BnR Road to Presiden Cup di Bukit Tinggi bisa meraih juara pertama di kelas paling bergengsi. Saya tidak mungkin berangkat ke Jakarta, “terang Jas SP sang pemilik murai batu fenomenal dari kerinci Riau.
Walaupun begitu Jas merasa puas dengan tampilan Perwira dilapangan, terlebih menghadapi murai batu terbaik nasional di even paling akbar se-tanah air yang diselenggarakan BnR.

Bintang Aceh SF tunjukkan jati diri di Pres Cup 2

Bintang Aceh SF
Bintang Aceh SF membuktikan jati diriya sebagai kekuatan baru paling berbahaya di nasional.Juara-juara single fighter beberapa kali sering dimenangkan dalam setiap even yang diikutinya baik tingkat regional maupun nasional. Puncaknya terjadi pada even Presiden Cup II di Parkir Timur Senayan Jakarta (29/04) dimana berhasil menjadi yang terbaik di single fighter dan mengalahkan jawara-jawara berbagai blok di nasional.
Kelas Murai batu menjadi penyumbang poin terbesar, 3 juara pertama, 2 kali juara kedua, 3 kali juara ketiga Kapas Tembak 2 kali juara pertama, Celilin Juara pertama. Belum lagi dari love bird 2 kali juara ketiga. Total hadiah yang diambil Bintang Aceh Single Fighter yaitu 226.500.000 rupiah ditambah door prize 2 buah motor yang didapatkannya.
Raihan juara serta hadiah uang yang didapatkan menjadi cacatan tersendiri dan rekor dalam perburungan, dengan nilai uang yang fantastis 226.500.000 menjadikan nama Bintang Aceh SF mencatat rekor tersendiri selama berlangsungnya lomba burung berkicau yang diadakan dimanapun, bahkan bisa dibilang sudah tercatat masuk rekor Dunia MURI Indonesia sebagai pengumpul hadiah terbesar.
Kekuatan materi burung dari Bintang Aceh yang lengkap seta kualitasnya diatas rata-rata, menjadi salah satu kunci keberhasilan meraih terbaik di single fighter. Tak salah untuk even-even mendatang kehandalan Bintang Aceh single figter menjadi ancaman bagi lawan-lawannya. (BnR)
Sumatera Team di Pres Cup 2
Team Sumatera yang dulu sering dikalahkan jawara-jawara dari Jawa, bahkan even di tempatnya dikalahkan kini membuktikan diri sebagai team yang harus diperhitungkan. Itulah yang terjadi di lomba burung Presiden Cup 2 di Jakarta Minggu (29/4) lalu.
Perolehan juara yang direbutnya cukup menyolok, tak hanya murai batu serta kacer yang menjadi target juara pertama, akan tetapi di love bird, kenari bahkan cucak hijau hasil terbaik direbut jawara dari Sumatera.
Murai batu nyaris sapu bersih, sedangkan di kacer cukup berimbang. Kenari cukup berimbang , begitupun dilove bird hasilnya sama. Paling mengejutkan di cucak hijau dengan melabrak jawara-jawara Jawa dengan 2 kali juara pertama direbutnya.
Padahal Sumtera Team yang menjadi jawara baru di bird club di even terbesar nasional, tidak sepenuhnya dari seluruh Sumatera yang tergabung, dan beberapa terpecah sendiri-sendiri untuk kategori bird club. Bahkan di single fighterpun yang menjadi terbaik juga jawara dari Sumatera yang diwakili Aceh Bintang SF.
Inilah awal kebangkitan Sumatera yang tampil luar biasa dengan menghasilkan jawara-jawara terbaik, seperti yang dilakukan Sumatera Team dibawah komando Rico Kadafi. (BnR)

Kru Jatim juga ngedan di Pres Cup 2

Cahyo CS
Faktor kondisi menjadi kendala bagi Tim Jawa Timur dalam ajang Lomba Burung Presiden Cup 2 di Jakarta Minggu 29 April lalu.


Seperti yang disampaikan Akiat dan Henry ABS yang menerjunkan jagoannya di kelas, murai batu, kenari, cucak hijau, dan kacer. Meski kedatangannya ke Jakarta sejak hari Jumat namun kondisi jagoannya tidak bisa tampil maksimal. Hanya Doctor si cucak hijau yang berhasil meraih juara IX. Menurut Akiat, meski jagoannya Henry ABS sudah cukup untuk istirahat namun faktor cuaca diantara yang menjadi faktor. Selain itu, diakui Henry ABS bahwa jawara yang tampil di PresCup 2 cukup tangguh. Kalau kualitas secara umum adalah jawara yang terbaik di antara koleksi milik kicaumania.
Henry ABS dan Akiat
Lain Halnya Tatuk Graha Sampurna Surabaya yang mengandalkan Mickey Mouse si cucak jenggot. Meski sempat meraih juara II satu peringkat dibawah Putri Ayu andalan Hery TSI Jakarta ini ketika tampil di lapangan A. Namun Tatuk mengakui kalau penampilan Mickey Mouse agak nakal.
Menurutnya penampilan tersebut lantaran baru tiga hari adaptasi di sangkar baru BnR. Penampilan serupa juga nampak saat tampil di lapangan C. Meski kerap mengeluarkan tembakan yang dahsyat dan masuk dalam daftar favorit calon juara namun penampilan tersebut membuat Tatuk was – was. Rasa was-was tersebut terbukti Mickey Mouse tidak lolos menyabet juara. Padahal kalau penampilannya agak tenang saya yakin bisa menyabet juara,” terang Tatuk.
Sedangkan H. Ipong Jazz asal Lamongan tak ubahnya seperti yang dirasakan Tatuk. Ia mengatakan kondisi cucak jenggot Senopati tidak bisa tampil maksimal karena cuaca yang tidak mendukung. “ Padahal karakter Senopati akan tampil maksimal apabila kondisi cuaca panas. Lagunya mbongkar semua,” terang H. Ipong.
Tatuk dan Kru Jatim
Hal yang lebih ironis lagi adalah tidak tampilnya murai batu andalan Rudi Menanggal Surabaya. Jagoan yang dipandu Ambon gagal meraih juara lantaran kondisi fisik tidak mendukung. “Ada beberapa bulu yang sudah jatuh,” ujar Ambon.
Sementara Dion Gua Gong Malang yang dikenal sebagai cendet mania berhasil mengibarkan bendera Jawa Timur di kanca nasional even Presiden Cup 2. Melalui Gadis Panggilan posisi juara I berhasil diduduki. Namun beberapa burung andalan lainnya tak seberuntung Gadis Panggilan.
Di kelas kenari nama Peragawan dan Barongsai milik Andy Ho asal Malang meraih juara yang membanggakan. Seperti Peragawan dari jenis F3 dan Barongsai dari F2 setidaknya bisa membawa nama Malang yang dikenal sebagai sentra burung kenari . Termasuk Pandik Lontong pun yang cukup dikenal kerap menelorkan kenari jawara pun masih mampu membuktikan kalau jagoan yang dibesut berhasil meraih juara I.
Namun secara umum kicaumania mengakui kemenangan dan kekalahan di even Presiden Cup 2 diakui secara sportif. Acungan jempol buat BnR Pusat yang telah berhasil melanjutkan even yang bisa membawa gengsi dunia perburungan tanah air. Harapannya semoga BnR terus bisa mengapresiasi kepentingan kicaumania supaya lebih berkembang dan semarak

Gadis Panggilan, cendet jawara di PresCup 2

Cendet dari Jawa Timur terbukti jos. Salah satu cendet dari tlatah Blog Timur itu mampu meraih predikat jawara di Lomba Burung Presiden Cup 2 2012 di Senayan, Jakarta, Minggu (29/4).


Gadis Panggilan Team
GADIS PANGGILAN, adalah cendet jawara koleksi Dion Gua Gong, Malang Jawa Timur yang berhasil menyabet juara I di kelas DPR pada Presiden Cup 2 2012 di Senayan, Jakarta, Minggu (29/4). Prestasi gemilang tersebut diraih Gadis Panggilan bukanlah sebuah kemenangan yang mudah diraih begitu saja.
Pasalnya dalam even Presiden Cup 2 ini diikuti para jawara cendet sarat prestasi dan paling kondang di tanah air. Persaingan sangat sengit tak bisa dihindari untuk meraih kemenangan dan berebut di peringkat paling atas.
Aksi tampil Gadis Panggilan yang berada di gantangan nomer 33 sangat menawan dengan kepiawaian melantunkan irama lagu dari jenis burung gereja tarung, lovebird dan prenjak dengan speed sangat rapat inilah Gadis Panggilan mampu membendung perlawanan dari para jawara cendet papan atas.
Prestasi puncak yang ditorehkan Gadis Panggilan di Presiden Cup 2 merupakan sebuah bukti bahwa Gadis Panggilan semakin mapan dalam meniti prestasi sebagai jawara cendet tingkat nasional. (BnR)

Solo Berrik Kacer Ngetop di Presiden Cup 2


Solo Berrik, kacer kebanggaan Halley Yogyakarta memang oke. Burung kacer ini menggaet juara I empat kali di Lomba Burung Presiden Cup 2 2012 di Senayan, Jakarta, Minggu (29/4) lalu.
Kacer Solo Berrik yang tampil di lapangan C ini sejak awal di kelas MPR B sudah menunjukkan penampilan terbaiknya. Alhasil prestasi kali pertama yang ditorehkan berhasil menduduki di posisi juara II kalah tipis dengan yang juara I.
 “ Saya salah memantau burung yang menjadi pesaing Solo Beriik, “ ujar Diko pemandu prestasi bersama dua rekannya.
Namun kegagalan tersebut bagi Solo Berrik hanya waktu sesaat yang harus dilewati. Disesi berikutnya di kelas Wapres B kedigdayaan sebagai kacer handal dibuktikan dengan menyabet juara I. Disesi selanjutnya pun penampilan dan kemampuan melantunkan irama lagu dan gaya yang sangat menawan kembali ditunjukkan Solo Berrik pada kelas Presiden yang berhasil mempertahankan posisi juara I.
Memukau
Penampilan Solo Berrik yang memukau pun tidak hanya ditunjukkan saat tampil di lapangan C, namun di lapangan A di kelas DPR A juga dibuktikan. Lawan lawan tangguh pun berhasil ditumbangkan sehingga Solo Berrik melenggang dengan bangga menyabet juara I.
Meski sudah mengantongi kemenangan sebanyak 4 kali nampaknya tak membuat Solo Berrik puas. Di kelas Rakyat di lapangan C, juara I pun berhasil disabet. Ini sebuah babak pamungkas bagi Solo Berrik untuk membuktikan sebagai kacer tangguh dari blok tengah. “ Ini ajang pembuktian paling bergengsi dalam meraih prestasi,” ujar Diko. (BnR)

Breeding cucakrowo perlu ketenangan dan asupan yang bagus


Meski ada pemodal kelimpungan ketika ikut-ikutan mencoba beternak cucakrowo namun ada saja breeder yang tersenyum lantaran modal yang dikeluarkan relatif sedikit tetapi hasilnya berlipat-lipat.
Beternak cucakrawa, tidak semata butuh modal besar. Pemahaman mendalam tentang fisiologi dan psikologis cucakrawa juga bisa menjadi kunci keberhasilan. Karena, sesungguhnya sukses dan gagalnya seorang peternak terletak pada kemampuan rnemaharni perilaku dan bagaimana memperlakukannya.
"Yang saya ketahui selama ini, indukan cucakrawa suka ngambul atau ngambek," terang Agung Setiadi, pemilik Delie BF Lovina Singaraja.
Karakter itu tidak terlepas dari indukan yang hampir sebagian dari hasil tangkaran. Watak jinak dan manja menimbulkan sifat sensitif pada situasi berbeda. Baik disebabkan keterlambatan membenikan makanan, kedatangan hewan predator, kaget akibat suara keras secara mendadak, dikagetkan benda-benda asing yang jatuh ke bagian kandang atau orang tidak dikenal.
Akibatnya, lanjut Agung Setiadi, bisa berbuntut rnembuang telur, tidak mau ngeloloh, atau birahinya hilang. Itu bisa terjadi berbulan-bulan. Cucakrawa tidak bisa diperlakukan seperti indukan ayam atau burung lain.
Indukan yang rata-rata dari burung tetasan kandang cenderung jinak sehingga jika bertemu orang langsung mendekat. lnilah yang justru menjadi perhatian peternak agar mempróteksi kandangnya. Minimal, hanya yang biasa memberikan pakan yang boleh masuk kandang.
Melihat orang baru cenderung indukan akan menyerang atau berbunyi sehingga akan memancing indukan-indukan lain ikut bersahutan dan turun dari sarang.
Patut juga dipahami, indukan tidak serta merta akan berproduksi setelah dibeli dan peternak lain meskipun jebol kandang. Pasalnya di lokasi baru indukan butuh penyesuaian lingkungan atau akan bisa stress.
Penangkaran cucakrowo Nik BF

Begitu juga ketika memasangkan indukan tidak selamanya mulus. Terkadang tidak mau jodoh padahal sudah jantan betina dan produktif, atau bisa juga punya jenis kelamin yang sama.
 “Kalau dipaksakan akan lama,” papar Agung yang kini mengandangkan 10 pasang indukan.
Dan pengalaman Wayan Sumiartha, peternak cucakrowo 14 kandang asal Mengwi bercincin D’Yan BF, indukan rata-rata produksi 40 persen per bulan dalam situasi normal. Misalnya 10 kandang hanya produksi 4 pasang anakan berarti mampu meraup Rp 18 juta jika Rp 4,5 juta per pasang umur 2,5 bulan.
Tetapi persentase produksi bisa ditingkatkan asalkan peternak sanggup untuk memperlakukan sebik-baiknya.
Cuma, kondisi lingkungan di rumah terkadang tidak memungkinkan sehingga seringkali indukan mengalami stress misalnya dikagetkan oleh suara kembang api dari tetangga.
“Kalau sungguh-sungguh dengan perlakuan dan proteksi terhadap lingkungan hasilnya bisa lebih baik,” kata D’Yan seraya menambahkan permintaan akan anakan cucakrowo di Bali terus meningkat.
INDUKAN ALAM LEBIH PRODUKTIF?
Bermula dan sepasang indukan alam, Wayan Sumada alias Pak Nik, secara berturut-turut memproduksi 57 ekor anakan cucakrawa. Setelah melihat peminatnya banyak dan harganya relatif stabil, Nik menambah satu kandang lagi dan hasilnyajuga bagus hingga akhirnya menambah menjadi enam kandang pertengahan 2000-an.
Keberhasilannya mengembangkan indukan dari alam, relatif memuluskan jalannya sebagai penangkar jenis ini. Selama menggunakan indukan alam, Nik mengakui nyaris tidak pernah mengalami kendala berarti.
Nik juga mengakui, lancarnya produksi indukan itu juga ditunjang pemberian pakan dan alam seperti jangkrik alam atau bering. Saat itu selain indukan produksi lancar anakannya juga tidak pernah mati meski dibiarkan sampai besar di kandang.
Kini, setelah indukan sudah mulai digantikan dan anakan sendiri atau produk peternak lain, sirkulasi produksinya cenderung menurun. Kendala pun mulai dirasakan seperti buang telor, induk tidak mau ngeram dan anakan sakit.
"Sekarang yang saya rasakan, anakan mudah terserang sakit dan seringkali cacat dan juga mudah patah tulang,” terang Pak Nik yang meyakini indukan asal alam lebih produktif dan minim kendala.
Peternak dari Jalan A Yani Denpasar ini juga menduga, pakan kurang berkualitas juga menjadi faktor munculnya kendala. Apalagi ia banyak menemui para penangkar tidak memiliki rekapitulasi yang baik tentang indukan mereka. Sehingga banyak indukan yang tidak memiliki kejelasan keturunannya.
Kemungkinan sepasang indukan ada hubungan darah terlalu dekat juga bisa relatif besar terjadi. Akibatnya akan menyebabkan kelemahan fisik pada anakannya.
“Tetapi itu baru dugaan. Yang memperkuat dugaan ini bisa dilihat dari tanda-tanda kesulitan produksi hampir dialami oleh semua peternak,” kata Nik seraya menambahkan bisa juga oleh faktor alam, di mana fluktuatif cuaca akan berpengauh besar pada indukan di dalam kandang yang monoton.
Ketika memulai beternak cucakrowo, Wayan Sumada alias Pak Nik tidak ada maksud untuk menjualbelikan anakannya. Pasalnya ia beternak karena ingin mempunyai anak cucak rowo juara untuk bisa dipakai main. Lantaran kala itu sulit mendapatkan cucak rowo yang berkualitas lomba.
“Saya coba ternak burung juara yang sudah tidak bisa dipakai main. Eh ternyata mudah sekali,” aku Pak Nik.
Untuk antisipasi cuaca dan memperkuat fisilogi indukan, Nik sengaja membuat kandang berukuran besar 2,5 x 3 meter. Untuk menambah kesan asri, di dalam kandang dan luar ditumbuhi tanaman rindang, agar bisa menciptakan hawa sejuk.
Hasilnya, dari empat kandang yang ada, dua kandang berproduksi walaupun cuma seekor per kandang. (Bersambung)


Ragam masalah penangkaran, termasuk cucakrowo

Penjodohan cucakrowo
Penelurusan ke sejumlah breeder cucakrawa, disebutkan bahwa kendala yang harus dihadapi sesungguhnya cukup banyak. Namun kendala-kendala ¡ni ternyata tidak pernah menyurutkan para breeder untuk menekuninya, sebab bila berhasil memang sangat menjajikan.
Dan bukt-bukti dari mereka yang sudah berhasil juga jelas dan gamblang.
PENJODOHAN
Ini merupakan Iangkah awal sebelum memulai breeding, sehingga harus benar-benar dilakukan dengan persiapan matáng. Sebelum menjodohkan, harus bisa membedakan jenis kelamin. Jadi jangan sampai salah tebak, karena akan berakibat fatal.
Menurut pengalaman Ir. Agus Gamping, bila pasangan terjadi saling serang atau tarung, maka keduanya diprediksikan jantan dan jantan. Sebaiiknya, bila tidak saling tarung, maka jenis tersebut keduanya betina.
Ada yang menganggap kalau tidak saling tarung, burung tersebut sudah berjodoh. Padahal keduanya berjenis sama, yaitu betina. Jadi dalam proses penjodohan, harus benar-benar diamati atau kalau perlu niinta pendapat dan bimbingan breeder yang sudah berpengalaman.
KENYAMANAN
Suasana nyaman di kandang diperlukan, karena dapat mempercepat proses produksi. Burung bunyi di kandang belum tentu nyaman, terkecuali burung tersebut berdampingan antara jantan dan betina.
Kenyamanan bisa dipengaruhi banyak hal. Bisa karena lingkungan tenang, tidak gaduh. Teduh, misal di sekitar kandang banyak pepohonan. Umumnya dalam kandang cucakrawa juga diberi tanaman perdu, salah satu alasannya untuk membuat suasana kandang menjadi nyaman.
Ada kandang yang nyaris semua bagian tertutup, ada pula yang sebagian sïsi terbuka. Afiat, Andre, Agus Gamping, Gunawan Ungaran, menyebutkan bila ini tergantung karakter burungnya.
Bila indukan berasal dari tangkapan liar, cenderung meminta kandang tertutup. Tapi bila indukan berasal dan hasil breeding, kandang terbuka tak ada masalah.
PERNAH PRODUKSI, KEMUDIAN MACET
 Burung yang sudah diyakini jantan betina, tapi tidak segera produksi, apalagi bila sebelumnya beli dan tempat lain sudah pernah produksi, bisa dicoba dengan beberapa hal.
Paling gampang, misalnya coba dipindahkan kandangnya. Boleh jadi, di kandang lama dia merasa kurang nyaman. Mungkin ada sesuatu yang tidak bisa kita deteksi, tetapi bagi si burung terasa sangat mengganggu.
Andre mengaku sening menjumpai kasus ini, setelah dipindah, ternyata produksi lagi. Kadang-kadang, bila punya dua pasang atau lebih yang macet, coba ditukar dengan pasangan lainnya.
Macet juga bisa terjadi karena mabung tidak sempurna. Secara teori, ini bisa terjadi karena proses metabolisme atau pencernaan terhambat. Anda bisa mencoba memberikan obat yang fungsi utamanya memang untuk menyempurnakan proses metabolisrne, misalnya BirdVit denganh dampingan BirdMineral.
Untuk mempercepat produksi jodohan baru atau meningkatkan produksi, Anda bisa menggunakan BirdMature. Sudah banyak yang mencoba menggunakannya dan sukses.

BUANG TELUR
Hampir semua breeder mengalami fase ini. Jadi, boleh dikatakan, ini adalah bagian dan "mata pelajaran" dalam sekolah breeding cucakrawa.
Indukan sudah bertelur akan membuang telurnya, sehingga proses pengeraman tidak bisa dilakukannya. Banyak hal bisa menjadi sebab.
Bisa karena terganggu, merasa terancam. Bisa pula karena asupan pakan tidak cukup. Artinya, pada masa bertelur dan mulai mengeram, pasokan pakan harus ditambah, sebab saat ni indukan membutuhkan asupan pakan lebih banyak.
Menjelang menetas, harus ditambah lagi. Bila kurang, diduga indukan mengira tidak cukup memberi lolohan, sehingga memilih membuang telur.
Solusi lain, setelab dierami sepekan, bisa dipindahkan ke mesin penetas. Ingat juga, dalam kaitan ini asupan BirdMIneral sangat penting.
TIDAK BISA MERAWAT ANAK
 Setelah indukan beranak, seyogyanya bredeer memantau perkembangannya. Karena ada kejadian sang anak yang dihasilkan tidak dirawat baik indukannya, ini disebabkan karena indukan tidak bisa merawat anaknya.
Jikalau menjumpai indukan seperti di atas, bagi breeder yang sudah berpengalaman akan mengambil anakan tersebut untuk diloloh. Karena kalau membiarkannya, maka pertumbuhan anakan lambat, bahkan bisa terjadi kernatian kanena indukan tidak merawatnya.
PENYAKIT
 Bakteri dan virus merupakan penyebat penyakit umum dijumpai dan sering rnenyerang cucakrawa. Untuk meminimalisir adanya bakteri dan virus, maka kebersihan kandang harus selalu dijaga. Anda bisa menggunakan FreshAves, obat semprot kutu dan desinfektan yang tidak mengandung removal. Kalau Anda menggunakan obat burung pasarajn, pastikan Anda tahu betul itu tidak mengandung removal.
Kelumpuhan pada kaki atau penyakit saraf juga terjadi pada anakan cucak rawa, sehingga harus ekstra hati hati dalam merawat anakan.
Perhatikan asupan pakan, cukupi kebutuhan nutrisinya. Untuk proses pertumbuhan, dibutuhkan protein yang cukup tinggi. Bila perlu benikan asinan yang cukup baik untuk indukan maupun anakan, akan sangat membantu produktivitas, karena meningkatkan kualitas telur, serta membantu piyik terhindar dari kelumpuhan, pertumbuhan bulu yang lebih bagus.
Selalu sediakan obat-obatan dasar, seperti BirdVit, BirdTwitter, obat luka seperti BirdCream. Obat-obatan ini dijual online dan Anda bisa memesannya secara online, mudah dan cepat.
(Bersambung)

Breeding cucakrawa perlu punya catatan harian lengkap

Meskipun permintaan besar dan harga terus melambung, namun di sisi lain secara teknis, breeding cucakrawa juga dianggap paling sulit. Jenis ini dianggap sangat sensitif, sangat peka, bila ada sesuatu dalam lingkungan sekitarnya berubah, bisa membuat gagal produksi.
Penjodohannya pun tidak mudah, sebab membedakan jantan betina pun tidak gampang. Butuh pengalaman dan kepekaan untuk memastikan jenis kelamin. Banyak sekali kasus breeder pemula gagal. Sebagian kegagalan mereka disebabkan kurang pahamnya membedakan jenis kelamin.
Afiat dari Kartasura dan Andre dari Kotagede mengaku sering ditawari indukan dari para breeder patah arang. “Kalau dari segi harga pasaran, sesungguhnya jantan atau betina tidak ada masalah. Harga jantan dan betina sama saja. Jadi kalau kami ditawari cucakrawa, sesungguhnya mau jantan semua atau betina semua, apalagi kalau gacor, oke-oke saja. Tapi kalau maksudnya mau dibreeding, jelas faktor jantan dan betina menjadi sangat penting,” terang Andre, yang di Kotagede, Jogja, memiliki sekitar 40 pasang cucakrawa. 

Lebih mudah, tinggal meniru
Namun, menurut Andre, mereka yang beternak sekarang sesungguhnya jauh lebih mudah dari pada pada tahun 90-an dulu, ketika ayahnya, H. Mukriyanto, memulai mencoba breeding cucakrawa.
“Dulu belum ada ilmunya, belum ada bukunya, belum ada yang ditanya bagaimana caranya. Sekarang nyaris semua ilmunya sudah ada, buku banyak, mau tanya juga banyak yang tahu. Jadi kan sebenarnya tinggal meniru atau ikut yang sudah sukses. Hampir semua kendala yang pernah ditemui para peternak sudah dicatat, dicari sebabnya, dan ditemukan solusinya.”
Di Jogja, selain Andre, breeder lain yang cukup serius menggarap cucakrawa adalah Agus Gamping, pemilik AGP 8F. Sekarang Agus Gamping memiliki 10 kandang cucakrawa yang terus produksi dan dikelola dengan profesional.
Tak semua anakannya dijual. Sebagian ditahan, untuk disiapkan menjadi indukan baru. “Sepuluh kandang ternyata masih kurang, banyak konsumen yang harus inden untuk mendapatkan produk saya. Sehingga saya harus menyiapkan indukan lagi, biar konsumen tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan produk AGP BF,” tutur lr Agus Gamping.
Agus Gamping sengaja membuat sistem yang tertata rapi.  Semua hal tercatat dengan baik. “Semua biaya otomatis harus dicatat. Demikian juga pemasukan”.
Menurutnya, nomor ring, tangal lahir, kemudian lepas kemana juga dicatat. Standar penanganan dan pengelolaan kandang juga lengkap. Setiap ada masalah baru yang belum ada dalam petunjuk, juga ditulis, kemudian dicari solusinya.
la juga tak segan bertanya atau konsultasi dengan yang lebih senior, misalnya ke Andre. Kalau solusinya ketemu dan terbukti, ditambahkan ke standar pengelolaan breeding. Jadi kalau misalnya ada burung mati, selama karyawan sudah menjalankan sesuai standar maka bukan karyawan itu yang disalahkan. (Bersambung)

Harga anakan cucakrawa stabil, mengapa?

Menangkar cucakrawa
Perkembangan dunia breeding cucakrawa dipengaruhi sejumah hal. Selain faktor teknis, juga faktor ekonorni. Bila secara teknis bisa diakukan, sementara secara ekonomi menguntungkan, niscaya breeding cepat berkembang, juga banyak orang ingin menjadi breeder.
Tingginya nilai ekonomi ditentukan permintaan pasar. Beberapa hal yang membuat permintaan pasar tinggi, bisa karena jenis burung tersebut populer dalam lomba, atau karena imej burung. Suaranya merdu, burung “priyayi” atau berbagai sebutan lainnya.
Bisa pula pasar dibuat booming, seolah-olah permintaan tinggi, harga melambung, sehingga banyak orang ingin masuk ke dalamnya. Alasan pertama dan kedua kita bisa paham, contohnya jenis murai batu, kemudian cucakrawa.
Contoh ketiga, kita ingat, jenis jalak. Pada kasus jalak, banyak orang menanamkan investasi lebih karena tertarik dengan keuntungan yang dijanjikan sangat tinggi, tanpa didasari rasa sayang kepada burung sama sekali.
Kali ini kita mencoba menyajikan lebih dalam tentang perkembangan cucakrawa. Jenis kicauan yang sudah relatif lama populer, permintaan juga sangat tinggi.
Nilai lebih
Cucakrawa yang berbodi bongsor ini, suaranya juga melengking tinggi. Sesungguhnya, cucakrawa tidak masuk kategori burung berkicau, tetapi masuk setengah anggungan.
Lagunya yang mengalun panjang dan bergulung-gulung dijadikan nilai lebih. Burung cucakrawa juga dianggap sebagai burungnya priyayi. Belum lengkap jadi priyayi, kalau belum punya cucakrawa. .
Kalau dari rumah kita ada suara burung cucakrawa, maka rumah kita menjadi lebih berwibawa. Karena itu burung cucakrawa disebut sebagai ,burung klangenan, ada pula yang menyebut sebagai burung gedongan.
Artinya, penghuni rumah gedong, rumahnya para priyayi, para penggede.Faktor keindahan lagu dan imej sebagai burung priyayi, tampaknya membuat cucakrawa banyak dicari.
Cucakrawa termasuk jenis yang sudah lama secara teknìs bisa dibreeding. Sejak akhir dekade 90-an, cucakrawa sudah dilaporkan bisa dibreeding. meskipun saat itu belum dilakukan secara masal dan dijadikan bisnis serius seperti sekarang.
Menjual cucakrawa juga paling gampang. Harga standarnya, artinya asal cucakrawa, tanpa melihat bibit bebet-bobot, sudah mendekati angka Rp 5 juta per pasang anakan bisa makan sendiri. Harganya dari dulu paling stabil dan terus meningkat secara pasti.
Diyakini, harga anakan cucakrawa juga akan terus naik, pelan tapi pasti.
(Bersambung)