Kamis, 03 Mei 2012

Menangkar burung murai batu di atas kolam ala Iconk BF

Bagi Ir. A. Haris Ahmi, kicaumania asal Majalengka, Jawa Barat, menjalani ternak burung murai batu dengan konsep sesuai alamnya, adalah Iangkah tepat. Karena, selain bisa memberikan kenyamanan bagi para penghuni kandang, juga memberikan dampak positif bagi kingkungan sekitar kandang.

Halaman belakang milik keluarganya yang luas dan nyaman, ia manfaatkan untuk mengelola breedin berbagai jenis kicauan. Khusus untuk breeding murai batu, ia menerapkan sistem ternak terpadu di atas kolam ikan yang sudah dimiliki sebelumnya.
Di bagian pinggir salah satu sisi kolam ikan yang luas totalnya mencapai 20 m2 dibangun 10 kandang murai batu. Kandang yang dibangun cukup minimalis namun cukup nyaman untuk burung beristirahat dan melakukan aktivitasnya sehari-hari.
Penempatan kandang ternak murai di atas kolam bukan berarti ngin memaksimalkan keterbatasan lahan, karena sebetulnya lahan halaman belakang rumahnya cukup luas dan lebih dan cukup untuk membangun puluhan kandang.

“Saya hanya ingin mengikuti kebiasaan murai di habitatnya. Murai kan terbiasa hidup di lingkungan yang alami, di antaranya terdapat aliran air dan suara gemercik air. Selain itu, dengan menempatkan murai di atas kolam, juga kotoran burung bisa langsung dibuang ke kolam. Sehingga, bisa membuat kandang selalu bersih,” jelas Hans Conk, sapaan akrabnya.
Struktur kandang juga dibiarkan lebih terbuka, tidak terlalu tertutup seperti kandang-kandang ternak murai pada umumnya. Ini dimaksudkan agar burung bisa terbiasa dengan lingkungan apa adanya.
“Kalau dibiasakan terbuka akan bagus bagi perkembangan mental. Sehingga, burung bisa terbiasa dengan kondisi lingkungan yang kadang biasa dilewati manusia,” tuturnya.
Saat memberi makan pun, Hans membiasakan dengan menyodorkan tangan langsung kepada burung. Tindakan ini secara psikologis sangat baik. Akan mendekatkan burung dengan pemiliknya.
Pemberian makanan dilakukan sambil bersiul-siul sebagai tanda panggilan makan. “Jadi nanti jika mereka mendengar siulan saya, sudah terbiasa dan tahu bahwa itu tanda waktunya makan,” tambahnya.

Produksi
Dan 10 kandang yang ada, semuanya sedang produksi. Di samping indukan yang produksi, ia sudah menyiapkan stok pengganti jika suatu saat terdapat indukan yang istirahat mabung.
Komposisinya, stok betina siap produksi lebih banyak dari jantan. Karena jantan biasanya mabung lebih lama dan betina. Perbandingan jumlah betina dengan jantan, 2:1.
Sebagai pengembangan bisnis breedingnya, di samping juga antisipasi rnenutupi permintaan pasar, rencananya ia akan membangun lagi sebanyak 7 kandang baru. “Idealnya sih semuanya 20 kandang, sehingga jika terjadi gagal panen tidak sampai minus. Sepasang ndukan biasanya melakukan produksi setiap 1,5 bulan sekali. Rata-rata sekali produksi menghasilkan tiga anakan.
Jika ada pasangan yang keluar empat anakan, yang diambil hanya tiga anakan saja. Ini dilakukan untuk menjaga kestabilan saat lolohan.
Hans menambahkan, dalam memelihara burung murai, ia menerapkan metode P3, yakni perawataan, pelatihan dan pemasteran.
Perawatan dimulai sejak proses lolohan berlangsung, di saat usia anakan menginjak 7 hari, setelah diangkat dan induknya, hingga anakan berusia di atas sebulan. Pada saat diloloh oleh tangan kita, difokuskan pada pertumbuhan dan peningkatan gizi dan vitaminnya. Ketika anakan sudah berusia di atas sebulan, dimulai pelatihan pembentukan karakter.
Sedangkan pemasteran dimulai sejak burung berusia 7 hari.
Sejak mulai breeding murai batu tiga tahun lalu, lconk BF sudah banyak menghasiikan anakan dengan kualitas istimewa. Bahkan, tidak sedikit produk Iconk yang merupakan keturunan murai jawara.

Bahkan tidak sedikit produk Iconk sudah menyebar ke berbagai daerah di Tanah Air, menorehkan prestasi dan rajin moncer di arena lomba. Sudah diakuinya produk Iconk oleh kalangan murai mania, mengharuskan Hans berupaya menjaga kepercayaannya.
la juga terĂºs menjalin komunikasi dengan para pembeli produk Iconk untuk memantau perkembangannya. “Sehingga, kita bisa tahu produk kita yang sudah tampil di arena lomba,” tandasnya.
Beberapa anakan Iconk yang sudah eksis di arena lomba, antara lain Black Mamba (Abon) dan Zorro (lwan Jatibarang). Sedangkan Oh Lala dan Jenggo, dua andalan terbarunya yang memiliki prospek menjanjikan, kini sedang disiapkan untuk tampil.
Selain itu, ia juga menyiapkan salah seekor generasi terbaru yang baru berusia 6 bulan, anak Borju, yang kualitasnya tidak kalah istimewa.
Selain fokus mencetak murai-murai berkualitas lomba, Iconk juga produktif menghasilkan beberapa jenis kicauan siap lomba, di antaranya di kelas kenari, love bird dan anis kembang, yang juga merupakan hasil produksi sendiri.
Di samping itu, ia juga banyak mencetak beberapa burung master yang berkualitas. (Agrobis)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan tidak mengirim SPAM.
Terima kasih.