Hasil Lomba Burung Presiden Cup 2

Even Presiden Cup yang dikemas BnR pekan lalu di Parkir Timur Senayan Jakarta boleh dibilang jadi semacam pesta akbarnya kicau mania tahun ini. Inilah hasilnya.

Perlu catatan harian penangkaran

Penjodohannya pun tidak mudah, sebab membedakan jantan betina pun tidak gampang. Butuh pengalaman dan kepekaan untuk memastikan jenis kelamin. Banyak sekali kasus breeder pemula gagal.

Kendala selalu ada, tetapi bisa diatasi

Penelurusan ke sejumlah breeder cucakrawa, disebutkan bahwa kendala yang harus dihadapi sesungguhnya cukup banyak. Namun kendala-kendala ini ternyata tidak pernah menyurutkan para breeder, karena biasa diatasi.

Cucakrowo perlu ketenangan dan multivitamin

Meski ada pemodal kelimpungan ketika ikut-ikutan mencoba beternak cucakrowo namun ada saja breeder yang tersenyum lantaran modal yang dikeluarkan relatif sedikit tetapi hasilnya berlipat-lipat.

Harga burung saat ini

Harga burung di wilayah Solo dan sekitarnya (Soloraya) pada pertengahan Maret 2012 menunjukkan beberapa kenaikan yang signifikan. Seperti apa?

Kamis, 26 Agustus 2010

Mardiono pilih indukan hutan untuk menangkar cucakrowo

Beginilah logika umum untuk membreding cucakrawa dengan lebih gampang: memelihara indukan dari kecil dan hasil ternakan. Selain dianggap lebih mudah, juga lebih murah.

Sebagai gambaran, harga anakan usia makan sendiri sepasang sekitar 4 juta rupiah, sedangkan harga yang sudah usia dewasa kelamin, sekitar 8 bulan, dan siap dijodohkan (dalam bahasa pedagang, yang begini biasanya dianggap sepasag dan siap masuk kandang) harganya hampir dua kali "lipat.

Bila kita ragu-ragu akan jenis kelaminnya, dijual secara terpisah pun tidak ada soal. Sebab untuk cucakrawa, jantan atau betina harga satuannya sama saja, sama-sama bunyi, dan sama-sama bisa dilombakan.

Di sinilah salah satu kelebihan bila kita "menginvestasikan" uang untuk membeli, memelihara, dan membesarkan anakan cucakrawa. Bisa disebut, tak mengenal kata rugi.

Logika yang agak berbeda datang dari Mardiono, yang tinggal di Tegal Kenongo, Tirtonirmolo, Bantul.  Memelihara cucakrawa asal hutan sejak tahun 1994 yang kemudian dimasukkan ke kandang breeding, saat ini sudah menghasilkan lebih dari 50 kali tetasan.

Tentu saja, waktu itu Mardiono hanya menyiapkan kandang seadanya. Mardiono membangun kandang di dalam rumah ukuran 2 x 2 m, dengan sekat menggunkan kawat strimin.

Hanya dalam waktu satu bulan, burung sudah mau bertelur dan menetas, begitu seterusnya hingga 2007 sudah lebih dari 50 tetasan. Setelah itu, produksi baru mulai lambat, tidak selancar sebelumnya.

Dari hasil pengalaman itu, Mardiono pun menyimpulkan, bahwa indukan asal hutan bisa lebih awet produksinya. Yang jelas, sebagian anakan itu sekarang juga sudah dikembangkan menjadi indukan baru. Sekarang, Mardiono sudah memiliki 13 pasang kandang cucakrawa.

Perawatan tentukan produktivitas

Kebersihan adalah salah satu rahasia keberhasilan dari breeding, termasuk cucakrawa. Tak hanya di dalam kandang, seperti bagian sarang, titik-titik di sekitar kandang pun harus dibersihkan dari kotoran-kotoran yang berceceran.
Di dalam kandang yang diberi tanaman perdu untuk memberi kesan rindang dan alami, juga-perlu disemprot agar daun dan tangkainya kelihatan bersih dan segar.

Untuk inkubator, Mardiono hanya menggunakan inkubator sederhana buatan sendiri dari bahan triplek dan hanya diberi penerangan saja untuk penghangat.
Piyik yang baru menetas hingga umur dua minggu, setelah diloloh tak perlu diberi air.  Setelah usia tiga minggu, piyik mulai memerlukan penjemuran selama sekitar 30 menit. Setelah dijemur, bisa ditambahkan suplemen alami berupa madu.

Membedakan jantan-betina

Memilih atau membedakan jenis kelamin cucakrawa harus diakui tidak gampang, sebab secara fisik nyaris tidak berbeda, dari segi suara juga sama saja. Jadi bagi yang awam, benar-benar tak gampang membedakannya.

Di kalangan para breeder yang sudah berpengalaman pun, ternyata cara untuk memastikan jantan dan betina tidak sama. Mardiono biasa melihat cirinya bila dengan mengamati saat masih piyikan.

Piyikan bisa  dikatakan jantan bla di bagian atas kepalanya terdapat garis atau galar yang kelihatan cerah, kelihatan piyikan itu juga agresif. Bila piyikan lebih cepat bunyi dan birahinya lebih cepat biasanya banyak betinanya.  Indukan maupun piyikan yang baru diloloh juga sangat bagus bila diberi tambahan asupan multivitamin. (Agrobur)


Pastikan sukses breeding Anda dengan BirdMature...

Salmonella musuh burung dan merpati

Beragam jenis penyakit terdapat pada merpati dan bangsa burung lainnya. Dimulai dari tetelo atau sering disebut dengan ND sampai penyakit canker (goham). Salah satu penyakit yang menghantui merpati selama ini antara lain adalah salmonella.
Parasit penyebab salmonella ini kalau sudah menempel pada kandang yang terbuat dari kayu mampu bertahan sekitar kurang lebih 18 bulan (1,5 tahun). Apalagi kondisi kandang yang lem-bab dan minim sekali tersinari matahari, maka Salmonella akan lebih senang dan mudah berkembang biak.

Salmonella, bisa datang ke kandang lewat merpati luar yang dimasukkan ke dalam kandang tanpa dikarantina terlebih dahulu. Maksud karantina di sini adalah dimandikan dengan shampoo atau jenis antiseptik untuk menghilangkan virus atau bakteri yang melekat pada bulunya. Selanjutnya, dijemur di terik sinar matahari. Ini dilakukan selama tiga sampai empat hari. Selanjutnya, merpati bisa disatukan dengan merpati lainnya.
Selain itu, vektor (penghantar) munculnya Salmonella bisa lewat lalat, tikus atau jenis hewan lainya. Juga bisa lewat makanan. Oleh sebab itu sebaiknya kandang harus bebas dari tikus atau jenis hewan lainya. Juga makanan dijaga, sehingga bisa lebih higienis.
Ada satu lagi yang sangat-sangat mengkhawatirkan yakni penyakit ini bisa masuk ke dalam calon embrio lewat transmisi bakteri ke sel. Bila sudah seperti ini, embrio dapat mati (sebab, tingkat bakteri yang masuk sudah terlalu tinggi). Salah satu cirinya adalah ada tanda "hitam" pada telur. Jika sudah demikian, telur pun tidak bisa menetas.
Adapun gejala merpati yang sudah terjangkit penyakit ini yakni:
Pertama, merpati kelihatan sehat, namun tidak ada keinginan untuk terbang. Terlihat lemas dan keesokkan harinya jika tidak terdeteksi, merpati langsung sekarat.
Kedua, diare tinggi. Tinja yang dikeluarkan berwarna hijau atau keputihan disertai lendir. Jika sudah seperti ini, maka secepatnya mania harus menyingkirkan. Bila tidak, bakal menularkan ke merpati lainnya.
Ketiga, bila sudah terjangkit Salmonella, maka artikulasi dari sayap atau kaki bengkak dan sakit ketika disentuh. Kadang-kadang merpati tidak bisa terbang, bahkan sayap tergantung dan menempel pada lantai.
Keempat, bila sudah seperti itu, maka infeksi mudah merambat ke jaringan otak. Akibatnya, kepala tengleng dan miring. Atau mania barat menyebutnya kehilangan orientasi dan gerakan yang menyerupai infeksi Paramyxovirus.
Oleh sebab itu, sebaiknya penghobi menggunakan kandang alminium (tahan karat). Bila dana kurang menunjang, bisa menggunakan bahan dari kayu, dengan catatan harus dilakukan pengecetan, guna menghindari masuknya Salmonella pada sel-sel kayu.
Juga, cara pembersihan kandang harus ke semua arah dan lebih difokuskan pada pojok kandang. Sebab, umumnya, pada pojok kandang ini lebih banyak terdapat tinja yang melekat. Kotoran seperti ini disukai Salmonella untuk bertahan hidup sampai 18 bulan.
Lain lagi, jika kandang terbuat dari alminium, maka sekali semprot, kotoran bisa hilang dan kandang bersih bebas dari sisa tinja yang ada. (Agrobur)

Perawatan, pegang peran penting tingkatkan kualitas burung

Burung yang sehat nafsu makannya tidak berubah, bulunya tampak rapi, kotorannya tidak encer dan tidak berubah warna. Penyebab gangguan kesehatan yang dialami burung berkicau dan burung perkutut bisa dianggap sama. Pada umumnya kesehatan burung sangat tergantung pada kebersihan sangkar, minuman, dan juga kandungan gizi pakan yang dikonsumsinya.

A. Menjaga Kesehatan Burung
Agar burung tetap sehat dan rajin berkicau maka kesehatannya harus tetap dijaga. Untuk itu, beberapa hal perlu diperhatikan.
1. Pakan dan air minum
Pakan harus bervariasi jenisnya supaya kebutuhan gizi burung terpenuhi. Sebaiknya tidak mengandalkan satu jenis makanan karena burung bisa kekurangan zat tertentu.
a. Pakan buatan
Pakan buatan yang diproduksi oleh pabrik pakan ternak umumnya telah diatur kandungan gizinya secara baik dan seimbang. Burung yang telah mau memakan pakan buatan menjadi mudah perawatannya.
Di samping kebutuhan gizinya lebih terjamin, pakan buatan juga tahan dalam penyimpanan dan tidak tergantung pada cuaca untuk mendapatkannya. Pakan buatan yang telah kedaluwarsa, berjamur, berubah bau maupun warna sebaiknya tidak diberikan lagi.
Kualitas pakan buatan tidak tergantung pada kemasan atau harganya, tetapi komposisinya yang cocok. Apabila kualitas pakan diragukan maka mutunya dapat ditingkatkan dengan menambahkan madu, multivitamin, kuning telur, atau mencampurnya dengan tepung .cacing. Pakan buatan yang telah dicampur dengan bahan tambahan itu dijemur hingga kering.
Setelah benarbenar dingin barulah dimasukkan ke dalam kaleng. Penggantian pakan ini sebaiknya dilakukan secara bertahap. Pada mulanya, porsi pakan baru yang dicampurkan dengan pakan yang telah biasa diberikan relatif sedikit. Lamakelamaan porsi itu ditambah secara bertahap sehingga pada akhirnya pakan baru mengantikan pakan lama.
b. Buah-buahan .
Burung-burung tertentu sangat menyukai pisang, sekalipun sedikit. Dengan demikian untuk burung pemakan buah, dalam jangka panjang, pisang kepok bisa tetap diberikan agar burung menjadi lincah dan rajin berkicau.
Kandungan protein pisang kepok (1,4%) cukup baik bagi burung berkicau. Jenis pisang kepok yang baik adalah yang putih karena rasa asamnya tidak terasa.
c. Pakan selingan pemacu suara
Pakan hidup diberikan kepada burung berkicau untuk kesegaran fisik dan memacu suara. Contohnya jangkerik, ulat hongkong, ulat bambu, ulat daun, belalang, dan kroto.
Pemberian pakan selingan, terutama ulat hongkong, harus dibatasi. Pemberian yang terlalu berlebihan dapat menganggu kesehatan burung, misalnya mengakibatkan kerontokan bulu dan terkadang dapat membuat mata bengkak. Pakan itu sebaiknya diberikan dalam keadaan segar dan tidak basi.
Pemberian ikan kecil atau daging ikan air tawar bisa diberikan pada burung tertentu. Pemberian ikan jenis kecil dan potongan daging ikan mujair dan ikan mas membuat bakalan burung jalak dewasa/muda hutan misalnya mau berkicau lebih cepat.
Ikan kecil ini banyak dijumpai di aliran irigasi yang airnya tenang, di paritparit, dan di daerah rawarawa. Anak ikan gabus juga dapat dimanfaatkan karena tulangnya masih halus. Pemberiannya dibatasi 3—5 ekor, pagi dan sore hari.
d. Air
Air minum harus tetap tersedia di dalam sangkar. Kekurangan air bisa menurunkan daya tahan tubuh burung. Akibat lebih parah lagi bisa merusak pita suara burung. Air minum burung berkicau sebaiknya dingin dan telah dimasak. Demi menjaga kesehatan burung, air harus diganti setiap hari..Sumber: Rusli Turut, Sukses Memelihara Burung Berkicau dari Thailand

Mengatasi gangguan kesehatan burung

Gangguan kesehatan pada burung berkicau ataupun perkutut biasanya didahului dengan terjadinya stres. Penyakit pada burung berkicau umumnya lebih ganas karena sering mengakibatkan kematian. Lain halnya dengan perkutut, fisiknya jauh lebih kuat sehingga penyakit yang menyerang biasanya dapat diobati.
1. Stres
Stres terjadi akibat gangguan yang dapat mengakibatkan tekanan jiwa pada burung. Gangguan lingkungan yang berlebihan, buruknya kondisi sangkar, dan juga pakan berkualitas rendah adalah penyebab utama terjadinya stres pada burung.
Apabila stres terjadi terus-menerus dan tidak dikendalikan maka burung berkicau menjadi takut mengicaukan suaranya.
Burung perkutut bakalan tidak mau nutut (bersuara) atau bersuara sangat pelan. Jika stres terjadi pada burung betina secara berkelanjutan dapat mengakibatkan mandul.
Biasanya stres yang tidak segera diobati mengakibatkan burung terserang penyakit dan berakhir dengan kematian.
Gejala
Burung seperti ketakutan, nafsu makannya berkurang, bulu kepala tampak mengembang, burung naik turun dari tenggeran ke dasar sangkar, burung berkicau takut mengicaukan suaranya, sedangkan burung perkutut tidak mau manggung.
Pencegahan
Burung diusahakan dan dihindarkan dari halhal yang memungkinkan terjadinya stres. Beberapa hal yang dapat dilakukan, terutama pada burung bakalan yang kondisinya masih labil adalah sebagai berikut.
a. Burung bakalan (baru) diletakkan agak tinggi.
b. Kalau tempatnya rendah, burung berkicau didampingkan dengan burung jenis lain yang lebih kecil, sedangkan perkutut didampingkan dengan burung sejenis yang belum terlalu rajin manggung.
c. Burung berkicau harus diberi pakan segar setiap hari, sedangkan perkutut harus dijemur setiap hari.
d. Lingkungan tempat burung diusahakan tidak banyak gangguan yang bisa menyebabkan burung stres.
e. Tidak memandikan burung bakalan yang baru dibeli karena dapat mengurangi nafsu makan.
Apabila burung sudah diperkirakan terkena stres maka dilakukan upaya untuk memulihkannya seperti berikut:
a. Apabila stres belum membuat burung lemas, burung ditempatkan di lingkungan yang tenang dan sejuk.
b. Apabila burung sudah terlihat agak lesu, ditempatkan di ruangan yang hangat (ada penerangan lampu).
c. Air minum burung berkicau diberi obat. Burung diberi pakan segar, seperti jangkerik dan belalang d. Perkutut diberi obat atau jamu.
Pemberian obat untuk mencegah agar burung tidak terserang penyakit, terutama untuk burung yang sudah lama dipelihara.
2. Gangguan pencernaan
Gejala
Kotoran berubah warna atau menjadi encer dan menempel di dubur. Burung kurang nafsu makan, bulu sayapnya turun.
Pencegahan
a. Kandang selalu bersih, air minum diganti setiap hari
b. Tidak memberi pakan alami yang basi atau jangkerik yang mati.
c. Burung bakalan dihindarkan dari hembusan angin kencang dan searah secara terus-menerus.
c. Burung bakalan yang baru dibeli sementara tidak dimandikan.
3. Radang mata
Gejala
Pelipis mata tampak merah. Mata mengeluarkan cairan.
Pencegahan
Faktor penyebab biasanya lingkungan yang kurang baik, pakan alami yang berlebihan, atau air mandi yang kurang bersih.
a. Burung dihindarkan dari debu dan asap.
b. Pemberian ulat hongkong sebaiknya tidak terlalu banyak (untuk burung berkicau cukup 3—5 ekor per hari).
c. Air mandi harus bersih.
d. Radang mata diobati dengan obat mata atau air sirih.
4. Coryza
Coryza adalah penyakit selesma yang terjadi pada burung berkicau dan perkutut. burung yang terserang penyakit ini sebelumnya mendapat stres dan tidak teratasi secara baik.
Gejala
Nafsu makan berkurang, paruh terus terbuka, dan mata tampak bengkak.
Pencegahan
Penyakit ini sering disebabkan oleh buruknya kondisi kandang atau penularan dari burung lain yang baru dibeli. Selain itu, burung bakalan atau burung yang telah lama dipelihara kurang mendapatkan perawatan yang baik.
a. Burung dihindarkan dari gangguan lingkungan.
b. Kualitas pakan, kebersihan air minuman, maupun sangkar selalu dijaga.
c. Burung yang baru dibeli dari pasar harus dijauhkan dari burung lama lebih kurang 1 minggu.
5. Kaki bersisik
Burung berkicau yang kaki dan jari-jarinya bersisik selalu dianggap sudah tua. Penafsiran seperti ini tidak selalu benar. Penyebab timbulnya sisik lebih dini pada burung berkicau terutama karena keliaran burung sulit dikendalikan, sempitnya sangkar, dan cara memandikan yang kurang baik.
Pencegahan
Sisik pada kaki burung berkicau pasti akan timbul setelah burung tersebut dipelihara beberapa tahun, tetapi sedapat mungkin harus dicegah agar tidak terjadi terlalu dini. Berikut cara memperlambat timbulnya sisik pada burung berkicau.
a. Tidak memaksakan burung bakalan agar cepat jinak dengan selalu menempatkannya di tempat yang rendah.
b. Sangkar harus memadai dan tidak kekecilan.
c. Burung berkicau dimandikan dengan sangkar mandi khusus agar kakinya selalu terkena air saat dimandikan.
d. Kaki burung perkutut digosok dengan bawang merah saat dimandikan.

Merawat burung pada saat ganti bulu

Di alam bebas, umumnya burung mengalami ganti bulu setelah selesai musim berkembang biak. Pada masa seperti ini, burung berkicau yang dipelihara perlu mendapatkan pakan bergizi tinggi.
Jenis pakan seperti jangkrik, belalang cukup baik diberikan agar kondisinya tetap stabil. Pemberian vitamin dapat mempercepat pertumbuhan bulunya yang baru.
Setelah ganti bulu, burung kicauan biasanya mengalami peningkatan suara dan mentalnya, jika perawatan yang diberikan cukup baik. Hal semacam ini akan terus berlanjut pada masa ganti bulu berikutnya.

Masa ganti bulu ini biasanya dimanfaatkan untuk menambah variasi suara kicauan pada jenis burung peniru seperti cucak dan jalak. Pada saat seperti ini, daya serap untuk menirukan suara relatif cepat karena burung tersebut lebih banyak diam dan tampak menikmati suara kicauan burung lain yang ada di dekatnya.
Burung yang sedang ganti bulu cenderung diam karena menahan rasa sakit akibat pertumbuhan bulu, terlebih lagi saat bulu kepalanya mulai tumbuh. Pada saat ini, burung seperti kedinginan dan lehernya seperti ditarik ke dalam (mengkeret). Dengan memberikan pakan bergizi, memberikan vitamin, memandikan, menjemur, dan memberikan pakan selingan dapat membuatnya tetap sehat dan mempercepat proses pertumbuhan bulunya.
Proses pertumbuhan bulu dapat berjalan lancar bila burung tersebut tidak mendapat banyak gangguan lingkungan.
Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, burung yang sedang mengalami ganti bulu harus ditempatkan di tempat yang sejuk dan tidak terganggu oleh burung-burung pendampingnya.
Proses ganti bulu pada burung berkicau biasanya 6—7 minggu dan bulunya yang rontok sudah tumbuh secara sempurna. Peningkatan suaranya dapat dilihat setelah 2 bulan dari saat rontok bulu pertama kali dan hal ini sudah bisa menjadi ukuran pada burung kicauan.

Cara membawa burung berkicau

Mengangkut atau membawa burung yang baru dibeli dari pasar perlu dipertimbangkan dan caranya harus baik. Dengan demikian, burung bakalan yang baru dibeli diharapkan cepat kembali berkicau setelah beberapa saat dipelihara.
Membawa Burung Berkicau
Cara membawa burung berkicau yang baru dibeli tidak sama karena ukuran fisik dan karakternya saling berbeda. Kesalahap dalam membawa burung bisa berpengaruh terhadap kondisi kesehatannya.

Untuk membawa poksai jambul putih dan jalak thailand yang masih bakalan misalnya, sebaiknya menggunakan kardus yang sisi sampingnya diberi lubang sirkulasi udara.
Kardus yang akan digunakan jangan terlalu besar. Sebaiknya tidak menggunakan besek karena kaki burung akan tertekuk sehingga mengakibatkan kepincangan yang tidak mudah disembuhkan.
Untuk membawa cucak dan ketilang jambul bisa menggunakan besek karena fisik kedua burung ini relatif kecil. Kardus atau besek bisa dimanfaatkan untuk membawa burung dalam jarak jauh dan selama lebih dari 8 jam, asalkan kondisi burung benarbenar sehat.
Burung itu cukup diberi potongan buah tomat atau pisang kepok dan pepaya di dalamnya.
Kardus dan besek tidak dianjurkan untuk membawa burung yang akan disertakan dalam kontes karena sangat riskan pada saat memindahkannya kembali ke dalam sangkar dan hal ini bisa membuatnya stres atau mungkin takut berkicau.
Burung yang akan disertakan dalam kontes atau latihan sebaiknya diangkut dengan menggunakan sangkarnya yang telah dikerudungi kain. Agar burung tetap segar, kain penutup dibuka sedikit sehingga terjadi sirkulasi udara dalam sangkarnya.
Membawa Perkutut
Kondisi fisik perkutut bakalan atau yang masih muda relatif labil. Untuk membawanya digunakan tempat khusus yang terbuat dari triplek berbentuk empat persegi panjang, ada yang hanya untuk satu burung dan ada juga untuk dua burung (dibuat bertingkat). Tempat perkutut banyak dijual di pasaran dan biasanya pedagang perkutut juga menjualnya.
Dengan cara tersebut, kondisi perkutut bakalan akan lebih terjamin. Untuk membawa perkutut dalam kontes atau latihan tetap memakai sangkarnya dan ditutupi dengan kain. Seperti halnya burung berkicau, obat antisetres bisa diberikan untuk menempuh perjalanan yang jauh.
Setelah sampai di tempat tujuan, burung ditempatkan di lingkungan yang tenang dan sebagaian kain penutupnya dibuka sebelum burung memasuki arena agar burung mendapat hawa segar. Sumber: Rusli Turut, Sukses Memelihara Burung Berkicau dari Thailand

Rabu, 25 Agustus 2010

Penjemuran dan pemberian vitamin burung

Menjemur burung (setelah dimandikan atau pada saat tidak dimandikan) di pagi hari antara pukul 07.00—09.30 cukup baik. Panas pada waktu tersebut sangat memberi manfaat pada burung. Selain bisa mengeringkan bulu yang basah, juga bisa mengurangi parasit yang ada di dalam sangkar. Keuntungan lain menjemur burung di pagi hari, tubuh burung dapat membentuk vitamin D dari sinar matahari yang didapat secara langsung.

Dengan demikian, suara kicauan burung semakin baik karena rangsangan yang didapat dari sinar ultraviolet. Dengan banyaknya manfaat yang didapat, burung diupayakan mendapat sinar matahari pagi walaupun hanya 15 menit.
Memberikan vitamin
Pemberian vitamin secara berkala dan teratur dapat menambah daya tahan tubuh burung, mencegah timbulnya penyakit defisiensi, dan merangsang burung rajin berkicau. Pemberian vitamin biasanya dicampurkan dalam air minumnya.
Apabila pakan yang dikonsumsi burung sudah cukup baik kandungan gizinya dan jenisnya bervariasi maka pemberian vitamin bisa dibatasi hanya pada saat tertentu. Sebagai contoh, pada saat ganti bulu, vitamin diberikan selama beberapa minggu. Untuk mempercepat penyegaran kondisinya dari perjalanan jauh, dalam air minumnya diberikan vitamin agar burung dapat berkicau seperti semula.
6. Merawat burung pada saat ganti bulu
Di alam bebas, umumnya burung mengalami ganti bulu setelah selesai musim berkembang biak. Pada masa seperti ini, burung berkicau yang dipelihara perlu mendapatkan pakan bergizi tinggi. Jenis pakan seperti jangkrik, belalang cukup baik diberikan agar kondisinya tetap stabil. Pemberian vitamin dapat mempercepat pertumbuhan bulunya yang baru.
Setelah ganti bulu, burung berkicau biasanya mengalami peningkatan suara dan mentalnya, jika perawatan yang diberikan cukup baik. Hal semacam ini akan terus berlanjut pada masa ganti bulu berikutnya.
Masa ganti bulu ini biasanya dimanfaatkan untuk menambah variasi suara kicauan pada jenis burung peniru seperti cucak dan jalak. Pada saat seperti ini, daya serap untuk menirukan suara relatif cepat karena burung tersebut lebih banyak diam dan tampak menikmati suara kicauan burung lain yang ada di dekatnya.
Burung yang sedang ganti bulu cenderung diam karena menahan rasa sakit akibat pertumbuhan bulu, terlebih lagi saat bulu kepalanya mulai tumbuh. Pada saat ini, burung seperti kedinginan dan lehernya seperti ditarik ke dalam (mengkeret). Dengan memberikan pakan bergizi, memberikan vitamin, memandikan, menjemur, dan memberikan pakan selingan dapat membuatnya tetap sehat dan mempercepat proses pertumbuhan bulunya.
Proses pertumbuhan bulu dapat berjalan lancar bila burung tersebut tidak mendapat banyak gangguan lingkungan. Untuk mence
gah terjadinya hal tersebut, burung yang sedang mengalami ganti bulu harus ditempatkan di tempat yang sejuk dan tidak terganggu oleh burungburung pendampingnya.
Proses ganti bulu pada burung berkicau biasanya 6—7 minggu dan bulunya yang rontok sudah tumbuh secara sempurna. Peningkatan suaranya dapat dilihat setelah 2 bulan dari saat rontok bulu pertama kali dan hal ini sudah bisa menjadi ukuran pada burung berkicau. Sumber: Rusli Turut, Sukses Memelihara Burung Berkicau dari Thailand

Jaga kebersihan sangkar dan burung Anda

Kotoran burung berkicau biasanya sangat bau dan bagian tatakan tempat kotorannya sering basah. Oleh karena itu, sangkar harus dibersihkan setiap hari. Untuk memudahkan pembersihan kotorannya, di atas tatakan diberi koran bekas yang diganti setiap dua hari sekali. Alternatif lain, alas sangkar dipilih yang dapat dilepas sehingga pada saat akan dibersihkan cukup dengan melepaskannya.
Salah satu cara menjaga kesehatan burung dan membuatnya tetap rajin berkicau adalah dengan memandikan kemudian menjemurnya untuk mengeringkan bulunya yang basah.
Burung dimandikan dalam tempat mandi khusus burung yang dapat dibeli di penjual sangkar. Keuntungan memandikan burung dengan sangkar khusus antara lain burung menjadi terbiasa didekati dan lebih cepat jinak, burung bisa mandi sepuasnya, burung terangsang cepat berkicau, memperlambat timbulnya sisik pada kaki dan jarijarinya, waktu untuk membersihkan sangkar dan mengganti pakan atau minuman menjadi lebih leluasa.
Keuntungan itu tidak akan didapatkan jika burung dimandikan dengan bantuan penyemprot air (sprayer). Bahkan penyemprotan ini bisa membuat bulu burung menjadi pecahpecah, kadangkadang burung bakalan yang masih liar juga bisa terluka karena terus berlompatan pada jeruji sangkarnya.
Waktu memandikan burung berkicau yang paling baik adalah saat ada panas matahari sebelum pukul 09.00 dan sore hari antara pukul 15.00—16.00. Hal ini untuk mempercepat burung menjadi jinak, agar berkicau lebih berani dan lebih rajin.
Bagi burung yang terlatih, sebaiknya dimandikan pada sore hari agar di pagi hari (sambil dijemur) tidak terganggu bila berkicau. Keuntungan lain memandikan burung di sore hari yaitu kondisi sangkar menjadi lebih bersih saat ditempatkan di dalam rumah pada malam hari karena pada saat burung dimandikan, sekaligus sangkar dibersihkan.Sumber: Rusli Turut, Sukses Memelihara Burung Berkicau dari Thailand

Kutilang jambul Thailand


Kutilang jambul (Pycnonotus jocosus/ redwhiskered bulbul) asal Thailand, di pasaran dikenal dengan sebutan ketilang malaysia. tubuhnya lebih kurang 20 cm. Di antara kerabatnya, penampilan ketilang jambul tergolong baik karena corak bulunya paling menarik.
A. Ciri-Ciri Fisik
Ukuran tubuh ketilang jambul asal Thailand tidak terlalu berbeda dengan ketilang lokal dan juga dari burung sekerabatnya. Ketilang jambul thailand mempunyai paruh, mata, dan jambul berwarna hitam. Di bawah lingkar mata terdapat bercak bulu berwarna merah. Bulu pipi berwarna putih dan di bawah pipi ada garis bulu berwarna hitam.
Bulu sayap dan ekor hampir sama, yaitu cokelat kehitaman, tetapi pada bagian ujung ekor samping kanan dan kiri ada bercak bulu berwarna putih. Bulu pada bagian dagu hingga tenggorokan berwarna putih; bulu dada sampai perut abuabu kotor; bulu penutup ekor bawah berwarna merah. Kaki dan jari-jarinya hitam.
Di pasaran, saat ini hanya ada ketilang jambul dewasa dan untuk membedakannya dengan burung muda hutan bisa dilihat dari tingkah lakunya. Tingkah laku ketilang dewasa sangat liar, sedangkan ketilang muda hutan lebih tenang.
B. Habitat dan Pakan Alami
Ketilang jambul asal Thailand menyukai hidup di tempat terbuka dan dekat dengan lingkungan berpenduduk. Selain memakan jenis serangga, ketilang jambul juga memakan buabbuahan yang mengandung banyak air.
Uniknya, ketilang jambul thailand kurang menyukai ulat hongkong. Oleh karena itu, agar bertambah sehat perlu diberi pisang kepok, terutama untuk perawatan tahap awal. Agar tidak terlalu tergantung pada pakan buah seperti pisang kepok maka pisang kepok itu diberikan 3—4 hari sekali. Biasanya satu

buah pisang kepok yang diberikan baru habis dalam dua hari dan sebaiknya tidak memberikan sisanya.
C. Perbedaan Jantan dan Betina
Jenis kelamin ketilang jambul thailand tidak bisa dibedakan dari ukuran tubuhnya, tetapi dari warna pada bagian tubuhnya. Ciriciri fisik yang telah disebutkan adalah ciri burung jantan, sedangkan pada betinanya tidak memiliki warna merah atau warna cokelat di bagian garis matanya.
Selain itu, warna pada bulu penutup ekor bagian bawah tidak semerah jantannya. Dari segi suara kicauannya, ketilang jambul jantan lebih bervariasi dan lebih rajin dari betinanya.
D. Daya Tarik Ketilang Jambul Thatland
Sebenarnya belum banyak daya tarik yang dimiliki ketilang jambul untuk sekarang ini, mengingat keberadaannya di pasaran belum terlalu:lama. Selama ini, hanya cucakrawa yang dapat mengangkat derajat kerabatnya kemudian disusul jokjok. Berikut daya tarik ketilang jambul thailand.
1. Berpenampilan paling menarik di kelasnya
Selain warna bulunya, daya tarik ketilang jambul thailand juga pada cara berdirinya yang selalu tegak dan tingkah lakunya yang tidak terlalu agresif, sekalipun burung ini tergolong liar. Jambulnya yang menyembul ke atas menjadi ciri khasnya.
Hal yang membuat orang selalu berpaling ingin melihatnya yaitu loreng pada pipinya dan ciri tersebut jarang sekali dimiliki burung berkicau lain. Sebagai burung berkicau yang memiliki corak warna yang baik, ketilang jambul thailand sangat baik dijadikan salah satu burung koleksi. Lebih menarik bila burung ini telah benarbenar jinak karena ketilang jambul tergolong ramah pada burung jenis lain yang lebih kecil. Ukuran tubuhnya yang sedang juga terasa lebih anggun bila berada di antara burungburung koleksi.
2. Cepat berkicau
Ketilang jambul thailand cepat atau mudah dilatih berkicau, sekalipun burung tersebut tergolong dewasa dan liar. Hal semacam ini sulit ditemukan pada burung berkicau lokal, apalagi pada anggota keluarga Pycnonotidae. Ketilang jambul thailand yang masih bakalan (liar) dalam waktu seminggu setelah dibeli sudah mau berkicau, walaupun suaranya tidak terlalu baik. Vokal suara ketilang jambul thailand agak mirip dengan yang disuarakan ketilang lokal, khususnya saat burung ini mengeluarkan suara panggilan untuk lawan sejenisnya.
Variasi suara ketilang jambul thailand lebih banyak daripada ketilang lokal. Suara kicauannya pun lebih keras, lebih tajam, dan volumenya lebih besar. Pada saat ada bahaya, ketilang jambul tbailand mengeluarkan suara clak...clak...kerrr...clak...kerrr, sedangkan ketilang lokal det...det...det...det...det. Suara tersebut bisa digunakan untuk membedakan keduanya.
Ketilang jambul thailand juga sering menyuarakan kicauan seperti burung jokjok. Tentunya hal ini bisa menjadi keisrimewaannya, jika nantinya dikombinasikan secara baik dalam irama lagu yang keras dan cepat. Suara kicauan yang dimiliki ketilang jambul thailand jantan akan semakin baik dan berkembang bila dipelihara bersama lawan jenisnya.
E. Kelemahan Ketilang Jambul Thailand
Kelemahan yang tampak pada ketilang jambul thailand hanya pada suara dan sifatnya yang agak sulit dikendalikan. Kelemahankelemahan yang lain, di antaranya sebagai berikut.
1. Suara kicauannya agak pecah
Kicauan ketilang jambul thailand cukup tajam dan keras, tetapi agak pecah dan ketebalan suaranya tidak ditonjolkan. Kalau saja suaranya mengkristal seperti kicauan jokjok, pasti cepat diminati. Suaranya mudah didengarkan karena tempo kicauannya agak lambat dan selalu terputus atau variasinya tidak menyambung.
Jika dijadikan pendamping jalak thailand yang cukup pandai menirukan kicauan burung lain, pasti ketilang jambul thailand mampu mengicaukannya lebih baik lagi. Namun, karena belum lama berada di pasaran maka kelemahan suaranya belum dapat dipastikan. Meskipun demikian, kicauan dan variasi yang dimiliki ketilang jambul thailand lebih baik dari suara burung kacer (Copcychus saularis), tetapi irama suaranya kurang baik.
2. Sulit dijinakkan ,
Setelah dijinakkan, ketilang jambul thailand menjadi lebih rajin berkicau. Namun, seperti burung berkicau lain yang ditangkap sudah dewasa, ketilang jambul thailand biasanya memerlukan waktu lama untuk menjadi lebih jinak dari sebelumnya. Untuk menjinakkannya tidak harus dipaksakan dengan selalu menempatkan sangkarnya di tempat yang rendah karena hal ini akan membuatnya takut berkicau.
Perawatan ketilang jambul thailand seperti hwa mei, yaitu dengan memandikannya sesering mungkin di dalam tempat mandi khusus burung. Proses penjinakan sebaiknya karena faktor waktu dan perawatan yang baik sehingga kicauannya tetap terjaga seperti suara alamnya.
F. Petunjuk Pembelian
Tidak ada kriteria khusus untuk memilih bakalan yang baik dari ketilang jambul thailand. Harganya pun tergolong paling murah di antara burung jenis impor, sekalipun hwa mei betina.
1. Ciri bakalan yang baik
Anda tidak perlu khawatir salah dalam memilih jantan dan betinanya karena saat ini yang diimpor sebagian besar adalah jantannya. Bakalan yang dipilih harus sehat dan tidak cacat fisik, ekornya komplit, postur tubuhnya besar, dan paling tenang di antara bakalan yang ada. Dari tingkah lakunya, ketilang jambul bakalan yang tidak berekor sepertinya memang sudah lebih lama dipelihara. Padahal untuk menumbuhkan ekornya secara sempurna diperlukan waktu 6 minggu, kalau perawatannya baik. Kalau perawatan kurang baik bisa mengakibatkan bulu yang baru tumbuh patah kembali. Selang waktu itu bisa saja menimbulkan rasa bosan.
2. Kisaran harga
Harga bakalan ketilang jambul thailand pada awal tahun 1998 tidak lebih dari Rp 25.000,00, bahkan kadang kurang dari Rp 20.000,00. Harga ini tergolong murah karena harga sam hou betina saja sudah mencapai Rp 40.000,00. Namun, dari bentuk fisik dan suara kicauan dasarnya, ketilang jambul thailand memiliki potensi cukup baik.
Ketilang jambul thailand mempunyai peluang mengungguli cucak thailand, mengingat jumlah bakalannya cukup banyak. Di samping itu, ada kelebihan lain yang belum bisa terungkap dan sangat menunjang sebagai burung kontes, walaupun kelasnya tetap di bawah jalak thailand.
G. Petunjuk Perawatan
Jenis sangkar yang digunakan harus berkualitas baik. Bilamana perlu, sangkar dibuat menjadi lebih baik dari sebelumnya agar tidak membahayakan burung bakalan yang masih liar.
1. Sangkar dan perlengkapannya
Dari sekian banyak jenis sangkar, ada dua bentuk yang paling baik untuk ketilang jambul thailand, yaitu segi empat dan bulat.
a. Sangkar
Agar ketilang jambul thailand bakalan bisa tenang maka ukuran sangkar dan bentuknya harus diperhatikan. Sebaiknya dipilih sangkar segi empat dengan ukuran agak besar, minimal berukuran panjang 36 cm, lebar 37 cm, dan tinggi 70 cm. Lebih bagus lagi jika sangkar itu ada ukirannya. Sangkar bulat berdiameter 40 cm juga bisa dipergunakan bila burung bakalan sudah agak jinak.
Pada kondisi tempat atau lingkungan relatif sempit dan ramai, sebaiknya digunakan sangkar segi empat yang berukuran kecil. Penggunaan sangkar kecil dimaksudkan untuk mencegah agar burung tidak terlalu banyak melakukan gerakan yang bisa membahayakan. Pada ketilang jambul yang benarbenar telah jinak, sangkar berukuran sedang (panjang 30 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 55 cm) cukup baik.
b. Tenggeran
Tenggeran di dalam sangkar sebaiknya terbuat dari jenis kayu yang kuat dan liat, seperti kayu asem jawa, jambu batu, atau dari kayu jambu air. Di dalam sangkar ditempatkan satu batang yang bercabang atau dua buah tenggeran yang diletakkan secara menyilang.
Diameter cabang kayu minimal 1,5 cm dan penempatannya harus tepat (tidak goyang). Penempatan dua tenggeran hanya untuk sangkar yang berukuran besar. Cabang kayu yang akan digunakan tidak perlu terlalu lurus karena ketilang jambul lebih menyukai cabang dengan posisi miring.
c. Tempat pakan dan minuman
Ketilang jambul thailand bukanlah burung yang jorok sehingga tidak perlu khawatir burung ini akan mengacakacak pakan atau mengambil air minuman untuk mandi.
2. Penempatan sangkar
Sangkar sebaiknya ditempatkan di lingkungan yang tenang atau jauh dari gangguan apa pun. Tempat tersebut terlindung dari hembusan angin kencang dan sinar matahari yang berlebihan di siang hari. Tempat yang sejuk dan terlindung dapat membuat burung bakalan lebih tenang dan cepat berkicau.
Ketilang jambul thailand yang masih bakalan dan liar dapat cepat berkicau kalau digantung pada ketinggian minimal 2 m. Bila digantung pada tempat yang rendah memerlukan waktu 2—3 minggu untuk membuatnya mulai berkicau. Itu pun kalau tidak banyak gangguan atau lingkungan tidak terlalu berisik. Untuk membuatnya cepat berkicau di tempat yang rendah, sebaiknya didampingi dengan robin atau ketilang lokal dan jenis burung lain yang berbadan lebih kecil yang sudah terlatih.
Penempatan burung jenis lain yang telah rajin berkicau diharapkan dapat memancingnya untuk cepat berkicau. Jika terpaksa harus menempatkannya di tempat rendah, sangkarnya harus benarbenar kuat dan berkualitas baik. Hal ini untuk menghindari terjadinya luka pada bagian tubuhnya dan yang pasti untuk sementara waktu burung bakalan liar akan terus bergerak dan melompat-lompat.  Sumber: Rusli Turut, Sukses Memelihara Burung Berkicau dari Thailand

Jalak Thailand


Jalak thailand (Sturnus nigricollis/black Collared starling) di pasaran likenali dengan sebutan jalak hongkong. Ukuran tubuh jalak hailand lebih besar dan lebih panjang dari jenis jalak lokal seperti jalak suren, jalak putih, maupun jalak bali yang fisiknya tergolong besar.
A. Ciri-Ciri Fisik

Jalak thailand hampir menyerupai jalak suren. Keduanya dibedakan oleh bulu kepala dan dagu jalak thailand yang berwarna putih semuanya. Jalak thailand yang telah dewasa, dari mantel hingga ke leher dilingkari bulu berwarna hitam. Bulu sayapnya didominasi warna hitam sampai ke bagian ekornya, sedangkan bulu dadanya hingga ke penutup bulu ekornya berwarna putih. Paruh dan kakinya berwarna hitam keabuabuan. Di matanya melingkar warna kuning, garis matanya berwarna kekuningkuningan. Dibandingkan jalak jenis lain dari keluarga Sturnidae, fisik jalak thailand lebih tegak dan ttampak lebih gagah, dadanya pun terlihat lebih bidang.
Jalak thailand yang masih muda (muda hutan) mempunyai bulu pada bagian dagu hingga ke batas dada burung muda hutan berwarna kecokelatan. Keunikan jalak thailand muda yaitu sifat liarnya bisa melebihi burung dewasa dan hal ini bisa menjadi kendala perawatan pada tahap awal.
B. Habitat dan Pakan Alami
Di alam bebas, jalak thailand hidup di kaki bukit atau di daerah dataran tinggi yang tanahnya membentuk kemiringan. Disamping itu lingkungan tersebut memiliki hutan yang agak lebat dan juga terdapat sumber air yang dangkal. Meskipun jalak thailand mencari kebutuhan hidupnya di pohonpohon, tetapi burung ini selalu ada di permukaan tanah.
Pakan alami jalak thailand adalah serangga jenis besar seperti belalang dan kupukupu. Dalam musim berkembang biak, rumput kering dan ranting kayu kering menjadi bahan utama pembuat sarang. Umumnya jenis pohon palem menjadi pilihan untuk bersarang. Dalam sekali musim berkembang biak, jalak thailand bertelur 3—4 butir dan jarang ada yang gagal dalam pengeraman.
C. Perbedaan Jantan dan Betina
Jalak thailand jantan kepalanya lebih besar, bulu yang mengalung di lehernya berwarna lebih cerah, tubuhnya lebih gempal,
ekornya lebih panjang. Sementara jalak thailand yang betina kepalanya lebih kecil, bulu yang mengalung di lehernya tampak kusam, tubuhnya lebih kecil, ekornya lebih pendek.
Burung jantan maupun betina bisa berkicau, tetapi yang jantan lebih rajin. Namun, ciri itu hanya terlihat pada jalak thailand yang tergolong dewasa. Sementara untuk membedakan jenis kelamin pada burung anakan atau muda hutan hanya dengan memperkirakan besar kepala dan panjang fisiknya.
D. Daya Tarik Jalak Thailand
Daya tarik yang paling menonjol dari jalak thailand adalah suara dan kemampuannya menirukan kicauan burung lain.
1. Peniru kelas tinggi
Jalak thailand mampu menyuarakan dengan baik kicauan yang ditirunya. Bahkan suara yang dikitaukannya bisa lebih baik dari kicauan burung aslinya. Vokal suara jalak thailand yang terbentuk seperti halnya poksai hitam dan robin asal Cina. Jadi, kalau jalak thailand menirukan suara burung tersebut maka suara yang dikicaukannya akan sama. Kalau rajin dilatih, jalak thailand yang masih anakan bisa mengoceh seperti beo.
Tipe kicauan jalak thailand cukup besar, keras, dan tajam. Sebaiknya, ciriciri suara yang akan ditirunya juga tidak jauh berbeda. Suara burung yang baik untuk ditiru jalak thailand di antaranya hwa mei, jokjok, robin (betina/jantan), kenari, prenjak, ciblek, dan burungburung lain yang memiliki suara keras dan vokalnya berbentuk. Kalau burung pendampingnya masih sekerabat dengan jalak maka suara yang kelak akan ditonjolkan kemungkinan adalah kicauan keras, tajam, tetapi vokalnya tak berbentuk seperti halnya suarasuara jeritan.
2. Bisa ditampilkan dalam kontes
Dalam kontes, kriteria suaranya belum memungkinkan bisa mendapat nilai baik. Namun, dengan kemampuannya menirukan suara burung lain, kombinasi suara asli dengan suara burung yang ditirukan itu dapat menunjang penampilannya dalam kontes. Agar jalak thailand tampil baik dalam kontes, paling tidak mampu mengicaukan 5—7 jenis suara burung lain. Diharapkan suara yang ditirunya merupakan kombinasi antara suara kicauan yang vokalnya berbentuk dan yang ridak berbentuk supaya kelak ada variasi suara yang unik.
E. Kelemahan Jalak Thailand
Jalak thailand mempunyai kelemahan yang bersifat permanen maupun temporer, tergantung pada perawatannya. Kelemahan ini bisa terjadi pada semua tingkatan usia jalak thailand yang masih bakalan, terutama pada burung bakalan yang usianya tergolong dewasa. Berkaitan dengan itu, tahap awal pemeliharaan sangat menentukan kualitas suara kicauan dan penampilan jalak thailand.
1. Burang dewasa agak sulit dijinakkan
Jalak thailand dewasa agak sulit dijinakkan dalam waktu singkat. Sekalipun burung dewasa cukup liar, tetapi keliarannya tidak berlebihan seperti hwa mei yang diimpor dari Cina. Bahkan untuk menjinakkan jalak thailand yang liar masih lebih mudah dan lebih cepat daripada menjinakkan bakalan jalak suren dewasa.
2. Bisa memiliki gaya salto
Gaya salto sering dilakukan burung bakalan liar ketika merasa terganggu atau ketakutan. Gaya ini sebaiknya dicegah karena dapat mengurangi nilai saat dikonteskan, meskipun burung tersebut memiliki suara kicauan yang baik.
Timbulnya gaya salto pada burung biasanya akibat kesalahan perawatan, terutama pada tahap awalnya. Bila Anda belum berpengalaman merawat burung berkicau jenis impor, lebih baik memelihara jalak thailand yang masih anakan.
3. Bisa mengatur waktu berkicau
Jalak thailand tidak terlalu sering berkicau atau bisa mengatur waktu berkicau. Kendala semacam ini bisa diatasi dengan menempatkan burung lain yang cukup rajin berkicau. Burung tersebut harus memiliki suara kicauan yang baik bila ditiru, misalnya robin jantan atau betina. Penempatan burung seperti ini dapat merangsang jalak thailand menjadi lebih rajin berkicau. Berarti kebiasaan mengatur waktu dalam berkicau dapat diubah dengan cara seperti itu.
F. Petunjuk Pembelian
Tingkat usia jalak thailand sangat berpengaruh pada proses perawatan dan juga daya serapnya dalam menirukan suara burung lain. Oleh karena itu, sebelum membeli bakalan burung, hendaknya dipertimbangkan dahulu.
1. Ciri bakalan yang baik
Bakalan jalak thailand sebaiknya dipilih yang sehat, masih muda, dan tidak cacat fisik. Kriteria lain yang bisa dijadikan ukuran, antara lain kepalanya tampak besar, dadanya bidang, badannya tampak panjang, dan matanya bersinar.
2. Kisaran harga
Harga jalak thailand di pasaran tergolong murah bila dibandingkan dengan burung impor unggulan lainnya. Yang tergolong agak mahal adalah burung yang masih anakan, apalagi jika pengirimannya terlambat, pedagang burung (agen) bisa menjual 1,5—2 kali lipat dari harga biasanya.
Di pasar burung di Jakarta, harga bakalan dewasa dan muda hutan sekitar Rp 60.000,00/ekor. Sementara, harga anakannya bisa mencapai Rp 80.000,00—Rp 90.000,00/ekor dan kalau sedang kosong bisa mencapai Rp 100.000,00. jalak thailand yang sudah rajin berkicau harganya lebih dari Rp 150.000,00. Kisaran harga itu mengacu pada harga di awal tahun 1998.
G. Petunjuk Perawatan
Perawatan jalak thailand bakalan yang tergolong dewasa memerlukan perlakuan khusus pada tahap awal. Sementara burung bakalan anakan tidak boleh dibuat terlalu jinak kalau sasaran pemeliharaan untuk ditampilkan dalam kontes.
1. Sangkar dan perlengkapan
Sangkar untuk burung dewasa atau burung muda hutan yang masih terlalu liar harus dibedakan dengan burung anakan. Sangkar untuk burung dewasa liar sebaiknya jerujinya lebih kecil dan agak rapat supaya pangkal paruhnya tidak mudah terluka saat burung tersebut ingin menerobos keluar.
a. Ukuran sangkar bakalan dewasa dan muda hutan
Agar jalak thailand tidak melakukan salto sebaiknya digunakan sangkar yang berukuran kecil (jarak antara kepala saat burung ada di tenggetan dan atap sangkar hanya 5—10 cm) agar ruang geraknya menjadi terbatas. Sangkar biasanya berukuran panjang 26 cm, lebar 26 cm, dan tinggi 36 cm. Karena sangkar berukuran kecil maka harus rajin dibersihkan. Sangkar kecil ini digunakan sampai burung benarbenar jinak. Waktu yang dibutuhkan untuk menjinakkannya sangat tergantung pada cara perawatan, paling cepat 2—3 bulan.
Bentuk sangkar yang baik untuk jalak thailand adalah segi empat. Bentuk sangkar lainnya kurang sesuai dengan postur tubuhnya yang besar dan selalu tegak.
b. Ukuran sangkar bakalan anakan
Sangkar bakalan anakan sebaiknya yang besar, ukurannya kirakira panjang 30 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 60 cm. Sangkar seukuran ini bisa digunakan hingga burung menjadi dewasa, tetapi kualitas dan kebersihannya harus diperhatikan karena burung muda (anakan) selalu turun ke dasar sangkar.
c. Tenggeran
Tenggeran untuk jalak thailand sebaiknya berdiameter minimal 2 cm, terbuat dari ranting yang kuat, liat, dan tahan lama. Sebelum ditempatkan dalam sangkar, permukaan kayu harus bersih dan tidak tajam.
d. Tempat pakan dan tempat minuman ;
Tempat pakan dan tempat minuman, maupun tempat ulat untuk jalak thailand tidak perlu terlalu besar. Tempat minuman sebaiknya dipilih yang bagian permukaannya kecil agar airnya tidak dipergunakan untuk mandi.
2. Penempatan sangkar
Penempatan sangkar jalak thailand dewasa dan yang masih muda hutan, sekalipun liar, tidak perlu terlalu tinggi. Justru jalak thailand yang masih anakan harus ditempatkan agak tinggi (setinggi gapaian tangan). Untuk itulah, sangkar kecil pada burung bakalan dewasa atau yang muda hutan sebaikriya diberi tutup pada bagiari atasnya agar burung bakalan yang masih liar tidak selalu melihat ke bagian atas sangkar seperti ingin mencari jalan keluar.
Sangkar burung bakalan yang masih liar sebaiknya tidak digantung, tetapi ditempelkan di dinding. Sangkar ditempatkan saling berjauhan sehingga burung tidak bisa saling melihat. Beberapa burung berkicau jenis lain ditempatkan di dekatnya supaya burung bakalan lebih tenang dan suaranya bisa ditiru.  Sumber: Rusli Turut, Sukses Memelihara Burung Berkicau dari Thailand

Cucak Thailand

Cucak thailand (Chloropsis aurifrons/Goldenfronted leafbird) masih kerabat dekat dengan cucak rante (Chloropsis cochinchiwnsis) yang dikenal peneliti dengan "burung sayap biru".

Sepintas, penampilan fisiknya sangat mirip, tetapi ukuran tubuh cucak thailand lebih kecil. Cucak thailand juga sering ditafsirkan seperti burung lokal lain yang juga masih satu keluarga, yaitu cucak ijo (Chloropsis sonneraci), tetapi badan cucak ijo lebih besar. Dibandingkan cucak ijo, cucak thailand hanya kalah dari volume suaranya. Namun, dalam banyak hal cucak thailand lebih unggul, terutama gayanya saat berkicau.
A. CiriCiri Fisik
Panjang tubuh cucak thailand lebih kurang 20 cm. Ukuran ini lebih kecil daripada cucak ijo, tetapi lebih besar dari cucak rante. Dianggap mirip dengan cucak rante karena warna bulu bagian kepalanya sangat bervariasi, tidak seperti cucak ijo.
Bulu pada dahi cucak thailand berwarna merah bata terang, tenggorokannya hitam, pipinya biru laut, antara batas dahi dan atap kepalanya ditumbuhi bulu berwarna kuning membentuk garis melengkung hingga ke bagian pundaknya. Paruhnya hitam, begitu juga mata dan kaki serta jarijarinya. Secara keseluruhan, warna bulu sayap, dada, dan ekornya didominasi warna hijau.
B. Habitat dan Pakan Alami
Sifatnya yang pendiam dan pemalu menunjukkan bahwa kebiasaannya selalu di tempat atau pohonpohon yang tinggi. Di habitatnya, burung ini menyukai lingkungan yang sunyi dan rindang.
Pakan alami yang digemari cucak thailand adalah serangga kecil, ulat daun, dan nektar yang dihisap dari bunga. Cucak thailand sangat aktif mencari pakan dan sering menggantung di bawah batang (seperti akrobatik) untuk mendapatkan pakan yang ada di balik daun. Kebiasaan berakrobatik dalam mencari pakan tidak biasanya dilakukan oleh cucak lokal dan kerabat dekatnya. Tidak mengherankan jika penampilan dan harganya bisa melebihi cucak ijo atau burung sekelas cucakrawa.
C. Perbedaan Jantan dan Betina
Jantan dan betina cucak thailand mudah dibedakan. Ciriciri fisik dan warna bulu seperti yang telah disebutkan adalah ciri dari burung jantan, sedangkan warna bulu pada bagian kepala betinanya tidak sebanyak jantannya. Burung betina mempunyai bulu berwarna hijau yang lebih muda daripada burung jantan. Fisiknya pun lebih kecil dibandingkan jantan.
D. Daya Tarik Cucak Thailand
Cucak thailand mempunyai daya tarik yang memikat, di antaranya sebagai peniru, penari, pantas dikoleksi, suaranya dapat ditiru burung lain, dan dapat dikonteskan.
1. Peniru terbaik di kelasnya
Cucak thailand dapat meniru suara kicauan burung lain dengan sangat baik. Suara yang cepat ditirunya, tentu saja kicauan yang tipenya sama dengan suara yang dimilikinya. Cucak thailand mampu menirukan berbagai suara dari berbagai jenis burung jalak karena burung jalak biasanya memiliki suara tajam dan jeritanjeritan yang vokalnya tidak terbentuk dengan baik. Akan cetapi, suara jeritan yang vokalnya kecil juga dapat dikuasai dengan baik seperti suara robin, Cucak thailand. Kemampuannya mengicaukan suara burung lain menjadi salah satu daya tariknya
misalnya, dan jenis suara burung lain yang volumenya tidak terlalu besar. Hal seperti ini tidak mampu dilakukan dengan baik oleh cucak ijo apalagi cucak rante.
Daya tarik cucak thailand yaitu pada kemampuannya mengicaukan suara yang ditirunya dengan irama khas atau dengan ciri suaranya yang unik, variasi suara yang lembut dan tibatiba mengeras.
2. Penari jempolan
Cucak thailand bisa bergaya dengan sangat baik pada saat menari karena mampu mengangkat dan mempertemukan kedua sayapnya sambil berkicau. Pada saat itu bulu ekornya juga ikut terbentang
seperti kipas. Tarian ini merupakan salah satu daya tarik untuk memikat lawan jenisnya saat musim kawin tiba. Cucak thailand peliharaan biasanya memiliki gaya seperti ini, terutama jika telah jinak dan terlatih.
3. Cukup baik sebagai burung koleksi
Sebagai burung koleksi, cucak thailand banyak memenuhi persyaratan. Tubuhnya berukuran sedang, warna buluriya sangat menarik, dan tidak cepat membosankan bila dilihat. Sesuai dengan karakternya yang pendiam, cucak thailand cukup baik didampingkan dengan segala macam jenis burung yang fisiknya jauh lebih kecil. Dari segi suara tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena kicauannya tidak terlalu keras. Sesekali mungkin cucak thailand akan menutup suara burung lain yang sedang mulai berkicau, tetapi ini hanya akan terjadi jika cucak thailand sudah benarbenar terlarih dan sangat rajin berkicau.
4. Pendistribusi suara pada burung lain
Cucak thailand bisa dimanfaatkan suaranya untuk ditiru oleh burung lain. Jadi, selain pandai meniru, nantinya suara yang dimiliki cucak thailand bisa membuat suara burung lain menjadi lebih baik bila menirukan suara kicauannya. Pendistribusian suara ini disebut juga pengisian suara dan ada juga yang menyebutnya "master" suara.
Kicauan cucak thailand cukup keras, tajam, dan gelombang suaranya tidak terlalu cepat sehingga tidak terlalu sulit ditirukan oleh burung lain. Suara cucak thailand cukup baik ditiru oleh burung yang pandai meniru suara tajam, seperti murai batu, toet/cendet, branjangan, dan hwa mei. Sebaliknya cucak thailand mampu pula menirukan suara burungburung tersebut, walaupun dalam batas tertentu. Akan tetapi, hanya cucak thailand yang telah terlatih mampu dengan cepat memberi pengisian suara pada burung lain.
5. Bisa ditampilkan dalam kontes
Kemampuannya dalam bergaya sambil berkicau lebih baik dari cucak ijo. Cucak thailand juga bisa ditampilkan dalam kontes, meskipun masih digolongkan dalam burung campuran. Namun, tidak menutup kemungkinan kelak burung ini dimasukkan dalam kelompok tersendiri. Jika memungkinkan, sebaiknya memiliki cucak thailand dari sekarang supaya suatu saat dapat ditampilkan dalam kontes.
E. Kelemahan Cucak Thailand
Penampilan cucak thailand tidak segagah cucak ijo. Sifatnya yang pendiam juga mencerminkan seperti burung bodoh. Namun, kelemahan ini akan tampak berubah manakala cucak thailand sudah menyenandungkan suaranya sambil bergaya.
Bila diamati dengan baik, masih ada beberapa kelemahan cucak thailand, tetapi hal itu dapat dihilangkan melalui perawatan yang baik. Pada umumnya, kelemahan yang membuatnya seperti kurang bergairah hanya tampak jelas pada burung yang benarbenar masih bakalan.
F. Petunjuk Pembelian
Untuk memilih burung bakalan cucak thailand, tidak banyak hal yang perlu dikhawatirkan karena umumnya burung bakalan tersebut sebelumnya sudah terseleksi, jumlahnya sangat terbatas, dan sepertinya tidak banyak pilihan.
1. Ciri bakalan yang baik
Belum ada standar yang pasti menyangkut bakalan cucak thailand yang baik karena pasaran burung ini belum terlalu lama dan jumlah yang diimpor tidak terlalu banyak. Perlu diperhatikan bahwa bakalan yang akan dipilih harus sehat, tidak cacat, fisiknya besar, dan sedapat mungkin dipilih yang dadanya bidang. Mengingat harga bakalan cucak thailand cukup tinggi, sebaiknya Anda tidak berspekulasi membelinya.
2. Kisaran harga
Bakalan cucak thailand tidak mempunyai ukuran harga yang pasti, tetapi cenderung tergantung pada jumlah burung yang ada di pasaran karena pengirimannya tidak menentu dan jumlahnya sangat terbatas. Sebagai perbandingan, cucak thailand yang sudah mulai berkicau ditawarkan dengan harga Rp 300.000,00—Rp 400.000,00/ekor (awal tahun 1998).
G. Petunjuk Perawatan
Secara teknis, cucak thailand membutuhkan lebih banyak pendekatan karena untuk membuatnya bisa menunjukkan kebolehannya harus dibuat sejinak mungkin.
1. Sangkar dan perlengkapannya
Sangkar cucak thailand minimal berukuran panjang 30 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 30 cm. Sangkar yang jerujinya kurang baik sebaiknya dibenahi agar tidak melukai jarijari kaki maupun kukunya. Diameter tenggeran yang akan digunakan minimal berukuran 1,5 cm, sesuai dengan ukuran sangkar, dan tidak memperburuk penampilan sangkar.
Berdasarkan kebiasaan cucak thailand dalam mencari makan di alam bebas, sebaiknya disediakan tenggeran yang mempunyai cabang (bukan menempatkan dua tenggeran). Cabang ini tidak harus sama besarnya dengan tenggeran utama. Bahan untuk tenggeran dari jenis kayu yang liat seperti kayu asam atau kayu jambu batu. Tempat pakan dan tempat minuman dipilihkan yang berukuran sedang, sedangkan tempat ulat dipilih yang lebih kecil. Penempatannya sebaiknya tetap memberikan kesan leluasa bagi gerakan burung.
2. Penempatan sangkar
Penempatan sangkar sebaiknya tidak terlalu tinggi, cukup sebatas kepala untuk waktu 1—2 minggu dan selanjutnya bisa lebih rendah lagi. Pada tempat yang rendah, cucak thailand didampingkan dengan jenis burung lain seperti robin betina, pancawarna betina, sikatan, cerucuk (jokjok). Burung tersebut didampingkan agar suaranya bisa ditiru cucak thailand. Kelak, tipe suara tersebut akan ditiru cucak thailand dan jika dikicaukan dengan suara yang dimilikinya akan lebih baik.
Burung berkicau yang akan disertakan dalam kontes diupayakan memiliki suara yang tajam sebagai senjata suaranya. Mendampingkan burung juga dapat membuatnya lebih tenang di tempat tersebut, agar terbiasa dengan lingkungan yang lebih ramai. Jika cucak thailand yang dimiliki lebih dari satu, penempatannya harus berjauhan (minimal 4—5 m). Penempatan burung sejenis yang saling berjauhan dan tidak saling melihat akan mempercepat proses tumbuhnya keberanian burung tersebut dengan sesama jenisnya.  Sumber: Rusli Turut, Sukses Memelihara Burung Berkicau dari Thailand

Poksay jambul dari Thailand

Poksai jambul putih (Garrulax leujcolophus/white crested lauhging thrush) dikenal sebagai rajanya poksai. Burung ini berhabitat aseli Thailand dan pada beberapa waktu lampau banyak diimpor ke Indonesia.

Tingkah lakunya mudah dikenali karena selalu bergerak di dalam sangkar.
A. Ciri-Ciri Fisik
Bulunya didominasi warna putih dan cokelat. Bulu bagian kepala sampai ke batas mantel dan bagian bawahnya hingga ke perut berwarna putih. Bulu hitam tampak membentang menyerupai pita dari pangkal paruh melewati garis mata hingga ke bagian telinga. Bulu sayap sampai ke ekornya berwarna cokelat, sedangkan pada bagian ujung bulu sekunder warna cokelatnya tampak lebih tua.
Paruh poksai jambul putih berwarna hitam, kekar, dan lebih besar dari kerabatnya yang lain. Matanya lebar dan hitam bersinar. Kakinya yang hitam dan kokoh membuatnya tampak kekar dan berwibawa saat berkicau.
Jenis burung lokal yang tampak mirip dengan poksai jambul putih dan sering pula ditawarkan sebagai burung cina adalah poksai medan. Kedua burung ini mempunyai ciri sehingga mudah dibedakan. Poksai medan tubuhnya lebih kecil. Walaupun bulu kepalanya berwarna putih, poksai medan tidak memiliki jambul di kepalanya. Perbedaan yang mencolok tampak pada bulu sayap, dada, dan ekor poksai medan yang berwarna kehitaman. Suara poksai jambul putih, sekaligus menjadi ciri khasnya, lebih besar dan lebih keras terasa enak didengar.
B. Habitat dan Pakan Alami
Di alam bebas, poksai jambul putih suka hidup bersama secara berkelompok, walaupun tidak dalam jumlah banyak. Lingkungan yang disukainya adalah hutan yang agak terbuka, penuh dengan semaksemak dan juga banyak ditumbuhi pohon bambu.
Pada saat berkembang biak, poksai jambul putih membuat sarangnya di pucukpucuk pohon dan terkadang di semaksemak. Sekali berkembang biak, celur yang dihasilkan bisa mencapai 3—6 butir. Telur yang dierami biasanya menetas scmua atau jarang ada yang gagal.
Di alam, poksai jambul putih mencari pakan di tanah atau percabangan pohon yang lebih rendah. Pakannya berupa serangga di antara dedaunan, bijibijian, atau buahbuahan yang terjatuh.
C. Perbedaan Jantan dan Betina
Jantan dan betina poksai jambul putih agak sulit dibedakan. Jantan dan betina itu tidak bisa dibedakan dari ukuran tubuh atau dari panjang ekor. Warna bulunya juga sulit untuk membedakan jantan dan betina kaj;ena hampir tidak menunjukkan adanya perbedaan.
Secara ilmiah, untuk membedakan burung jantan dan betina dilakukan dengan analisis kotoran di laboratorium, teknik endoskopis, atau dengan cara meneliti bulu yang baru tumbuh (seksing bulu). Namun, caracara tersebut hanya bisa dilakukan oleh para ahli dan tentu saja membutuhkan biaya tidak sedikit. Para penggemar, khususnya pedagang burung, membedakan jenis kelamin poksai jambul putih dengan cara membedakan suaranya.
Suara yang dikeluarkan poksai jambul putih jantan selalu diawali dengan kwa ... kwa ... kwa ... kwa... kwa ... kuk ... kwak ... klik ... kluk, sedangkan yang betina hanya kwa ... kwa ... kwa .... Poksai jambul putih bukan burung peniru sehingga selamanya suara yang dikeluarkan seperti itu.
D. Daya Tarik Poksai Jambul Putih
Daya tarik yang memikat dari poksai jambul putih berhubungan dengan penampilan dan tingkah lakunya.
1. Gagah
Penampilannya selalu tegak dan tidak loyo seperti burung berkicau jenis lainnya. Kegagahannya akan lebih terlihat bila burung ini sudah terpelihara dengan baik dalam waktu beberapa minggu dan sering pula dimandikan, apalagi bila sudah mau diadu sesama jenisnya. Tandanya, jambul burung ini akan mengembang dan bulu sayapnya bergetar pada saat berkicau. Burung ini juga aktif bergerak pada saat berkicau sehingga sangkarnya terus bergoyang. Pada saat seperti ini penampilannya bisa dikatakan luar biasa, terutama jika sudah terlatih dengan baik.
2. Penakluk burung lain
Poksai jambul putih juga dijuluki penakluk burung lain karena suara kicauan dan gerakannya selalu membuat burung lain yang ada di sekitarnya menjadi ketakutan. Kebiasaan lainnya yaitu sering ikut berkicau ketika ada burung lain di sekitarnya berkicau. Hal inilah yang menjadikannya dikucilkan oleh para penggemar burung, kalau saja penggemar tersebut sudah memahami benar karakter poksai jambul putih.
3. Raja tertawa
Poksai jambul putih digelari raja tertawa karena kicauannya seperti orang tertawa terbahakbahak, terutama burung yang betina. Di habitatnya, poksai jambul putih selalu berkicau bersamaan, sambil menunggu suasana sepi untuk kemudian menyelinap ke bagian bawah semaksemak mencari makanan. Uniknya, ketika burung ini berkicau di alam bebas bisa berhenti seketika seperti dikomando dan akan kembali berkicau bila ada isyarat dari burung lain sejenisnya. Hal ini pula yang menyebabkannya dijuluki burung "penyanyi rimba" oleh para ahli burung yang melakukan penelitian pada burung tersebut.
E. Kelemahan Poksai Jambul Putih
Kelemahan poksai jambul putih terletak pada tingkah lakunya yang dianggap terlalu agresif dan sifatnya yang liar. Karakternya yang keras terus terbawa saat burung tersebut diburu, ditangkap pemikat, dan dipelihara penggemarnya. Berikut ini kelemahan yang dimilikinya.
1. Sulit dijinakkan
Salah satu kriteria agar burung peliharaan dapat rajin berkicau adalah harus jinak, setidaknya tidak merasa ketakutan bila sangkarnya digantung pada tempat yang agak rendah. Hal seperti ini rasanya agak sulit diharapkan dari poksai jambul putih, canpa ada burung lain berada di dekatnya. Dari pengamatan tingkah laku poksai jambul putih, dapat diambil kesimpulan bahwa poksai jambul putih memerlukan perawatan khusus untuk membuatnya lebih berani pada lingkungan dan lebih rajin berkicau.
2. Kukunya mudah patah dan terluka
Poksai jambul putih yang diimpor umumnya mempunyai kuku (biasanya kuku jari belakang) patah atau terlepas. Cacat kuku ini hampir pasti ditemukan pada poksai jambul putih yang sudah dewasa karena buruknya kandang penampungan atau sifat liar burung tersebut yang sulit ditenangkan dalam waktu singkat. Hal ini menunjukkan bahwa burung itu sangat liar, meskipun masih muda sehingga dapat dipahami jika burung ini relatif sulit dijinakkan.
F. Petunjuk Pembelian
Sebelum membeli poksai jambul putih, beberapa hal perlu dipertimbangkan, termasuk kisaran harganya.
1. Ciri bakalan yang baik
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan pada saat membeli bakalan poksai jambul putih adalah sebagai berikut.
a. Tidak cacat
Poksai jambul putih yang akan dibeli harus diteliti dahulu kelengkapan atau keutuhan fisiknya secara menyeluruh. Cacat pada burung dapat mengurangi kepuasan pemeliharanya, sekalipun burung itu memiliki suara cukup baik atau benarbenar rajin berkicau.
Selain kuku poksai jambul putih yang mudah patah, bagian tubuh lain yang sering menimbulkan cacat setelah burung tersebut dipelihara dalam waktu lama adalah paruhnya. Paruh yang bakal menyebabkan cacat dapat diketahui dari pengamatan rahang atas, yaitu pada saat mengatup seperti ada lubang di antara paruhnya (tidak tertutup dengan baik). Kelak cacat ini akan cepat terlihat bila perawatannya kurang baik.
b. Masih muda
Bakalan burung berkicau yang baik adalah yang masih tergolong muda atau tidak anakan lagi (sering disebut dengan istilah "muda hutan"). Pada umumnya burung yang masih muda hutan lebih mudah dijinakkan. Suaranya pun tidak kalah baik dengan burung dewasa, apalagi poksai jambul putih bukanlah tipe burung peniru. Poksai jambul putih yang masih muda ada di pasaran antara Maret sampai Mei. Itu pun kalau iklim habitatnya stabil seperti tahuntahun sebelumnya.
Poksai jambul putih muda hutan dapat dibedakan dengan yang sudah dewasa. Bulu burung muda masih tampak bersih dan matanya seperti kecokelatan, sedangkan bulu burung dewasa tampak kusam dan kasar (kasap). Bakalan poksai jambul putih yang akan dibeli sebaiknya sudah didengar suaranya dengan jelas dan bisa dipastikan bahwa burung tersebut jantan. Bagi penggemar yang belum berpengalaman memilih bakalan sebaiknya bersabar karena secara sepintas burung betina ini memiliki suara yang tidak jauh berbeda dari burung jantan.
Sebaiknya burung bakalan yang dibeli lebih dari seekor, meskipun jumlahnya harus tetap dibatasi. Poksai jambul putih di habitatnya sangat menyukai berkicau bersama sehingga bila hanya ada seekor maka dikhawatirkan burung tersebut terlalu lama dapat menyuarakan kicauannya. Burung ini hanya menarik bila berkicau berbarengan dengan burung sejenisnya.
Sebaiknya poksai jambul putih yang dipelihara terdiri dari jantan dan betina atau lebih baik lagi keduaduanya jantan. Lebih dari jumlah tersebut bukannya tidak baik, tetapi perawatannya lebih sulit karena penempatannya perlu saling berjauhan. Pemeliharaan poksai jambul putih sebenarnya seperti cucakrawa karena suara jantannya secara samar agak mirip. Perbedaan yang cukup jelas adalah suara awalnya yang sangat mirip dengan orang lagi tertawa. Hal ini perlu menjadi pertimbangan bagi penggemar yang berkeinginan memeliharanya.
2. Kisaran harga
Harga poksai jambul putih sekarang sudah tidak dianggap mahal karena beberapa tahun tidak mengalami kenaikan yang berarti. Seekor poksai jambul putih jantan, dewasa maupun muda hutan, dihargai Rp 60.000,00Rp 88.000,00 (awal tahun 1998).
G. Petunjuk Perawatan
Perawatan poksai jambul putih menyangkut sarana atau sangkar dan perlengkapan lain. Selain itu, juga berkaitan dengan lingkungan penempatan sangkarnya.
1. Sangkar dan perlengkapan
Sangkar dan perlengkapannya harus memadai agar burung tetap menarik di dalamnya. Idealnya, sangkar yang digunakan minimal berukuran panjang 50 cm, lebar 50 cm, tinggi 70 cm, dan bentuknya segi empat. Sebelum digunakan, kualitas sangkar ditingkatkan, misalnya dengan dicat. Dengan demikian, bagian permukaan jeruji sangkar yang kasar dan tajam dapat tertutupi sehingga burung bakalan yang masih liar dan terus berlompatan tidak mudah terluka jari kaki maupun kukunya.
Sebelum digunakan, bau cat sangkar dipastikan telah hilang. Tenggeran sebaiknya terbuat dari kayu asem, jambu batu, jambu air, dan kayu duri hutan dengan ukuran diameter minimal 2,5 cm. Tenggeran untuk poksai jambul putih yang masih bakalan dan benarbenar liar sebaiknya terdiri dari dua buah dan ditempatkan menyilang. Tujuannya agar burung tidak menggunakan jeruji sangkar untuk bertengger.
Salah satu tenggeran, terutama tenggeran yang di bagian atas, dapat diambil setelah 3—4 bulan burung tersebut dipelihara. Dalam selang waktu tersebut, burung sudah cukup terbiasa dengan lingkungannya dan gerakannya pun sudah tidak terlalu liar.
Wadah untuk pakan buatan sebaiknya berukuran agak besar, sedangkan wadah ulatnya berukuran sedang. Tempat minuman dipilihkan yang bagian permukaannya agak kecil (hanya dapat dimasuki kepala burung) agar air yang ada di dalamnya tidak digunakan untuk mandi. Adakalanya burung suka menggunakan air minumnya untuk mandi. Hal itu perlu dicegah agar dasar sangkar tidak basah sehingga tidak cepat rusak. Selain itu, percikan air yang mengenai kotoran juga akan menimbulkan bau.
2. Penempatan sangkar
Lingkungan yang tenang dapat mempercepat burung mau berkicau. Burung harus dihindarkan dari gangguan binatang seperti kucing atau tikus yang bisa membuatnya stres. Begitu pula bau yang menyengat seperti bahan kimia maupun asap dapur yang berlebihan. Sangkar untuk burung yang masih bakalan sebaiknya ditempatkan minimal setinggi tangan tidak bisa menyentuhnya dan semakin tinggi akan semakin membuat burung lebih tenang. Penempatan burung pada tempat yang lebih rendah harus dilakukan secara bertahap.
Sangkar sebaiknya ditempatkan dengan jarak saling berjauhan, burung juga tidak boleh saling melihat. Dengan hanya mendengar suaranya, sesama poksai jambul putih akan mudah terpancing untuk berkicau bersahutsahutan. Bila memungkinkan, sebaiknya dipelihara burung betina yang sudah rajin berkicau atau burung betina yang lenjeh dengan jantan sejenis.
Burung betina yang demikian akan mempercepat burung jantan untuk terus berkicau. Burung jantan dan betina dipertemukan 3 atau 4 hari sekali dalam waktu 10—15 menit. Seperti kebanyakan burung impor, salah satu cara untuk membuat jantan mau berkicau adalah dengan memanfaatkan betinanya. Begitu pula dengan poksai jambul putih yang sangat temperamental atau galak pada burung lain, dapat mudah dijinakkan dengan cara mendampingkan betinanya yang lenjeh. Sumber: Rusli Turut, Sukses Memelihara Burung Berkicau dari Thailand

Aneka pola rawatan burung cucak ijo jawara

Orang bilang merawat cucak hijau itu tak gampang. Terutama menjaga stabilitas performanya. Sesekali nampil optimal, tapi pada lomba-lomba berikutnya lebih sering melempem. Namun, pesona cucak hijau ternyata tetap memikat hati kicaumania.


Terbukti dari jumlah peserta yang nyaris selalu penuh dari lomba ke lomba, bahkan setingkat latber sekalipun. Sebagai gambaran lagi, di Owen Award yang even baru akan digelar pada 3 Oktober yang akan datang, hingga berita ini ditulis, jenis cucak hijau semua kelas  sudah habis terpesan!


Salah satu "kelemahan" dari cucak hijau yang harus dipahami betul di antaranya adalah bulu mudah rontok. Kalau kaget, misalnya saat masih tidur dibangunkan paksa, bulu bisa jatuh. Bila itu terjadi menjelang lomba, biasanya burung juga lantas tak mau kerja.

Sejumlah burung yang awalnya langganan juara, prestasinya kemudian bias terus merosot secara permanen. Kalau sudah begini dan pemilik menyerah, biasanya lantas dilego dengan harga murah.  Contohnya adalah cucak hijau Jamrud, yang langganan juara antara tahun 2007-2008, namun kemudian tidak stabil, lebih banyak tak kerjanya setiap kali dilombakan.


Burung kemudian berpindah tangan ke Marsono, yang tinggal di kawasan Jombor, Jogja. Setelah coba dipelajari, Marsono kemudian menyadari bahwa sang jagoan rupanya jenuh berada di tempat yang sama untuk waktu yang lama, sehingga perlu dipindah ke lokasi atau kamar baru agar mendapatkan suasana yang baru.


Betul juga, di tempat yang baru, sang jagoan menjadi lebih mudah gacor dan gairah untuk bertarungnya muncul lagi.


Ada juga jagoan yang dari sejak dibeli hingga kini tampil cukup stabil, misalnya Presiden-nya Handi Hoho. Namun, belakangan ini Presiden juga mulai masuk rontok bulu sehingga sampai lebaran berakhir, bisa dipastikan Presiden mulai absen dari lomba, kemungkinan sampai bakda lebaran, seperti Owen Award, barulah mulai dicoba lagi untuk bertarung dalam suasana yang baru.


Sementara itu, menurut Mr Gandang yang mengorbitkan Alpacino dan kini juga Alcapone, salah satu resep jitu menjaga stabilitas cucak hijau adalah dengan terus menjaga setiap hari agar birahinya tidak berlebihan.


Kalau birahi berlebihan, sifat tarungnya berlebihan, burung bisa mengejar musuh, lagu bisa putus-putus, atau suara dan power tak keluar, hanya gayanya saja yang tampak dari jauh. "Beberapa waktu lalu saat konsentrasi terpecah karena kita semua lagi demen nonton Piala Dunia misalnya, Alcapone juga sempat beberapa waktu kurang nampil. Namun sekarang setelah saya  konsentrasi lagi dalam merawat dan memantau burung, sudah mau nampil




lagi."


Dwi yang sehari-hari merawat Presiden mengungkapkan, perawatan burung itu sebenarnya biasa saja. Jangkrik misalnya, diberikan pagi dan sore masing-masing lima ekor.


Pisang diberikan terus-menerus setiap hari. Jemur dilakukan pagi setiap dua jam. Mulai Jumat, ditambah ular hongkong. Mandi setiap pagi diberikan pada cepuk, dibebaskan untuk mandi sepuasnya.


"Pada kasus Presiden, burung ini memang figther sekali, panas. Jadi malah harus sering dilombakan. Seminggu atau paling lambat dua pekan sekali harus tarung, kalau sapai telat hingga 3 pekan, biasanya malah 'suloyo' kurang nampil," kata Dwi.


Sementara itu untuk eksfood, bila cuaca mendung cukup dengan 5-10 biji ulat hongkong tetapi bila cuaca panas hanya membutuhkan 5 biji ulat hongkong. Pengontrolan tetap dilakukan, pada burung yang sangat agresif maka harus diberikan buah papaya untuk meredam panas dari ekstra fooding yang berlebihan, cukup hanya kita melihat 10 menit kondisi burung yang akan digantangkan di lapang, bila kurang agresif tinggal menambah fooding yang diperlukan.


Ditempel master


Cucak hijau adalah burung yang pelupa. Untuk memastikan lagu mainan cucak hijau tidak hilang, maka direkomendasikan untuk selalu menempel dengan master, baik selama di kamar sewaktu istirahat, saat dijemur, hingga saat dianginkan.


Presiden misalnya, ditempel master tak cukup satu ekor, tetapi banyak master. Cucak jenggot dan kapas tembak saja empat ekor sendiri, belum jenis yang Iain. Kalau tak mau repot, juga bisa memanfaatkan jasa pemaster elektronik.


Ciri burung prospek


Cucak hijau memiliki sejumlah varian. Cucak hijau asal sumatera biosa dilihat dari body yang berukuran lebih kecil, warna hijaunya juga lebih muda. Sedangkan cucak hijau asal Jawa Timur seperti daerah Banyuwangi, bodi burung lebih besar dan panjang, warna hijaunya lebih tua.


Untuk memperbandingkan burung bakal yang prospek atau tidak, bukan ditentukan berdasar asal habitat tetapi melihat posturnya.


Burung prospek umumnya ditandai oleh bagian atas kepalanya jeprak. Jika bertemu lawan, sayapnya segera bergetar atau ngentrok. Bila ngentroknya hanya setengah, maka burung tersebut punya kebiasan membongkar lagu tetapi bila ngentroknya full biasanya burung hanya memiliki volume yang keras.


Dodi BM pemandu bakat dari Purwokerto yang mengorbitkan cucak hijau Extra Joss, mempunyai kiat-kiat khusus dalam memilih bakalan cucak hijau untuk kontes. Warna bulu, menurutnya, harus yang hijau muda, postur jangan terlalu besar. Pilihlah burung yang mempunyai postur panjang. Bulu kepala usahakan cari yang agak tebal, karena burung dengan bulu kepala tebal biasanya akan dominan saat dilombakan karena burung mudah menjambul.


Jaga kestabilan


Menampilkan burung, di mana saja, ternyata memang tidak bias dipukul rata. Masing-masing memiliki karakter sesuai kondisioning yang dilakukan pada burung itu sejak awal. Yang jelas, penangan perlu ekstra hati-hati terutama saat menjaga kondisi di masa birahi.


Banyak jawara cucak hijau yang prestasinya timbul tenggelam karena tidak bisa menjaga kestabilannya saat burung dalam kondisi birahi. Namun  ini memang tidak berlaku untuk Monster, jawara cucak hijau kepunyaan Hartoyo dari Jakarta.


Dalam kondisi apa pun  prestasinya tetap terdongkrak. Tercatat puluhan kali gelar juara yang dipetik sang gaco di beragam even penting.


"Saya sendiri sampai lupa sudah berapa kali juaranya," ungkap sang pemilik yang kala mentransfernya dari H Irfan Tangerang.


Lantas, bagaimana kiat sang perawat menjaga kestabilannya hingga terus terjaga dengan performa yang sempurna? Padahal menurut Yudi, perawatnya, penanganan kesehariannya sangat sederhana.


Tidak perlu menggunakan kandang umbar, eksfood juga cukup jangkrik 5-5 ekor setiap harinya ditambah 2 ekor ulat bambu di siang harinya. Untuk kebutuhan buah diberikan pisang kepok diselingi apel merah. Kecuaii hari Senin, diberi papaya. "Untuk menurunkan birahinya agar jangan terlalu tinggi," kata sang perawat.


Keseharian burung ditempel parkit, dengan suara cerecetan panjang. Ini disesuaikan dengan lagu dasarnya yang memang nyerecet panjang. Beres mandi,   burung dijemur cukup 2-3 jam.


Untuk setting lapangan juga tidak perlu repot. Cukup ditambah eksfood jangkrik 5 ekor jangkrik, total jadi 15 ekor berikut ditambah sedikit kroto. Sebelum digantang burung di obok tangan, digoda agar terpancing birahinya naik. Setelah itu langsung digantang. Begitu ketemu lawan, burung langsung nge-figh, dengan materi lagu yang super komplet mulai dari isian srindit, tembakan celilin hingga lagu dasar parkit didukung volumenya yang tembus semakin mempertajam tonjolannya di lapangan.


Bahkan, kondisi lapangan tidak mempengaruhi sang jawara dalam aksinya ketika ketemu lawan. Baik lapangan terbuka maupun bertenda, Monster tetap on fire ketika dikepung lawan. Justru tipe lapangan bertenda, menurut pemiliknya, yang paling disukainya.


Yang penting, kondisi burung dijaga dengan tidak menurunkannya setiap minggu, cukup selang-seling, dua pekan sakali. Itupun hanya di even-even penting.


Lain halnya dengan cara perawatan Monster, lain pula cara yang dilakukan Rusdy Bintaro. Ya, bicara cucak hijau blok barat, tidak lepas dari nama Rusdy Bintaro. Dari tangannya banyak burung cucak hijau mencorong di tangga juara, sebut saja seperti Mezzo milik Raymond Bachtiar yang hingga saat ini prestasinya masih di peringkat atas. Ada juga nama lain seperti Obama, Geger, Green Peace, Bandit, Prahara, dan yang sekarang sedang diorbitkannya adalah Kharisma.


Bagaimana kiat Rusdy, mencetak beberapa calon gaconya hingga bisa moncer di tangga juara? Di kediamannya saat ini sdi kawasan Bintaro sedikitnya ada 6 ekor cucak hijau orbitannya dalam satu rumah petak khusus burung. "Yang penting, jangan saling melihat satu sama lainnya, baik saat mandi maupun dijemur," jelasnya.


Bahkan untuk menjaga kondisi burung agar jangan sampai terkena masa birahi akibat pengaruh burung lain, dia juga pantang cucak hijau saling melihat dengan burung lainnya, baik itu sejenis maupun burung isian. Jangankan burung sejenis, burung gereja liar saja jangan sampai mengganggu sehingga membuatnya jadi birahi.


Begitu dikeluarkan pagi burung langsung masuk bak mandi. Satu persatu burung dimandikan. Tanpa saling melihat. Beres mandi, burung di jemur dengan penempatan berjauhan. Untuk penjemuran dia kerap memafaatkan rumah tetangganya untuk numpang nitip jemur, agar saling berjauhan satu sama lain tidak saling melihat.


Masa penjemuran juga tidak terlalu lama, paling banter sampai pukul 10 pagi. Sedangkan untuk kebutuhan eksfood jangkrik disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing burung. Karena satu sama lain memiliki karakter berbeda. Ada yang satu hari jangkriknya diberikan lebih dari 10 ekor tetapi ada yang kurang dari itu.


Begitu juga pemberian ulat maupun krotonya ada yang diberi ulat hongkong juga ada yang hanya diberikan sedikit kroto. Yang penting kebutuhan buahnya tetap terpenuhi sebagai pakan utama selain voer.


Perbedaan penanganan ini juga dalam hal kandang umbar. Ada yang mau diumbar bahkan ada yang diumbar tapi justru kerja lapangannya kurang maksimal. "Tergantung karakter dan kebiasaannya," kata Rusdy.


Khusus kandang umbarnya ini memang antik, sesuai jenis cucak hijau yang memiliki kebiasaan terbang vertical ke atas, kandang pun dibuat lebih tinggi. Ukuran lebar cukup 1,5 meter x panjang 2 meter x tinggi 2,3 meter. Posisi tangkringan di tempatkan di bawah dan atas. Penempatan umbaran relatif.


"Posisi umbaran sengaja dibuat terbang dari bawah ke atas atau sebaliknya, jenis cucak hijau kan berbeda dengan murai atau kacer yang terbang mendatang," jelasnya lagi.


Tapi untuk cucak hijau yang baru mulai belajar diumbar harus melalui tahapan, dengan cara menempatkan posisi tangkringan diatur tidak langsung atas bawah. Intinya, mengorbitkan cucak hijau jawara menurut Rusdy adalah dimulai dari kualitas burung itu sendiri. Terutama materi lagu maupun kualitas volumenya.


Setelah itu, rawatan harian hingga perawatan H-1 menjelang lomba juga perlu perhatian sesuai karakter burung. Setelah itu juga setting lapangan hingga setting menggantang burung di lapangan. "Untuk ini masing-masing burung berbeda, ada yang harus diobok-obok dulu sebelum di gantang dan lainnya," ungkapnya.


Hindari rontok total


Apa yang terjadi jika cucak hijau dengan sengaja dirontokkan oleh pemiliknya. Maka yang terjadi kemudian cucak hijau stress dan rusak. Ya, cucak hijau yang dirontokkan dengan sengaja biasanya sulit sekali ditampilkan seperti sedia kala. Bisa membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk bias pulih.


Anehnya cucak hijau yang bagus di lapangan biasanya cucak hijau yang dalam kondisi sedikit rontok. Kondisi ini sebagai pertanda bahwa cucak hijau dalam kondisi top performa. "Cucak hijau yang sedang fit akan ditandai dengan rontok bulu sedikit-sedikit," tutur Silas, pemandu bakat burung khususnya cucak hijau.


Beberapa pantangan buat cucak hijau, lanjut Silas, selain tidak boleh dirontokkan dengan sengaja juga sangkar tidak boleh diganti-ganti. Kalau sangkar yang sudah biasa dipakai tiba-tiba diubah, maka burung tersebut akan langsung macet. Hal yang juga mesti diperhatikan bagi pemain cucak hijau, untuk mempertahankan perfoma, jangan memelihara hanya satu ekor cucak hijau.


Cucak hijau, kata Silas punya karakter yang


unik. la butuh gandengan selama di rumah. "Sebaiknya pelihara 2-3 ekor," ungkap Silas. Cucak hijau yang jarang digandeng akan terbiasa tertidur di siang hari dan menambah kemalasannya.


Namun, lanjut pria yang tinggal di Sanglah Denpasar ini, cucak hijau di dalam rumah mesti selalu dalam kondisi dikerodong. Tidak baik dua atau lebih cucak hijau dibiarkan terbuka sepanjang hari. Hal ini akan menumpulkan sifat tarungnya. Jika dalam kondisi dikerodong dan sesekali dibuka sesuai waktu saat lomba, maka semangat tarungnya akan tumbuh.


Sementara untuk makanan, cucak hijau tidak perlu ditakar. Terlebih lagi menjelang lomba, cucak hijau butuh ekstrafod jangkrik sebanyak-banyaknya. Semakin banyak mau makan maka akan semakin bagus penampilannya di lapangan. Terkadang kesulitan untuk memberikan makanan karena sesuatu sebab. Karena itu, perawatan harian akan menentukan kelahapannya ketika menjelang lomba. "Cucak hijau mesti dimandikan dulu baru dijemur dan tidak dianjurkan sebaliknya," tutur Silas.


Pilih bakalan


Sementara itu seorang pengulak burung di Bali, Naryo, memberi tips cara membeli cucak hijau untuk para penghobi lomba. "Beli burung setengah jadi atau beli di latberan," papar Naryo.


Burung setengah jadi, biasanya sudah teruji aman jika digandeng dengan burung lain. Berbeda dengan bakalan yang membutuhkan proses pendewasaan dan pelatihan turun ke lomba.


"Toh begitu, jika di pasar ada bakalan yang bagus saya juga ambil," papar Naryo.


Memilih bakalan cucak hijau, menurut Naryo perlu ditekankan kepada dua hal, yakni mental gandeng dan mau ngentrok. Biasanya warna hijau pupus atau hijau muda lebih memilki karakter tarung dibandingkan dengan cucak hijau berwarna hijau tua.


Soal lagu bisa dengan mudah diisi. Hal yang penting adalah bagaimana agar cucak hijau mau digandeng dengan musuhnya. Cucak hijau seperti ini biasanya punya karakter tersendiri dan bisa dicermati ketika digandeng di pasar.


Sepintas, bakalan yang bagus akan memperlihatkan karakternya ketika digandeng termasuk juga ngentroknya walaupun hanya sesaat. "Tidak semua cucak hijau punya mental gandeng," papar Naryo.


Begitu juga dengan bentuk tubuh cucak hijau, menrut Naryo tidaklah menentukan. Sebab, dari pengamatannya, banyak cucak hijau bertubuh kecil bisa tampil di lapangan. Sebaliknya cucak hijau yang bertubuh besar malah terkadang kurang mau tarung.


Sementara itu berdasar pantauan Agrobur, harga bakalan cucak hijau di Bali jauh lebih murah dibandingkan di Jawa. Di pasar burung Bali, harga bakalan cucak hijau berkisar 500 ribuan, sebaliknya di Jawa sekitar 700 ribuan. Namun untuk setengah jadi, di Bali bisa menembus 700 ribuan.


Meski lebih murah, tidak sedikit pemain atau pengulak Bali membeli bakalan ke Jawa. Bahkan dibandingkan membeli bakalan, akan lebih praktis memilih setengah jadi di latber-latber di Jawa dengan harga berkisar 900 ribuan. 


Penutup dan catatan dari Om Kicau:


Oke teman-teman, tentu teman ada yang bingung juga membaca aneka tips rawatan burung cucak ijo yang bermacam-macam dari Tabloid Agrobur itu. Yang penting, Anda jangan lantas selalu mencoba-coba setelan burung dari pola satu ke pola lain. Ada satu hal yang perlu kita ingat, bahwa merawat burung  agar bisa bagus memerlukan konsistensi. Untuk itu, ada baiknya baca artikel yang ini.


Salam.