Hasil Lomba Burung Presiden Cup 2

Even Presiden Cup yang dikemas BnR pekan lalu di Parkir Timur Senayan Jakarta boleh dibilang jadi semacam pesta akbarnya kicau mania tahun ini. Inilah hasilnya.

Perlu catatan harian penangkaran

Penjodohannya pun tidak mudah, sebab membedakan jantan betina pun tidak gampang. Butuh pengalaman dan kepekaan untuk memastikan jenis kelamin. Banyak sekali kasus breeder pemula gagal.

Kendala selalu ada, tetapi bisa diatasi

Penelurusan ke sejumlah breeder cucakrawa, disebutkan bahwa kendala yang harus dihadapi sesungguhnya cukup banyak. Namun kendala-kendala ini ternyata tidak pernah menyurutkan para breeder, karena biasa diatasi.

Cucakrowo perlu ketenangan dan multivitamin

Meski ada pemodal kelimpungan ketika ikut-ikutan mencoba beternak cucakrowo namun ada saja breeder yang tersenyum lantaran modal yang dikeluarkan relatif sedikit tetapi hasilnya berlipat-lipat.

Harga burung saat ini

Harga burung di wilayah Solo dan sekitarnya (Soloraya) pada pertengahan Maret 2012 menunjukkan beberapa kenaikan yang signifikan. Seperti apa?

Sabtu, 17 Juli 2010

Kamis, 15 Juli 2010

Cara menyilang lovebird agar beranak lutino atau albino

Salah satu daya tarik lovebird adalah karena warnanya yang indah. Oleh karena itu, dalam pengembangbiakan lovebird biasanya direncanakan suatu pengembangbiakan lovebird dengan pola warna tertentu. Hal ini memang memungkinkan dan sudah banyak yang berhasil mengembangbiakkan lovebird dengan warna-warna tertentu. Biasanya warna-warna yang langka akan membuat harga lovebird menjadi sangat tinggi.


Dalam merencanakan warna bulu pada pengembangbiakan lovebird tidak dapat dilepaskan dari hukum genetik. Secara umum, demikian disebutkan Siti Nuramaliati Prijono dalam buku berjudul Lovebird, telah diketahui bahwa dari pasangan yang dikawinkan maka sifat anak-anak 50% meniru induk betina dan 50% meniru induk jantan. Dengan kata lain sifat anak merupakan perpaduan setengah sifat induk jantan dan setengah sifat induk betina. Sifat-sifat yang diturunkan ini pun masih dipengaruhi oleh sifat resesif dan sifat dominan yang dimiliki oleh pasangan yang dikawinkan.


Untuk menentukan sifat resesif dan dominan ini dapat diperkirakan setelah suatu pasangan yang berlainan sifatnya (dalam hal ini warna bulu) menurunkan dua-tiga periode keturunan. Bila keturunan pada periode-periode tersebut cenderung mempunyai hasil yang relatif sama maka dapat diperkirakan sifat dominan dan resesif yang ada pada induk jantan dan atau induk betina. Berdasarkan pengalaman-pengalaman inilah kemudian dapat disusun program perencanaan warna bulu pada anak lovebird dari pasangan-pasangan yang dipelihara.


Berkaitan dengan pengembangbiakan lovebird untuk mendapatkan warna bulu yang berbeda maka pengetahuan dasar mengenai genetik sangat penting diketahui oleh penangkar. Dengan pengetahuan dasar genetik tersebut memungkinkan penangkar untuk mengawinsilangkan lovebird sehingga dapat diperoleh anak lovebird dengan warna bulu yang diinginkan.


A. Genetika sebagai Pengetahuan Dasar Pengembangbiakan Lovebird


Genetika adalah ilmu tentang keturunan atau asal-usul makhluk hidup. Dalam ilmu ini dipelajari cara suatu sifat (karakter) diturunkan kepada keturunannya.


Unit terkecil bahan sifat keturunan adalah gen. Gen terletak pada kromosom dan tersusun secara linear. Dalam setiap sel tubuh terdapat sepasang kromosom. Dengan sendirinya gen-gen pada kromosom berpasangan dan pasangan gen tersebut terletak pada lokus yang sama. Gen-gen yang terletak pada lokus yang sama memiliki pekerjaan yang sama, hampir sama, atau berlawanan, tetapi untuk satu tugas tertentu. Sebagai contoh, gen G bersama alelnya g bekerja untuk menumbuhkan pigmentasi warna bulu. Gen G mampu untuk berpigmentasi, sedangkan gen g tidak mampu berpigmentasi. Tugas gen tersebut berlawanan, tetapi untuk tugas yang sama yaitu pigmentasi warna bulu.


Selama proses reproduksi, satu set kromosom diturunkan dari setiap induknya kepada anaknya. Sperma dan sel telur hanya berisi setengah dari jumlah kromosom yang ada di sel lainnya pada tubuh. Jadi, ketika dua dari "setengah kelompok" bersatu pada waktu proses pembuahan telur oleh sperma terbentuk suatu gabungan yang diturunkan pada anaknya.


Dalam genetika, bentuk luar atau kenyataan karakter yang dimiliki suatu individu (misalnya: warna hijau pada bulu) dikenal dengan istilah fenotip. Sementara bentuk susunan genetik suatu karakter yang dimiliki suatu individu dan ditulis dengan simbol gen dikenal dengan istilah genotip. Simbol gen untuk lovebird yang bulunya berwarna normal (hijau) ditulis GG. Lovebird yang berbulu lutino, biru, dan warna mutasi lainnya ditulis gg. Lovebird yang memiliki simbol gen yang sama (pasangan kedua alel pada suatu individu sama), misalnya GG dan gg, disebut homozigot.


GG adalah pasangan homozigot yang bersifat dominan, sedangkan gg adalah pasangan homozigot yang bersifat resesif. Hal ini berarti bahwa warna lovebird yang normal (hijau) adalah dominan terhadap warna mutasi. Apabila lovebird memiliki simbol gen yang berbeda (pasangan kedua alel pada suatu individu tak sama), misalnya Gg, disebut heterozigot. Lovebird yang memiliki genotip yang heterozigot (Gg) maka akan menunjukkan warna bulu hijau. Warna hijau adalah dominan terhadap warna mutasi dan warna mutasi tersebut tertutup oleh warna hijau sehingga tidak terlihat dari penampilannya.


B. Program Persilangan untuk Menghasilkan Warna Mutasi Bulu


Gen dapat mengalami mutasi lebih dari sekali sehingga dapat terbentuk 2 atau lebih macam alel bagi suatu gen. Gen G berperan untuk menumbuhkan warna bulu secara normal lalu gen G mengalami mutasi. Dengan demikian, gen G tidak mampu mengadakan warna bulu secara normal sehingga akan menghasilkan warna bulu lainnya, seperti albino dan lutino. Gen G yang bermutasi itu diberi simbol g. Gen yang mengalami mutasi tersebut ditulis dengan huruf kecil karena karakter yang ditumbuhkan bersifat resesif.


Artinya, bila gen g terdapat pada satu tubuh dengan gen G maka gen g akan ditutupi atau dikalahkan. Kejadian mutasi gen ini dapat dimanfaatkan untuk tujuan pengembangbiakan lovebird sehingga dihasilkan lovebird dengan warna bulu yang diharapkan, yaitu sama atau berbeda dengan induk jantan dan betinanya. Untuk tujuan komersial, cara ini cukup menguntungkan karena lovebird dengan warna mutasi mempunyai daya jual yang lebih mahal.


Jenis lovebird yang banyak dijual di pasar burung di Indonesia adalah lovebird 'muka salem', lovebird kacamata 'fischer', lovebird kacamata 'topeng', dan lovebird hasil mutasi. Ketiga jenis lovebird tersebut dapat mudah dikembangbiakkan untuk menghasilkan lovebird warna mutasi. Di antara ketiga jenis lovebird komersial tersebut, lovebird 'muka salem' dapat menghasilkan banyak warna mutasi, seperti lutino (kuning, mata merah), golden cherry (kuning), cinnamon (cokelat kekuningan), biru pastel, pied (bercak warna), dan albino (putih, mata merah). Warna mutasi dari lovebird kacamata 'topeng' yang terkenal adalah biru.


Untuk mendapatkan anakan dengan warna mutasi, penangkar harus mempunyai induk dengan warna mutasi. Apabila ingin diperoleh anak dengan warna mutasi dari kedua induk yang berbulu normal maka caranya sangat rumit dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Berikut ini contoh-contoh program perencanaan warna bulu pada anak lovebird dari pasangan-pasangan yang dipelihara.


1. Lutino dan albino


Lutino dan albirto pada lovebird 'muka salem' adalah bentuk dari mutasi rangkai kelamin resesif. Gen lutino dan albino terletak pada kromosom kelamin. Oleh karena itu, karakter yang ditimbulkan gen ini diturunkan bersama dengan karakter kelamin. Selain kedua bentuk mutasi tersebut, bentuk mutasi bulu lain yang melibatkan rangkai kelamin resesif adalah cinnamon murni atau hasil mutasi yang bermata merah.


Perhatikan digram di bawah ini:



Pada burung, kromosom kelamin betina adalah ZW dan kromosom jantan adalah ZZ (pada binatang mamalia kromosom kelamin betina adalah XX dan kromosom jantan adalah XY). Hal ini berarti bahwa lovebird betina menghasilkan telur yang membawa Z dan W, sedangkan lovebird jantan menghasilkan sperma yang hanya membawa Z. Jika resesif gen mutan terjadi pada kromosom Z yang tidak ada pasangannya dengan kromosom W yang lebih pendek maka tidak terjadi pindah silang gen mutan tersebut.



Dengan demikian, lovebird betina hanya memerlukan satu gen resesif (contoh: g) untuk memperlihatkan adanya mutasi dalam penampilannya, sedangkan lovebird jantan memerlukan dua resesif gen (contoh: gg). Oleh karena keturunan yang berupa ZW adalah betina dan ZZ adalah jantan, pewarisan kromosom Z akan mengikuti pola khas: induk betina akan meneruskan kromosom Z hanya kepada keturunan jantannya, sedangkan induk jantan akan meneruskan kromosom Z kepada keturunan jantan dan betina. Itulah sebabnya anak betina akan selalu mewarisi kromosom Z dari induk jantan karena induk betina pasti telah menyumbangkan kromosom W. Lagi pula, induk betina dapat meneruskan informasi pada kromosom Z kepada cucunya hanya melalui anak-anak jantannya. Sifat genetik yang dilanjutkan dengan pola khas ini disebut rangkai kelamin.


Untuk memperoleh bentuk lutino dari lovebird 'muka salem' dapat dilihat pada Tabel 1. Gen dominan untuk warna hijau normal menggunakan simbol G.


Tabel 1:


Dengan demikian, pejantan warna hijau normal memiliki genotip GG, betina hijau normal adalah G-, jantan lutino adalah gg, jantan hijau normal atau pembawa sifat lutino adalah Gg, dan betina lutino adalah g-.

Apabila ingin diperoleh cukup banyak anak lovebird berbentuk lutino dari sepasang lovebird yang ditangkarkan maka sebaiknya kegiatan penangkaran dimulai dengan menangkarkan sepa-sang lovebird yang terdiri dari betina normal dan jantan lutino (Diagram l).

Diagram 1:



Dengan cara ini dapat diharapkan diperoleh 50% anak lutino pada generasi pertama. Hal ini tidak mungkin terjadi bila sepasang lovebird yang dikawinkan adalah betina lutino dengan jantan normal homozigot (Diagram 2).

Diagram 2:



Keuntungan lain dari penggunaan pasangan betina normal dengan jantan lutino adalah dapat diketahuinya jenis kelamin anak ketika berada di sarang, yaitu sebelum bulunya muncul. Anak yang betina (lutino) mempunyai mata berwarna merah, sedangkan anak jantan (normal) mempunyai mata berwarna gelap.


Untuk menghasilkan anak lovebird albino maka perlu dimulai dengan menyilangkan lovebird betina warna biru (BBb-) dengan lovebird jantan lutino (BBll). Persilangan kedua induk lovebird tersebut menghasilkan keturunan pertama (F1) anak betina lutino atau biru (Bbl-). Selain itu, diperlukan juga pejantan dengan genotip yang sama (Bbll) yang diperoleh dari hasil perkawinan induk betina lutino (BBl-) dengan induk jantan biru atau lutino (Bbll). Perkawinan antara kedua keturunan F1 (Bbl- x Bbll) tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.



Program persilangan untuk memperoleh anak bentuk albino dan lutino di atas dapat diterapkan untuk lovebird jenis lain yang mempunyai kedua bentuk mutasi tersebut.


2. Warna biru dan warna mutasi lainnya


Perkawinan antara lovebird kacamata 'topeng' yang berbulu normal (hijau) dengan yang berbulu biru merupakan salah satu contoh dari pasangan resesif yang melibatkan otosom (Tabel 3). Otosom merupakan kromosom yang tak menentukan jenis kelamin.


Tabel 3:



Warna hijau dominan terhadap warna biru. Bentuk genotip warna hijau adalah GG, sedangkan warna biru adalah resesif dengan genotip gg. Jadi, semua sel kelamin dari induk yang dominan akan mengandung satu gen G, sedangkan induk yang resesif akan mengandung satu gen g. Berarti semua anak akan menerima satu gen G dan satu gen g dari setiap induknya. Hal ini jelas terlihat bahwa semua anak pada generasi pertama (F1) akan mempunyai genotip Gg (Diagram 3).


Diagram 3:



Hal ini berarti secara fenotip anak lovebird tersebut berwarna hijau, tetapi anak lovebird tersebut membawa gen warna biru pada genotipnya. Jadi, anak lovebird tersebut bersifat heterozigot.


Ketika lovebird heterozigot tersebut dikawinkan maka pasangan lovebird tersobut akan menghasilkan anak yang berwarna hijau dan berwarna biru pada generasi kedua (F2). Perbandingan harapan dari anak lovebird warna hijau terhadap biru adalah 3 : 1 dengan satu pertiga anak lovebird berwarna hijau homozigot (GG), dua pertiga warna hijau heterozigot dan pembawa sifat warna biru (Gg), serta satu pertiga warna biru (gg).




Tips dari Om Kicau: Burung tidak cepat jodoh bisa Anda pacu kematangan organ reproduksinya dengan BirdHormon. Jika pasangan terlalu lama tidak produksi atau macet produksi, Anda bisa gunakan BirdMature. Mau pesan? Klik di sini.



Pasangan otosom resesif lainnya antara lain adalah perkawinan antara lovebird 'muka salem' yang berbulu normal dengan yang berbulu biru pastel, dan perkawinan antara jenis lovebird berbulu normal dengan lovebird warna mutasi lainnya.


Warna bulu mutasi lainnya pada lovebird yang melibatkan pasangan otosom resesif adalah pied dan golden cherry. Pada prinsipnya, untuk mendapatkan bulu dengan warna mutasi tersebut hampir sama dengan program persilangan untuk memperoleh bulu warna biru. (Sumber: Lovebird oleh Siti Nuramaliati Prijono)


Minggu, 11 Juli 2010

Penentuan jenis kelamin, problem khas para penangkar lovebird

Menentukan jenis kelamin lovebird memang tidak mudah. Bahkan penangkar kawakan pun sering salah memasangkan lovebird. Adalah Ir Arief Usman, penangkar lovebird lutino yang insinyur peternakan, mengakui hal itu.


Ya mengapa? Sebab, betina-betina atau jantan-jantan bisa saja kawin. Untuk referensi masalah ini, silakan Anda meluncur ke halaman khusus tentang Lovebird.


Dan seperti dituturkan Arief sebagaimana dilaporkan Tablo BnR, bahkan pasangan betina-betina bisa menghasilkan telur. Tapi, peternakan jadi rusak.


Seberapa rusak? "Pokoknya, penangkaran bisa gagal. Maka, penangkar harus jeli mengamati perilaku burung untuk mengetahui jenis kelamin," katanya.


Arief yang memfokuskan diri pada penangkaran lovebird lutino itu kemudian bertutur tentang ikhwal menangkar lutino. Meskipun banyak penangkar mengaku lebih sulit dalam menangkar lutino dibanding lovebird jenis lain, bagi Usman menangkar lovebird apapun sama mudahnya.


Berawal dari sepasang indukan lutino dan sepasang lutino remaja, kini penangkaran lovebird miliknya telah beranak pinak dan menjadi tujuan penggemar lovebird lutino di Madiun dan kota-kota sekitarnya.


"Sebenarnya menangkar lovebird lutino awalnya adalah sebuah tantangan, karena menurut beberapa penangkar lovebird, menangkar jenis lutino sulitnya minta ampun. Bahkan ada yang bilang jika jenis lutino sengaja dimandulkan dari sananya," katanya.


Kebetulan Usman sudah menangkar lovebird jenis kacamata berwarna hijau. "Maka rasa penasaran saya wujudkan dengan membeli sepasang indukan dan sepasang remaja jenis lutino. Alhamdulillah, selang dua bulan sepasang indukan tersebut sudah berproduksi," terang bapak dua putra tersebut.


Homoseks dan heteroseks


Menurutnya, keberhasilan menangkar lovebird jenis apapun sebenarnya ditentukan oleh faktor indukan. la mengatakan bahwa menentukan lovebird jantan dan betina membutuhkan sebuah keahlian tersendiri.


"Indukan jantan dan betina harus benar-benar jelas yang ditandai kalau kawin sang jantan berada di atas dan betina ada di bawah dengan durasi kawin hingga satu menit, bahkan lebih. Kalau kawinnya hanya sebentar dan saling bertukar posisi bisa dipastikan keduanya ada lesbian atau gay," katanya bertutur tentang cara membedakan apakah burungnya homoseks atau heteroseks.


Dijelaskannya, lovebird betina dan betina atau jantan dan jantan bisa juga kawin, "Kalau betina dengan betina bisa bertelur tapi tidak mungkin menetas, sedangkan sesama jantan bisa bercumbu dan kawin," terangnya.


Oleh sebab itu, mengetahui jenis kelamin bakal indukan adalah faktor yang sangat penting, karena bila tidak tepat menentukan jenis kelamin calon indukan produksi penangkaran akan mundur beberapa bulan.


Selain menentukan jantan dan betina, calon indukan harus benar-benar sehat agar keturunan yang dihasilkan juga sehat. "Bulu harus mengkilat, mata tidak berair, badan tidak kurus, kotoran tidak encer dan yang pasti tidak ada cacat tubuh. Akan lebih baik lagi bila sang induk bekas juara."


Tehnik penjodohan yang dilakukan Usman dalam menangkar lovebird melalui dua tahap. Pertama dilakukan dalam kandang umbaran, selanjutnya dimasukkan dalam kandang engkel yang berisi sepasang indukan.


Kandang umbaran diperlukan agar burung dapat berjodoh secara alami. Pada masa ini pengamatan dilakukan secara intensif agar lebih cepat diketahui jodoh tidaknya burung.


"Dalam kandang umbaran diletakkan beberapa kotak sarang sesuai jumlah lovebird yang dimasukkan. Jika sepuluh burung berarti kotak sarangnya ada lima. Kita amati beberapa hari, jika tidur bersama dalam kotak sarang, saling mengikuti satu sama lain dan berbunyi bersahut-sahutan kemungkinan besar mereka berjodoh. Apalagi lovebird yang kita prediksi jantan mau menyuapi sang betina," terangnya.




Tips penjodohan Om Kicau:


Jika Anda kesulitan menjodohkan lovebird atau lovebird lama produksi padahal sudah pasti jantan-betina dan akur, gunakan saja TestoBird untuk si jantan dan EstroBird untuk si betina.


Mau order? Klik di sini.



Tahap selanjutnya, bila sudah dianggap berjodoh, sepasang indukan tersebut dipindah ke dalam sangkar engkel agar mereka bisa nyaman berproduksi tanpa gangguan burung yang lain.


"Biasanya sekitar dua bulan burung yang berada dalam sangkar ini sudah mulai menetas. Untuk tahap selanjutnya adalah melakukan perawatan terhadap indukan tersebut agar bisa berproduksi secara maksimal. Dan kandang umbaran tetap kita beri burung yang berisi calon indukan yang bila berjodoh kita masukkan kandang engkel, begitu seterusnya," kata pemilik Mumtaz Love Bird Farm.


Lutino, Burung Keibuan


Indukan yang berjodoh biasanya akan bertelur dan mengerami telurnya selama 21 hingga 30 hari, karena tidak semua induk bertelur tiap hari. Terkadang ada yang tiga hingga empat hari sekali.


Maka tidak heran bila akan panen ada piyikan yang tidak sama postur tubuhnya dalam satu sarang, ada yang sudah bisa terbang sementara piyik lainnya masih berbulu kapas. Pada saat usia piyikan dua bulan biasanya sudah lepas sapih atau sudah bisa mencari makan sendiri.


Lovebird lutino menurut Usman memiliki sifat keibuan yang baik, maksudnya secara naluriah dia masih merawat anaknya dengan baik meskipun pada saat itu dia sudah memasuki masa bertelur.


"Anak yang bontot memang masih dirawat secara rutin hingga dia lepas sapih seperti kakak-kakaknya. Berbeda dengan lovebird hijau yang ada di sini, terkadang sang induk membunuh anaknya jika waktu bertelur anak belum juga lepas sapih," ungkap bapak dua putra ini.


Dalam pengasuhan piyik, Usman menerapkan cara alami. Piyik yang baru menetas dibiarkannya hingga usia dua bulan. Panen burung ini pun bisa ia lakukan secara teratur setiap tiga bulan sekali dari masa indukan bertelur. Dan hasilnyapun juga sangat baik yaitu tiga hingga empat piyik setiap panen. "Mungkin faktor makanan juga berpengaruh terhadap produktivitas indukan," katanya mantap.


la memberi pakan lovebird di penangkarannya dengan campuran berbagai macam biji-bijian. Masing-masing adalah milet merah dan milet putih, juwawut, gabah beras merah dicampur dalam porsi yang sama, jagung dan kangkung yang diberikan setiap seminggu dua kali. Biji matahari diberikan hanya untuk lovebird remaja dan indukan yang akan bertelur.




Tips Om Kicau untuk pakan lovebird:


Mineral burung sangat esensial khususnya untuk burung pemakan biji. Jika Anda ingin memastikan kecukupan mineral untuk kesehatan lovebird di penangkaran, gunakan mineral burung. Apa itu dan bagaimana mendapatkannya? Klik di sini.



Hal lain yang menurut Arief sangat penting adalah pemberian extra fooding pada indukan yang baru menetaskan telurnya. Karena pada saat itu sang induk memerlukan tambahan asupan gizi yang sangat besar karena harus berbagi makanan dengan anaknya.


Kegagalan hal biasa


Jangan pernah terlintas setiap usaha selalu berhasil dengan balk, setiap usaha biasanya selalu disertai kegagalan dan dari kegagalan ini pelaku usaha bisa mengambil hikmah.


Usman dalam menangkar lovebird inipun pernah mengalami kegagalan pada saat pertama kali menangkar. "Faktor cuaca panas bila diabaikan bisa menghambat laju produksi, karena telur tidak bisa menetas. Selain itu penentuan induk secara sembrono bisa mengakibatkan produksi bisa mundur karena telur tidak menetas. Oleh sebab itu harus diamati betul antara jantan dan betina," ujarnya.


Hawa panas pada saat musim kemarau bisa disiasati dengan solusi membuat lingkungan yang nyaman dengan cara menyiram sekitar kandang dengan air sesering mungkin agar udara menjadi sejuk.


Dari tiga puluh pasang lovebird yang ada di penangkarannya, separuh di antaranya adalah jenis lutino, tentu telah membawa dampak ekonomi yang tidak bisa dibilang kecil.


"Minimal lima jutaan setiap bulan," jawabnya saat ditanya penghasilan yang diperolehnya dari menangkar lovebird.


Menurutnya menangkar lovebird sangat menguntungkan, apalagi jenis lutino. Bahkan ia tidak perlu repot-repot memasarkannya, karena sebagian besar pembeli telah inden sejak burung masih mengeram.


Lovebird-lovebird tersebut biasanya dibeli pelanggan saat usia dua bulan atau selepas sapih. Harganya bervariasi, untuk lovebird hijau kacamata dihargai Rp.250 ribu. Lovebird lutino warna mata merah tua berkisar antara Rp.900 ribu hingga 1,2 juta perekor, sedangkan lutino yang berwarna mata merah muda lebih mahal lagi, yaitu Rp.1,2 juta hingga Rp.1,5 juta.


Menurut Usman, selain warna mata yang membuat harga lutino lebih melambung adalah warna merah di dada atau yang biasa disebut kalung. Semakin ke bawah warna merahnya, maka semakin mahal pula burung tersebut.


Bila harga piyikannya sudah setinggi itu, lantas berapa harga untuk sepasang indukannya? Usman memberi harga Rp.1,5 juta hingga 1,8 juta untuk indukan ijo kacamata, sedangkan untuk harga indukan lutino adalah Rp.3,5 juta hingga Rp.5 juta sepasang. Sebuah harga yang cukup menggiurkan, Anda ingin meniru? Ya perlu nafas panjanglah, terutama karena tisak semua usaha mesti berjalan mulus dan landai. Kadang naik kadang turun.


Selamat menangkar, salam dari Om Kicau.

Teliti sebelum membeli...

Dunia burung sebagaimana dunia pada umumnya, memang banyak ragamnya. Ada orang baik, ada orang tidak baik. Untuk itu, kita perlu selalu berhati-hati. Salah satu di antaranya adalah sebagaimana ditulis di Tablo BnR, yakni tentang adanya "ring aspal", yakni aseli tetapi palsu. Berikut artikel di tablo itu:


Penipuan ada di mana-mana, termasuk penjualan burung hasil penangkaran. Ini terjadi, karena sebagian masyarakat kita memang serakah. Sudah mendapatkan keuntungan 50 persen dari modal, masih juga belum puas. Ada penangkar yang menipu dengan keuntungan sampai 300 persen. Maka, pembeli harus berhati-hati.


Seiring dengan menggeliatnya dunia perburungan saat ini, membuat permintaan akan burung hasil tangkaran pun semakin besar, termasuk murai batu. Hal itu terlihat dari banyaknya hobiis yang harus antri berbulan-bulan demi mendapatkan piyik dari seorang penangkar.


Sayangnya, dari penuturan beberapa narasumber, ternyata ada sebagian kecil penangkar yang memanfaatkan momentum ini dengan menipu pelanggannya. Modusnya mereka (penangkar nakal) mengaku bahwa piyik yang dijualnya merupakan hasil dari tangkarannya, padahal piyik tersebut dibelinya dari penangkar lain.


Memang dalam hal ini, terkadang pembeli tidak merasa bahwa dirinya telah ditipu, karena dirinya sudah menaruh rasa percaya pada penangkar. Apalagi si pembeli sudah mengetahui kualitas indukan Murai Batu milik penangkar yang menjadi langganannya itu.


Belum lagi jika sering terdengar bahwa anakan yang dihasilkan dari indukan penangkar itu banyak yang juara di beberapa lomba. Serta diperkuat lagi dengan bukti sudah terpasangnya ring milik penangkar yang nakal tersebut.


Menipu, Untung 3 Kali Lipat


Karena ada pengakuan dari salah satu narasumber yang tidak mau disebutkan namanya, bahwa piyik yang masih berumur 8-10 hari hasil tangkarannya sering dibeli bahkan menjadi langganan penangkar lainnya.


"Dengan umur sekian saya menjualnya dengan harga Rp 300-350 ribu tanpa ring bird farm saya. Sebab nantinya dia akan memakaikan ring yang menjadi identitas penangkarannya," ucapnya.


Padahal harga piyik murai batu di pasaran saat berumur 1-1,5 bulan bisa mencapai Rp 550-1 juta. Jadi penangkar nakal bisa untung sampai tiga kali lipat.


"Amat disayangkan memang kejadian tersebut mesti terjadi demi meraup keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa memikirkan mutu bird farmnya yang sudah dikenal bagus. Padahal itu bisa merusak citra penangkar lamanya, bahkan dirinya sendiri," ujar Fatchul Lazim penangkar murai batu asal Sidoarjo, Jawa Timur.


Menurut pria yang lahir 46 tahun yang lalu itu, kasus tersebut sulit dibuktikan. Karena biasanya piyik yang siap dijual itu, sudah terpisah dari indukannya dan ring yang terpasang pada kaki piyik atas nama penangkar tersebut. "Jadi dalam hal ini, dlkembalikan lagi ke tingkat kejujuran seorang penangkar," ucap Lazim.


Di tempat terpisah, Nurkholis penangkar murai batu dan lovebird asal Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur, mengatakan akan lebih meyakinkan kalau piyik yang hendak dibeli masih dalam pengasuhan indukannya. "Sebab yang saya tahu indukan murai batu sulit menerima kehadiran piyik yang bukan anakannya," ujarnya.


Tentunya risiko rawan mati cukup besar bagi piyik yang sebenarnya masih memerlukan asuhan indukannya. Lain halnya dengan piyik yang sudah bisa makan sendiri atau sekitar umur 1-1,5 bulan, kemungkinan hidup sangat besar.


Nah, itulah gunanya, teliti sebelum membeli.


Salam teliti, salam dari Om Kicau.













Mantabkan rawatan piyikan burung Anda dengan BirdVit...



Kombinasi multivitamin dan mineral di dalam BirdVit memberikan kelengkapan prima bagi kecukupan asupan gizi dan nutrisi untuk burung-burung piyikan Anda. Pastikan burung Anda sehat dan bisa tumbuh besar sebagaiaman seharusnya.
Mau order? Klik di sini.


Kamis, 08 Juli 2010

Menangkar murai batu tak perlu indukan "mewah"


Siapa bilang menangkar jenis burung murai batu harus menggunakan kandang luas dan mewah. Di kandang sederhana dan bersahaja, indukan burung kalau memang sudah jodoh akan tetap berproduksi. Lalu bagaimana dengan calon indukan jantan, apa bisa dari bahan sembarang saja? Jawabannya bisa. Begitupun halnya dengan sang calon indukan betina yang didapat dari bahan. Memang idealnya, calon indukan baik jantan maupun betina lebih baik yang sudah rawatan lama, syukur-syukur eks indukan juara di lomba. Tentunya indukan seperti itu berharga mahal.


Lalu bagaimana bagi seorang pemula, apa bisa memulai dari burung bahan atau yang dibelinya di pasar, terus diternakan? Ternyata bisa. Seperti ditulis Agrobis Burung, banyak breeder yang berhasil memulai menangkar dari indukan bahan yang dibelinya di pasar-pasar. Tentu sebelumnya dipilih asal usul burung, mulai dari bentuk fisik dan lainnya.


Menurut Niman, salah seorang penangkar otodidak sukses yang tinggal di kawasan Ciledug Tangerang, menangkar burung tidak mesti harus indukan yang juara di lapangan. Indukan jantan yang dibelinya di pasar juga bisa diternakan asalkan dipilih yang benar-benar bermental dan berpostur bagus sesuai yang kila harapkan.


Bahkan tidak hanya itu, dia kerap menggonta-ganti pasangan indukan yang sudah tidak produktif dengan indukan baru. Dengah begitu hasilnya akan lebih baik. "Menangkar murai dari indukan bahan sama mudahnya kok, yang penting umur burung sudah siap, nggacor dan sudah beradaptasi dengan lingkungan baru," terangnya suatu ketika.


Boleh dibilang, dalam masa awal menangkar delapan tahun silam, dia menjodohkan indukan benar-benar dari nol, yakni sepasang burung sama-sama bakalan yang dibelinya di pasar burung. Namun demikian, meskipun indukannya masih "bahan" buktinya bisa menikmati hasilnya. Nyaris setiap pasangannya tetap produktif sampai sekarang.




[caption id="attachment_18418" align="alignleft" width="300" caption="Penjodohan awal. (Foto-foto: Rep. Agrobis Burung)"][/caption]

Burung murai yang dibelinya dari bahan, tentu butuh penyesuaian paling tidak dua atau tiga bulan. Maklumlah, burung bahan pakannya pun masih harus menggunakan kroto segar dan campuran voer. Setelah burung dirawat beberapa bulan dan sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya, tinggal dijodohkan dengan betina yang sudah kita siapkan juga hasil seleksi terutama dilihat dari posturnya. Usia indukan betina paling tidak di atas 8 bulan atau di atas satu tahun.


Untuk penjodohan awal, burung calon indukan betina di lepas di dalam kandang petak yang dibuat sederhana dan boleh dikatakari sangat bersahaja, berupa petakan berjejer. Terbuat dari bahan kawat dengan bagian depan terbuka tanpa penutup.


Konstruksi kandang cukup sederhana. Bertiang kayu kaso masing-masing ukurannya tidak lebih dari 2 x 2,5 meter dengan tinggi 2,8 meter.


Berlantai tanah dengan tanaman kecil di bagian dalam sebagai sarana menjaga kenyamanan di dalam kandang, kotak sarang juga disediakan di setiap sudut agar burung kelak bisa memilih sarang yang menurutnya nyaman.


Calon indukan jantan dimasukkan di dalam sangkar khusus murai dan ditempatkan di dalam kandang ternak yang di dalamnya ada betinanya. Tujuannya agar keduanya saling mengenal dan menyesuaikan.



Serangga ga'ang pacu produksi


Setelah beberapa pekan, biasanya burung sudah saling mengenal dan akan saling mendekat. Kemudian murai jantan dilepas di kandang besar dan disatukan dengan betina. Pada masa awal, harus tetap dalam pemantauan, jangan sampai saling menyerang. Tapi biasanya kalau sudah saling mengenal akan cepat berjodoh.




Tips dari Om Kicau: Burung tidak cepat jodoh bisa Anda pacu kematangan organ reproduksinya dengan BirdHormon. Jika pasangan terlalu lama tidak produksi atau macet produksi, Anda bisa gunakan BirdMature. Mau pesan? Klik di sini.  



Memasuki musim panas, bak mandi yang disediakan ditempatkan di atas satu meter dari lantai kandang dengan posisi menempel ditembok dengan dihubungkan paralon air yang mengalir setiap saat, agar menjaga suhu di dalamnya tidak terlalu panas sekaligus sarana mandinya.


Di saat kondisi cuaca panas seperti saat ini, lantai kandang selalu disemprot dengan air, paling tidak dua hari sekali.


Tidak perlu lahan mewah dan luas, burung kalau sudah berjodoh akan cepat berproduksi. Ini sudah dibuktikan Niman, hanya dengan kontruksi kandang sesederhana itu produknya terus mengalir.


Sementara ini permintaan akan produknya tidak sebatas dari kawan-kawan dekat, tapi juga kalangan pemain dari berbagai kota.


Menariknya, anakan yang diminta tak jarang masih usia piyikan yang masih dalam lolohan. Bahkan indukan baru mulai bertelur, pesanan sudah mengantri dari pelanggannya.


Anakan yang baru menetas, sudah bisa dipanen diumur satu minggu. Anakan langsung masuk inkubator. Perawatan di boks inkubator ini yang membutuhkan penanganan intensif, terutama pemberian pakannya harus kontinyu. Jangkrik halus yang sudah dibersihkan diberikan tanpa batas. Juga adonan voer dengan kroto bersih yang harus diganti setiap saat.


Memasuki umur 12 hari anakan sudah dipindah ke sangkar kecil soliter disendirikan dan dilengkapi lampu penghangat terutama dimalam hari. Pada umur ini, anak burung sekaligus dipasangi ring kode penangkarnya.


Setelah anakan dipanen pada umur dua minggu, indukan akan kembali kawin lagi, dan sepuluh hari kemudian kembali bertelur. Apalagi bila ekstra fooding seperti jangkrik ditambah, bisa semakin cepat kawin dan berproduksi.


Berdasar pengalamannya selama ini, serangga seperti ga'ang sejenis serangga mirip jangkrik tapi berukuran lebih besar yang banyak berkembang biak di tanah lembab dekat sampah, bisa digunakan untuk memacu birahi dan mempercepat produksi.



Produksi jangkrik sendiri


Biaya produksi menangkar jenis burung murai batu memang lumayan tinggi. Tapi kalau kondisi tempat tinggal dan iingkungan mendukung alangkah baiknya dengan menyiasafi biaya ekstra fooding seperti jangkrik dengan menternak sendiri. Dengan begitu biaya produksi jadi lebih ditekan. Begitu juga kebutuhan krotonya.


Untuk kebutuhan eksfood jangkrik, menangkar murai batu memang membutuhkan jumlah jangkrik yang relatif banyak. Sepasang indukan yang sedang berproduksi mernbutuhkan jangkrik 50-60 ekor setiap harinya.


Apalagi bilamana indukan sudah bawa anakan bisa ditambah lagi bisa sampai 80 ekor jangkrik untuk sepasang dalam satu hari.


Begitu juga untuk kebutuhan kroto segar. Kalau memang kondisi lingkungan mendukung bisa memanfaatkan lingkungan sekitar rumah yang masih banyak kebun-kebun yang banyak diisi sarang-sarang kroto. "Kalau saya biasanya lewat perawat saya yang nyari langsung di kebun," jelasnya.




Tips dari Om Kicau: Untuk pakan burung di penangkaran, Anda bisa menggunakan ulat kandang. Lebih efisien dan hasilnya juga bisa maksimal. Lihat ulasannya di artikel ini.



Dengan cara itu biaya produksi untuk kebutuhan kroto maupun jangkrik bisa ditekan. Jadi lebih hemat dan murah tanpa mengurangi kualitas pakan yang dibutuhkan burung.



Salam sukses menangkar, salam dari Om Kicau...

Lomba burung bergengsi antar-blog (4): Antara Timur dan Barat


Artikel lanjutan dari "Bali Pioner Non-Teriak"



Di era 90-an, blok timur dikenal menjadi kiblat perburungan nusantara. Atau bahasa kerennya, trend-setter perburungan. Blok ini banyak memunculkan jawara berkualitas dan kreator lomba dan seabrek inovasi, gebrakan dan kreasi melecut dari pemikiran mereka.


Bahkan blok timur juga dikenal sebagai daerah yang pertama memunculkan organiser di luar PBI. Dulu PBI menjadi satu-satunya organiser yang memiliki kompartemen lomba burung selain fokus pada penangkaran.


Ingat Endik Gundul bersama Liga Kicau Mania Indonesia (LKMI). Pria perawakan plontos sekaligus punggawa PBI Cabang Mojokorlo, sosok revolusioner lomba burung. Bersama gerbong LKMI, dia menjelajah dari ujung barat hingga timur.


Sementara itu PBI di blok timur pun telah menorehkan sejarah dalam perkembangan lomba besar di kawasan ini. Hingga kini tercatat ada 3 even besar yang "mudah" dikenang kicaumania, yakni Piala Gubernur Jatim, Piala Pahlawan, dan Arema Cup. Ketiga agenda tersebut menjadi ikon lomba besar blok timur. Sekaligus menjadi simbol prestasi komunitas kawasan tersebut.

Berbagai suguhan menarik yang kala itu menjadi "permen manis" di komunitas perburungan menghiasi agenda tersebut. Tapi ketika ditarik ke ranah nasional, gaungnya tak semeriah gelaran di kawasan lainnya. Seperti Yogjakarta, Semarang atau Jakarta. Tahun ini, muncul sosok anak muda yang sedikit mengejuikan pentas perburungan blok timur.


Dia adalah Erik ML, kicaumania yang identik dengan Luna Maya, burung cucakrowo yang sering berprestasi di lomba besar.


Tiba-tiba ia muncui menjadi Ketua Pelaksana Piala Gubernur Jatim (PGJ) 2010. Tanda tanya besar muncul di ranah kicaumania seakan menantang dirinya untuk menaklukan ganasnya pertarungan kreativitas para kreator lomba besar.


Mampukah kreativitas dirinya sebagai generasi muda dan putra daerah Jatim mengangkat gengsi PGJ? "Saya ingin PGJ 2010 beda dan murni menjadi acarane kicaumania," katanya singkat.


Stempel beda yang disuguhkan Erik di gelaran tersebut diharapkan bisa memberikan nuansa baru.Hadiah sama rata untuk juara I-IV misalnya, diklaim kali pertama disuguhkan penyelenggara lomba besar di tanah air. "Saya sudah sering mengikuti lomba besar tapi hadiah seperti ini kayaknya belum pernah ada, baru kali pertama di PGJ 2010" ujarnya.













Mantabkan jawara Anda dengan BirdPower...



Kombinasi ATP dan multivitamin lengkap di dalam BirdPower bisa menambah gacor dan ngotot burung lomba atau latberan? Mau order? Klik di sini.



Kemasan ini yang diharapkan bisa bikin beda! Belum lagi strategi-strategi lain yang sudah disiapkan untuk menyambut kicaumania di Pusvetma, Jl. A.Yani, Surabaya pekan mendatang. Harapan anak muda ini, citra baik blok timur yang dulu tertoreh sebagai trendsetter perburungan nusantara dapat kembali lagi.


Jawa Barat


Tidak seperti di blok lain, yang menghadirkan even bergengsi yang menjadi agenda tahunan, gelaran lomba di Jawa Barat cenderung bersifat tidak tetap.


Gubernur Cup misalnya, yang digelar PBI Cabang Bandung tahun 2008, sempat dijagokan bisa menjadi embrio even bergengsi kebanggan Jabar, nyatanya tidak digelar rutin setiap tahun. Pada akhirnya di Jabar pun bermunculan lomba berskala nasional yang bersifat spontan. Setelah di Bandung sukses digelar even berhadiah mewah misalnya, berikutnya beberapa bulan kemudian rnuncul gelaran serupa di daerah lain, seperti Tasikmalaya, Cirebon, Indramayu, Majalengka atau Kuningan.


"Hingga memasuki pertengahan tahun 2010 ini saja contohnya, hanya digelar beberapa even bergangsi. Di antaranya, Andre 23 Cirebon (28/2), berlanjut kemudian Citra Cup Cirebon (25/4), LEO-15 Bandung (16/5) dan terakhir Bhayangkara Cup Indramayu (27/6) kemarin.


Nah, apakah tahun depan even serupa akan kembali digelar? Sejauh ini belum ada kepastian dari pihak penyelengara atau kreator, karena berbagai alasan.


Ada beberapa alasan mengapa tidak adanya kepastian lomba akan menjadi agenda tahunan. Di antaranya, terkait penyandang dana, baik yang melibatkan perseorangan atau perkumpulan, maupun yang melibatkan instansi pemerintahan atau swasta.


Itulah sekelumit cerita even-even besar lomba burung seperti ditulis Agrobis Burung mulai Gamako Cup, Owen Award, atau Gus Dur Award di Jabodetabek; kemudian, Valentine dan Piala Raja di Yogya; Kapolri Cup Semarang, atau Gubernur Cup di Jatim dan Bali. Sebagian dari even itu memang tidak digelar setiap tahun, namun pada setiap gelarannya selalu memunculkan rasa penasaran, karena kemasannya yang inovatif bisa memberikan kesan yang mendalam bagi kicaumania Nusantara.  (Selesai)


Salam lomba fair Indonesia. Salam dari Om Kicau.

Sabtu, 03 Juli 2010

Pengin menang lomba? Pahami dulu trend penjurian saat ini

Pengin menang lomba? Gaya murai batu seperti apa yang sekarang disukai juri? Pilih membawa burung berkualitas ataukah yang biasa-biasa saja tetapi bisa jujur dari awal hingga akhir? Bagaimana gaya kacer yang diminati juri? Apakah sama tolok ukur antara satu event organiser dengan yang lainnya? Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, ada laporan bagus dari Agrobur yang perlu disimak para penggila lomba agar tidak terlalu frustasi menghadapi lomba.



Ya memang, makin hari, protes dari peserta terhadap kinerja juri cenderung meningkat. "Peserta sekarang juga pinter-pinter, tolong jangan dibodohi," begitu umumnya mereka melakukan komplain. Seperti apakah seharusnya pakem yang dipakai, benarkan persepsi antara juri dan peserta tak bisa disamakan?


Seperti apakah sebenarnya pakem memilih burung juara? Di dataran teori, secara umum kriteria burung juara di berbagai organiser ternyata hampir seragam. Prinsipnya, lomba adalah mencari yang TERBAIK di antara yang ada di lapangan saat itu.


Kriteria penilaian secara umum juga hampir sama, yaitu dari kualitas burung yang bisa dipilah lagi dalam kategori irama lagu, volume, gaya, dan fisik. Kriteria ini, awalnya secara-resmi adalah pakem yang dipakai oleh PBI. Sekarang, gaya dan terutama fisik cenderung diabaikan dalam penilaian, atau dianggap memiliki nilai sama.


Seperti kita tahu, organser-organiser lain penilaiannya memang mengacu pada kategori yang sebelum sudah dipakai oleh PBI, bahkan termasuk teknis pemberiari nilainya, meskipun kemudian coba dikembangkan atau dimodifikasi sedemikian rupa.


Organiser lain memang bermunculan sebagai bentuk "ketidakpuasan" terhadap PBI (waktu itu organiser lomba hanya PBI). Munculah LKMI, PBSI, IBI, dan lain-lainnya yang sekarang tinggal kenangan, dan kini muncul banyak nama yang jumlahnya bejibun. Bahkan, sekarang untuk membuat even tak harus memiliki bendera atau organiser.


Narna BC atau bahkan nama pribadi pun bisa menggelar lomba. Cukup meminta bantuan salah satu juri yang punya punya banyak jaringan, jadilah kita bisa bikin lomba. Kebanyakan organiser lomba di luar PBI memang hanya sekadar punya nama, tapi tak ada aturan yang mengikat secara ketat, misalnya mengatur juri-juri yang menjadi anggotanya.


Bahkan sekarang banyak juri satu lomba yang tak punya organisasi payung, mereka jadi juri bebas, sehingga muncul istilah juri independen, bebas menilai di mana saja yang meminta mereka. Kalau memiliki jaringan luas termasuk dengan sesama juri dari luar kota, biasanya menjadi modal awal agar bisa laris mendapatkan panggilan menjuri.


KUALITAS VS KUANTITAS




[caption id="attachment_18064" align="alignleft" width="300" caption="Foto ilustrasi dari Agrobur...."][/caption]

Burung yang dahsyat pernah jadi primadona. Pengertian dari dahsyat bisa dijelaskan sebagai berikut. Kerja seperti kesetanan, untuk burung yang punya gaya (seperti anis merah teler, kacer menari, murai ngeplay, cucak hijau ngentrok, dan lainnya) akan disertai dengan gerakan yang cepat dan kuat, volume sangat tembus.


Burung yang dahsyat secara alami memiliki titik lemah, yaitu seringkali punya adat sulit nampil. Sekali nampil luar biasa, tapi kalau lagi sulit juga tidak manu nampil. Burung dahsyat umumnya juga tak kuat untuk beradu dalam waktu relatif lama, tak kuat diadu berkali-kali dalam satu hari.


Namun, jaman rupanya mulai berubah. Burung dahsyat mulai "ditinggalkan" penggemar. Kimpen yang dikenal sebagai raja anis merah misalnya, mulai memburu burung-burung yang "biasa-biasa" saja tapi jujur, stabil, dan kuat bunyi dari awal hingga juri mengakhiri penilaian, dan kuat ditarungkan berulang kali dalam satu hari.


"Punya burung dahsyat, hebat, dan kualitas di atas rata-rata percuma, sebab sekarang kebanyakan juri akan mengabaikan kehebatan dan kedahsyatan si burung kalau kurang beberapa menit bahkan detik burung berhenti atau lompat."


Kimpen mengacu pada organiser yang memberikan waktu berlomba relatif lama, sehingga membutuhkan burung yang benar-benar kuat. "Burung yang kuat umumnya ya burung yang tak dahsyat. Burung istimewa yang sempat berhenti atau berhenti beberapa menit sebelumnya bisa kalah dengan burung asal bunyi yang masih tetap bunyi hingga lomba berakhir."


Wawan, juri senior dari PBI Solo membenarkan sinyalemen Kimpen. "Bahkan pada even PBI di daerah yang pengaruh PBI-nya kurang kuat, juga ada kecenderungan lebih mengejar pada kuantitas pada kualitas. Tapi di daerah yang pengaruh PBI masih kuat, kencenderungan memilih kualitas masih kuat."


Pendekatan pada kualitas, masih bisa mengabaikan kelemahan burung. "Burung telat bunyi, ada ngetem di tengah, atau berhenti dulu beberapa menit sebelum berakhir, asal secara keseluruhan prosentase kerjanya masih di atas 80an persen, masih bisa juara, dengan catatan kualitas atau materi si burung memang benar-benar istimewa, di atas rata rata peserta lainnya."


Namun, diakui oleh Wawan, pakem awal seperli ini sekarang memang banyak yarig sudah luntur, bahkan termasuk di lingkungan PBI sendiri.


Menurut Wawan, di wilayah blok timur secara umum penilaian burung lebih cenderung pada pendekatan kuantitas ketimbang kualitas.


Pandangan Suwarjono yang lebih akrab dipanggil Warjo, juri independen asal Solo yang juga ketua Ikatan Keluarga Pedagang Burung Surakarta (IKPBS) kiranya bisa mewakili "pakem" jaman sekarang di kalangan organiser independen, sekaligus membenarkan sinyalemen Wawan.



Burung kurang power? Sudah loyo sebelum lomba selesai? Ini salah satu solusinya:


BirdPower


Menurut Warjo, burung yang sangat istimewa pun, seandainya berhenti sebelum waktunya, hampir tidak mungkin menjadi juara 1. "Burung istimewa tapi bunyi terlambat terlalu lama lebih dari separuh waktu, atau kurang beberapa menit oncling, saya rasa kita semua tak akan berani memberi koncer A. Paling maksimal ya koncer B atau C, jadi bisa juara 2 atau 3 sudah bagus."


Namun, bunyi terlambat asal tidak terlalu lama cenderung diabaikan, asal sampai akhir tetap bunyi syukur-syukur pada saat kontrol-kontrol akhir semakin maksimal. Sementara itu, Solikhin dari PPBS Karimata Semarang mengaku sulit menteorikan pakem penilaian. "Sulit Mas. Kadang kala antara pakem dengan kenyataan di lapangan beda. Di lapangan kita mencari yang terbaik dari yang ada. Kalau mengikuti pakem secara ketat, bisa pada suatu ketika tidak ada burung yang memenuhi kriteria sehingga tidak ada juaranya."


Kontrol mulai ditinggalkan?


Di PBI ada pakem yang bila kembali diikuti secata ketat sebenarnya bagus. Pada dataran teknis menjuri, awal menilai dimulai dengan memberikan nilai dasar. Pada kelas penyisihan, nilai dasarnya dimulai 34. Kemudian setelah mengontrol dan menganggap ada kemajuan, nilai ditambah menjadi 34,5. Kontrol terakhir, dan burung dianggap memiliki keistimewaan dipenuhkan atau dimentokkan menjadi 35.


Di PBI, ada ketentuan niiai mentok maksimal pada kelas penyisihan ada 20% dari peserta. Kalau peserta full 60, burung yang dinilai mentok maksimal hanya 12 ekor. Standar yarig berlaku umum, burung yang berhak masuk final adalah yang nilai mentoknya minimal 4. Kenyataannya, kalau mentok 4 jumlah terlalu sedikit, kadang diputuskan mentok 3 juga bisa masuk final.


Kalau juri terlalu bermurah dalam menilai dengan memberikan nilai mentok terlalu banyak (lebih dari 20 persen), maka jumlah burung yang masuk final akan terlalu banyak.


Pada lomba yang langsung final, nilai dasar adalah 37, selanjutnya pada kontrol berikut ada peluang untuk menaikkan nilai menjadi 37,5, berikutnya full 38. Dari yang nilai full, kemudian dipilih mana yang layak mendapatkan koncer atau favorit.


Kadang ada suatu saat, mungkin karena faktor tekanan yang berat, juri terlalu murah memberi nilai, terlalu banyak yang mentok. Akhirnya, kelas final menjadi terlalu banyak peserta. Atau, bila itu adalah penilaian pada final atau sesi tanya penyisihan, kalau nilai mentok terlaiu banyak, akan banyak sekali tos untuk menentukan juara. Bisa jadi, juara 4-10 yang berisi 7 ekor burung, bisa diikuti oleh 15 burung atau lebih. Jadi ada burung yang memiliki nilai sama, tapi karena apes dalam tos gagal masuk 10 besar.


Sekarang, banyak juri yang meninggalkan nilai kontrol. Ada yang langsung 37,5 bahkan ada nekad memberi nilai langsung mentok 38! "Padalah kalau taat azas, itu ada gunanya. Misalnya kalau ada komplain merasa tidak dikontrol, bisa dilihat pada lembar penilaian. Kalau mulai dari 37, kemudian ada 37,5 berarti juri sudah mengontrol, kalau pun tak sampai mentok ya mungkin memang burung kalah kualitas dengan yang nilainya mentok."


Masalahnya, sekarang hampir semua peserta akan protes bila burung kerja tapi nilai tidak mentok. Peserta menganggap burung yang kerja (misalnya kalau anis merah teler dari awal sampai akhir, tak peduli apakah speed rapat, apakah variasi lagu oke, apakah volume cukup) dari awal hingga akhir, seharusnya diberi nilai mentok.


Nah, tugas para organiser dan tokoh perburungan adalah bagaimana menyamakan persepsi pakem penilaian antara organiser, juri, dan peserta bisa sama, atau paling tidak mendekati sama.


Sebagai catatan akhir, ada juga organiser yang dalam memberikan penilaian tidak mengacu pada lomba-lomba konvensional, tetapi secara garis besar dengan angka numerik mulai 5-9, dan dibenarkan memberikan angka tambahan koma dibelakangnya, dengan tujuan untuk menghindari nilai sama. Burung yang bisa diberi nilai 5, bila asul bunyi diberi nilai dasar 6, dan seterusnya. Model seperti ini misalnya di Papburi. Mungkin angka nilai lebih detil dan teliti, namun penghitungan rekapnya lebih rumit karena harus dihitung atau dientry satu-satu.


Juri menggunakan empat orang dan tiap juri menilai secara mandiri, tidak ada komunikasi satu sama lain apalagi koordinasi. Independensi juri memang menonjol, namun sisi lemahnya adalah bila persepsi juri yang satu dengan yang lain tidak sama burung yang menurut salah seorang juri bakal jadi juara, setelah direkap secara keseluruhan boleh jadi malah akan teriempar jauh ke bawah.


Kesimpulan akhir, pada dasarnya apa pun sistem dan modelnya tetap saja memiliki titik lemah. Apalagi bila masalah persepsi tetap ada jurang pemisah yang lebar, protes atau kekurang puasan peserta akan saja tetap mewarnai setiap lomba.


Perlunya pemahaman bersama


Kekurangpahaman kicaumania pada pakem penjurian seringkali menjadi pemicu perseteruan antara juri dan peserta. Banyak komplain yang menimpa para juri yang menuding juri bekerja kurang profesional. Padahal selama ini, juri seperti dari organizer tertua, PBI, telah memiliki pakem penjurian sebagai ukuran rasional dan bukan selera dalam bertugas di lapangan.


Untuk lebih membuka wawasan kicau mania, Toyo, salah seorang juri PBI Bali (Cabang Gianyar) menerangkan secara detail pakem penjurian PBI sebagai dasar di dalam menilai burung. "Tanpa memahami pakem secara detail akan kesulitan menentukan juara," terang Toyo yang sudah tiga kali mengikuti latihan penjurian tingkat nasional di Solo, Yogya dan terakhir di Semarang.


Penilaian di kelas anis merah misalnya, lanjut Toyo, tertinggi pada burung yang bergaya doyong dan ngisi. Burung doyong suaranya lebih keras, berbeda dengan gaya nekuk yang cenderung bersuara lemah. Namun jika burung doyong tidak ngisi maka yang dapat nilai tinggi akan dicari gaya nekuk ngisi.


Penilaian murai batu, terletak pada lagunya yang panjang-panjang, tajam, keras mengkristal. Akan mendapat nilai sempurna jika dibarengi dengan gaya ngeplay. Gaya ngeplay tanpa didukung suara yang bagus akan kalah dengan gaya diam tetapi membawakan lagu panjang, keras dan mengkristal.


Penilaian murai batu hampir mirip dengan cendet. Cendet akan mendapat nilai tertinggi  jika mampu membawakan irama lagu, rolingan dengan speed yang rapat. Akan bertambah sempurna jika menunjukkan   gaya berdiri sambil memutar-mutar kepala.


Pakem cendet berbeda dengan penilaian kenari. Kenari membutuhkan suara yang santai, slow, renggang, mapan, iramanya panjang tetapi membawakan lagu berubah-ubah. Tiga kali-lagunya mesti ganti. "Seperti mendengarkan suara penyanyi. Mesti enak didengar telinga," papar Toyo.


Kacer, kata Toyo, lebih kepada pembawaan irama lagu yang bagus dan nyambung. "Akan lebih bagus jika roling-rolingannya tidak putus," ungkap Toyo dan menambahkan gaya kacer yang bagus dalam posisi berdiri. Penilaian kacer hampir rnirip dongan tledekan. Tledekan dengan gaya nyeklek cenderung punya rol-rol panjang.


Cucak hijau kesempurnaannya terletak pada pembawaan irama lagu dengan speed rapat dan panjang serta diselingi irama lagu dengan speed rapat dan panjang serta diselingi tembakan-tembakan. Lagunya yang banyak dan penuh power menjadi ciri khas cucak hijau.


Pakem penjurian PBI,  sepengetahuan Toyo, tidak ada perubahan yang mendasar. Cuma di kelas anis merah mengalami pergeseran, dari awalnya tidak boleh ada yang teller, teler biasa nekuk dan kini menjadi yang doyong.


Sayang pakem penjurian ini belum dipahami oleh sebagian kicau mania, sehingga ser ingkali terjadi mis pemahaman dari peserta yang berbuntut complain. Belum lagi, peserta yang sering hanya memperhatikan burung sendiri tanpa melihat jagoan lawan  yang bisa berbuntut tersudutnya juri yang dianggap tidak fairplay.


Padahal, jurilah yang sesung guhnya memperhatikan si burung yang dikonteskan. Sementara peserta hanya sibuk memperhatikan jago sendiri.


"Pemahaman peserta pada pakem penjurian akan semalom menumbuhkan sikap sportif, baik pemain maupun juri," kataToyo.


Juri dituntut lebih teliti


Sepertinya saat ini banmyak kicaumania yang belum memahami sepenuhnya tentang penilaian burung saat lomba. Apalagi saat ini banyak Event Organiser atau Club yang mengemas lomba memanggil juri-juri terbaik dari EO lainnya agar mendapat dukungan penuh sehingga jalannya lomba tidak bentrok. Melihat kondisi seperti itu, juri-juri yang bertugas pun belum tentu sama cara meniiai burung yang layak untuk menang.


Untuk menyesuaikan agar penilaian burung kontes sama maka sebelum bertugas juri wajib diberi pengertian oleh panitia tentang tata cara penilaian burung yang baik dan benar sesuakan kondisi disi saat ini.


Di wilayah Priangan Timur yang sudah terbentuk Paguyuban, tentunya mempunyai penilaian tersendiri saat lomba dengan memperhatikan arus zaman. Saat ini penilaian burung kontes di wilayah Priangan timur antar juri yang bertugas di lapangan sudah sepaham satu sama lainnya.


Paguyuban Priangan Timur yang meliputi daerah Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan Banjar bila menggelar lomba cara penilaian burung oleh sang pengadil di lapangan sudah saling mengerti tidak ada perbedaan lagi. Di samping kestabilan burung di lapangan, irama lagu, voiume dan fisik pun saling berkaitan dan mutlak digunakan oleh juri untuk menilai burung.


Sementara kestabilan bururig di lapangan oleh juri yang memimpin dilihat dari awal sampai akhir kinerja burung tampil gacor. Selain itu, irama lagu dengan isiannya pun dituntut harus menonjol. Setelah itu sang juri pun menilai volume dan fisiknya.


Bila irama lagu yang dibawakan oleh burung yang sedang bertanding agak kurang maksimal kerjanya namun gacor maka tidak layak untuk juara. Begitu pun dengan volume dan fisik pun sangat berpengaruh terhadap penilaian. Sebab saat ini irama lagu, volume dan fisik oleh juri yang bertugas diwilayah Priangan Timur disatukan karena saling berkait erat dengan penampilan burung.


Zaman sekarang juri benar-benar dituntut harus bisa menguasai dan memahami karakter burung dari berbagai jenis ocehan. Pada saatnya bertugas, juri pun tidak akan kaku saat memberikan nilai terhadap burung yang sedang bertarung, " ujar Yang-Yang, ketua Paguyuban Priangan Timur.


Menurut Yang Yang, juri juri yang bertugas diwilayah Priangan Tirnur umumnya sekarang ini sudah memahami dan menguasai, bahkan  membanding-bandingkan mana yang layak untuk menang tanpa ada kompromi.


Sedangkan zaman dulu, penilain burung cukup asal gacor di lapangan bisa dimenangkan oleh sang juri tanpa melihat irama lagu, volume dan fisiknya. Sementara irama lagu, volume dan fisik yang saat itu tidak menjadi penentu layaknya juara. Sebab saat itu burung yang layak menjadi kampiuv asal bunyi sudah dimenangkan oleh juri.


"lni berdasarkan pengalaman saya saat menjadi kontestan. Saya sudah 15 tahunan mengikuti gelaran lomba," terang Yang-Yang seperti dikutip Agrobur yang menjadi sumber artikel ini.


Salam lomba burung Indonesia!!


Salam dari Om Kicau ...

Perawatan anis merah bakalan

Saat ini banyak problem yang dialami para kicaumania berkaitan dengan perawatan anakan anis merah atau anis merah bakalan. Banyak sudah tips diberikan, namun ini ada tanya jawab di Agrobis Burung yang kiranya bisa menjadi salah satu referensi untuk Anda. Pertanyaan disampaikan Maulana Azhar dari Jombang.


"Saya memelihara 2 ekor bakalan anis merah, yang menurut penjualnya burung tersebut berjenus kelamin jantan. Burung saya pelihara dengan voor dengan stelan jangkrik 3 ekor di pagi hari dan 3 ekor di sore hari.
Hingga kini (sekitar 7 bulan) kedua burung tersebut hanya ngriwik saja, bahkan salah satunya kalau saya dekati sering ngeper-ngeper.


Menurut teman saya, burung yang ngeper tersebut berjenis kelamin betina, sehingga tidak akan dapat berkicau atau bergoyang.


Bagaimanakah perawatan burung anis merah yang benar sejak bakalan agar burung tersebut dapat cepat berkicau dan bergoyang. Apalah artinya punya burung anis merah yang tidak bisa bergoyang."


Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah bahwa burung anis merah bersifat monomorphisme, sehingga penampilan fisik antara jantan dan betina tidak ada bedanya, meskipun sebenarnya susunan sistem reproduksi yang ada di dalam rongga perutnya berbeda antara jantan dan betina.


Anis merah jantan memiliki testis sebagai organ penghasll spermatozoa dan anis merah betina memiliki ovarium organ penghasil sel telur.
Anis merah yang berjenis kelamin jantan dan betina sama-sama memiliki kemampuan untuk berkicau dan bergaya teler, karena perilaku tersebut merupakan tanda bahwa burung tersebut sudah mencapai umur akil balik yang sedang menunjukkan gejala birahi.


Umur akil balik anis merah antara 5 sampai 7 bulan sehingga pada umur tersebut, burung yang dirawat dengan baik akan menunjukkkan gejala birahi berupa rajin berkicau dan teler bergoyang.


Jika anis merah Anda sekarang berumur sekitar 9 bulan dan belum menunjukkan gejala akil balik atau birahi berupa berkicau atau teler dapat disebabkan karena sistem organ reproduksi burung tersebut tidak berkembang dengan sempurna.


Pakan yang Anda berikan masih di bawah kebutuhan dasar yang diperlukan oleh burung setiap harinya sehingga burung mengalami defesiensi protein dalam waktu yang lama. Kekurangan protein sejak bakalan dapat menjadi penyebab utama tidak munculnya gejala birahi pada anis merah sehingga macet berkicau atau macet teler.


Agar anis merah dapat berkicau dan teler pada waktunya perlu mendapat perawatan yang maksimal agar semua sistem reproduksinya dapat berkembang dan berfungsi secara normal. Pakan berupa jangkrik, kroto, ulat hongkong serta cacing sebagai sumber protein harus diberikan secara bergantian dan dalam jumlah yang banyak. Tiap hari Senin dan Selasa dapat diberi suplemen yang dapat dioleskan pada serangga atau diteteskan di air minumnya.


Suplemen tersebut mengandung asam amino esensial sebagai zat pembentuk protein yang sangat diperlukan untuk perkembangan sistem reproduksi burung.


Pada hari Rabu dan Kamis perlu diberi suplemen yang dapat merangsang perkembangan dan elastisitas pita suara sehingga burung menjadi rajin berkicau dengan kualitas suara yang jernih, bening dan mengkristal. Buah-buahan berupa papaya, pisang atau apel dapat diberikan secara bergantian sebagai sumber serat dan vitamin segar bagi burung.


Agar anis merah Anda dapat berkicau dan teler tiap hari, sebelum tidur/pada sore hari diberi 3 tetes formula metabolisme langsung ke mulut. Formula tersebut diberikan hingga anis merah Anda dapat teler. Di samping itu, burung Anda perlu mendapat perawatan secara maksimal seperti yang sudah dijelaskan di atas.


Demikian jawaban atas pertanyaan mengenai perawatan anis merah bakalan. Jawaban itu sebenarnya merupakan "jawaban standard". Sebab, ya memang demikian seharusnya perawatan burung bakalan. Kalaua di alam, burung bisa diberikan makanan apa saja yang menurut indukannya adalah baik untuk anakannya. Kalau burung di sangkar, ya tentunya Anda yang bertanggung jawab memberikan pakan terbaik untuk si burung.


Sekali lagi, inilah perlunya penekanan makanan tambahan untuk burung di sangkar selaian voer, buah dan serangga. Pastikan burung Anda benar-benar sehat sehingga organ tubuhnya bisa berkembang secara maksimal.


Sekadar contoh, untuk vitamin yang bisa diberikan sepekan dua kali misalnya, Anda bisa menggunakan BirdVit. Sedangkan untuk mempercepat proses pematangan organ reproduksi burung sehingga masa akil balik tidak terlambat datang, Anda bisa memberikan BirdSlim.


Sebab, selain merupakan suplemen asam amino lengkap, BirdSlim juga bisa mengurangi kegemukan pada burung karena over dalam mengonsumsi karbohidrat, sementara dia kekurangan protein.


Untuk burung-burung muda, Anda juga harus memastikan tidak terserang parasit, terutama kutu dan berbagai jenis cacing. Parasit bisa mengganggu proses tumbuh kembang burung bakalan karena menyerobot sari makanan dan darah yang ada pada burung. Selain itu, parasit membuat burung tidak pernah tenang, bahkan sekadar untuk belajar bunyi.


Sudahkah Anda peduli pada kesehatan burung-burung bakalan Anda?


Salam sehat burung Indonesia. Om Kicau.

Jumat, 02 Juli 2010

Sebar rumput, tips cegah burung turun tangkringan

Banyak kiat yang bisa dilakukan dalam menghadapi burung pada saat dilombakan yang sering turun ke lantai sangkar. Apakah itu mengambil jangkrik yang jatuh, kroto atau bahkan suka bunyi di bawah. Untuk mengatasi hal ini biasannya sang pemilik suka memberi jebakan berupa karet atau ranjau lainnya.


Bagi Afuk, memakai karet ternyata membuat murai andalannya malah suka takut, sehingga ketika digantang ogah bunyi. Melihat kondisi seperti itu ia mencoba memberikan sesuatu yang lebih alami yakni memberikan rumput kering di bagian bawah sangkar.













MAAF INTERMESO.... BirdPower (UNTUK BURUNG LOYO, PENYIAPAN LOMBA DLL)



Tahukah Anda, kombinasi ATP dan multivitamin lengkap di dalam BirdPower bisa menambah gacor dan ngotot burung lomba atau latberan? Mau order? Klik di sini.



Hasilnya cukup oke, murai andalannya yang sering juara sudah ogah turun ke bawah, dan karena sudah tidak lagu punya kebiasaan turun, akhirnya ketika di lomba kerja burung makin maksimal. Dengan ditemukannya jebakan yang lebih alami bukan hanya tidak membuat burung terkejut atau takut, tapi juga membiasakan burung tetap terus berada di atas. Kebiasaan inilah yang akhirnya menjadikan burung selalu nancap saat diturunkan di lomba.


Dari pengalaman itulah akhirnya Afuk mencoba menerapkan ke burung lain yang dia miliki dan punya kebiasaan suka turun di bawah. Hasilnya juga sama, burung lama-lama ogah turun di dasar sangkar. Karena efek dari jebakan rumput kering ini cukup jos, akhirnya Afuk pun memakainya di beberapa burung koleksinya.


Hasilnya luar biasa. Kacer andalan Afuk, juga beberapa murai batu, semua tak lagi suka turun ke bawah, karena terbiasa dengan jebakan rumput kering. "Karena burung sudah ogah turun ke bawah, maka kerja lapangannya tentu lebih bagus, sebab lebih bisa konsentrasi tampil di tangkringan atas," jelas Afuk. Tak ada salahnya, Anda mencoba tips Afuk ini. Sayangnya, siapa Afuk ini, Agrobis Burung yang menurunkan tips ini tidak menjelaskan lebih rinci.


Tetapi nggak pentinglah ya, yang penting adalah tipsnya. Semoga bisa dicobakan ke burung kita yang punya kebiasaan turun tangkringan.


Salam Om Kicau....

Enam poin dasar penangkaran untuk pemula

[caption id="attachment_17744" align="alignleft" width="210" caption="Pastikan mendapat asupan mineral yang cukup. (Repro BnR)"][/caption]

Di blog Omkicau.Com ini, Anda bisa menemukan sejumlah artikel tentang penangkaran. Antara lain penangkaran murai batu, kacer, cucak hijau, anis kembang, branjangan, lovebird, bekisar, gouldamadine dan lain-lain. Ada yang dijelaskan secara detail ada yang hanya global. Untuk para pemula, berikut ini ada tips umum yang saya kutip dari Tabloid BnR dan bisa menjadi pegangan awal dengan adanya penambahan catatan dari saya, Om Kicau.


Untuk memulai penangkaran burung, ada  beberapa  hal yang perlu diketahui. Antara lain, memilih indukan, jenis kelamin,  umur,  tingkah  laku,  proses pengeraman, dan sebagainya.


1. Menentukan jenis kelamin.


Ada yang mudah dilihat dari warna atau jenis bulunya atau dengan melihat paruhnya. Tapi ada pula yang baru diketahui setelah mendengar suaranya. Yang jelas, bila dua burung mau berpasangan dan bermesraan dapat dipastikan bahwa masing-masning adalah jantan dan betina (Catatan Om Kicau: Tips ini tidak bisa secara akurat diterapkan untuk melihat perilaku lovebird jantan dan betina. Sebab ada lovebird jantan yang bercumbu dengan jantan atau sebaliknya betina dengan betina)


2. Umur dewasa kelamin adalah siklus reproduksinya.


Maksudnya adalah umur berapa burung mulai nenunjukkan aktivitas seksualnya. Sedangkan siklus reproduksi adalah berapa minggu atau bulan sekali burung brtelur atau satu bulan bertelur berapa kali. Juga perlu diketahui apakah siklus repoduksinya berdasarkan siklus waktu atau dipengaruhi oleh musim. Ini diperlukan untuk memprediksi dan mengetahui efisiensi produksinya sekaligus menyusun susunan makanan dan beberapa vitamin. Pada waktu menjelang dewasa kelamin atau menjelang bertelur, burung membutuhkan makanan dengan kadar protein yang lebih rendah dari biasanya. Ini bisa dipenuhi dengan memberikan jangkrik atau kroto pada burung pemakan buah atau serangga.


3. Tingkah laku reproduksi.


Yakni tingkah laku saat burung birahi, menjelang atau saat perkawinan. Banyak jenis burung yang belum berhasil dibiakkan karena kesulitan menyediakan lingkungan yang memenuhi persyaratan agar tingkah laku reproduksi berjalan secara alamiah. Contohnya, burung merpati bermesraan menjelang perkawinan di depan keramaian adalah biasa. Tapi tidak dengan cucakrowo. Burung ini mudah stress dan tidak mau melakukan perkawinan bila ada manusia. (Catatan Om Kicau: Semuanya tergantung pada kondisioning atau pengondisian. Sebab, ada beberapa pasangan cucakrowo di sejumlah penangkar yang bisa beranak-pinak di tempat yang relatif ramai).


4. Jumlah telur dan masa pengeraman.


Jumlah telur yang dihasilkan dalam suatu masa bertelur tidak selalu sama pada setiap jenis burung. Yang pasti, makin tinggi jumlah telurnya makin tinggi pula protein dan mineral yang dibutuhkan. Perlu diketahui, kurang lebih 80 persen pospor dan 99 persen kalsium dalam tubuh terdapat pada tulang. Dalam masa bertelur, bila kalsium dalam ransum pakan jumlahnya kurang maka untuk pembentukan kullt telur tubuh membebaskan kalsium dari tulang. Bila pembebasannya berlebihan tulang jadi keropos dan mudah patah atau induk burung langsung memakan kembali telurnya yang direproduksi.


Sebagai perbandingan, kerabang telur pada ayam mengandung kurang lebih 2 gram kalsium. Untuk itu ransum dianjurkan mengandung minimal 4 gram klasium. Pada masa pengeraman, induk membutuhkan ketenangan dan temperatur yang setabil. (Catatan Om Kicau: Untuk kekurangan mineral burung di penangkaran, saat ini bisa diatasi dengan mudah yakni dengan memberikan mineral khusus untuk burung).


5. Umur masa produksi.


Pada umur tertentu produktivitas burung akan menurun. Menjelang masa ini sebaiknya pasangan burung digantikan dengan yang lebih muda. (Catatan Om Kicau: Untuk menstabilkan masa produksi dan memperpanjang masa reproduksi, kita bisa menggunakan BirdHormon atau BirdMature).


6. Pakan dan kesehatan.


Sebaiknya sesuaikan denan fase pertumbuhan siklus reproduksi dan musim. Pada waktu pertumbuhan dan musim kawin, burung membutuhkan protein yang mengandung asam amino lisin dan metionin. Perlu diketahui bahwa temperature normal burung adalah 41 derajat Celsius dan burung tidak mempunyai kelenjar keringat sehingga burung peka terhadap pertumbuhan kelembaban dan temperatur yang drastis. Burung rentan terhadap penyakit pada perubahan musim. Bila perlu vaksin burung menjelang perubahan musim. (Catatan Om Kicau: Untuk menghadapi kondisi iklim yang tidak menentu, pastikan burung mendapat asupan pakan yang bagus. Misalnya, dengan pemberian BirdVit dan selalu meminimalisasikan risiko serangan kutu dan parasit lain dengan FreshAves dan cacing dengan AscariStop).


Selamat belajar menangkar!!!

Rabu, 30 Juni 2010

Menyoal mental anis merah dari Jawa Barat

Dalam beberapa kesempatan saya menyebutkan performa anis merah tidak ditentukan dari habitat atau daerah asal. Namun demikian berdasar pengalaman beberapa penghobi anis merah, maka daerah asal tetap menjadi patokan mereka ketika hunting atau membeli burung.


Oke, dalam kaitan inilah saya menurunkan artikel tentang anis merah ini berdasarkan liputan Tabloid Agrobis Burung edisi MInggu IV Juni 2010. Selain membahas masalah daerah asal, maka dalam artikel ini juga diselingin dengan sejumlah tips dari orang yang berbeda untuk menangani anis merah macet bunyi sehabis pindah rumah.


Salah satu contoh pemain burung yang mendasarkan diri pada daerah asal ketika memilih anis merah adalah Deny Halim, spesialis pemain anis blok barat. Dia cenderung percaya karakter maupun adat serta mental burung tergantung asal muasal burung tersebut.


Menurut pemilik sederet anis merah jawara dengan nama seri Kudanya (Kuda Lumping, Kuda Satria, Kuda Jingkrak, Kuda Sembrani, Kudanil dll) asal burung cenderung mencerminkan adat dan perilaku yang bersangkutan. "Meskipun tidak seratus persen benar, dari pengalaman yang saya alami, asal-usul burung tetap pengaruh," tandas kicau mania.yang tinggal di kawasan Halim Jakarta Timur ini.


Untuk daerah asal habitat anis merah misalnya, dia cenderung tetap fanatik pada anis merah asal wilayah Jawa Barat. Hampir 80% koleksi jawaranya asal Jabar. Itu sebabnya dia kerap bolak-balik ke Bandung maupun Sumedang dan kota di wilayah Jabar lainnya untuk belanja anis merah.


"Yang jelas, dari sederet burung koleksi anis merah saya, jawa barat prestasmya masih tetap stabil sampai saat ini. Buktinya, hingga bertahun-tahun masih prestasi, semakin umuran semakin matang mentalnya. Beberapa di antaranya seperti Kuda Lumping, Kuda Satria, Kuda Kencana, Kuda Sembrani dan lainnya, itu dari Sumedang," kata pemilik 25 ekor anis prospek yang 8 ekor di antaranya sudah on fire alias siap turun diberagam laga penting ini.


Selain lebih stabil dan matang dalam mental, anis jabar menurutnya cenderung jarang sekali ada adat. Dari pengalamannya itu tadi, rata-rata burung asal jabar yang dibelinya hampir tidak ada adat. Mentalnya cepat stabil meskipun burung muda. Makin tua semakin mapan. Sementara, seperti pengakuannya, ada beberapa ekor anis merah berasal dari wilayah timur — malah prestasinya turun naik sampai saat ini. Kondisinya masih labil padahal burung sudah berumur.


"Makanya sampai saat ini saya tetap lebih suka anis dari Jawa Barat, mentalnya stabil," ujarnya.

Anis merah jabar dan adaptasi


Turun naiknya prestasi burung biasanya tergantung juga dari sejauh mana mental burung yang bersangkutan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Sebab, tidak jarang burung yang di wilayah lain sering juara, begitu pindah tangan langsung macet dan labil prestasinya.


Menurut Deny, dia punya kebiasaan bilamana baru men-take-over burung prospek, baik yang sudah juara maupun masih dalam orbitn, burung yang baru ditransfernya tidak serta merta langsung turun ke lomba, meskipun burung tersebut sebelumnya sering juara.


Burung baru tetap dirawat seperti perawatan pemilik sebelumnya, baik jenis pakan yang digunakan hingga setelan eksfod sampai masa penjemuran hingga kebiasaan mandinya. Biasanya, dia berpatokan pada kondisi burung hingga mencapai masa mabung terlebih dahulu. Paling tidak sedikitnya butuh waktu 6 bulan untuk melalui proses adaptasi di lingkungan maupun perawatan pemilik barunya. Atau lebih amannya 1 tahun burung jadi lebih matang mental dan kinerjanya di lapangan.


Seperti penuturannya, burung asal jawa barat dikenal lebih cepat masa adaptasinya. Biasanya 2 pekan setelah dipindah ke rumahnya, burung mulai turun di lapangan 2 pekan sekali. Itupun di latberan. Turun di latberan dilakukan secara rutin hingga mencapai masa mabung. Nah di saat mabung inilah, setelan baru mulai dicoba. Ada dua kemungkinan bila burung dengan setelan barunya pasca mabung, bisa lebih bagus atau sebaliknya.


Tips agar anis merah tidak macet pindah rumah


Seekor anis merah yang sudah mapan dan stabil mentalnya menurut Muklis, pemandu bakat anis merah di kawasan Sentul Bogor, tidak mungkin macet atau mandek bunyi saat pindah lokasi atau rumah meskipun berbeda kota. Yang penting penanganannya, terutama saat burung dibawa, harus dalam kondisi yang benar.


Misalnya, saat pindah ke rumah baru kondisi burung tetap dalam krodong, jangan langsung dibuka.


Biarkan burung datang di rumah baru dalam kondisi dikerodong. Gantung di tempat yang tenang hingga burung adaptasi dalam suasana lingkungan baru. Burung tetap dikrodong hingga bunyi.


Meskipun burung sudah bunyi, biarkan saja beberapa saat. Pelan-pelan dibuka krodong, jangan langsung dimandikan. Kontrol air minumnya, makanannya, bersihkan kandang, kemudian krodong lagi. Biarkan diangin-anginkan di tempat tenang sambil bunyi. Kalau besoknya belum mau mandi di bak mandi biarkan saja, jangan dipaksa.


Yang penting, bilamana di rumah ada anis merah lain yang lebih gacor diusahakan pindahkan di ruangan berbeda. Jauhkan atau diusahakan penempatannya di tempat berbeda. Karena, lazimnya burung gacor akan fighter bilamana kedalangan burung baru. Burung baru jangan dituntut harus langsung bunyi di rumah dengan cara di-cas atau ditrek dengan burung gacor yang lain. Kecuali burung itu sebelumnya memang sudah mapan.


Begitu juga pemberian pakannya, jangan diganti, kalaupun diganti tentu dengan produk atau merek yang sama.


Setelan ekslra foodingnya pun disesuaikan dengan perawatan sebelumnya. Kalau dari pemilik sebelumnya 2 ekor sehari, ya berikan dengan porsi sama. Begitu juga cacingnya, kalau memang tidak diberi cacing, ya jangan diberikan cacing.


Penuh misteri dan harus sabar dalam penanganan


"Burung anis merah ini meru-pakan burung misteri, penuh tantangan dalam memolesnya. Jadi, jangan pernah putus asa kalau mau merawat jenis burung perlu memakan waktu untuk menemukan karakter dan mentalnya," ujar Hengky Bor, salah satu pemilik anis merah Jackal dan Joker.


Mengenai anis merah jabar, Hengki Bor mengatakan masing-masing burung dari daerah Jawa Barat maupun Bali sama-sama mempunyai kelebihan dan kekurangan, tidak ada yang sempurna.


Bagi Hengki, hal paling penting yang harus diperhatikan oleh kicaumania dalam memoles burung anis merah adalah penguasaan atas mental dan karakter burung. Bila sudah dikuasai, bukan mustahil burung gacoannya bisa sering moncer di lapangan.


Namun diakuinya, anis merah ini tidak bisa diprediksi dengan mudah akan meraih gelar juara atau tidak. Sebab burung ini penuh teka-teki. Meski perawatan kesehariannya cukup mumpuni dengan berbagai vitamin dan jamu-jamuan, namun belum tentu penampilannya di lapangan bakal on the road. Justru sebaliknya, perawatan kesehariannya yang biasa-biasa bisa memenangkan gelar juara.


Lantas, bagaimana ciri anis merah yang tidak rewel dan mudah tampil di lapangan? Selain berparuh tebal, bibir putih dan bokong putih bersih pun sangat berpengaruh terhadap penampilannya di lapangan. Burung yang memiliki ciri tersebut rata-rata kinerja di lapangannya nyaris sempurna. Materi lagu serta tembak-tembakan dengan isiannya terdengar jelas. Apalagi ditopang dengan gaya khasnya dan volume keras membuat burung dengan memiliki ciri seperti ini bakal menjadi ancaman di kelasnya.

Komentar Bali Team


Anis merah memang dikenal sebagai burung yang sensitif terhadap iingkungan baru. Terlebih lagi perubahan suhu alam yang mencolok, bakal cepat membuat burung stres. Burung yang dibesarkan di desa yang dingin misalnya, jika dibawa ke kota yang bersuhu panas dipastikan akan mengalami shock.


Begitu juga perubahan menu pakan atau suasana yang berbeda dari tempat pertama akan juga memicu guncangan mental. Kasus seperti ini juga bisa menimpa anis merah asal Bali. "Namun stress mental akibat perubahan suasana sesungguhnya bisa dicegah," terang Mr Baim dari Jalak Bali Team.


Antara anis bakalan dari desa dan anis yang sudah biasa mengenyam lapangan diperlakukan hampir sama jika berpindah lokasi agar tidak shock. Biasanya anis yang berpindah tangan mesti dibiarkan menggunakan sangkar asli dan dibawa dalam kondisi dikerodong. Di rumah yang baru, anis tersebut diusahakan digantung mirip dengan suasana di rumah pertama. Misalnya terbiasa di dalam kamar sendirian atau di luar rumah dengan burung lain.


Jika burung sudah tampak nyaman dan gacor, sangkar sudah bisa diganti.


Pengalaman merawat Raja Langit yang juga sering diinapkan di beberapa lokasi di Jawa dan tetap bisa tampil di lapangan membuktikan bahwa memahami karakter anis merah sehingga kontinuitas kenyamanan dan kondisi tubuhnya tetap terjaga menjadi kunci mempertahankan perfoma.


Hal yang sama juga dilontarkan Santo Utoyo, pemain anis merah yang sudah banyak mengorbitkan jawara-jawara nasional seperti Raja Petir. Anis merah bakalan jika berpindah lokasi mesti diperlakukan hati-hati agar terhindar dari stress. Sejak akan dibawa dari desa yang dingin sebaiknya dimandikan sebelum dibawa dengan membiarkan sangkar aslinya plus kerodong.


Di dalam perjalanan diusahakan tidak sampai tergoyang-goyang. Sampai di rumah langsung dimandikan. Jika tidak bisa mandi bak bisa dengan jalan disemprot. "Yang terpenting jangan sampai berangkat malam," ungkap Santo Utoyo. (*)

Minggu, 27 Juni 2010

Parkit pun terus naik daun

Seiring dengan merebaknya hobi burung, aneka ragam jenis burung yang semula tidak populer atau pernah populer, kini terus naik popularitasnya. Salah satunya adalah parkit.


Parkit yang pernah jatuh harganya gara-gara harga pakan yang melambung tinggi sementara harga jual rendah, kini mulai ditangkarkan karena juga digandrungi orang.[slideshow]


Selain sebagai burung hias, parkit juga bisa dimaster agar bersuara macam-macam dan juga bisa dijadikan sebagai burung pemaster. Harganya pun mulai merangkak ke kisaran Rp. 50.000/pasang di tingkat eceran.


Banyak orang pernah sukses mendapatkan tambahan uang belanja keluarga dari menangkarkan parkit. Salah satu contohnya adalah Pak Harto dan Bu Tien, ketika masih tinggal di Solo. (Lihat artikel:  Sejarah dan cara beternak parkit)


Dari Australia


Seperti ditulis Ir. Wahyu Widodo dalam buku Parkit, burung yang bisa kita jumpai di pasar-pasar burung sekarang ini sesungguhnya merupakan hasil penjinakan jenis parkit liar di Australia. Proses penjinakannya sudah lama terjadi. Ketika Kapten Cook mendarat pertama kali di benua Australia, jenis burung ini mulai digambarkan secara ilmiah.


Pada tahun 1794, Shaw, penulis Zoologi of New Holland, memberi nama parkit dengan sebutan Melopsittacus undulatus. Melopsittacus berasal dari kata melos (Yunani) yang berarti nyanyian dan psittacus yang merupakan sebutan bagi kerabat betet, sedangkan undulatus (Latin) berarti bercorak gelombang. Corak bergelombang ini mungkin berkaitan dengan warna bulu parkit yang bermacam-macam.


Pada tahun 1831, museum Linne-Society di London memamerkan pajangan parkit yang sudah mati, tetapi seakan masih hidup di salah satu ruangannya. Keadaan ini mengundang perhatian berbagai kalangan, terutama para ahli di bidang perburungan. Salah satu ahli itu adalah John Gould. Orang inilah yang pertama kali—tahun 1840 - membawa parkit ke Inggris. Ini merupakan sebuah prestasi yang patut dihargai, terutama dalam rangka memikirkan bagaimana perjalanan secara perlahan-lahan burung parkit dari Australia ke Eropa pada waktu itu.


Di kebun binatang Antwerpens, Belgia, perkembangan burung-burung kelompok paruh bengkok kecil secara sukses dimulai tahun 1850. Negara-negara di Eropa lainnya juga mengimpor burung parkit yang baru ditangkap dalam jumlah besar. Burung-burung itu lalu diketahui berkembang biak di mana-mana. Di Jerman pertama kali pada tahun 1855 dan itu merupakan hasil pesanan sepasang dari London. Kini di Inggris telah bcrbiak berjuta-juta dan parkit masih diimpikan dengan antusias olch para pencintanya.


Perkembangan parkit yang pcsat itu disertai pula dengan munculnya beraneka ragam warna bulu. Pada tahun 1872 pertama kali warna kuning dihasilkan di Belgia dan warna yang sama terjadi di Jerman tahun 1875.


Parkit dengan warna biru murni muncul pertama kali pada tahun 1878. Tahun 1917 muncul warna putih untuk pertama kalinya dan tahun 1940 lahir bcraneka warna.


Karena penyebaran parkit menjadi sangat luas, burung ini lalu mendapat berrmacam-macam sebutan. Di Belanda orang menyebutnya undulated grass parkeet. Orang Perancis scring mcmanggil dengan nama perche ondule dan bangsa Jerman monggunakan istilah wellensittich.


Parkit, kerabat burung oaruh bengkok


Anggota kelompok burung berparuh bengkok terbagi atas 6 anak suku, 82 marga, dan 316 jenis. Di antara kelompok burung-burung berparuh bengkok, parkit termasuk yang sangat populer karena bulunya yang berwarna-warni dan sifatnya yang mudah beradaptasi dengan alam lingkungan sekitarnya.


Susunan klasifikasi burung parkit berdasarkan Ckecklbt of Bird of the World yang disusun oleh Peters (1937) adalah sebagai berikut.


Filum: Chordata
Anak: filum Vertebrata
Kelas: Aves
Bangsa: Psittaciformes
Suku: Psittacidae
Anak suku: Psittacinae
Marga: Melopsittacus
Jenis: Melopsittacus undulates


Menurut Forshaw (1989), panjang tubuh burung parkit rata-rata adalah 18 cm dengan berat badan antara 26—29 gram. Lebih lanjut dinyatakan, dari 8 parkit jantan diketahui panjang sayapnya antara 93—100 mm, ekor 91—103 mm, culmen (paruh bagian atas) 9—10 mm, dan tarsus 13—15 mm. Untuk yang betina, dari 9 parkit betina diketahui memiliki panjang sayap antara 93—104 mm, ekor 88—99 mm, culmen 9—11 mm, dan tarsus 14—15 mm.


Parkit dewasa mempunyai warna bulu tubuh bagian atas bercorak hitam dan kuning, sedangkan tungging dan tubuh bagian bawah berwarna hijau. Muka dan kepala bagian depan berwarna kuning. Ujung bulu-bulu pipi berwarna biru violet atau lembayung dan berbintik-bintik hitam melintasi kerongkongan. Bulu-bulu penutup sayap di bagian bawah berwarna hijau. Bulu-bulu ekor berwarna biru kehijauan dan pada bulu-bulu lateral terdapat sambungan kuning ditengah-tengahnya.


Parkit yang belum dewasa warna bulunya tampak lebih gelap daripada yang dewasa. Selain itu, tidak terdapat bintik-bintik hitam pada kerongkongan dan warna corak pada kepala bagian depan.


Iris mata berwarna putih (untuk yang dewasa) dan kehijauan (untuk yang muda). Paruh berwarna abu-abu violet. Cere (lubang hidung) berwarna biru (untuk yang jantan) dan kecokelatan (untuk yang betina). Kaki berwarna biru kehijauan.


Biasanya parkit menempati habitat hutan Eucalyptus yang berbatasan dengan anak sungai, padang rerumputan, semak belukar yang kering, dan daerah padang terbuka. Di mana pun burung tersebut tinggal, umumnya mereka berkelompok dalam jumlah kecil. Mereka hidup berpindah-pindah, menyesuaikan persediaan air dan biji rerumputan sebagai sumber makanannya.


Dari telur hingga dewasa


Parkit menyukai hidup berkoloni dan cepat beradaptasi di kandang penangkaran. Di alam bebas burung ini berbiak pada bulan Oktober — Desember. Ketika musim berkembang biak, parkit jantan mengawali dan mencumbu rayu betina pilihannya. Setelah keduanya saling cocok, terjadilah perkawinan.


Parkit jantan dikenal sangat setia dengan pasangannya. Kesetiaan ini terjadi dalam periode yang cukup panjang. Pada saat parkit betina sedang aktif bertelur di dalam sarang, parkit jantan dengan sabar menunggu di dekatnya sambil bersiul. Apabila ada parkit lain yang mengusik, serta merta parkit jantan akan menghalaunya. Sclama proses bertelur parkit betina menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam sarang. Burung ini akan keluar sebentar dari sarangnya bila ingin makan atau minum.


Selama periode bertelur, parkit betina tampak sangat agresif. Untuk itu, perlu dihindari adanya gangguan-gangguan dari luar kandang.


Biasanya parkit bertelur pada pagi hari. Telur parkit berwarna putih bersih, bentuknya agak bulat dengan ukuran panjang dan lebar rata-rata 18,6 mm x 15 mm. Berat tiap telur rata-rata 2,5 gram. Jumlah telur yang dihasilkan rata-rata enam butir. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi telur-telur tersebut kurang lebih 19 hari.


Selesai periode bertelur, induk betina akan mengerami telur-telurnya. Parkit jantan tidak ikut dalam proses pengeraman. Pejantan hanya mengirim makanan dari luar kotak sarang untuk betinanya. Biasanya, pengeraman berlangsung selama 17 hari. Setelah itu telur akan menetas.


Tidak semua telur yang dierami akan menetas. Telur yang tidak menetas bukan berarti tidak terbuahi, tetapi karena kemampuan induk untuk mengeram terbatas atau mungkin konstruksi kotak sarangnya kurang sesuai. Ini terbukti pada saat pemecahan telur-telur yang tidak menetas dalam satu periode waktu peneluran, semua janin didapatkan mati di dalam telur. Keterbatasan kemampuan mengeram juga mengakibatkan sebagian telur tidak tererami dan tidak mendapat panas tubuh dari induk secara sempurna.


Anak parkit yang baru keluar dari telur berbobot rata-rata 2,35 gram. Bobot kerabang setelah telur menetas 0,15 gram dengan ketebalan 0,258 mm. Ketika menetas anak parkit masih terpejam matanya. Mata anak parkit akan membuka setelah berumur sembilan hari.


Pertambahan bobot badan anakan parkit cukup cepat, yaitu 1,11 gram per hari. Pertambahan bobot badan ini akan semakin tinggi jika kualitas makanan yang diberikan juga semakin baik.


Pertumbuhan bulu-bulu tubuh-kepala, sayap, dan ekor-tampak sempurna setelah berumur 25 hari. Sampai umur tersebut induk dan pejantannya memberikan makanan kepada anak-anaknya dcngan baik. Anak parkit pun bertambah besar. Sekitar umur 30 hari, satu per satu anaknya mulai meninggalkan kotak sarang untuk belajar terbang.


Ketika anak parkit telah mulai terbang, induknya masih tenis mcnyuapi hingga berumur 40 hari. Setelah itu induk dan pejantan akan aktif kembali dalam proses perkawinan dan peneluran pcriode berikutnya. Kotak sarang yang digunakan adalah kotak sarang sebelumnya.


Sctclah berumur 90 hari, anak parkit mulai dewasa kelamin. Anakan yang jantan menunjukan ciri khasnya: mencari betina untuk dijadikan pasangan. Dengan demikian, proses perkembangbiakan akan berlanjut. Kotak sarang di dalam kandang pun perlu ditambah.


Member Om Kicau Hotline yang berminat mendapatkan panduan lengkap menangkar parkit, silakan kontak Om Kicau.


Salam sehat burung Indonesia.


(Sumber: Ir Wahyu Widodo, Parkit, penerbit Panebar Swadaya)