Hasil Lomba Burung Presiden Cup 2

Even Presiden Cup yang dikemas BnR pekan lalu di Parkir Timur Senayan Jakarta boleh dibilang jadi semacam pesta akbarnya kicau mania tahun ini. Inilah hasilnya.

Perlu catatan harian penangkaran

Penjodohannya pun tidak mudah, sebab membedakan jantan betina pun tidak gampang. Butuh pengalaman dan kepekaan untuk memastikan jenis kelamin. Banyak sekali kasus breeder pemula gagal.

Kendala selalu ada, tetapi bisa diatasi

Penelurusan ke sejumlah breeder cucakrawa, disebutkan bahwa kendala yang harus dihadapi sesungguhnya cukup banyak. Namun kendala-kendala ini ternyata tidak pernah menyurutkan para breeder, karena biasa diatasi.

Cucakrowo perlu ketenangan dan multivitamin

Meski ada pemodal kelimpungan ketika ikut-ikutan mencoba beternak cucakrowo namun ada saja breeder yang tersenyum lantaran modal yang dikeluarkan relatif sedikit tetapi hasilnya berlipat-lipat.

Harga burung saat ini

Harga burung di wilayah Solo dan sekitarnya (Soloraya) pada pertengahan Maret 2012 menunjukkan beberapa kenaikan yang signifikan. Seperti apa?

Rabu, 30 Juni 2010

Menyoal mental anis merah dari Jawa Barat

Dalam beberapa kesempatan saya menyebutkan performa anis merah tidak ditentukan dari habitat atau daerah asal. Namun demikian berdasar pengalaman beberapa penghobi anis merah, maka daerah asal tetap menjadi patokan mereka ketika hunting atau membeli burung.


Oke, dalam kaitan inilah saya menurunkan artikel tentang anis merah ini berdasarkan liputan Tabloid Agrobis Burung edisi MInggu IV Juni 2010. Selain membahas masalah daerah asal, maka dalam artikel ini juga diselingin dengan sejumlah tips dari orang yang berbeda untuk menangani anis merah macet bunyi sehabis pindah rumah.


Salah satu contoh pemain burung yang mendasarkan diri pada daerah asal ketika memilih anis merah adalah Deny Halim, spesialis pemain anis blok barat. Dia cenderung percaya karakter maupun adat serta mental burung tergantung asal muasal burung tersebut.


Menurut pemilik sederet anis merah jawara dengan nama seri Kudanya (Kuda Lumping, Kuda Satria, Kuda Jingkrak, Kuda Sembrani, Kudanil dll) asal burung cenderung mencerminkan adat dan perilaku yang bersangkutan. "Meskipun tidak seratus persen benar, dari pengalaman yang saya alami, asal-usul burung tetap pengaruh," tandas kicau mania.yang tinggal di kawasan Halim Jakarta Timur ini.


Untuk daerah asal habitat anis merah misalnya, dia cenderung tetap fanatik pada anis merah asal wilayah Jawa Barat. Hampir 80% koleksi jawaranya asal Jabar. Itu sebabnya dia kerap bolak-balik ke Bandung maupun Sumedang dan kota di wilayah Jabar lainnya untuk belanja anis merah.


"Yang jelas, dari sederet burung koleksi anis merah saya, jawa barat prestasmya masih tetap stabil sampai saat ini. Buktinya, hingga bertahun-tahun masih prestasi, semakin umuran semakin matang mentalnya. Beberapa di antaranya seperti Kuda Lumping, Kuda Satria, Kuda Kencana, Kuda Sembrani dan lainnya, itu dari Sumedang," kata pemilik 25 ekor anis prospek yang 8 ekor di antaranya sudah on fire alias siap turun diberagam laga penting ini.


Selain lebih stabil dan matang dalam mental, anis jabar menurutnya cenderung jarang sekali ada adat. Dari pengalamannya itu tadi, rata-rata burung asal jabar yang dibelinya hampir tidak ada adat. Mentalnya cepat stabil meskipun burung muda. Makin tua semakin mapan. Sementara, seperti pengakuannya, ada beberapa ekor anis merah berasal dari wilayah timur — malah prestasinya turun naik sampai saat ini. Kondisinya masih labil padahal burung sudah berumur.


"Makanya sampai saat ini saya tetap lebih suka anis dari Jawa Barat, mentalnya stabil," ujarnya.

Anis merah jabar dan adaptasi


Turun naiknya prestasi burung biasanya tergantung juga dari sejauh mana mental burung yang bersangkutan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Sebab, tidak jarang burung yang di wilayah lain sering juara, begitu pindah tangan langsung macet dan labil prestasinya.


Menurut Deny, dia punya kebiasaan bilamana baru men-take-over burung prospek, baik yang sudah juara maupun masih dalam orbitn, burung yang baru ditransfernya tidak serta merta langsung turun ke lomba, meskipun burung tersebut sebelumnya sering juara.


Burung baru tetap dirawat seperti perawatan pemilik sebelumnya, baik jenis pakan yang digunakan hingga setelan eksfod sampai masa penjemuran hingga kebiasaan mandinya. Biasanya, dia berpatokan pada kondisi burung hingga mencapai masa mabung terlebih dahulu. Paling tidak sedikitnya butuh waktu 6 bulan untuk melalui proses adaptasi di lingkungan maupun perawatan pemilik barunya. Atau lebih amannya 1 tahun burung jadi lebih matang mental dan kinerjanya di lapangan.


Seperti penuturannya, burung asal jawa barat dikenal lebih cepat masa adaptasinya. Biasanya 2 pekan setelah dipindah ke rumahnya, burung mulai turun di lapangan 2 pekan sekali. Itupun di latberan. Turun di latberan dilakukan secara rutin hingga mencapai masa mabung. Nah di saat mabung inilah, setelan baru mulai dicoba. Ada dua kemungkinan bila burung dengan setelan barunya pasca mabung, bisa lebih bagus atau sebaliknya.


Tips agar anis merah tidak macet pindah rumah


Seekor anis merah yang sudah mapan dan stabil mentalnya menurut Muklis, pemandu bakat anis merah di kawasan Sentul Bogor, tidak mungkin macet atau mandek bunyi saat pindah lokasi atau rumah meskipun berbeda kota. Yang penting penanganannya, terutama saat burung dibawa, harus dalam kondisi yang benar.


Misalnya, saat pindah ke rumah baru kondisi burung tetap dalam krodong, jangan langsung dibuka.


Biarkan burung datang di rumah baru dalam kondisi dikerodong. Gantung di tempat yang tenang hingga burung adaptasi dalam suasana lingkungan baru. Burung tetap dikrodong hingga bunyi.


Meskipun burung sudah bunyi, biarkan saja beberapa saat. Pelan-pelan dibuka krodong, jangan langsung dimandikan. Kontrol air minumnya, makanannya, bersihkan kandang, kemudian krodong lagi. Biarkan diangin-anginkan di tempat tenang sambil bunyi. Kalau besoknya belum mau mandi di bak mandi biarkan saja, jangan dipaksa.


Yang penting, bilamana di rumah ada anis merah lain yang lebih gacor diusahakan pindahkan di ruangan berbeda. Jauhkan atau diusahakan penempatannya di tempat berbeda. Karena, lazimnya burung gacor akan fighter bilamana kedalangan burung baru. Burung baru jangan dituntut harus langsung bunyi di rumah dengan cara di-cas atau ditrek dengan burung gacor yang lain. Kecuali burung itu sebelumnya memang sudah mapan.


Begitu juga pemberian pakannya, jangan diganti, kalaupun diganti tentu dengan produk atau merek yang sama.


Setelan ekslra foodingnya pun disesuaikan dengan perawatan sebelumnya. Kalau dari pemilik sebelumnya 2 ekor sehari, ya berikan dengan porsi sama. Begitu juga cacingnya, kalau memang tidak diberi cacing, ya jangan diberikan cacing.


Penuh misteri dan harus sabar dalam penanganan


"Burung anis merah ini meru-pakan burung misteri, penuh tantangan dalam memolesnya. Jadi, jangan pernah putus asa kalau mau merawat jenis burung perlu memakan waktu untuk menemukan karakter dan mentalnya," ujar Hengky Bor, salah satu pemilik anis merah Jackal dan Joker.


Mengenai anis merah jabar, Hengki Bor mengatakan masing-masing burung dari daerah Jawa Barat maupun Bali sama-sama mempunyai kelebihan dan kekurangan, tidak ada yang sempurna.


Bagi Hengki, hal paling penting yang harus diperhatikan oleh kicaumania dalam memoles burung anis merah adalah penguasaan atas mental dan karakter burung. Bila sudah dikuasai, bukan mustahil burung gacoannya bisa sering moncer di lapangan.


Namun diakuinya, anis merah ini tidak bisa diprediksi dengan mudah akan meraih gelar juara atau tidak. Sebab burung ini penuh teka-teki. Meski perawatan kesehariannya cukup mumpuni dengan berbagai vitamin dan jamu-jamuan, namun belum tentu penampilannya di lapangan bakal on the road. Justru sebaliknya, perawatan kesehariannya yang biasa-biasa bisa memenangkan gelar juara.


Lantas, bagaimana ciri anis merah yang tidak rewel dan mudah tampil di lapangan? Selain berparuh tebal, bibir putih dan bokong putih bersih pun sangat berpengaruh terhadap penampilannya di lapangan. Burung yang memiliki ciri tersebut rata-rata kinerja di lapangannya nyaris sempurna. Materi lagu serta tembak-tembakan dengan isiannya terdengar jelas. Apalagi ditopang dengan gaya khasnya dan volume keras membuat burung dengan memiliki ciri seperti ini bakal menjadi ancaman di kelasnya.

Komentar Bali Team


Anis merah memang dikenal sebagai burung yang sensitif terhadap iingkungan baru. Terlebih lagi perubahan suhu alam yang mencolok, bakal cepat membuat burung stres. Burung yang dibesarkan di desa yang dingin misalnya, jika dibawa ke kota yang bersuhu panas dipastikan akan mengalami shock.


Begitu juga perubahan menu pakan atau suasana yang berbeda dari tempat pertama akan juga memicu guncangan mental. Kasus seperti ini juga bisa menimpa anis merah asal Bali. "Namun stress mental akibat perubahan suasana sesungguhnya bisa dicegah," terang Mr Baim dari Jalak Bali Team.


Antara anis bakalan dari desa dan anis yang sudah biasa mengenyam lapangan diperlakukan hampir sama jika berpindah lokasi agar tidak shock. Biasanya anis yang berpindah tangan mesti dibiarkan menggunakan sangkar asli dan dibawa dalam kondisi dikerodong. Di rumah yang baru, anis tersebut diusahakan digantung mirip dengan suasana di rumah pertama. Misalnya terbiasa di dalam kamar sendirian atau di luar rumah dengan burung lain.


Jika burung sudah tampak nyaman dan gacor, sangkar sudah bisa diganti.


Pengalaman merawat Raja Langit yang juga sering diinapkan di beberapa lokasi di Jawa dan tetap bisa tampil di lapangan membuktikan bahwa memahami karakter anis merah sehingga kontinuitas kenyamanan dan kondisi tubuhnya tetap terjaga menjadi kunci mempertahankan perfoma.


Hal yang sama juga dilontarkan Santo Utoyo, pemain anis merah yang sudah banyak mengorbitkan jawara-jawara nasional seperti Raja Petir. Anis merah bakalan jika berpindah lokasi mesti diperlakukan hati-hati agar terhindar dari stress. Sejak akan dibawa dari desa yang dingin sebaiknya dimandikan sebelum dibawa dengan membiarkan sangkar aslinya plus kerodong.


Di dalam perjalanan diusahakan tidak sampai tergoyang-goyang. Sampai di rumah langsung dimandikan. Jika tidak bisa mandi bak bisa dengan jalan disemprot. "Yang terpenting jangan sampai berangkat malam," ungkap Santo Utoyo. (*)

Minggu, 27 Juni 2010

Parkit pun terus naik daun

Seiring dengan merebaknya hobi burung, aneka ragam jenis burung yang semula tidak populer atau pernah populer, kini terus naik popularitasnya. Salah satunya adalah parkit.


Parkit yang pernah jatuh harganya gara-gara harga pakan yang melambung tinggi sementara harga jual rendah, kini mulai ditangkarkan karena juga digandrungi orang.[slideshow]


Selain sebagai burung hias, parkit juga bisa dimaster agar bersuara macam-macam dan juga bisa dijadikan sebagai burung pemaster. Harganya pun mulai merangkak ke kisaran Rp. 50.000/pasang di tingkat eceran.


Banyak orang pernah sukses mendapatkan tambahan uang belanja keluarga dari menangkarkan parkit. Salah satu contohnya adalah Pak Harto dan Bu Tien, ketika masih tinggal di Solo. (Lihat artikel:  Sejarah dan cara beternak parkit)


Dari Australia


Seperti ditulis Ir. Wahyu Widodo dalam buku Parkit, burung yang bisa kita jumpai di pasar-pasar burung sekarang ini sesungguhnya merupakan hasil penjinakan jenis parkit liar di Australia. Proses penjinakannya sudah lama terjadi. Ketika Kapten Cook mendarat pertama kali di benua Australia, jenis burung ini mulai digambarkan secara ilmiah.


Pada tahun 1794, Shaw, penulis Zoologi of New Holland, memberi nama parkit dengan sebutan Melopsittacus undulatus. Melopsittacus berasal dari kata melos (Yunani) yang berarti nyanyian dan psittacus yang merupakan sebutan bagi kerabat betet, sedangkan undulatus (Latin) berarti bercorak gelombang. Corak bergelombang ini mungkin berkaitan dengan warna bulu parkit yang bermacam-macam.


Pada tahun 1831, museum Linne-Society di London memamerkan pajangan parkit yang sudah mati, tetapi seakan masih hidup di salah satu ruangannya. Keadaan ini mengundang perhatian berbagai kalangan, terutama para ahli di bidang perburungan. Salah satu ahli itu adalah John Gould. Orang inilah yang pertama kali—tahun 1840 - membawa parkit ke Inggris. Ini merupakan sebuah prestasi yang patut dihargai, terutama dalam rangka memikirkan bagaimana perjalanan secara perlahan-lahan burung parkit dari Australia ke Eropa pada waktu itu.


Di kebun binatang Antwerpens, Belgia, perkembangan burung-burung kelompok paruh bengkok kecil secara sukses dimulai tahun 1850. Negara-negara di Eropa lainnya juga mengimpor burung parkit yang baru ditangkap dalam jumlah besar. Burung-burung itu lalu diketahui berkembang biak di mana-mana. Di Jerman pertama kali pada tahun 1855 dan itu merupakan hasil pesanan sepasang dari London. Kini di Inggris telah bcrbiak berjuta-juta dan parkit masih diimpikan dengan antusias olch para pencintanya.


Perkembangan parkit yang pcsat itu disertai pula dengan munculnya beraneka ragam warna bulu. Pada tahun 1872 pertama kali warna kuning dihasilkan di Belgia dan warna yang sama terjadi di Jerman tahun 1875.


Parkit dengan warna biru murni muncul pertama kali pada tahun 1878. Tahun 1917 muncul warna putih untuk pertama kalinya dan tahun 1940 lahir bcraneka warna.


Karena penyebaran parkit menjadi sangat luas, burung ini lalu mendapat berrmacam-macam sebutan. Di Belanda orang menyebutnya undulated grass parkeet. Orang Perancis scring mcmanggil dengan nama perche ondule dan bangsa Jerman monggunakan istilah wellensittich.


Parkit, kerabat burung oaruh bengkok


Anggota kelompok burung berparuh bengkok terbagi atas 6 anak suku, 82 marga, dan 316 jenis. Di antara kelompok burung-burung berparuh bengkok, parkit termasuk yang sangat populer karena bulunya yang berwarna-warni dan sifatnya yang mudah beradaptasi dengan alam lingkungan sekitarnya.


Susunan klasifikasi burung parkit berdasarkan Ckecklbt of Bird of the World yang disusun oleh Peters (1937) adalah sebagai berikut.


Filum: Chordata
Anak: filum Vertebrata
Kelas: Aves
Bangsa: Psittaciformes
Suku: Psittacidae
Anak suku: Psittacinae
Marga: Melopsittacus
Jenis: Melopsittacus undulates


Menurut Forshaw (1989), panjang tubuh burung parkit rata-rata adalah 18 cm dengan berat badan antara 26—29 gram. Lebih lanjut dinyatakan, dari 8 parkit jantan diketahui panjang sayapnya antara 93—100 mm, ekor 91—103 mm, culmen (paruh bagian atas) 9—10 mm, dan tarsus 13—15 mm. Untuk yang betina, dari 9 parkit betina diketahui memiliki panjang sayap antara 93—104 mm, ekor 88—99 mm, culmen 9—11 mm, dan tarsus 14—15 mm.


Parkit dewasa mempunyai warna bulu tubuh bagian atas bercorak hitam dan kuning, sedangkan tungging dan tubuh bagian bawah berwarna hijau. Muka dan kepala bagian depan berwarna kuning. Ujung bulu-bulu pipi berwarna biru violet atau lembayung dan berbintik-bintik hitam melintasi kerongkongan. Bulu-bulu penutup sayap di bagian bawah berwarna hijau. Bulu-bulu ekor berwarna biru kehijauan dan pada bulu-bulu lateral terdapat sambungan kuning ditengah-tengahnya.


Parkit yang belum dewasa warna bulunya tampak lebih gelap daripada yang dewasa. Selain itu, tidak terdapat bintik-bintik hitam pada kerongkongan dan warna corak pada kepala bagian depan.


Iris mata berwarna putih (untuk yang dewasa) dan kehijauan (untuk yang muda). Paruh berwarna abu-abu violet. Cere (lubang hidung) berwarna biru (untuk yang jantan) dan kecokelatan (untuk yang betina). Kaki berwarna biru kehijauan.


Biasanya parkit menempati habitat hutan Eucalyptus yang berbatasan dengan anak sungai, padang rerumputan, semak belukar yang kering, dan daerah padang terbuka. Di mana pun burung tersebut tinggal, umumnya mereka berkelompok dalam jumlah kecil. Mereka hidup berpindah-pindah, menyesuaikan persediaan air dan biji rerumputan sebagai sumber makanannya.


Dari telur hingga dewasa


Parkit menyukai hidup berkoloni dan cepat beradaptasi di kandang penangkaran. Di alam bebas burung ini berbiak pada bulan Oktober — Desember. Ketika musim berkembang biak, parkit jantan mengawali dan mencumbu rayu betina pilihannya. Setelah keduanya saling cocok, terjadilah perkawinan.


Parkit jantan dikenal sangat setia dengan pasangannya. Kesetiaan ini terjadi dalam periode yang cukup panjang. Pada saat parkit betina sedang aktif bertelur di dalam sarang, parkit jantan dengan sabar menunggu di dekatnya sambil bersiul. Apabila ada parkit lain yang mengusik, serta merta parkit jantan akan menghalaunya. Sclama proses bertelur parkit betina menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam sarang. Burung ini akan keluar sebentar dari sarangnya bila ingin makan atau minum.


Selama periode bertelur, parkit betina tampak sangat agresif. Untuk itu, perlu dihindari adanya gangguan-gangguan dari luar kandang.


Biasanya parkit bertelur pada pagi hari. Telur parkit berwarna putih bersih, bentuknya agak bulat dengan ukuran panjang dan lebar rata-rata 18,6 mm x 15 mm. Berat tiap telur rata-rata 2,5 gram. Jumlah telur yang dihasilkan rata-rata enam butir. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi telur-telur tersebut kurang lebih 19 hari.


Selesai periode bertelur, induk betina akan mengerami telur-telurnya. Parkit jantan tidak ikut dalam proses pengeraman. Pejantan hanya mengirim makanan dari luar kotak sarang untuk betinanya. Biasanya, pengeraman berlangsung selama 17 hari. Setelah itu telur akan menetas.


Tidak semua telur yang dierami akan menetas. Telur yang tidak menetas bukan berarti tidak terbuahi, tetapi karena kemampuan induk untuk mengeram terbatas atau mungkin konstruksi kotak sarangnya kurang sesuai. Ini terbukti pada saat pemecahan telur-telur yang tidak menetas dalam satu periode waktu peneluran, semua janin didapatkan mati di dalam telur. Keterbatasan kemampuan mengeram juga mengakibatkan sebagian telur tidak tererami dan tidak mendapat panas tubuh dari induk secara sempurna.


Anak parkit yang baru keluar dari telur berbobot rata-rata 2,35 gram. Bobot kerabang setelah telur menetas 0,15 gram dengan ketebalan 0,258 mm. Ketika menetas anak parkit masih terpejam matanya. Mata anak parkit akan membuka setelah berumur sembilan hari.


Pertambahan bobot badan anakan parkit cukup cepat, yaitu 1,11 gram per hari. Pertambahan bobot badan ini akan semakin tinggi jika kualitas makanan yang diberikan juga semakin baik.


Pertumbuhan bulu-bulu tubuh-kepala, sayap, dan ekor-tampak sempurna setelah berumur 25 hari. Sampai umur tersebut induk dan pejantannya memberikan makanan kepada anak-anaknya dcngan baik. Anak parkit pun bertambah besar. Sekitar umur 30 hari, satu per satu anaknya mulai meninggalkan kotak sarang untuk belajar terbang.


Ketika anak parkit telah mulai terbang, induknya masih tenis mcnyuapi hingga berumur 40 hari. Setelah itu induk dan pejantan akan aktif kembali dalam proses perkawinan dan peneluran pcriode berikutnya. Kotak sarang yang digunakan adalah kotak sarang sebelumnya.


Sctclah berumur 90 hari, anak parkit mulai dewasa kelamin. Anakan yang jantan menunjukan ciri khasnya: mencari betina untuk dijadikan pasangan. Dengan demikian, proses perkembangbiakan akan berlanjut. Kotak sarang di dalam kandang pun perlu ditambah.


Member Om Kicau Hotline yang berminat mendapatkan panduan lengkap menangkar parkit, silakan kontak Om Kicau.


Salam sehat burung Indonesia.


(Sumber: Ir Wahyu Widodo, Parkit, penerbit Panebar Swadaya)

Jumat, 25 Juni 2010

LoveBird 6 bulan cucu Kiss Killer Om Roby Alamsyah mulai mengukir prestasi

Lagi, kabar menggembirakan datang dari Kalimantan. Melalui email, Om Dwi Lovebird Jogja mengabarkan bahwa salah satu lovebird dari penangkarannya yang diboyong Om Roby Alamsyah, Balikpapan.  Via emailnya, Om Dwi mengatakan demikian:




Om ada kabar menggembirakan. Ternyata hari Minggu 20 Juni 2010, LB ring DT juga mulai menunjukkan prestasinya. Lovebird ini menjadi juara 2 kelas LOVE BIRD NEW CLASSIC pada lomba DILAGA Balikpapan (Agrobur halaman 13). Sebelumnya pada event REGENCY HARMONY CUP tanggal 30 Mei, juga menjadi juara 5.


Lovebird saya kirim kirim ke Balikpapan bulan Maret lalu untuk Mas Roby Alamsyah saat usianya baru 4 bulan dan diberi nama MEY. Turun perdana di latber atau lomba pada bulan April langsung masuk nomer 5 kemudian masuk nomer 3.


Semenjak dirawat Mas Roby, MEY telah 4 X dicoba dan hasilnya menggembirakan karena selalu masuk 5 besar di Balikpapan. MEY adalah LB hasil ternakan GTA, termasuk cucu dari KISS KILLER.


Terbukti dengan selalu menggunakan produk OM KICAU, hasilnya memuaskan he he he...
Salam kicau. Trims.



Yah, kalau menilik usia ketika kirim, maka usia Mey saat ini baru enam bulan. Eh, meski demikian bisa berprestasi. Ya maklum, cucu Kiss Killer, salah satu lovebird jawara andalan penangkaran Om Dwi Lovebird Jogja.
Apa itu ring DT? Ring DT yang sering dipelesetkan sebagai "Duto-Tony" oleh Om Tony Alamsyah alias Bajak Laut Cilacap adalah salah satu ring LB Om Dwi.


Selain sering diberi ring DT (Dwi-Titis), lovebird dari penangkaran Om Dwi juga sering dipasangi ring Black. Ring ini sebagai penanda kolaborasi penangkaran Om Dwi dan Om Tony, yakni Black Bird Keeping (BBK) yang bermarkas di Cilacap.


Prestasi lovebird Mey, naga-naganya bakal terus bersaing dengan saudara sepenangkarannya, yakni Golden Kid, yang pada hari Minggu 20 Juni itu menjadi juara 1 di Lomba Trah AB-E, Jogja.


[slideshow]


Gambar di atas adalah lovebird-lovebird penangkaran Om Dwi Lovebrid Jogja


Sama dengan Golden Kid, lovebird Mey lahir di penangkaran yang selalu menggunakan produk Om Kicau sebagai pemacu dalam penjodohan, produktovitas dan rawatan harian.


Selamat untuk Om Roby Alamsyah, Om Dwi dan BBK.
Salam, Om Kicau.

LoveBird 6 bulan cucu Kiss Killer Om Roby Alamsyah mulai mengukir prestasi

Lagi, kabar menggembirakan datang dari Kalimantan. Melalui email, Om Dwi Lovebird Jogja mengabarkan bahwa salah satu lovebird dari penangkarannya yang diboyong Om Roby Alamsyah, Balikpapan.  Via emailnya, Om Dwi mengatakan demikian:




Om ada kabar menggembirakan. Ternyata hari Minggu 20 Juni 2010, LB ring DT juga mulai menunjukkan prestasinya. Lovebird ini menjadi juara 2 kelas LOVE BIRD NEW CLASSIC pada lomba DILAGA Balikpapan (Agrobur halaman 13). Sebelumnya pada event REGENCY HARMONY CUP tanggal 30 Mei, juga menjadi juara 5.


Lovebird saya kirim kirim ke Balikpapan bulan Maret lalu untuk Mas Roby Alamsyah saat usianya baru 4 bulan dan diberi nama MEY. Turun perdana di latber atau lomba pada bulan April langsung masuk nomer 5 kemudian masuk nomer 3.


Semenjak dirawat Mas Roby, MEY telah 4 X dicoba dan hasilnya menggembirakan karena selalu masuk 5 besar di Balikpapan. MEY adalah LB hasil ternakan GTA, termasuk cucu dari KISS KILLER.


Terbukti dengan selalu menggunakan produk OM KICAU, hasilnya memuaskan he he he...
Salam kicau. Trims.



Yah, kalau menilik usia ketika kirim, maka usia Mey saat ini baru enam bulan. Eh, meski demikian bisa berprestasi. Ya maklum, cucu Kiss Killer, salah satu lovebird jawara andalan penangkaran Om Dwi Lovebird Jogja.
Apa itu ring DT? Ring DT yang sering dipelesetkan sebagai "Duto-Tony" oleh Om Tony Alamsyah alias Bajak Laut Cilacap adalah salah satu ring LB Om Dwi.


Selain sering diberi ring DT (Dwi-Titis), lovebird dari penangkaran Om Dwi juga sering dipasangi ring Black. Ring ini sebagai penanda kolaborasi penangkaran Om Dwi dan Om Tony, yakni Black Bird Keeping (BBK) yang bermarkas di Cilacap.


Prestasi lovebird Mey, naga-naganya bakal terus bersaing dengan saudara sepenangkarannya, yakni Golden Kid, yang pada hari Minggu 20 Juni itu menjadi juara 1 di Lomba Trah AB-E, Jogja.


[slideshow]


Gambar di atas adalah lovebird-lovebird penangkaran Om Dwi Lovebrid Jogja


Sama dengan Golden Kid, lovebird Mey lahir di penangkaran yang selalu menggunakan produk Om Kicau sebagai pemacu dalam penjodohan, produktovitas dan rawatan harian.


Selamat untuk Om Roby Alamsyah, Om Dwi dan BBK.
Salam, Om Kicau.

Rabu, 23 Juni 2010

Pengaruh bentuk mata pada kinerja burung merpati

Banyak pihak yang menilai kemampuan burung merpati atau andokan/andhokan, baik merpati tinggian maupun merpati sport atau merpati balap sprint, melalui keadaan matanya. Walaupun belum ditemukan bukti-bukti atas kebenaran teori ini, tetapi hal ihi pantas pula kita ketahui sebab hal itu mungkin mengandung kebenaran.


Seperti ditulis Ari Soeseno dalam buku Memelihara dan Beternak Burung Merpati, dengan kedudukan mata yang berada di sisi kepala maka dapat dikatakan bahwa merpati akan dapat melihat semua yang berada di depannya dan yang ada di belakang-nya. Hanya ada suatu daerah yang cukup kecil yang lang-sung berada di belakang kepala yang tidak dapat dilihatnya.





[caption id="attachment_16863" align="alignleft" width="300" caption="Morfologi mata merpati"][/caption]

Kemampuan merpati untuk melihat memegang peran penting dalam kita mendidiknya. Sebab burung belajar melalui apa yang dilihatnya; juga untuk mampu melihat adanya makanan dari suatu ketinggian, serta mampu melihat adanya musuh sehingga burung bersiap-siap untuk mengelak. Bagi yang tahu, ia dapat melihat kondisi kesehatan burung me-lalui warna matanya.


Mata burung dapat dikatakan bulat, dengan biji mata berada di tengahnya. Di belakang biji mata ada lensa yang dapat mengubah bentuk obyek yang dipusatkan pada bagian belakang mata. Di sini terdapat retina yang peka cahaya dan mempunyai syaraf-syaraf (ribuan) yang berhubungan dengan otak dan ini akan menghasilkan penglihatan. Di belakang bola mata ini ada tongkat kecil yang disebut pecten yang kegunaannya belum diketahui dengan pasti tetapi diperkirakan bahwa benda inilah yang membuat burung mampu melihat sesuatu gerakan pada jarak jauh.


Bulatan biji mata (iris) haruslah mempunyai warna yang tegas, tak boleh tampak kabur. Dan sebaiknya hanya satu warna - yang berwarna dua disebut “mata pecah”. Di sekeliling biji mata itu terdapat suatu garis tipis sehingga membentuk suatu lingkaran di luar biji mata. Lingkaran ini disebut dengan nama lingkaran adaptasi, lingkaran kondisi-mata, atau lingkaran korelasi (hubungan). Karena orang menilai ini mempunyai hubungan dengan kemampuan burung maka orang pun membuat penilaian atas keadaan lingkaran ini. Untuk ini dibuatlah 10 macam keadaan, yang diberi nomor. Nomor satu merupakan mata yang tidak memiliki lingkaran dan nomor sepuluh dianggap sempurna. Penilaian itu adalah:






  • Nomor 1 : Mata burung tidak memiliki lingkaran, yang dapat kita lihat kalau burung ditempatkan dekat sinar yang kuat. Mata dapat memiliki warna yang jelas tegas tetapi lingkaran ini tak ada, dan ini dianggap sebagai burung yang tak dapat dipakai untuk terbang jarak jauh.

  • Nomor 2 : Mata burung memiliki lingkaran tetapi hanya setengah dan terletak di bagian bawah biji mata. Ini dikenal dengan istilah “pandangan terbaring” (lying sight).  Umumnya lingkaran mengitari 25% dari biji mata, dan ini merupakan hal yang paling umum ditemukan pada burung.

  • Nomor 3 : Mata burung seperti pada nomor 2 tetapi letaknya ada di bagian sebelah atas biji mata, dan ini di kenal   dengan   istilah   “pandangan   berdiri”   (standing  sight).

  • Nomor 4 : Mata burung merupakan kombinasi antara nomor 2 dan nomor 3 yang membuat lingkaran sebelah bawah sampai ke sebelah atas mengitari biji mata yang terkadang sampai kira-kira 75% dari bulatan biji mata.

  • Nomor 5 : Mata burung memiliki lingkaran tipis yang mengitari mata tanpa putus-putus. Ini sering disamakan dengan nomor 10 tetapi perbedaan sebenarnya terletak pada besarnya lingkaran itu. Pada nomor 5 lingkaran ini tipis bila dibandingkan dengan nomor 7 yang cukup tebal dan nomor 10 yang paling tebal.

  • Nomor 6 : Mata burung mengandung bintik-bintik seperti mata gergaji yang melingkari mata, dan ini dianggap sangat baik dan hampir dinilai sebaik nomor 10. Bentuk ini paling jarang ditemukan. Lingkaran ini berwarna hitam pekat dan dapat mengitari sampai 90% dari biji mata. Lingkaran ini sangat tebal.

  • Nomor 7 : Mata burung dilingkari oleh suatu lingkaran nyata yang memiliki warna jelas. Umumnya berwarna  hitam,  tetapi dapat juga berwarna kuning, putih bagaikan mutiara, atau jingga tua. Warna lain ada juga tetapi sangat jarang.

  • Nomor 8 : Mata burung seperti nomor 2 tetapi ada tonjolan padanya dan hampir mengitari sampai 90% dari biji mata. Ini sangat jarang adanya. Dengan adanya lingkaran nyata dengan tonjolan di bagian bawah, maka keadaan mata ini juga mendapat sebutan sebagai “pandangan retak” (broken sight).

  • Nomor 9 : Mata burung memiliki suatu lingkaran kuning sepenuhnya meliputi biji mata dengan di bagian bawah terdapat keadaan seperti pada nomor 2. Kalau mata bu-rung merah menyala maka lingkaran kuning ini akan tampak nyata sekali, tetapi warna ini cenderung menyatu dengan warna mata sehingga kita sulit membedakannya.

  • Nomor 10 : Mata burung mempunyai lingkaran berwar-na hijau atau ungu dengan ketebalan cukup menyolok. Inilah bentuk mata yang dicari-cari orang dan dianggap sebagai mata paling baik yang dimiliki burung.


Dalam menangani merpati pos, orang telah mengadakan berbagai penelitian, termasuk hubungan antara keadaan mata dengan kemampuan burung. Ternyata apa-apa yang dianggap sebagai suatu aturan ternyata selalu ada perkecualian, artinya aturan itu tidak berlaku. Begitu juga penilaian orang atas mata burung. Ada burung-burung dengan mata nomor 10 yang menghasilkan keturunan yang menjadi juara, tetapi ada pula yang tak berprestasi apa-apa.










Pastikan merpati Anda giring keket. Klik di sini untuk solusinya.Ada burung yang mempertontonkan prestasi terbang dalam pertandingan-pertandingan dan juga prestasi di dalam menurunkan keturunan burung-burung pemenang pertandingan, tetapi nyatanya burung ini hanya memiliki mata nomor 1 saja.

Dapatlah dikatakan bahwa prestasi burung masih ditentukan oleh faktor keturunan (prestasi leiuhur), bukan hanya pada mata. Tetapi penggabungan dari semua faktor dan itu ditu-runkan pada seekor burung akan membuat burung menjadi calon yang mantap untuk dilatih menjadi pemenang.


Belajar


Perlu disadari bahwa merpati memang memiliki sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, baik itu untuk sesuatu keperluan maupun hanya sebagai suatu kegemaran dan juga sebagai sarana bagi suatu bentuk “olahraga” tersendiri. Tampak bahwa prestasi-prestasi yang dihasilkan oleh burung bukan hanya semata-mata karena kemampuan dari sang burung tetapi juga karena adanya didikan yang berhasil dari manusia. Jadi tak ada bedanya dengan para olahragawan - bibit-bibit alami perlu dipupuk dan dilatih dengan latihan yang teratur dan benar.


Jadi kita melihat bahwa untuk mampu menjadi pelatih biarung maka kita pun harus banyak belajar dari pengalam-an-pengalaman orang lain. Singkatnya, kita harus belajar. Selain belajar, ternyata ketekunan dalam penanganan bu-mng juga sangatlah penting. Tentang pelaksanaan belajar dan menangani burung sudah tentu itu berada sepenuhnya pada keadaan perorangan yang menggemari burung-burung ini. (Ari Soeseno, Memelihara dan Beternak Burung Merpati).




BERIKUT INI PRODUK RAWATAN WAJIB UNTUK MERPATI:











[caption id="attachment_15903" align="alignnone" width="200" caption="BIRD MINERAL UNTUK PENANGKARAN DAN KESEHATAN MERPATI"][/caption]


[caption id="attachment_15909" align="alignnone" width="200" caption="BIRDVIT UNTUK RAWATAN HARIAN MERPATI"]UNTUK RAWATAN HARIAN BURUNG PENANGKARAN[/caption]










[caption id="attachment_17070" align="aligncenter" width="200" caption="PASTIKAN MERPATI BEBAS KUTU"][/caption]


[caption id="attachment_17071" align="aligncenter" width="200" caption="MERPATI KENA CACING, 99% MUDAH DROP"][/caption]

Selasa, 22 Juni 2010

Jagoan-jagoan muda BBK yang moncer dengan dampingan BirdVit uffhh....


Minggu 20 Juni 2010 menjadi momen tambahan yang bagus untuk Black Bird Keeping (BBK) Jogja-Cilacap. Kolaborasi antara penangkar lovebird jawara, Om Dwi LoveBird, dan penangkar murai batu Om Bajak Laut alias Tony Alamsyah Cilacap, membuktikan lagi kehandalan burung-burung hasil penangkaran mereka.
Di lomba burung Trah AB-E, di Lapangan Denggung Sleman, DIY, lovebird Golden Kid, yang barus berusia 4 bulan menyabet juara I di Kelas Sejati. Lovebid dengan ring Black kelahiran Februari 2010 itu menunjukkan kelasnya sebagai calon jawara di masa mendatang. Suara ngekeknya yang panjang berjenjang, menjadi ciri khas lovebird kepala emas ini.

Ukiran prestasi Golden Kid tampaknya sebagai pertanda burung ini bakal menyusul prestasi indukan-indukannya yang sudah moncer duluan.

MB Cakrawala
Pada saat yang bersamaan dengan kemunculan nama Golden Kid yang selama ini diasuh Om Joko Zindicat sebagai peracik burung-burung handal produk BBK, murai batu hasil penangkaran BBK yang baru berusia 8 bulan sudah masuk dalam jajaran 10 besar Latberan di Jakarta yang saat itu memejeng 38 gantangan.

Murai batu yang diberi nama Cakrawala oleh Om Firliansyah, sebagai majikannya, adalah salah satu anakan dari BBK Cilacap. Sejak usia masih harus diloloh, murai batu itu sudah menjadi anak asuh Om Kicau di Kartasura sebelum kemudian diboyong oleh Om Firli ke Jakarta.

Soal rawatan burung ini, saya selalu berpesan "jangan main umbaran" dan jaga selalu vitalitasnya dengan BirdVit dan produk Om Kicau lainnya. Yah, MB muda ini memang menjadi salah satu "pilot project" produk Om Kicau untuk burung-burung anakan. Begitu juga dengan Golden Kid. Lovebird ini lahir dan hidup di lingkungan penangkaran BBK yang mengandalkan produk Om Kicau untuk rawatan harian maupun perangsang produksi dan kesuburan.

Hasilnya, ya.. sementara ini sudah cukup memuaskan meski untuk pembuktian lebih lanjut masih harus melalui jalan yang panjang.

Khusus untuk MB Cakrawala, Om Firli mengatakan dirinya tidak menyangka murai anakan itu bisa menunjukkan performa bagus, karena kalau di rumah, burung itu termasuk pendiam. "Paling-paling hanya ngeriwik," katanya.

Setelan untuk Cakrawala saat ini, katanya, adalah kroto setiap hari plus jangkrik 5 pagi-sore dan pasti dengan dampingan BirdVit. Yang membikin Om Firli bingung soal rawatannya adalah pada awal diturunkan, burung ini menabrak-nabrak sangkar dan ngeplay hanya lemah sambil menurunkan sayapnya seperti kurang tenaga. Namun segera saja burung ini tenang dan menunjukkan performa calon jawara masa depan.

Menurut saya, Cakrawala tidak perlu dibesut macam-macam. Rawatan seperti sediakala tetap dilanjutkan dan pada saat yang sama tetap didampingi suara-suara masteran. Dan tentu saja, jangan terlalu sering diturunkan ke arena lomba untuk menjaga stabilitas mental dan performanya.

Selamat untuk BBK, Om Dwi, Om Tony dan tentu saja Om Firli.

Salam jawara burung Indonesia...

]

[caption id="attachment_16848" align="aligncenter" width="524" caption="Rombongan BBK dan teman-teman Jogja. Salah satunya adalah Om STD KMers Jogja (berdiri paling kiri) yang ciblek gacoannya menampilkan performa bagus dan menempati juara II."][/caption]

Sabtu, 19 Juni 2010

REVOLUSI LOMBA BURUNG INDONESIA

REVOLUSI LOMBA BURUNG


Oleh Yustinus Sapto Widoyo




Ini adalah sebuah tulisan yang berisi analisis, tinjauan etis, dan tuturan "sejarah" lomba burung di Indonesia yang menurut Om Kicau sangat menarik dan pantas menjadi salah satu referensi pemahaman kita akan lomba burung. Ditulis oleh Yustinus Sapto Widoyo di Agrobis Burung, tulisan ini merupakan referensi "wajib" yang Om Kicau rekomendasikan untuk Anda para penghobi burung. Siapa Yustinus Sapto Widoyo? Simak saja tuturannya di bawah ini.




BAGIAN I


"Yang kecil menyokong yang besar"


Sudah lama sekali saya tidak aktif mengikuti perkembangan lomba burung nasional, dan baru mulai kembali terjun bulan Juni 2009, yaitu ketika saya kembali tugas kerja di Surabaya.


Awal aktif mengikuti hobby lomba burung berkicau pertama kali ketika bertugas di kota Probolinggo pada tahun 1997, dan kemudian pindah tugas ke Banjarmasin pada 1998 -2002. Justru ketika berada di Banjarmasin inilah, kecintaan saya terhadap kicauan semakin menggila, di samping sebagai pemain/peserta lomba, saya juga ikut terjun sebagai juri (klas lokalan) -maupun event organizer. Dengan bendera Liga Sampoerna, saya menyelenggarakan lomba hampir di seluruh kabupaten di Kalimantan Selatan, bahkan beberapa kali membuat big event di Kota Surabaya (waktu itu lokasinya di Kebun Bibit).


Sejak tahun 2003 sampai dengan awal tahun 2009 saya hampir dikatakan vacum mengikuti lomba burung (tapi tetap memelihara), yaitu selama bertugas sebentar di Jakarta kemudian pindah lagi ke Pekanbaru dan Medan.


Selama di Pekanbaru, saya beberapa kali iseng-iseng mengikuti lomba di sana. Bahkan, ketika setahun di Medan hampir tidak pernah ada lomba, namun saya masih suka keluyuran untuk mencari burung sampai ke pedalaman Aceh (Kab. Takengon). Sampai hari ini saya. masih bermimpi bisa memelihara murai batu "Brek" di dekat danau air tawar - Takengon, namun si empunya belum bersedia melepasnya.


Mulai bulan Mei 2009, saya kembali bertugas di Jawa, tepatnya di kota Surabaya.


Pada saat bos pertama kali memberitahu kepindahan saya ke Jawa, dalam hati saya berteriak kegirangan. Bukan karena daerahnya dekat keluarga besar saya, tetapi karena saya akan bisa aktif lagi menyalurkan hobby lomba burung. Dan, hal ini jugalah yang dikatakan oleh istri saya waktu pertama kali saya beritahu bahwa saya akan pindah ke Surabaya, spontan istri mengatakan: "Enak bangetlah papa, bisa lomba burung lagi sepuas-puasnya."


Tidak lama kemudian saya melakukan kontak dengan teman-teman lama yang masih aktif di kicauan untuk menanyakan berbagai hal tentang lomba di masa kini, burung apa yang trend, dan organizer apa yang sedang "in".


Saya mulai berlangganan majalah mingguan Agro Burung untuk mengikuti perkembangan hobby kicauan. Ternyata lomba burung berkicau bukan semakin surut, tetapi justru semakin semarak, bahkan klasifikasinyna mulai dari klas latberan tingkat RT (kalau tidak berlebihan dikatakan demikian) sampai dengan tingkat nasional dengan hadiah puluhan juta rupiah.


Saya sungguh tercenggang, ketika membaca iklan-iklan rencana lomba, bahwa semua sudah berbandrol hadiah uang. Lomba satu dengan lomba lainnya seolah-olah "jor-joran" (bersaing) besar-besaran hadiah uang yang akan diberikan kepada pemenang.


Kemudian saya mencoba melakukan analisa sederhana untuk rhengetahui perbedaan lomba burung di masa kini dibanding masa lalu, Kurang lebih perbedaan tersebut/ antara lain:


1. HADIAH LOMBA


Jaman dulu berupa tropi (piala) dan piagam. Dahulu, dengan modal jumlah piagamyang bisa dikumpulkan orang bisa membuka harga jual gacoan setinggi-tingginya. Piala/tropi akan dipajang di lemari atau buffet ruang tamu untuk kebanggaan, bahkan beberapa penghobby membuatkan lemari khusus untuk tropi hasil lomba burung.


Tetapi jaman sekarang, semakin sulit menemukan lomba dengan hadiah tropi, semua hadiah mayoritas berupa uang tunai. Pada jaman dulu, hadiah material yang diberikan pemenang paling tinggi berupa barang, misal juara I mendapat hadiah piagam, tropi, plus vcd player (contoh).


Tetapi, jaman sekarang juara I bisa mendapat uang tunai 5 juta, 10juta, bahkan 30juta rupiah. Apakah lomba burung sudah menjadi suatu industri, sehingga faktor ekonomi menjadi ukuran tertinggi?


2. BESARAN HADIAH


Pada jaman dulu, apabila peserta ingin memperoleh hadiah lebih besar (uang tunai ataupun barang), maka harus bisa menjadi juara umum kelompok/paguyuban (BC) atau single fighter. Namun, di jaman sekarang justru juara umum hadiahnya jauh lebih kecil daripada juara pemenang tunggalnya (winner).


Menurut saya ada hal yang hilang dari perubahan jaman ini, bahwa nilai-nilai kekompakan team, paguyuban, sosial, kekeluargaani semakin menipis digantikan oleh kompetisi individualisme.


Orang/peserta didorong untuk meraih prestasi burungnya secara individual, sehingga hukum alamlah yang akan berlaku, yang paling kuat (hebat, harga beli mahal, koneksitas tinggi) yang akan berpeluang menang. Untuk mendapatkan uang besar, tidak perlu tergabung dalam "paguyuban", cukup dengan memaksimalkan gacoannya sendiri dan menang.


3. DOORPRIZE


Daya tarik lomba jaman dahulu adalah besaran nilai doorprize yang disediakan oleh panitia, bisa berupa alat elektronik, motor, atau bahkan mobil (meskipun second). Semakin besar nilai doorprize akan semakin banyak jumlah peserta. Panitia akan menganggarkan biaya untuk membeli hadiah doorprize ini (atau mungkin dari sumbangan dan sponshor).


Doorprize lebih bermakna membangun sosial community dibanding banyak jumlah peserta. Panitia akan menganggarkan biaya untuk membeli hadiah doorprize ini (atau mungkin dari sumbangan dan sponsor).


Doorprize lebih bermakna membangun sosial community dibanding individu pemenang kejuaraan, karena setiap peserta mempunyai kesempatan yang sama untuk senang secara material (probability, gambling). Bisa jadi, orang yang mempunyai burung kualitasnya pas-pasan pun akan nekat ikut kontes karena mempunyai kesempatan memperoleh doorprize. Hitung-hitung beli kupon hadiah sambil bersilaturahmi sesama penghobby burung berkicau.


4. KRITERIA BURUNG JUARA


Meskipun hal ini ada yang lebih berkompeten bicara, yaitu para juri, namun sebagai penghobby saya juga berhak berpendapat. Menurut pengamatan saya, trend penilaian terhadap kriteria burung juara banyak mengalami perkembangan (saya tidak mengatakan kemunduran).


Hari ini, faktor gaya penampilan burung menjadi "key entry point" paling penting bagi para juri. Memang hal ini akan memudahkan juri untuk melihat kriteria-kriteria lainnya secara lebih mendalam, yaitu tentang irama lagu dan stabilitas. Sebagai gambaran saya akan membuat ilustrasi lomba untuk jenis Cucak Ijo.


Secara naluri, para juri akan menilai positif pada burung yang sejak pertama digantang akan menunjukkan secara fisik tanda-tanda: bulu kepala "njambul", sayap sedikit mengembang, ke bawah sambil "ngentrok-ngentrok", tidak terlatu banyak loncat (goyang), dan tetap gacor. Jangan berharap gacoan kita bisa menang apabila tidak memperlihatkan tanda-tanda tersebut, meskipun kualitas irama lagu bisa dikatakan bagus, bahkan mungkin hanya untuk sekedar "dilirik" juri saja sulit.


Pada jaman dahulu, seorang juri harus bener-bener tajam telinganya untuk fokus mendengarkan kualitas irama lagu dan volume suara burung. Untuk bisa menilai kualitas irama lagu dibutuhkan pengalaman yang cukup lama, makanya pada jaman dulu seorang juri pasti sudah senior (bisa diidentikkah dengan pengalaman), dan pasti disegani.


Sebaliknya jaman sekarang, sangat mudah untuk menjadi seorang juri, banyak para juri masih sangat junior, sebab metode menilainya lebih mendahulukan visual daripada audio.


Seorang juri bisa "menembak" dulu performance fisiknya dulu, baru kemudian dilihat irama lagu. Apakah metode ini salah? Peserta sendirilah yang akan menilai hal ini.


5. NUANSA LOMBA


Saya masih ingat betul ketika jaman dulu saya berkali-kali menyelenggarakan lomba pasti ada seksi konsumsi yang salah satu tugasnya menyediakan konsumsi bagi para peserta, baik hanya berupa snack maupun makan siang. Begitu juga dengan event-event di tempat lain ketika itu, pasti disediakan kupon snack atau makan siang (meskipun hanya nasi bungkus, sudah cukup menyenangkan). Nuansa yang terbangun saat itu, adalah kita seperti menjadi tamu kehormatan dan rasa silaturahmi masih kental.


Kenapa saat ini hal seperti ini tidak ada lagi? Apakah dananya dialihkan ke hadiah pemenang karena peserta menuntut hadiah yang lebih besar? Atau dananya dialihkan menjadi keuntungan penyelenggara lomba?


6. KASTA JENIS BURUNG


Sepertinya istilah anak emas atau anak tiri tidak hanya terjadi di legenda-legenda jaman dahulu kala, namun justru semakin subur di event lomba burung jaman sekarang. Kalau kita ditanya burung jenis manakah yang kastanya lebih tinggi: kacer, murai, anis merah, anis kembang, kenari, cucak ijo, kolibri atau yang lainnya? Pasti sulit menjawabnya...... Namun, dalam kenyataan bahwa anis merah selalu mendapat hadiah kejuaraan berlipat-lipat kali nilainya dibanding jenis burung lainnya. Apakah ini cukup adil (fair)? Apakah hanya dengan alasan anis merah trendnya paling tinggi terus kemudian diberi hadiah berlipat-lipat? Nanti saya akan jawab melalui analisa managemen suatu lomba.


Sebenarnya masih banyak perbedaan-perbedaan lain yang bisa kita dapatkan apabila semakin mendalami dinamika lomba burung di tanah air selama 10 tahun terakhir. Namun, secara umum saya menangkap 2 hal paling mendasar dalam lomba burung di masa sekarang, yaitu:




  1. Peserta semakin terjebak dalam orientasi ekonomi (kalau boleh dibilang industrialisasi burung berkicau). Saya tidak tahu siapa dahulu yang memulai pertama kali, apakah penyelenggara yang memancing atau peserta yang terlalu menuntut.

  2. Penyelenggara lomba (panitia) semakin sulit mengembangkan nilai-nilai lain yang lebih berkualitas (luhur), karena lomba semakin tidak menguntungkan secara finansial bagi panitia...


Tidak ada uang lebih untuk mengembangkan inovasi-inovasi yang bersifat community, social, dan relationship bagi sesama penghobby.



BAGIAN II


Hadiah lomba membuat peserta makin matrek


Rasa penasaran saya tidak berhenti sampai di sini, dalam pikiran saya masih terus bertanya: bagaimana caranya panitia bisa memberikan hadiah hingga puluhan juta rupiah kepada satu pemenang (hampir selalu jenis anis merah)? Untuk menjawab penasaran ini, saya mencoba melakukan semacam riset kecil-kedlan berbagai lomba yang diiklankan di majalah Agro Burung. Riset literatur ini dilakukan secara acak dalam majalah Agro Burung edisi Mei 2009 sampai dengan Mei 2010.


Untuk memudahkan melakukan analisa, dalam riset ini saya melakukan beberapa hal menyangkut pengelompokan, definisi, dan penggunaan asumsi, sebagai berikut:


A. JENIS LOMBA DIBAGI MENJADI 5 KLASIFIKASI (GROUP):




  1. Latpres: hadiah utama lebih kecil/sama dengan Rp 1.000.000,-

  2. Lomba Kecii: hadiah utama Rp 1.000.000-3.000.000,--

  3. Lomba Menengah: hadiah utama Rp 3.000.000 - 5.000.000,-

  4. Lomba Besar: hadiah utama Rp 5.000.000- 10.000.000,-

  5. Lb. Sangat Besar: hadiah utama minimal Rp 10.000.000,-


B. KLASIFIKASI NILAI HADIAH DIBEDAKAN MENJADI:




  1. Klas Hadiah Utama:

    1. Latpres: klas dengan peringkat hadiah paling tinggi (executive)

    2. Lomba: k!as dengan hadiah minimal Rp 3.000.000,- ke atas

    3. Klas Hadiah Non Utama:

      1. Latpres: klas dengan ranking hadiah kedua ke bawah (klas bintang/favofit)

      2. Lomba: klas dengan hadiah kurang dari Rp 3.000.000,-






C. JUMLAH PESERTA:


Menggunakan asumsi rata-rata peserta berdasarkan pengalaman pribadi selama mengikuti lomba selama akhir-akhir ini (estimasi berdasar pengamatan langsung).



TABEL 1. KLASIFIKASI LOMBA, PESERTA, DAN BESARAN BONUS LOMBA


Dari 61 sampling jenis lomba yang diriset, dapat disimpulkan bahwa semakin besar hadiah yang ditawarkan akan semakin besar potensi peserta yang mengikuti. Demikian juga, semakin besar lomba maka panitia harus semakin besar menyediakan bonus bagi pemenang. Dalam lomba latberan, saya tidak bisa mencantumkan nilai bonus pemenang karena biasanya bonus dalam latber berasal dari kontributor perorangan dan sangat bervariatif bentuk dan jumlahnya.



TABEL 2. ANALIS PENDAPATAN LOMBA


Dengan menggunakan antara total pemasukan dikurangi total hadiah untuk pemenang kemudian dibagi dengan total pemasukan, maka didapat nilai ratio brutto.


Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa semakin besar klas lomba (hadiah semakin besar), maka rationya akan semakin kecil.


Coba dibayangkan, bagaimana panitia bisa menyelenggarakan event lorriba sangat besar kalau hanya memegang sisa anggarannya 5%. Apakah dengan 5% ini bisa untuk membiayai honor juri, sewa tenda dan peralatan, konsumsi, iklan, keamanan, dll?


Berdasarkan pengalaman saya menyelenggarakan lomba jaman dahulu, nilai ratio brutto yang ideal adalah antara 30 - 35%, dimana panitia bisa sedikit leluasa mengelola lomba (masih ada uang lelahnya). Dengan dasar ini, maka dapat dikatakan bahwa lomba skala kecil justru semakin sehat secara finansial, atau semakin bisa mandiri.


Kemudian, dari mana panitia lomba berskala besar menutup kekurangan biayanya? Cara-cara yang bisa dilakukan adalah mencari sponsorhip atau mencari sumbangan dari pihak-pihak tertentu. Berapa kira-kira dana tambahan yang harus dicari dari setiap klas lomba?



TABEL 3. PERKIRAAN DANA TAMBAHAN LOMBA


Dengan menggunakan angka ratio brutto ideal adalah 30 -35%, maka untuk lomba skala menengah memerlukan tambahan dana sekitar 24 juta, skala besar 35 juta, dan skala sangat besar 110 juta. Sementara lomba dengan skala kecil dan latpres sangat dimungkinkan bisa mandiri (tidak perlu mencari tambahan dana).


Apakah salah mencari dana tambahan dari sponshorship atau pihak ketiga pemberi sumbangan? Menurut saya sama sekali tidak salah. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah:




  • Apakah masih mudah mencari pihak sponsor yang sanggup menutup kekurangan dana sebesar itu?

  • Apakah industri lomba burung cukup menarik bagi sponsor untuk pemasaran produknya (produk elektronik, motor, rokok, pakan burung, perajin sangkar, dll)?

  • Apakah masih mudah mencari orang-orang yang dengan tulus memberikan sumbangan? Sebab, pada umumnya pemberi sumbangan adalah orang-orang yang juga aktlf mengikuti lomba burung. Apakah panitia juga enak rasa, jika tidak memenangkan gacoan pemberi sumbangan?


Saya hanya mengkhawatirkan apabila sltuasi dan kondisinya ternyata bertolak belakang, apakah di masa mendatang kita masih bisa menikmati lomba burung dengan skala besar (prestisius)? Mungkin sudah waktunya mulai dari sekarang semua pihak ambil bagian mendorong bagaimana suatu lomba burung bisa mandiri di dalam penyelenggaraannya:


Pihak Peserta:

  • Harus ada kesadaran kalau mau hadiah besar, harusnya mendaftar dengan harga tinggi.

  • Prestisius kemenangan burung bukan pada nilai hadiah, tetapi adalah kebesaran nama burung yang mengikat menjadi satu dengan si pemiliknya.

  • Nilai ekonomi burung harus dikembalikan pada seberapa sering berprestasi, yang pada akhirnya mempengaruhi harga transaksi burung ketika diminati orang lain, dan bukan pada hadiah langsung saat lomba.


Pihak Penyelenggara:

  • Harus mampu menciptakan kreativitas kemasan lomba yang menarik di luar faktor besaran nilai hadiah semata. Misal, menyisakan alokasi waktu saat lomba untuk acara "boot camp", sarasehan, dsb.


Pihak Event Organizer (PBI, BnR, dsb):

  • Harus mampu mendorong komunitas penghobby bukan semata karena sudut pandang ekonomis, namun bisa menciptakan suatu social community yang positif, misal dari sudut pandang seni budaya.


Semua sepakat bahwa lomba burung adalah tradisi budaya yang bernilai luhur bagi bangsa kita, dan harus dipupuk dalam suasana harmonis.


Ada baiknya lomba burung nantinya tidak disebut sebagai LOMBA yang mengarah pada arti sempit berkompetisi (yang kadang menghalalkan segala cara).


- Dampak negatif dari industrialisasi lomba burung semakin bisa dilihat: antar peserta ribut/bertengkar, juri dimaki, antar event organizer saling menjelekkan, dsb.


Apakah ini akan dibiarkan terus-menerus sampai anak cucu kita yang bakalan mewarisi seni budaya yang luhur ini?


Kelas utama


Sekarang saya ingin mengetahui lebih jauh, mengapa klas utama bisa diberi hadiah berlipat-lipat kali dari klas di bawahnya? Sudah menjadi rumusan umum, bahwa klas utama jenis anis merah pasti akan diberi hadiah pemenang berlipat kali dengan jenis burung lain yang klas lombanya di bawahnya.


Contohnya begini, klas utama (paling bergensi) anis merah denganpendaftaran Rp 200.000,- jika menang mendapat hadiah Rp 10.000.000 atau lebih. Tetapi, di klas ketiga dengan pendaftaran Rp 100.000,- hanya mendapat hadiah Rp 2.000.000,-. Apakah ini cukup adil?



TABEL 4. RATIO HADIAH KLAS UTAMA VS KLAS NON UTAMA


Dari tabel di atas nampak, bahwa dalam setiap klasifikasi tomba menengah ke atas ratio untuk hadiah utama jauh lebih kecil dari klas non utama. Bahkan, mulai lomba skala besar dan sangat besar ratio klas utamanya minus.


Cara membaca data tersebut adalah demikian, contohnya untuk lomba skala besar (no. 4):


-      Ratio untuk hadiah klas utama = - 34%. Artinya, hasil pendaftaran (pemasukan) dari klas ini tidak cukup untuk menutup biaya hadiahnya sendiri.


-      Ratio untuk hadiah klas non utama - 36%. Artinya, pemasukan dari klas-klas ini (di bawah klas utama) mampu menutup biaya hadiahnya sendiri dan mungkin justru berlebih.


Kelebihan inilah yang berpotensi untuk menutup kekurangan untuk hadiah klas utama.


Arti dari semua ini adalah bahwa hadiah bagi klas utama yang nilainya berlipat kali daripada klas non utama, justru hadiahnya disumbangkan dari klas di bawahnya.


Dengan kata lain, yang kecil menyumbang yang besar...


Jangan sampai suatu saat berkembang menjadi yang kecil ditindas oleh yang besar. Apalagi kondisi ini ditunjang kenyataan bahwa pada umumnya pemenang klas utama ini adalah burungnya yang itu-itu saja. Anda mungkin tidak sulit menyebut burung anis merah mana yang menguasai setiap event lomba besar.


Memang tidak salah burung-burung itu menang, karena (katanya) belinya sudah ratusan juta rupiah. Namun, dengan menggunakan hitungan matematika biasa kita bisa menghitung bahwa hanya dengan menang puluhan kali di event besar maka harga belinya akan kembali. Lagi-lagi hitungan ekonomis... sayangnya pengembalian investasi ini disokong dari golongan lomba klas di bawahnya.


Pantas saja, para jawara-jawara (kalau boleh disebut begitu) hanya akan turun di klas-klas utama saja.


Saya jarang menjumpai burung-burung jawara ini muncul menjadi pemenang klas non utama. Mungkin kalah atau tidak diikutkan dengan pertimbangan ekonomi tadi atau karena takut malu bila kalah di klas yang lebih bawah?


Lalu bagaimana sebaiknya agar peserta klas non utama (lebih kecil dari klas utama) tidak merasa "diperas" oleh klas utama?


Ada baiknya para event organizer mulai memikirkan bagaimana indahnya apabila burung bisa bertarung di kualitas (klas) yang setara. Meniru pertarungan tinju profesional, bahwa antar petinju hanya akan bertarung di klas yang setara (klas nyamuk, klas ringan, klas welter, klas berat, dsb).


Seperti halnya dalam ilmu sosial, bahwa semakin tinggi status sosial orang, maka bukan nilai materiil (hadiah) lagi yang dikejar. Saya yakin, bahwa para pemilik burung-burung klas jawara bukan semata mencari hadiah langsurig dari setiap event lomba.


Saya percaya bahwa bos-bos ini masih mempunyai rasa malu apabila "menerima sumbangan" dari kelompok yang lebih kecil.


Di atas kita sudah membedah bagaimana fairness dari setiap klas lomba, selanjutnya kita akan melihat fairness dari hadiah yang diterima aiitara juara 1, 2, 3, dan seterusnya sampai dengan juara 10.


Mungkin para peserta lomba tidak pernah terusik dengan kenyataan bahwa juara 1 mendapat hadiah Rp 3.000.000,- dan juara 5 s/d 10 hanya mendapat hadiah Rp 150.000,- (hanya kembali uang pendaftaran).


Apa beda juara 1 dengan juara 10 secara hitungan matematika? Logikanya, juara-1 kualitasnya 10 kali di atas juara 10. Tapi, hadiah yang diberikan kenapa juara 1 bisa menjadi 20 kali juara 10?



TABEL 5. AGREGAT RANKING HADIAH LOMBA


Dari analisa agregat hadiah kejuaraan tersebut, terlihat bahwa lomba skala kecil jauh lebih fair bagi peserta lomba. Dengan kata lain, juara 10 di lomba skala kecil jauh dihargai daripada menjadi juara di lomba skala yang lebih besar. Atau, dengan sudut pandang terbalik, bahwa burung juara 1 akan lebih dihargai dalam lomba skala lebih besar (agregatnya lebih besar).


Tapi perlu diingat dari analisa sebelumnya, bahwa hadiah untuk klasifikasi klas utama disokong dari klas di bawahnya, maka sebaiknya para pesarta harus pandai-pandai memilih lomba yang akan diikuti.


Peserta harus bisa introspeksi diri (sadar diri) menilai gacoannya masing-masing, di klasifikasi lomba mana layak akan diikutkan. Apabila gacoannya masih klasifikasi kualitas/ prestasi "biasa", maka jangan sekali-kali masuk ke lomba skala besar, kecuali hanya mau spekulasi.


Sebaliknya, bagi peserta yang gacoannya memang sudah klas "jawara" lebih baik masuk ke klasifikasi lomba besar karena akan cepat kembali investasinya (kalau hanya memikirkan hitungan ekonomi).


Pelajaran apa yang bisa saya petik dari kondisi lomba di jaman sekarang:




  1. Pada akhirnya, sekarang saya menjadi mengerti mengapa burung-burung "jawara" hanya akan muncul di klasifikasi event lomba besar dan hanya di klas utama saja. Di samping faktor hitungan ekonomi memang masuk akal, mungkin juga supaya gengsinya tidak turun bila kalah dalam skala lomba dan/atau klas yang lebih rendah.

  2. Saya semakin memahami mengapa hari-hari ini semakin banyak (dinamis) lomba skala kecil diadakan dimana-mana daripada lomba skala besar. Kita justru semakin dipusingkan mau ikut di latber atau latpres di mana, karena jadwalnya tumpang tindih dan hampir setiap hari ada. Tetapi justru sekarang semakin jarang ada lomba skala besar, mungkin panitia sulit mencari donatur untuk mencukupi biaya penyelenggaraan.

  3. Semakin sulit menemukan persaudaraan yang bertahan lama dalam sesama penghobby (community) burung berkicau. Justru, di media kita sering menemukan banyak polemik dan saling menjelekan teman/saudara lain.

  4. Kita harus bisa introspeksi di mana posisi gacoan-gacoan kita untuk bisa manempatkan diri di klasifikasi mana gacoan kita akan diterjunkan.


Pada akhir dari tulisan saya ini, saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan tulisan saya ini.


Tanpa ada maksud ingin mengurangi daya tarik peserta terhadap suatu lomba, namun lebih mengarah ingin membangun situasi dan kondisi lomba lebih fair, berkualitas dan dicintai dalam kurun waktu sepanjang mungkin. Di samping itu, ini juga bentuk kepedulian saya terhadap seni budaya lomba burung berkicau agar bisa diturunkan kepada generasi kita selanjutnya.


Saya sendiri berpendapat, bahwa hobby harus dinilai dari sisi sense of love, bukan materi belaka. Ada lomba atau tidak ada lomba, saya tetap akan memelihara burung berkicau karena saya memang mencintainya. (Habis)




REVOLUSI LOMBA BURUNG



Ini adalah sebuah tulisan yang berisi analisis, tinjauan etis, dan tuturan "sejarah" lomba burung di Indonesia yang menurut Om Kicau sangat menarik dan pantas menjadi salah satu referensi pemahaman kita akan lomba burung. Ditulis oleh Yustinus Sapto Widoyo di Agrobis Burung, tulisan ini merupakan referensi "wajib" yang Om Kicau rekomendasikan untuk Anda para penghobi burung. Siapa Yustinus Sapto Widoyo? Simak saja tuturannya di bawah ini.



BAGIAN I


"Yang kecil menyokong yang besar"



Sudah lama sekali saya tidak aktif mengikuti perkembangan lomba burung nasional, dan baru mulai kembali terjun bulan Juni 2009, yaitu ketika saya kembali tugas kerja di Surabaya.


Awal aktif mengikuti hobby lomba burung berkicau pertama kali ketika bertugas di kota Probolinggo pada tahun 1997, dan kemudian pindah tugas ke Banjarmasin pada 1998 -2002. Justru ketika berada di Banjarmasin inilah, kecintaan saya terhadap kicauan semakin menggila, di samping sebagai pemain/peserta lomba, saya juga ikut terjun sebagai juri (klas lokalan) -maupun event organizer. Dengan bendera Liga Sampoerna, saya menyelenggarakan lomba hampir di seluruh kabupaten di Kalimantan Selatan, bahkan beberapa kali membuat big event di Kota Surabaya (waktu itu lokasinya di Kebun Bibit).


Sejak tahun 2003 sampai dengan awal tahun 2009 saya hampir dikatakan vacum mengikuti lomba burung (tapi tetap memelihara), yaitu selama bertugas sebentar di Jakarta kemudian pindah lagi ke Pekanbaru dan Medan.


Selama di Pekanbaru, saya beberapa kali iseng-iseng mengikuti lomba di sana. Bahkan, ketika setahun di Medan hampir tidak pernah ada lomba, namun saya masih suka keluyuran untuk mencari burung sampai ke pedalaman Aceh (Kab. Takengon). Sampai hari ini saya. masih bermimpi bisa memelihara murai batu "Brek" di dekat danau air tawar - Takengon, namun si empunya belum bersedia melepasnya.


Mulai bulan Mei 2009, saya kembali bertugas di Jawa, tepatnya di kota Surabaya.


Pada saat bos pertama kali memberitahu kepindahan saya ke Jawa, dalam hati saya berteriak kegirangan. Bukan karena daerahnya dekat keluarga besar saya, tetapi karena saya akan bisa aktif lagi menyalurkan hobby lomba burung. Dan, hal ini jugalah yang dikatakan oleh istri saya waktu pertama kali saya beritahu bahwa saya akan pindah ke Surabaya, spontan istri mengatakan: "Enak bangetlah papa, bisa lomba burung lagi sepuas-puasnya."


Tidak lama kemudian saya melakukan kontak dengan teman-teman lama yang masih aktif di kicauan untuk menanyakan berbagai hal tentang lomba di masa kini, burung apa yang trend, dan organizer apa yang sedang "in".


Saya mulai berlangganan majalah mingguan Agro Burung untuk mengikuti perkembangan hobby kicauan. Ternyata lomba burung berkicau bukan semakin surut, tetapi justru semakin semarak, bahkan klasifikasinyna mulai dari klas latberan tingkat RT (kalau tidak berlebihan dikatakan demikian) sampai dengan tingkat nasional dengan hadiah puluhan juta rupiah.


Saya sungguh tercenggang, ketika membaca iklan-iklan rencana lomba, bahwa semua sudah berbandrol hadiah uang. Lomba satu dengan lomba lainnya seolah-olah "jor-joran" (bersaing) besar-besaran hadiah uang yang akan diberikan kepada pemenang.


Kemudian saya mencoba melakukan analisa sederhana untuk rhengetahui perbedaan lomba burung di masa kini dibanding masa lalu, Kurang lebih perbedaan tersebut/ antara lain:


1. HADIAH LOMBA


Jaman dulu berupa tropi (piala) dan piagam. Dahulu, dengan modal jumlah piagamyang bisa dikumpulkan orang bisa membuka harga jual gacoan setinggi-tingginya. Piala/tropi akan dipajang di lemari atau buffet ruang tamu untuk kebanggaan, bahkan beberapa penghobby membuatkan lemari khusus untuk tropi hasil lomba burung.


Tetapi jaman sekarang, semakin sulit menemukan lomba dengan hadiah tropi, semua hadiah mayoritas berupa uang tunai. Pada jaman dulu, hadiah material yang diberikan pemenang paling tinggi berupa barang, misal juara I mendapat hadiah piagam, tropi, plus vcd player (contoh).


Tetapi, jaman sekarang juara I bisa mendapat uang tunai 5 juta, 10juta, bahkan 30juta rupiah. Apakah lomba burung sudah menjadi suatu industri, sehingga faktor ekonomi menjadi ukuran tertinggi?


2. BESARAN HADIAH


Pada jaman dulu, apabila peserta ingin memperoleh hadiah lebih besar (uang tunai ataupun barang), maka harus bisa menjadi juara umum kelompok/paguyuban (BC) atau single fighter. Namun, di jaman sekarang justru juara umum hadiahnya jauh lebih kecil daripada juara pemenang tunggalnya (winner).


Menurut saya ada hal yang hilang dari perubahan jaman ini, bahwa nilai-nilai kekompakan team, paguyuban, sosial, kekeluargaani semakin menipis digantikan oleh kompetisi individualisme.


Orang/peserta didorong untuk meraih prestasi burungnya secara individual, sehingga hukum alamlah yang akan berlaku, yang paling kuat (hebat, harga beli mahal, koneksitas tinggi) yang akan berpeluang menang. Untuk mendapatkan uang besar, tidak perlu tergabung dalam "paguyuban", cukup dengan memaksimalkan gacoannya sendiri dan menang.


3. DOORPRIZE


Daya tarik lomba jaman dahulu adalah besaran nilai doorprize yang disediakan oleh panitia, bisa berupa alat elektronik, motor, atau bahkan mobil (meskipun second). Semakin besar nilai doorprize akan semakin banyak jumlah peserta. Panitia akan menganggarkan biaya untuk membeli hadiah doorprize ini (atau mungkin dari sumbangan dan sponshor).


Doorprize lebih bermakna membangun sosial community dibanding banyak jumlah peserta. Panitia akan menganggarkan biaya untuk membeli hadiah doorprize ini (atau mungkin dari sumbangan dan sponsor).


Doorprize lebih bermakna membangun sosial community dibanding individu pemenang kejuaraan, karena setiap peserta mempunyai kesempatan yang sama untuk senang secara material (probability, gambling). Bisa jadi, orang yang mempunyai burung kualitasnya pas-pasan pun akan nekat ikut kontes karena mempunyai kesempatan memperoleh doorprize. Hitung-hitung beli kupon hadiah sambil bersilaturahmi sesama penghobby burung berkicau.


4. KRITERIA BURUNG JUARA


Meskipun hal ini ada yang lebih berkompeten bicara, yaitu para juri, namun sebagai penghobby saya juga berhak berpendapat. Menurut pengamatan saya, trend penilaian terhadap kriteria burung juara banyak mengalami perkembangan (saya tidak mengatakan kemunduran).


Hari ini, faktor gaya penampilan burung menjadi "key entry point" paling penting bagi para juri. Memang hal ini akan memudahkan juri untuk melihat kriteria-kriteria lainnya secara lebih mendalam, yaitu tentang irama lagu dan stabilitas. Sebagai gambaran saya akan membuat ilustrasi lomba untuk jenis Cucak Ijo.


Secara naluri, para juri akan menilai positif pada burung yang sejak pertama digantang akan menunjukkan secara fisik tanda-tanda: bulu kepala "njambul", sayap sedikit mengembang, ke bawah sambil "ngentrok-ngentrok", tidak terlatu banyak loncat (goyang), dan tetap gacor. Jangan berharap gacoan kita bisa menang apabila tidak memperlihatkan tanda-tanda tersebut, meskipun kualitas irama lagu bisa dikatakan bagus, bahkan mungkin hanya untuk sekedar "dilirik" juri saja sulit.


Pada jaman dahulu, seorang juri harus bener-bener tajam telinganya untuk fokus mendengarkan kualitas irama lagu dan volume suara burung. Untuk bisa menilai kualitas irama lagu dibutuhkan pengalaman yang cukup lama, makanya pada jaman dulu seorang juri pasti sudah senior (bisa diidentikkah dengan pengalaman), dan pasti disegani.


Sebaliknya jaman sekarang, sangat mudah untuk menjadi seorang juri, banyak para juri masih sangat junior, sebab metode menilainya lebih mendahulukan visual daripada audio.


Seorang juri bisa "menembak" dulu performance fisiknya dulu, baru kemudian dilihat irama lagu. Apakah metode ini salah? Peserta sendirilah yang akan menilai hal ini.


5. NUANSA LOMBA


Saya masih ingat betul ketika jaman dulu saya berkali-kali menyelenggarakan lomba pasti ada seksi konsumsi yang salah satu tugasnya menyediakan konsumsi bagi para peserta, baik hanya berupa snack maupun makan siang. Begitu juga dengan event-event di tempat lain ketika itu, pasti disediakan kupon snack atau makan siang (meskipun hanya nasi bungkus, sudah cukup menyenangkan). Nuansa yang terbangun saat itu, adalah kita seperti menjadi tamu kehormatan dan rasa silaturahmi masih kental.


Kenapa saat ini hal seperti ini tidak ada lagi? Apakah dananya dialihkan ke hadiah pemenang karena peserta menuntut hadiah yang lebih besar? Atau dananya dialihkan menjadi keuntungan penyelenggara lomba?


6. KASTA JENIS BURUNG


Sepertinya istilah anak emas atau anak tiri tidak hanya terjadi di legenda-legenda jaman dahulu kala, namun justru semakin subur di event lomba burung jaman sekarang. Kalau kita ditanya burung jenis manakah yang kastanya lebih tinggi: kacer, murai, anis merah, anis kembang, kenari, cucak ijo, kolibri atau yang lainnya? Pasti sulit menjawabnya...... Namun, dalam kenyataan bahwa anis merah selalu mendapat hadiah kejuaraan berlipat-lipat kali nilainya dibanding jenis burung lainnya. Apakah ini cukup adil (fair)? Apakah hanya dengan alasan anis merah trendnya paling tinggi terus kemudian diberi hadiah berlipat-lipat? Nanti saya akan jawab melalui analisa managemen suatu lomba.


Sebenarnya masih banyak perbedaan-perbedaan lain yang bisa kita dapatkan apabila semakin mendalami dinamika lomba burung di tanah air selama 10 tahun terakhir. Namun, secara umum saya menangkap 2 hal paling mendasar dalam lomba burung di masa sekarang, yaitu:


1. Peserta semakin terjebak dalam orientasi ekonomi (kalau boleh dibilang industrialisasi burung berkicau). Saya tidak tahu siapa dahulu yang memulai pertama kali, apakah penyelenggara yang memancing atau peserta yang terlalu menuntut.


2. Penyelenggara lomba (panitia) semakin sulit mengembangkan nilai-nilai lain yang lebih berkualitas (luhur), karena lomba semakin tidak menguntungkan secara finansial bagi panitia...


Tidak ada uang lebih untuk mengembangkan inovasi-inovasi yang bersifat community, social, dan relationship bagi sesama penghobby.



BAGIAN II


Hadiah lomba membuat peserta makin matrek


Rasa penasaran saya tidak berhenti sampai di sini, dalam pikiran saya masih terus bertanya: bagaimana caranya panitia bisa memberikan hadiah hingga puluhan juta rupiah kepada satu pemenang (hampir selalu jenis anis merah)? Untuk menjawab penasaran ini, saya mencoba melakukan semacam riset kecil-kedlan berbagai lomba yang diiklankan di majalah Agro Burung. Riset literatur ini dilakukan secara acak dalam majalah Agro Burung edisi Mei 2009 sampai dengan Mei 2010.


Untuk memudahkan melakukan analisa, dalam riset ini saya melakukan beberapa hal menyangkut pengelompokan, definisi, dan penggunaan asumsi, sebagai berikut:


A. JENIS LOMBA DIBAGI MENJADI 5 KLASIFIKASI (GROUP):


1. Latpres: hadiah utama lebih kecil/sama dengan Rp 1.000.000,-


2. Lomba Kecii: hadiah utama Rp 1.000.000-3.000.000,--


3. Lomba Menengah: hadiah utama Rp 3.000.000 - 5.000.000,-


4. Lomba Besar: hadiah utama Rp 5.000.000- 10.000.000,-


5. Lb. Sangat Besar: hadiah utama minimal Rp 10.000.000,-


B. KLASIFIKASI NILAI HADIAH DIBEDAKAN MENJADI:


1. Klas Hadiah Utama:


a. Latpres: klas dengan peringkat hadiah paling tinggi (executive)


b. Lomba: k!as dengan hadiah minimal Rp 3.000.000,- ke atas


2. Klas Hadiah Non Utama:


c. Latpres: klas dengan ranking hadiah kedua ke bawah (klas bintang/favofit)


d. Lomba: klas dengan hadiah kurang dari Rp 3.000.000,-


C. JUMLAH PESERTA:


Menggunakan asumsi rata-rata peserta berdasarkan pengalaman pribadi selama mengikuti lomba selama akhir-akhir ini (estimasi berdasar pengamatan langsung).



TABEL 1. KLASIFIKASI LOMBA, PESERTA, DAN BESARAN BONUS LOMBA


Dari 61 sampling jenis lomba yang diriset, dapat disimpulkan bahwa semakin besar hadiah yang ditawarkan akan semakin besar potensi peserta yang mengikuti. Demikian juga, semakin besar lomba maka panitia harus semakin besar menyediakan bonus bagi pemenang. Dalam lomba latberan, saya tidak bisa mencantumkan nilai bonus pemenang karena biasanya bonus dalam latber berasal dari kontributor perorangan dan sangat bervariatif bentuk dan jumlahnya.



TABEL 2. ANALIS PENDAPATAN LOMBA


Dengan menggunakan antara total pemasukan dikurangi total hadiah untuk pemenang kemudian dibagi dengan total pemasukan, maka didapat nilai ratio brutto.


Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa semakin besar klas lomba (hadiah semakin besar), maka rationya akan semakin kecil.


Coba dibayangkan, bagaimana panitia bisa menyelenggarakan event lorriba sangat besar kalau hanya memegang sisa anggarannya 5%. Apakah dengan 5% ini bisa untuk membiayai honor juri, sewa tenda dan peralatan, konsumsi, iklan, keamanan, dll?


Berdasarkan pengalaman saya menyelenggarakan lomba jaman dahulu, nilai ratio brutto yang ideal adalah antara 30 - 35%, dimana panitia bisa sedikit leluasa mengelola lomba (masih ada uang lelahnya). Dengan dasar ini, maka dapat dikatakan bahwa lomba skala kecil justru semakin sehat secara finansial, atau semakin bisa mandiri.


Kemudian, dari mana panitia lomba berskala besar menutup kekurangan biayanya? Cara-cara yang bisa dilakukan adalah mencari sponsorhip atau mencari sumbangan dari pihak-pihak tertentu. Berapa kira-kira dana tambahan yang harus dicari dari setiap klas lomba?



TABEL 3. PERKIRAAN DANA TAMBAHAN LOMBA


Dengan menggunakan angka ratio brutto ideal adalah 30 -35%, maka untuk lomba skala menengah memerlukan tambahan dana sekitar 24 juta, skala besar 35 juta, dan skala sangat besar 110 juta. Sementara lomba dengan skala kecil dan latpres sangat dimungkinkan bisa mandiri (tidak perlu mencari tambahan dana).


Apakah salah mencari dana tambahan dari sponshorship atau pihak ketiga pemberi sumbangan? Menurut saya sama sekali tidak salah. Namun, pertanyaan selanjutnya adalah:


o Apakah masih mudah mencari pihak sponsor yang sanggup menutup kekurangan dana sebesar itu?


o Apakah industri lomba burung cukup menarik bagi sponsor untuk pemasaran produknya (produk elektronik, motor, rokok, pakan burung, perajin sangkar, dll)?


o Apakah masih mudah mencari orang-orang yang dengan tulus memberikan sumbangan? Sebab, pada umumnya pemberi sumbangan adalah orang-orang yang juga aktlf mengikuti lomba burung. Apakah panitia juga enak rasa, jika tidak memenangkan gacoan pemberi sumbangan?


Saya hanya mengkhawatirkan apabila sltuasi dan kondisinya ternyata bertolak belakang, apakah di masa mendatang kita masih bisa menikmati lomba burung dengan skala besar (prestisius)? Mungkin sudah waktunya mulai dari sekarang semua pihak ambil bagian mendorong bagaimana suatu lomba burung bisa mandiri di dalam penyelenggaraannya:


1. Pihak Peserta:


- Harus ada kesadaran kalau mau hadiah besar, harusnya mendaftar dengan harga tinggi.


- Prestisius kemenangan burung bukan pada nilai hadiah, tetapi adalah kebesaran nama burung yang mengikat menjadi satu dengan si pemiliknya.


- Nilai ekonomi burung harus dikembalikan pada seberapa sering berprestasi, yang pada akhirnya mempengaruhi harga transaksi burung ketika diminati orang lain, dan bukan pada hadiah langsung saat lomba.


3. Pihak Penyelenggara:


- Harus mampu menciptakan kreativitas kemasan lomba yang menarik di luar faktor besaran nilai hadiah semata. Misal, menyisakan alokasi waktu saat lomba untuk acara "boot camp", sarasehan, dsb.


4. Pihak Event Organizer (PBI, BnR, dsb):


- Harus mampu mendorong komunitas penghobby bukan semata karena sudut pandang ekonomis, namun bisa menciptakan suatu social community yang positif, misal dari sudut pandang seni budaya.


Semua sepakat bahwa lomba burung adalah tradisi budaya yang bernilai luhur bagi bangsa kita, dan harus dipupuk dalam suasana harmonis.


Ada baiknya lomba burung nantinya tidak disebut sebagai LOMBA yang mengarah pada arti sempit berkompetisi (yang kadang menghalalkan segala cara).


- Dampak negatif dari industrialisasi lomba burung semakin bisa dilihat: antar peserta ribut/bertengkar, juri dimaki, antar event organizer saling menjelekkan, dsb.


Apakah ini akan dibiarkan terus-menerus sampai anak cucu kita yang bakalan mewarisi seni budaya yang luhur ini?


Kelas utama


Sekarang saya ingin mengetahui lebih jauh, mengapa klas utama bisa diberi hadiah berlipat-lipat kali dari klas di bawahnya? Sudah menjadi rumusan umum, bahwa klas utama jenis anis merah pasti akan diberi hadiah pemenang berlipat kali dengan jenis burung lain yang klas lombanya di bawahnya.


Contohnya begini, klas utama (paling bergensi) anis merah denganpendaftaran Rp 200.000,- jika menang mendapat hadiah Rp 10.000.000 atau lebih. Tetapi, di klas ketiga dengan pendaftaran Rp 100.000,- hanya mendapat hadiah Rp 2.000.000,-. Apakah ini cukup adil?



TABEL 4. RATIO HADIAH KLAS UTAMA VS KLAS NON UTAMA


Dari tabel di atas nampak, bahwa dalam setiap klasifikasi tomba menengah ke atas ratio untuk hadiah utama jauh lebih kecil dari klas non utama. Bahkan, mulai lomba skala besar dan sangat besar ratio klas utamanya minus.


Cara membaca data tersebut adalah demikian, contohnya untuk lomba skala besar (no. 4):


- Ratio untuk hadiah klas utama = - 34%. Artinya, hasil pendaftaran (pemasukan) dari klas ini tidak cukup untuk menutup biaya hadiahnya sendiri.


- Ratio untuk hadiah klas non utama - 36%. Artinya, pemasukan dari klas-klas ini (di bawah klas utama) mampu menutup biaya hadiahnya sendiri dan mungkin justru berlebih.


Kelebihan inilah yang berpotensi untuk menutup kekurangan untuk hadiah klas utama.


Arti dari semua ini adalah bahwa hadiah bagi klas utama yang nilainya berlipat kali daripada klas non utama, justru hadiahnya disumbangkan dari klas di bawahnya.


Dengan kata lain, yang kecil menyumbang yang besar...


Jangan sampai suatu saat berkembang menjadi yang kecil ditindas oleh yang besar. Apalagi kondisi ini ditunjang kenyataan bahwa pada umumnya pemenang klas utama ini adalah burungnya yang itu-itu saja. Anda mungkin tidak sulit menyebut burung anis merah mana yang menguasai setiap event lomba besar.


Memang tidak salah burung-burung itu menang, karena (katanya) belinya sudah ratusan juta rupiah. Namun, dengan menggunakan hitungan matematika biasa kita bisa menghitung bahwa hanya dengan menang puluhan kali di event besar maka harga belinya akan kembali. Lagi-lagi hitungan ekonomis... sayangnya pengembalian investasi ini disokong dari golongan lomba klas di bawahnya.


Pantas saja, para jawara-jawara (kalau boleh disebut begitu) hanya akan turun di klas-klas utama saja.


Saya jarang menjumpai burung-burung jawara ini muncul menjadi pemenang klas non utama. Mungkin kalah atau tidak diikutkan dengan pertimbangan ekonomi tadi atau karena takut malu bila kalah di klas yang lebih bawah?


Lalu bagaimana sebaiknya agar peserta klas non utama (lebih kecil dari klas utama) tidak merasa "diperas" oleh klas utama?


Ada baiknya para event organizer mulai memikirkan bagaimana indahnya apabila burung bisa bertarung di kualitas (klas) yang setara. Meniru pertarungan tinju profesional, bahwa antar petinju hanya akan bertarung di klas yang setara (klas nyamuk, klas ringan, klas welter, klas berat, dsb).


Seperti halnya dalam ilmu sosial, bahwa semakin tinggi status sosial orang, maka bukan nilai materiil (hadiah) lagi yang dikejar. Saya yakin, bahwa para pemilik burung-burung klas jawara bukan semata mencari hadiah langsurig dari setiap event lomba.


Saya percaya bahwa bos-bos ini masih mempunyai rasa malu apabila "menerima sumbangan" dari kelompok yang lebih kecil.


Di atas kita sudah membedah bagaimana fairness dari setiap klas lomba, selanjutnya kita akan melihat fairness dari hadiah yang diterima aiitara juara 1, 2, 3, dan seterusnya sampai dengan juara 10.


Mungkin para peserta lomba tidak pernah terusik dengan kenyataan bahwa juara 1 mendapat hadiah Rp 3.000.000,- dan juara 5 s/d 10 hanya mendapat hadiah Rp 150.000,- (hanya kembali uang pendaftaran).


Apa beda juara 1 dengan juara 10 secara hitungan matematika? Logikanya, juara-1 kualitasnya 10 kali di atas juara 10. Tapi, hadiah yang diberikan kenapa juara 1 bisa menjadi 20 kali juara 10?



TABEL 5. AGREGAT RANKING HADIAH LOMBA


Dari analisa agregat hadiah kejuaraan tersebut, terlihat bahwa lomba skala kecil jauh lebih fair bagi peserta lomba. Dengan kata lain, juara 10 di lomba skala kecil jauh dihargai daripada menjadi juara di lomba skala yang lebih besar. Atau, dengan sudut pandang terbalik, bahwa burung juara 1 akan lebih dihargai dalam lomba skala lebih besar (agregatnya lebih besar).


Tapi perlu diingat dari analisa sebelumnya, bahwa hadiah untuk klasifikasi klas utama disokong dari klas di bawahnya, maka sebaiknya para pesarta harus pandai-pandai memilih lomba yang akan diikuti.


Peserta harus bisa introspeksi diri (sadar diri) menilai gacoannya masing-masing, di klasifikasi lomba mana layak akan diikutkan. Apabila gacoannya masih klasifikasi kualitas/ prestasi "biasa", maka jangan sekali-kali masuk ke lomba skala besar, kecuali hanya mau spekulasi.


Sebaliknya, bagi peserta yang gacoannya memang sudah klas "jawara" lebih baik masuk ke klasifikasi lomba besar karena akan cepat kembali investasinya (kalau hanya memikirkan hitungan ekonomi).


Pelajaran apa yang bisa saya petik dari kondisi lomba di jaman sekarang:


1. Pada akhirnya, sekarang saya menjadi mengerti mengapa burung-burung "jawara" hanya akan muncul di klasifikasi event lomba besar dan hanya di klas utama saja. Di samping faktor hitungan ekonomi memang masuk akal, mungkin juga supaya gengsinya tidak turun bila kalah dalam skala lomba dan/atau klas yang lebih rendah.


2. Saya semakin memahami mengapa hari-hari ini semakin banyak (dinamis) lomba skala kecil diadakan dimana-mana daripada lomba skala besar. Kita justru semakin dipusingkan mau ikut di latber atau latpres di mana, karena jadwalnya tumpang tindih dan hampir setiap hari ada. Tetapi justru sekarang semakin jarang ada lomba skala besar, mungkin panitia sulit mencari donatur untuk mencukupi biaya penyelenggaraan.


3. Semakin sulit menemukan persaudaraan yang bertahan lama dalam sesama penghobby (community) burung berkicau. Justru, di media kita sering menemukan banyak polemik dan saling menjelekan teman/saudara lain.


4. Kita harus bisa introspeksi di mana posisi gacoan-gacoan kita untuk bisa manempatkan diri di klasifikasi mana gacoan kita akan diterjunkan.


Pada akhir dari tulisan saya ini, saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada pihak-pihak yang merasa tersinggung dengan tulisan saya ini.


Tanpa ada maksud ingin mengurangi daya tarik peserta terhadap suatu lomba, namun lebih mengarah ingin membangun situasi dan kondisi lomba lebih fair, berkualitas dan dicintai dalam kurun waktu sepanjang mungkin. Di samping itu, ini juga bentuk kepedulian saya terhadap seni budaya lomba burung berkicau agar bisa diturunkan kepada generasi kita selanjutnya.


Saya sendiri berpendapat, bahwa hobby harus dinilai dari sisi sense of love, bukan materi belaka. Ada lomba atau tidak ada lomba, saya tetap akan memelihara burung berkicau karena saya memang mencintainya. (Habis)