Hasil Lomba Burung Presiden Cup 2

Even Presiden Cup yang dikemas BnR pekan lalu di Parkir Timur Senayan Jakarta boleh dibilang jadi semacam pesta akbarnya kicau mania tahun ini. Inilah hasilnya.

Perlu catatan harian penangkaran

Penjodohannya pun tidak mudah, sebab membedakan jantan betina pun tidak gampang. Butuh pengalaman dan kepekaan untuk memastikan jenis kelamin. Banyak sekali kasus breeder pemula gagal.

Kendala selalu ada, tetapi bisa diatasi

Penelurusan ke sejumlah breeder cucakrawa, disebutkan bahwa kendala yang harus dihadapi sesungguhnya cukup banyak. Namun kendala-kendala ini ternyata tidak pernah menyurutkan para breeder, karena biasa diatasi.

Cucakrowo perlu ketenangan dan multivitamin

Meski ada pemodal kelimpungan ketika ikut-ikutan mencoba beternak cucakrowo namun ada saja breeder yang tersenyum lantaran modal yang dikeluarkan relatif sedikit tetapi hasilnya berlipat-lipat.

Harga burung saat ini

Harga burung di wilayah Solo dan sekitarnya (Soloraya) pada pertengahan Maret 2012 menunjukkan beberapa kenaikan yang signifikan. Seperti apa?

Rabu, 31 Maret 2010

Lagi, beda anis merah jantan-betina dan foto-foto anis merah trotolan Om Jayanz

Dalam berbagai kesempatan selalu saja muncul perbincangan tentang bentuk tubuh atau tanda-tanda fisik yang terlihat dari anis merah sebagai penanda jenis kelamin. Perbincangan terakhir adalah di dalam pesan facebook.com antara saya dan om-om Jayanz Suwitra, Arda Primanto Masdani, Badai Anis Merah Teler, Yogi Sugiono, Anis Merah Satu, dan Om Ebonk Doank.


Pertanyaan kali pertama dilontarkan Om Ebonk Doang "apa jenis kelamin anis merah ini" dengan mengirim foto seperti di bawah ini:



Anis merah Om Ebonk

Om Badai Anis Merah Teler  membalas pertanyaan itu dengan mengatakan harusnya sudah mulai bunyi Mas tapi ada AM yang telat bunyi, sekali bunyi langsung ngeplong. Paruhnya bagus volume pasti kenceng, matanya juga bagus sayang kaki tidak item. AM susah ditebak Mas yang sabar saja yang penting diurus.


Om Arda pun menimpali, "Sampai sekarang setahu ane belum ada metode yang akurat utk menentukan kelamin AM jika sudah merah. Asal tidak aktif ngeleper, sabar aja ngerawatnya."


Komentar itu disusul komentar Om Jayanz: "Setuju Om, rawatlah dulu dengan maksimal, jika anis merahnya cowok, pasti dengan kondisi yang sangat fit dia akan mau ngeplong-ngeplong.


Saya tidak berkomentar karena saya sepenuhnya setuju dengan dengan tanggapan-tanggapan di atas. Memang banyak sekali "mitos" yang menyebutkan bahwa ciri fisik tertentu adalah menandakan jenis kelamin anis merah. Semua itu sudah saya tulis komplit di artikel berjudul "Perbedaan burung jantan dan betina" dan Road to Bali 3: Beda Anis merah jantan dan betina.


Dalam kasus anis merah sudah dewasa, kita sangat sulit menentukan jenis kelamin anis merah. Yang bisa menentukan kadang malah feeling kita. Dan semuanya didasarkan pada "jam terbang" kita.


Om Arda misalnya, dia akan mudah bilang ini jantan atau ini betina karena pengalamannya dalam melihat postur burung dengan proporsi tertentu (proporsi adalah “perbandingan” antara bentuk dan besaran bagian tubuh tertentu dengan bentuk dan besaran tubuh tertentu lainnya; dan bukan besaran satu bagian tubuh tertentu saja, misalnya ya hidung menyerupai canary seed dsb itu).


Tetapi coba tanyakan, mengenai ciri-ciri yang Om Arda gunakan sebagai patokan menentukan jantan atau betina, maka dipastikan Om Arda tidak bisa menjelaskannya secara rinci. Mengapa? Ilmu yang belum “terkodifikasikan” di dalam pemikiran Om Arda memang tidak bisa diomongkan/didefinisikan secara pasti melalui tuturan kata-kata. Maka singkat kata, kalau ditanya mengapa bisa mengatakan jantan atau betina, Om Arda hanya akan bilang, “Ya feeling aja sih.”


Kalaupun dikejar lebih jauh, ya bisa saja bilang “kakinya terlihat panjang, hidungnya mancung, kulitnya putih dsb,” hehe. Nah, dalam kaitan inilah meskipun secara sekilas lihat mungkin Om Arda sudah bisa mengatakan apakah burung tertentu itu jantan atau betina, tetapi karena semua berkaitan dengan masalah “ukuran” yang relatif, lebih baik Om Arda tidak menyampaikannya karena hanya akan membuat orang lain bingung atau akan menimbulkan kontroversi.


Kalau memang ingin memastikan apakah burung monomorphic tertentu itu jantan atau betina, kalau “feeling-nya” belum jalan yang bisa dijadikan pegangan ya langsung pegang itu burung.  Untuk burung dewasa, kalau dua supit urangnya keras dan sela di antara dua supit urang tidak bisa direngganggkan, berarti jantan. Kalau bisa direnggangkan, berarti betina.


Beda anis merah trotolan jantan dan betina


Mumpung berbicara tentang jenis kelamin anis merah, kiranya perlu saya sharing tulisan Om Jayanz Suwitra di Forum KicauMania.Org (jangan lupa gabung di forum ini ya...).  Om Jayanz yang juga yang moderator anis merah dan jenis anis lainnya di forum KM itu menulis artikel berjudul Cara Membedakan Trotolan AM Jantan/Betina.


Untuk menanggapi pertanyaan yang sering muncul di Forum AM ini, dan sekaligus sebagai PR buat saya, sekarang saya akan mengulasnya lebih jauh lagi dan lengkap dengan fotonya.


Seperti yang pernah saya ulas sebelumnya, untuk membedakan trotolan AM jantan/betina, cara yang paling gampang untuk membedakannya ialah melalui warna sayapnya.


Untuk yang Betina
Trotolan AM betina biasanya warna sayapnya agak kusam, dan ada warna-warna kuning di bagian sayapnya. Warna-warna kuning ini terdapat pada bulu sayap dari yang paling kecil sampai yang paling besar, biasanya jumlah warna kuning pada sayapnya sebanyak 5-6 helai.




Contoh 1: Trotolan AM betina dalam posisi sayap terbuka (Foto: Jayanz)

Contoh 2: Trotolan AM betina dalam posisi sayap terbuka (Foto: Jayanz)

Trotolan AM betina dalam posisi sayap tertutup (Foto: Jayanz)

Cewek anis merah yang warna kuning di sayapnya agak samar2, dan Hampir Kamera saya tidak bisa menangkap warna kuning tersebut. Padahal kamera yang digunakan Om Jayanz berkekuatan 8MP dan cuaca saat itu agak sedikit mendung. Coba perhatikan warna kuning2 di pingir-pinggir sayapnya, warna kuningnya agak samar2. (Foto: Jayanz)

FOTO ANIS MERAH TROTOLAN JANTAN



Trotolan anis merah jantan sayap terbuka (Foto: Jayanz)

Trotolan anis merah jantan sayap tertutup (Foto: Jayanz)

FOTO ANIS MERAH BETINA YANG DISEMIR AGAR TERLIHAT SEPERTI JANTAN



Trotolan AM Betina yang disulap menjadi AM Jantan alias disemir (Foto: Jayanz)

Kalau kita perhatikan gambar yang di atas ini, warna bulu-bulunya memang agak sedikit kusam, kelihatan seperti trotolan AM yang habis mandi. Padahal yang menyebabkan bulunya jadi kusam karena trotolan tersebut disemir pake semir rambut. Jika kita sudah berpengalaman, hal-hal yang seperti ini tetap saja kelihatan karena sangatlah gampang untuk membedakan antara trotolan yang disemir dan yang orisinil. Coba aja perhatikan foto-foto yang di atas, warnanya beda kan?


Untuk membedakan trotolan AM jantan/betina dengan melihat warna di sayapnya, cara ini hanya bisa kita bedakan di saat trotolan tersebut masih ada bulu-bulu trotolnya kira-kira umur di bawah 3 bulan. Jika sudah ganti bulu dewasa atau dah full merah, kita jadi sulit untuk mebedakannya.
Untuk yang betina: Warna kuning pada bagian sayapnya akan hilang secara perlahan-lahan dan warna sayapnya jadi hitam polos. Untuk yang jantan warna sayapnya akan semakin mengkilap dan terkadang jika sudah birahi, anis merah trotolan tersebut akan mulai ngeplong.


Ya demikianlah paparan tentang beda jenis kelamin anis merah. Semoga bermanfaat. (Om Kicau)


Lagi, beda anis merah jantan-betina dan foto-foto anis merah trotolan Om Jayanz

Dalam berbagai kesempatan selalu saja muncul perbincangan tentang bentuk tubuh atau tanda-tanda fisik yang terlihat dari anis merah sebagai penanda jenis kelamin. Perbincangan terakhir adalah di dalam pesan facebook.com antara saya dan om-om Jayanz Suwitra, Arda Primanto Masdani, Badai Anis Merah Teler, Yogi Sugiono, Anis Merah Satu, dan Om Ebonk Doank.


Pertanyaan kali pertama dilontarkan Om Ebonk Doang "apa jenis kelamin anis merah ini" dengan mengirim foto seperti di bawah ini:



Anis merah Om Ebonk

Om Badai Anis Merah Teler  membalas pertanyaan itu dengan mengatakan harusnya sudah mulai bunyi Mas tapi ada AM yang telat bunyi, sekali bunyi langsung ngeplong. Paruhnya bagus volume pasti kenceng, matanya juga bagus sayang kaki tidak item. AM susah ditebak Mas yang sabar saja yang penting diurus.


Om Arda pun menimpali, "Sampai sekarang setahu ane belum ada metode yang akurat utk menentukan kelamin AM jika sudah merah. Asal tidak aktif ngeleper, sabar aja ngerawatnya."


Komentar itu disusul komentar Om Jayanz: "Setuju Om, rawatlah dulu dengan maksimal, jika anis merahnya cowok, pasti dengan kondisi yang sangat fit dia akan mau ngeplong-ngeplong.


Saya tidak berkomentar karena saya sepenuhnya setuju dengan dengan tanggapan-tanggapan di atas. Memang banyak sekali "mitos" yang menyebutkan bahwa ciri fisik tertentu adalah menandakan jenis kelamin anis merah. Semua itu sudah saya tulis komplit di artikel berjudul "Perbedaan burung jantan dan betina" dan Road to Bali 3: Beda Anis merah jantan dan betina.


Dalam kasus anis merah sudah dewasa, kita sangat sulit menentukan jenis kelamin anis merah. Yang bisa menentukan kadang malah feeling kita. Dan semuanya didasarkan pada "jam terbang" kita.


Om Arda misalnya, dia akan mudah bilang ini jantan atau ini betina karena pengalamannya dalam melihat postur burung dengan proporsi tertentu (proporsi adalah “perbandingan” antara bentuk dan besaran bagian tubuh tertentu dengan bentuk dan besaran tubuh tertentu lainnya; dan bukan besaran satu bagian tubuh tertentu saja, misalnya ya hidung menyerupai canary seed dsb itu).


Tetapi coba tanyakan, mengenai ciri-ciri yang Om Arda gunakan sebagai patokan menentukan jantan atau betina, maka dipastikan Om Arda tidak bisa menjelaskannya secara rinci. Mengapa? Ilmu yang belum “terkodifikasikan” di dalam pemikiran Om Arda memang tidak bisa diomongkan/didefinisikan secara pasti melalui tuturan kata-kata. Maka singkat kata, kalau ditanya mengapa bisa mengatakan jantan atau betina, Om Arda hanya akan bilang, “Ya feeling aja sih.”


Kalaupun dikejar lebih jauh, ya bisa saja bilang “kakinya terlihat panjang, hidungnya mancung, kulitnya putih dsb,” hehe. Nah, dalam kaitan inilah meskipun secara sekilas lihat mungkin Om Arda sudah bisa mengatakan apakah burung tertentu itu jantan atau betina, tetapi karena semua berkaitan dengan masalah “ukuran” yang relatif, lebih baik Om Arda tidak menyampaikannya karena hanya akan membuat orang lain bingung atau akan menimbulkan kontroversi.


Kalau memang ingin memastikan apakah burung monomorphic tertentu itu jantan atau betina, kalau “feeling-nya” belum jalan yang bisa dijadikan pegangan ya langsung pegang itu burung.  Untuk burung dewasa, kalau dua supit urangnya keras dan sela di antara dua supit urang tidak bisa direngganggkan, berarti jantan. Kalau bisa direnggangkan, berarti betina.


Beda anis merah trotolan jantan dan betina


Mumpung berbicara tentang jenis kelamin anis merah, kiranya perlu saya sharing tulisan Om Jayanz Suwitra di Forum KicauMania.Org (jangan lupa gabung di forum ini ya...).  Om Jayanz yang juga yang moderator anis merah dan jenis anis lainnya di forum KM itu menulis artikel berjudul Cara Membedakan Trotolan AM Jantan/Betina.


Untuk menanggapi pertanyaan yang sering muncul di Forum AM ini, dan sekaligus sebagai PR buat saya, sekarang saya akan mengulasnya lebih jauh lagi dan lengkap dengan fotonya.


Seperti yang pernah saya ulas sebelumnya, untuk membedakan trotolan AM jantan/betina, cara yang paling gampang untuk membedakannya ialah melalui warna sayapnya.


Untuk yang Betina
Trotolan AM betina biasanya warna sayapnya agak kusam, dan ada warna-warna kuning di bagian sayapnya. Warna-warna kuning ini terdapat pada bulu sayap dari yang paling kecil sampai yang paling besar, biasanya jumlah warna kuning pada sayapnya sebanyak 5-6 helai.




Contoh 1: Trotolan AM betina dalam posisi sayap terbuka (Foto: Jayanz)

Contoh 2: Trotolan AM betina dalam posisi sayap terbuka (Foto: Jayanz)

Trotolan AM betina dalam posisi sayap tertutup (Foto: Jayanz)

Cewek anis merah yang warna kuning di sayapnya agak samar2, dan Hampir Kamera saya tidak bisa menangkap warna kuning tersebut. Padahal kamera yang digunakan Om Jayanz berkekuatan 8MP dan cuaca saat itu agak sedikit mendung. Coba perhatikan warna kuning2 di pingir-pinggir sayapnya, warna kuningnya agak samar2. (Foto: Jayanz)

FOTO ANIS MERAH TROTOLAN JANTAN



Trotolan anis merah jantan sayap terbuka (Foto: Jayanz)

Trotolan anis merah jantan sayap tertutup (Foto: Jayanz)

FOTO ANIS MERAH BETINA YANG DISEMIR AGAR TERLIHAT SEPERTI JANTAN



Trotolan AM Betina yang disulap menjadi AM Jantan alias disemir (Foto: Jayanz)

Kalau kita perhatikan gambar yang di atas ini, warna bulu-bulunya memang agak sedikit kusam, kelihatan seperti trotolan AM yang habis mandi. Padahal yang menyebabkan bulunya jadi kusam karena trotolan tersebut disemir pake semir rambut. Jika kita sudah berpengalaman, hal-hal yang seperti ini tetap saja kelihatan karena sangatlah gampang untuk membedakan antara trotolan yang disemir dan yang orisinil. Coba aja perhatikan foto-foto yang di atas, warnanya beda kan?


Untuk membedakan trotolan AM jantan/betina dengan melihat warna di sayapnya, cara ini hanya bisa kita bedakan di saat trotolan tersebut masih ada bulu-bulu trotolnya kira-kira umur di bawah 3 bulan. Jika sudah ganti bulu dewasa atau dah full merah, kita jadi sulit untuk mebedakannya.
Untuk yang betina: Warna kuning pada bagian sayapnya akan hilang secara perlahan-lahan dan warna sayapnya jadi hitam polos. Untuk yang jantan warna sayapnya akan semakin mengkilap dan terkadang jika sudah birahi, anis merah trotolan tersebut akan mulai ngeplong.


Ya demikianlah paparan tentang beda jenis kelamin anis merah. Semoga bermanfaat. (Om Kicau)


Warna anakan kenari hasil silangan





Di halaman Hobi Burung Kicauan dan Penangkaran, Om Sahbudin Nyanyang bertanya apa bisa kenari abu-abu dikawinkan dengan kenari kuning, dan bagaimana anakannya? Pertanyaan ini dijawab "bisa" oleh Om Irvan Sadewa, salah satu admin halaman tersebut. Bagaimana penjelasannya?

Seekor burung Kenari terdiri dari 42 kromosom. 21 kromosom berasal dari induk jantan dan 21 kromosom lainnya berasal dari induk betina.Kromosom ini membawa kode-kode gen informasi dari masing-masing induk, seperti jenis, warna, karakter lagu, karakter dasar, postur, bentuk dan lain-lain....
Di samping itu juga dalam dunia breeeding, kita mengenal hukum Mendle yang memungkinkan adanya banyak variasi keturunan karena suatu sifat yang menonjol atau tidak tampak, misalnya:
1. Dominan,
2. Intermedier
3. Resesif

Menjawab pertanyaan om Sahbudin Nyanyang di atas, apabila burung kenari berwarna abu-abu dikawinkan dengan burung kenari berwarna kuning akan menghasilkan kenari berwarna apa?
Ini akan menghasilkan warna yang sulit ditebak, karena di dunia burung kenari kita mengenal juga faktor warna lipochrome dan warna melanin. Di samping faktor hukum Mendle yang disebutkan di atas.
Bisa jadi hasil keturunannya akan berwarna:
1. Kuning (Lipochrome dominan atau Berlaku hukum Mendle)
2. Bon Kuning (Berlaku hukum Mendle)
3. Bon Hijau (Berlaku hukum Mendle)
4. Putih (Berlaku hukum Mendle)
5. Issabel (Berlaku hukum Mendle)
6. Mozaik (Berlaku hukum Mendle)
7. Abu-abu (Melanin atau Berlaku hukum Mendle)
8. Mutasi menjadi warna yang baru
9. Dan lain-lain.
Inilah daya tarik tersendiri dari breeding burung Kenari, karena kita tidak bisa menebak dengan pasti bagaimana warna dari anak keturunannya. (Irvan Sadewa untuk omkicau.com)

Burung, sejarah dan kontroversinya

Tulisan berikut ini sekadar referensi dan merupakan terjemahan bebas dari "Bird" di Wikipedia-ensiklopedia, dengan fasilitas translate google dan melalui editing ala kadarnya. Pada bagian tengah tulisan ini yang dimulai dengan sub judul "Kontroversi Teori Evolusi dan Harun Yahya", berasal dari sumber yang berbeda. Sedangkan pada tulisan berikutnya, dimulai dengan sub judul "Orde Burung modern: Klasifikasi", belum dilakukan editing dan merupakan terjemahan murni dengan google tool dari tema "Bird" pada wikipidia versi bahasa Inggris.




[caption id="attachment_12240" align="alignleft" width="600" caption="External anatomy of a bird: 1 Beak, 2 Head, 3 Iris, 4 Pupil, 5 Mantle, 6 Lesser coverts, 7 Scapulars, 8 Median coverts, 9 Tertials, 10 Rump, 11 Primaries, 12 Vent, 13 Thigh, 14 Tibio-tarsal articulation, 15 Tarsus, 16 Foot, 17 Tibia, 18 Belly, 19 Flanks, 20 Breast, 21 Throat, 22 Wattle"][/caption]


Burung (kelas Aves) adalah binatang bersayap, berkaki dua, endotermik (berdarah panas), bertelur, dan merupakan hewan vertebrata. Ada sekitar 10.000 spesies yang hidup di dunia, menjadikan mereka sebagai hewan vertebrata tetrapod yang paling banyak. Burung mendiami ekosistem di seluruh dunia, dari Kutub Utara ke Antartika. Saat ini masih ditemukan burung berukuran dari 5 cm (2 inci) yakni Bee Hummingbird (kolibri lebah) dan berukuran 3 m (10 kaki) yakni Ostrich.


Catatan fosil menunjukkan burung berevolusi dari dinosaurus theropoda selama periode Jurassic, sekitar 150-200 juta tahun yang lalu, dan burung diketahui paling awal adalah Archaeopteryx pada periode akhir era Jurasik, sekitar masa 150-145 juta tahun lalu. Kebanyakan ahli paleontologi menganggap burung sebagai satu-satunya clade dinosaurus yang selamat dari kepunahan pada jaman Cretaceous-Tersier sekitar 65,5 juta tahun lalu.


Burung modern dicirikan oleh adanya bulu, paruh tanpa gigi, telur bercangkang keras, tingkat metabolisme yang tinggi, memiliki empat bilik jantung, dan tubuh yang ringan tapi berkarangka kuat. Semua burung memiliki forelimbs yang diubah fungsi sebagai sayap dan dapat terbang dengan beberapa pengecualian termasuk ratites, penguin, dan sejumlah spesies endemik berbagai tempat di dunia. Burung juga memiliki pencernaan yang unik dan sistem pernapasan yang disesuaikan untuk kegiatan terbang. Beberapa jenis burung, terutama corvids dan beo, adalah salah satu spesies hewan paling cerdas; beberapa jenis burung yang telah diamati manufaktur dan menggunakan alat-alat, dan banyak spesies sosial budaya menunjukkan transmisi pengetahuan di seluruh generasi.


Banyak spesies burung melakukan migrasi tahunan jarak jauh, dan sebagian lainnya melakukan perjalanan yang tidak teratur dengan jarak lebih pendek. Burung bersifat sosial, mereka berkomunikasi menggunakan sinyal visual dan melalui panggilan dan lagu, dan berpartisipasi dalam perilaku sosial termasuk membuat koloni untuk berkembang biak, berburu, berkelompok, dan menghindarkan diri dari predator atau hewan pemangsa. Sebagian besar spesies burung secara sosial monogami, biasanya untuk satu musim kawin pada satu waktu, kadang-kadang selama bertahun-tahun, tapi jarang sekali untuk seumur hidup. Pada perkembangbiakan spesies tertentu memiliki sistem poligini ( "banyak betina") dan jarang polyandrous ( "banyak pejantan"). Telur biasanya diletakkan di dalam sarang dan diinkubasi oleh induk. Kebanyakan burung menjalani periode pengasuhan setelah menetaskan anak.


Banyak spesies yang memiliki nilai ekonomi (bagi manusia), terutama sebagai sumber pangan yang diperoleh melalui berburu atau beternak. Beberapa spesies, khususnya burung penyanyi dan beo, populer sebagai hewan peliharaan. Kegunaan lain dari burung bagi manusia adalah menghasilkan guano (kotoran) untuk digunakan sebagai pupuk. Burung sangat berperan dalam semua aspek kebudayaan manusia yang tergambar dari riwayat (kitab) agama, puisi sampai ke musik populer. Sekitar 120-130 spesies burung telah punah sebagai akibat dari aktivitas manusia sejak abad ke-17, dan ratusan lagi sebelum jaman itu. Saat ini sekitar 1.200 jenis burung terancam punah oleh kegiatan manusia, meskipun ada pula upaya yang dilakukan untuk melindungi kelestarian mereka. Berlanjut ke halaman 2.


Evolusi dan taksonomi

Klasifikasi pertama burung dikembangkan oleh Francis Willughby dan John Ray dalam Ornithologiae Volume 1676. Carolus Linnaeus menyempurnakannya pada tahun 1758 dengan merancang sistem klasifikasi taksonomi yang digunakan saat ini. Burung secara biologis dimasukkan dalam kelas Aves (dalam taksonomi Linnaean). Sedangkan aves berdasar penggolongan/ taksonomi filogenetik masuk dalam clade dinosaurus Theropoda. Aves dan kelompok yang masih bersaudara, clade Crocodilia, bersama-sama masuk dalam clade reptil Archosauria. Secara phylogenetical, aves secara umum didefinisikan sebagai semua keturunan terbaru dari nenek moyang bangsa burung modern dan Archaeopteryx lithographica.


Archaeopteryx, dari jaman Tithonian Jurasik Akhir (sekitar 150-145 juta tahun yang lalu), diketahui sebagai burung paling awal yang masuk dalam definisi ini. Lainnya, termasuk Jacques Gauthier dan penganut sistem Phylocode, menetapkan aves hanyalah penyebutan untuk kelompok burung modern, kelompok mahkota. Hal ini dilakukan dengan mengecualikan kebanyakan kelompok hewan yang hanya diketahui dari fosilnya, yang dimasukkan sebagai kelompok Avialae untuk menghindari ketidakpastian penempatan Archaeopteryx dalam kaitannya dengan hewan yang secara tradisional dianggap sebagai theropoda dinosaurus.


Semua burung modern masuk dalam subclass Neornithes, yang memiliki dua subdivisi: Palaeognathae, berisi sebagian besar burung terbang seperti burung unta, dan beragam Neognathae liar, yang berisi semua burung lain. Kedua subdivisi sering diberi sebutan Superorder, meskipun Livezey & Zusi memasukkan mereka dalam sebutan "kohort". Hal itu tergantung pada sudut pandang taksonomi jumlah spesies burung yang diketahui hidup saat ini yang berjumlah antara 9.800 hingga 10.050.


Dinosauris dan asal usul burung

Berdasarkan bukti fosil dan biologis, sebagian besar ilmuwan menerima bahwa burung adalah sub-grup khusus dari theropoda dinosaurus. Lebih khusus, mereka adalah anggota dari Maniraptora, sekelompok theropoda yang mencakup dromaeosaurs dan oviraptorids. Ketika para ilmuwan menemukan lebih banyak non-unggas theropoda yang terkait erat dengan burung, dan mengaburkan perbedaan antara non-burung dan burung-burung yang sebenarnya yang semula sudah jelas. Penemuan-penemuan terbaru di Provinsi Liaoning di timur laut Cina, menunjukkan bahwa banyak dinosaurus theropoda kecil memiliki bului.


Konsensus paleontologi kontemporer berpandangan bahwa burung-burung, Aves, adalah kerabat terdekat dari deinonychosaurs, yang meliputi dromaeosaurids dan troodontids. Bersama-sama, ketiganya membentuk kelompok yang disebut Paraves. Basal dromaeosaur Microraptor memiliki fitur yang mungkin telah memungkinkannya untuk meluncur atau terbang. Deinonychosaurs yang paling basal sangat kecil. Bukti ini meningkatkan kemungkinan bahwa nenek moyang paravians hidup di pepohonan, dan / atau mungkin telah mampu meluncur.


Archaeopteryx Masa Jurasik Akhir dikenal sebagai salah satu fosil transisional yang pernah ditemukan dan memberikan dukungan bagi teori evolusi pada akhir abad ke-19. Archaeopteryx memiliki karakteristik reptil yang jelas: gigi, jari bercakar, dan panjang-seperti kadal berekor, tetapi memiliki sayap yang dibungkus dengan bulu-bulu halus untuk terbang yang identik dengan burung modern. Hal ini tidak dianggap sebagai nenek moyang langsung dari burung modern, tetapi adalah binatang anggota Aves atau Avialae yang tertua dan paling primitif yang pernah diketahui, dan ini mungkin terkait erat dengan nenek moyang yang sebenarnya. Berlanjuit ke halaman 3.


Kontroversi Teori Evolusi dan Harun Yahya

Berbicara tentang evoluasi burung seperti disinggung pada tulisan di atas, Om Kicau ingin menurunkan juga pendapat Harun Yahya mengenai kontroversi teori evolusi. Tulisan berikut ini (sampai pada tulisan tentang KLASIFIKASI BURUNG), bersumber dari link ini: http://blog.re.or.id/asal-usul-burung-dan-mamalia-keruntuan-teori-evolusi-vi.htm.


Menurut teori evolusi kehidupan berawal dan berevolusi di laut kemudian amfibi memindahkannya ke darat. Skenario evolusi ini juga menyatakan bahwa amfibi kemudian berevolusi menjadi reptil makhluk yang hanya hidup di darat. Sekali lagi skenario ini tidak masuk akal karena terdapat perbedaan-perbedaan struktural yang jauh antara dua kelompok besar hewan ini. Misalnya telur amfibi didesain utk berkembang di dalam air sedangkan telur amniotik reptil didesain utk berkembang di darat. Evolusi “bertahap” amfibi adalah mustahil sebab tanpa telur yang didesain dengan baik dan sempurna tidak mungkin sebuah spesies dapat bertahan hidup. Selain itu seperti biasa tidak ada bukti bentuk transisi yang mestinya menghubungkan amfibi dengan reptil.


Robert L. Carrol seorang ahli paleontologi vertebrata mengakui bahwa reptil-reptil awal sangat berbeda dengan amfibi dan nenek moyang mereka belum dapat ditemukan. Akan tetapi skenario evolusionis tanpa harapan ini belum juga berakhir. Masih ada masalah bagaimana membuat makhluk-makhluk ini dapat terbang! Karena mempercayai burung sebagai hasil evolusi evolusionis berkeras bahwa burung-burung tersebut berasal dari reptil. Akan tetapi tidak ada satu pun mekanisme khas burung dengan struktur yang sepenuhnya berbeda dengan binatang darat dapat dijelaskan dengan evolusi bertahap. Misalnya sayap sebagai satu ciri khas burung merupakan jalan buntu bagi para evolusionis.


Seorang evolusionis dari Turki Engin Korur mengakui kemustahilan evolusi sayap. Ciri yang sama antara mata dan sayap adalah bahwa keduanya hanya berfungsi jika telah berkembang sempurna. Dengan kata lain mata setengah jadi tidak dapat melihat; seekor burung dengan sayap setengah jadi tidak dapat terbang. Tentang bagaimana organ-organ ini muncul masih merupakan salah satu mistri alam yang perlu dicari penjelasannya . Pertanyaan bagaimana struktur sayap yang sempurna muncul dari serangkaian mutasi acak masih belum terjawab sama sekali.


Adalah penjelasan yang tidak mungkin bahwa lengan depan reptil dapat berubah menjadi sayap yang berfungsi sempurna sebagai hasil distorsi pada gen-gennya . Lagi pula sekadar memiliki sayap tidak memadai bagi organisme darat utk terbang. Organisme darat tidak memiliki mekanisme-mekanisme struktural lain yang digunakan burung utk terbang. Misalnya tulang-tulang burung jauh lbh ringan daripada tulang-tulang organisme darat. Cara keja paru-paru mereka sangat berbeda. Mereka memiliki sistem otot dan rangka yang berbeda dan sistem jantung-peredaran darah yang sangat khas. Ciri-ciri ini adalah prasyarat utk bisa terbang yang sama pentingnya dengan sayap.


Semua mekanisme ini harus ada seluruhnya pada saat bersamaan; semuanya tidak mungkin terbentuk sedikit demi sedikit dengan cara “terakumulasi”. Karena itulah teori yang menyatakan bahwa organisme terbang benar-benar menyesatkan . Semua ini menimbulkan pertanyaan baru kalaupun kisah mustahil ini kita anggap benar mengapa evolusionis tidak mampu menemukan fosil-fosil “bersayap setengah” atau “bersayap tunggal” utk mendukung kisah mereka? Satu lagi bentuk transisi hipotetis Archaeopteryx. Sebagai jawaban evolusionis mengajukan satu makhluk yaitu fosil burung yang disebut Archaeopteryx. Burung ini dikenal luas sebagai salah satu “bentuk transisi” dari hanya beberapa yang masih mereka pertahankan.
Archaeopteryx nenek moyang burung modern menurut kaum evolusionis hidup 150 juta tahun lalu. Teori tersebut menyatakan bahwa sejenis dinosaurus berukuran kecil yang disebut Velociraptor atau Dromeosaurus berevolusi dengan mendapatkan sayap dan kemudian mulai terbang. Archaeopteryx diasumsikan sebagai makhluk transisi dari dinosaurus nenek moyangnya dan kemudian terbang utk pertama kalinya. Akan tetapi penelitian terakhir pada fosil Archaeopteryx menunjukkan bahwa makhluk hidup ini sama sekali bukan bentuk transisi melainkan spesies burung dengan beberapa karakteristik yang berbeda dari burung masa kini. Hingga beberapa waktu yang lalu pernyataan bahwa Archaeopteryx merupakan makhluk “separo burung” yang tidak dapat terbang dengan sempurna masih sangat populer di kalangan evolusionis. Ketiadaan sternum pada makhluk ini atau paling tidak perbedaannya dengan sternum milik unggas yang dapat terbang dianggap sebagai bukti paling penting bahwa burung ini tidak dapat terbang secara sempurna.


Namun fosil Archaeopteryx ketujuh yang ditemukan pada tahun 1992 menimbulkan kegemparan luar biasa dikalangan evolusionis.
Pada fosil Archaeopteryx tersebut tulang dada yang sejak lama dianggap hilang oleh evolusionis ternyata benar-benar ada. Fosil temuan terakhir itu digambarkan oleh majalah Nature sebagai berikut “Fosil Archaeopteryx ketujuh yang baru-baru ini ditemukan masih memiliki sebagian sternum berbentuk persegi panjang. Sternum ini sudah lama diperkirakan ada tetapi tidak pernah terdokumentasi sebelumnya. Temuan tersebut membuktikan bahwa makhluk ini memiliki otot-otot kuat utk terbang. Penemuan ini menggugurkan pernyataan bahwa Archaeopteryx adalah makhluk setengah burung yang tidak dapat terbang dengan baik. Di sisi lain struktur bulu burung tersebut menjadi salah satu bukti terpenting yang menegaskan bahwa Archaeopteryx benar-benar burung yang dapat terbang. Struktur bulu Archaeoptery yang asimetris tidak berbeda dari burung modern menunjukkan bahwa binatang ini dapat terbang dengan sempurna.


Seorang ahli paleontology terkenal Carl O. Dunbar menyatakan “Karena bulunya Archaeopteryx dipastikan termasuk kelas burung.” Fakta lain yang terungkap dari struktur bulu Archaopteryx adalah bahwa hewan ini berdarah panas. Sebagaimana telah diketahui reptil dan dinosaurus adalah binatang berdarah dingin yang dipengaruhi oleh suhu lingkungan dan tidak dapat mengendalikan sendiri suhu tubuh mereka. Fungsi terpenting bulu burung adalah utk mempertahankan suhu tubuh. Fakta bahwa Archaeopteryx memiliki bulu menunjukkan bahwa makhluk ini benar-benar seekor burung berdarah panas yang perlu mempertahankan suhu tubuh sementara dinosaurus tidak.


Spekulasi Evolusionis Gigi dan Cakar Archaeopteryx
Dua hal penting yang diandalkan kaum evolusionis ketika menyatakan bahwa Archaeopteryx merupakan bentuk transisi adalah cakar pada sayap burung itu dan giginya. Memang benar bahwa Archaeopteryx memiliki cakar pada sayapnya dan gigi dalam mulutnya tetapi ciri-ciri ini tidak berarti bahwa makhluk ini berkerabat dengan reptil. Selain itu dua spesies burung yang hidup saat ini Taouraco dan Hoatzin keduanya memiliki cakar utk berpegangan pada cabang-cabang pohon. Kedua makhluk ini sepenuhnya burung tanpa karakteristik reptil. Karena itu pernyataan bahwa Archaeopteryx adalah bentuk transisi hanya karena cakar pada sayapnya sama sekali tidak berdasar. Gigi pada paruh Archaeopteryx juga tidak menunjukkan bahwa makhluk ini adalah bentuk transisi. Evolusionis sengaja melakukan penipuan dengan mengatakan bahwa gigi-gigi ini adalah karakteristik reptil.
Bagaimanapun gigi bukan ciri khas reptil. Kini banyak reptil yang memang bergigi dan banyak pula yang tidak. Lagi pula Archaeopteryx bukan satu-satunya spesies burung yang memiliki gigi. Namun jika kita mengamati catatan fosil kita akan menemukan bahwa di zaman Archaeopteryx dan setelahnya bahkan hingga baru-baru ini terdapat suatu genus burung yang dapat dikategorikan sebagai “burung bergigi”.
Hal yang terpenting adalah bahwa struktur gigi Archaeoptery dan burung-burung lain yang bergigi sama sekali berbeda dengan struktur gigi dinosaurus yang dianggap nenek moyang mereka. Beberapa ahli ornitologi terkenal Martin Steward dan Whetstone mengamati bahwa Archaeopteryx dan burung-burung bergigi lainnya memiliki gigi dengan permukaan atas datar dan berakar besar. Namun gigi dinosaurus teropoda nenek moyang hipotetis burung-burung ini menonjol seperti gerigi gergaji dan memiliki akar menyempit. Para peneliti juga membandingkan tulang-tulang pergelangan pada Archaeopteryx dan dinosaurus dan tidak menemukan kemiripan di antara mereka. John Ostrom adalah seorang ahli terkemuka yang menyatakan bahwa Archaeopteryx berevolusi dari dinosaurus. Namun penelitian ahli anatomi seperti Tarsitano Hecht dan A.D. Walker mengungkapkan bahwa pendapatnya tentang sejumlah “kemiripan” antara Archaeopteryx dan dinosaurus pada kenyataannya adalah penafsiran yang salah. Semua penemuan ini menunjukkan bahwa Archaeopteryx bukanlah bentuk transisi melainkan hanya sejenis burung yang termasuk kategori “burung bergigi”.


Archaeopteryx dan Fosil-Fosil Burung Purba Lainnya
Selama beberapa dekade evolusionis menyatakan Archaeopteryx sebagai bukti terbesar skenario evolusi burung namun beberapa fosil yang baru ditemukan mengugurkan skenario tersebut. Lianhai Hou dan Zhonghe Zhou dua ahli paleontologi dari Institut Paleontologi Vertebrata Cina pada tahun 1995 menemukan fosil burung baru yang mereka namai Confuciusornis. Usia fosil burung ini hampir sama dengan Archaeopteryx tetapi tidak bergigi.
Selain itu paruh dan bulunya memiliki ciri yang sama dengan burung modern sayap burung ini juga memiliki cakar seperti Archaeopteryx. Pada spesies burung ini dijumpai struktur khusus yang disebut “pygostyle” yang menopang bulu-bulu ekor. Singkatnya burung ini tampak sangat menyerupai burung modern walau hidup semasa dengan Archaeopteryx yang dianggap sebagai nenek moyang tertua dari semua burung dan disebut semi-reptil. Kenyataan ini mengugurkan semua anggapan evolusionis yang menyatakan bahwa Archaeopteryx adalah nenek moyang primitif dari semua burung. Satu fosil lagi yang ditemukan di Cina pada bulan November 1996 telah menimbulkan kebingungan yang lbh besar.


Keberadaan burung berusia 130 juta tahun bernama Liaoningornis ini diumumkan dalam majalah Science oleh Hou Martin dan Alan Feduccia. Liaoningornis memiliki tulang dada tempat menempel otot-otot utk terbang seperti burung modern. Dalam hal lain burung ini juga tidak berbeda dengan burung modern. Yang berbeda hanya giginya. Keadaan ini menunjukkan bahwa burung bergigi tidak memilki struktur primitif sama sekali seperti anggapan evolusionis. Hal ini dinyatakan dalam sebuah artikel Discover “Dari mana burung berasal? Bukan dari Dinosaurus menurut fosil ini”. Fosil lain yang membantah pernyataan evolusionis tentang Archaeopteryx adalah Eoalulavis. Struktur sayap Eoalulavis yang diperkirakan berusia 30 juta tahun lbh muda dari Archaeolteryx juga ditemukan pada burung modern yang terbang dengan lambat.


Ini membuktikan bahwa 120 juta tahun lalu terdapat burung-burung yang dalam banyak aspek tidak berbeda dengan burung modern. Kenyataan ini sekali lagi memastikan bahwa Archaeopteryx atau burung-burung purba lain yang mirip dengannya bukan bentuk-bentuk transisi. Fosil-fosil tersebut tidak menunjukkan bahwa spesies-spesies burung berevolusi dari satu ke yang lain. Bahkan sebaliknya catatan fosil membuktikan bahwa burung modern dan sejumlah burung-burung purba seperti Archaeopteryx ternyata pernah hidup bersama pada satu zaman. Akan tetapi beberapa spesies ini seperti Archaeopteryx dan Confuciusornis telah punah dan hanya sebagian dari spesies-spesies yang pernah ada mampu bertahan hingga sekarang. Ringkasnya beberapa ciri khas Arcahaeopteryx tidak menunjukkan bahwa makhluk ini adalah bentuk transisi! Stephan Jay Gould dan Niels Eldredge dua ahli paleontologi Harvard dan evolusionis terkenal mengakui bahwa Archaeopteryx adalah makhluk hidup yang memiliki “paduan” dari beragam ciri akan tetapi tidak dapat dianggap sebagai bentuk transisi.


Mata Rantai Imajiner antara Burung dan Dinosaurus
Pernyataan yang ingin dikemukakan para evolusionis dengan menampilkan Archaeopteryx sebagai bentuk transisi adalah bahwa burung merupakan hasil evolusi dari dinosaurus. Namun salah seorang ahli ornitologi terkemuka di dunia Alan Feduccia dari Universitas North Carolina menentang teori bahwa burung memiliki kekerabatan dengan dinosaurus sekalipun ia sendiri seorang evolusionis. Berkenaan dengan hal ini Feduccia mengatakan “Saya telah mempelajari tengkorak-tengkorak burung selama 25 tahun dan saya tidak melihat kemiripan apa pun. Saya benar-benar tidak melihatnya..
Pernyataan bahwa Teropoda merupakan nenek moyang burung menurut pendapat saya akan sangat mempermalukan paleontologi abad ke-20.” Larry Martin spesialis burung purba dari universitas Kansas membantah teori bahwa burung berasal dari garis keturunan yang sama dengan dinosaurus. Ketika membahas kontradiksi yang dihadapi evolusi Martin menyatakan “Terus terang jika saya harus mendukung bahwa burung dengan karakteristik tersebut berasal dari dinosaurus saya akan merasa malu tiap kali harus berdiri dan berbicara tentangnya.” Ringkasnya skenario “evolusi burung” yang didasarkan hanya pada Archaeopteryx tidak lbh dari praduga dan angan-angan evolusionis.
Asal-Usul Mamalia
Sebagaimana telah digambarkan teori evolusi menyatakan bahwa beberapa makluk rekaan yang muncul dari laut berubah menjadi reptil dan bahwa burung berasal dari reptil yang berevolusi. Menurut skenario yang sama reptil bukan hanya nenek moyang burung melainkan juga nenek moyang mamalia. Namun struktur reptil dan mamalia sangat berbeda. Reptil bersisik pada tubuhnya berdarah dingin dan berkembang biak dengan bertelur sedangkan mamalia memiliki rambut pada tubuhnya berdarah panas dan bereproduksi dengan melahirkan anak. Sebuah contoh perbedaan struktural antara reptil dan mamalia adalah struktur rahang mereka. Rahang mamalia hanya terdiri dari satu tulang rahang dan gigi-gigi ditempatkan pada tulang ini. Rahang reptil memiliki tiga tulang kecil pada kedua sisinya. Satu lagi perbedaan mendasar mamalia memiliki tiga tulang pada telinga bagian tengah sedangkan reptil hanya memiliki satu tulang.


Evolusionis menyatakan bahwa rahang dan telinga bagian tengah reptil berevolusi sedikit demi sedikit menjadi rahang dan telinga mamalia. Akan tetapi mereka tak mampu menjelaskan bagaimana perubahan ini terjadi. Khususnya pertanyaan utama yang tetap tidak terjawab adalah bagaimana telinga dengan satu tulang berevolusi menjadi telinga dengan tiga tulang dan bagaimana pendengaran tetap berfungsi selama perubahan ini berlangsung. Pantaslah tidak pernah ditemukan satu fosil pun yang menghubungkan reptil dengan mamalia. Inilah sebabnya seorang ahli paleontologi evolusionis Roger Lewin terpaksa berkata”Peralihan menjadi mamalia pertama yang mungkin terjadi dalam satu saja atau maksimal dalam dua garis keturunan masih menjadi teka-teki”.


George Gaylord Simpson salah seorang tokoh utama evolusi dan pendiri teori neodarwinisme berkomentar mengenai fakta yang sangat membingungkan evolusionis ini “Peristiwa paling membingungkan dalam sejarah kehidupan di bumi adalah perubahan dari mesozoic atau zaman reptil ke zaman mamalia. Seakan-akan tirai diturunkan secara mendadak utk menutup panggung di mana seluruh peran utama dimainkan reptil terutama dinosaurus dalam jumlah besar dan keragaman yang menakjubkan. Tirai ini segera dinaikkan kembali utk memperlihatkan panggung yang sama tetapi dengan susunan pemain yang sepenuhnya baru yang sama sekali tidak melibatkan dinosaurus dan reptil lain hanya menjadi figuran dan semua peran utama dimainkan mamalia dari berbagai jenis yang hampir tidak pernah disinggung dalam babak-babak sebelumnya.”
Selain itu ketika mamalia tiba-tiba muncul mereka sudah sangat berbeda satu sama lain. Hewan-hewan yang berbeda seperti kelelawar kuda tikus dan paus semuanya adalah mamalia dan mereka semua muncul pada periode geologi yang sama. Mustahil menarik garis hubungan evolusi di antara mereka bahkan dalam batasan imajinasi yang paling luas sekalipun. Ahli zoologi evolusionis R. Eric Lombard mengemukakan hal ini dalam sebuah artikel majalah Evolution.Mereka yang mencari informasi spesifik yang dibutuhkan dalam menyusun filogeni kelompok-kelompok mamalia akan kecewa. Semua ini menunjukkan bahwa semua makhluk hidup muncul di bumi secara tiba-tiba dan dalam bentuk sempurna tanpa melalui proses evolusi. Ini merupakan bukti nyata bahwa mereka telah diciptakan. Akan tetapi evolusionis berupaya menafsirkan fakta bahwa makhluk hidup muncul dalam suatu urutan sebagai indikasi adanya evolusi. Padahal urutan kemunculan makhluk hidup adalah “urutan penciptaan” karena mustahil membuktikan proses evolusi. Dengan penciptaan agung dan tanpa cacat lautan dan kemudian daratan dipenuhi makhluk hidup dan akhirnya manusia diciptakan.
Bertentangan dengan kisah “manusia kera” yang diindoktrinasikan pada masyarakat luas dengan propaganda media yang gencar, manusia juga muncul di bumi secara tiba-tiba dan dalam keadaaan telah sempurna. Sumber The Evolution Deceit Harun YahyaDiterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Dzikra Telp. 7276475 7232147 E-mail dzikra@syaamil.co.id Al-Islam - Pusat Informasi Dan Komunikasi Indonesia.


Berlanjut ke halaman 4




Orde Burung modern: Klasifikasi (sumber http://en.wikipedia.org/wiki/Bird)

* Anseriformes-unggas air
* Galliformes-unggas
* CHARADRIIFORMES-burung camar, tombol-burung puyuh, plovers dan sekutu
* GAVIIFORMES-burung-burung
* PODICIPEDIFORMES-Grebes
* Procellariiformes-albatrosses, petrels, dan sekutu
* SPHENISCIFORMES-penguin
* Pelecaniformes-pelikan dan sekutu
* Phaethontiformes-tropicbirds
* Ciconiiformes-bangau dan sekutu
* Dunia Baru Cathartiformes-burung nasar
* PHOENICOPTERIFORMES-flamingo
* Falconiformes-burung elang, elang, rajawali dan sekutu
* Gruiformes-crane dan sekutu
* PTEROCLIDIFORMES-sandgrouse
* COLUMBIFORMES-merpati dan burung merpati
* Psittaciformes-Bayan dan sekutu
* CUCULIFORMES-cuckoos dan turacos
* Opisthocomiformes-Hoatzin
* STRIGIFORMES-burung hantu
* CAPRIMULGIFORMES-nightjars dan sekutu
* Apodiformes-Swifts dan kolibri
* Coraciiformes-kingfishers dan sekutu
* Piciformes-burung pelatuk dan sekutu
* TROGONIFORMES-trogons
* COLIIFORMES-mousebirds
* Passeriformes-Passeriformes
Berlanjut ke halaman 5

Penyebaran burung
(Maaf, tulisan pada halaman ini belum dilakukan editing dari penerjemahan langsung melalui google)


Sibley yang berbeda-Monroe klasifikasi (penggolongan / taksonomi Sibley-Ahlquist), berdasarkan data molekular, ditemukan diadopsi secara luas di beberapa aspek, seperti molekuler baru-baru ini, fosil, dan anatomi bukti mendukung Galloanserae misalnya.


Burung hidup dan berkembang biak di habitat paling darat dan di semua tujuh benua, mencapai selatan mereka ekstrem di Salju Petrel's pembiakan koloni hingga 440 kilometer (270 mi) di Antartika pedalaman. keanekaragaman burung tertinggi terjadi di daerah tropis. Saat itu sebelumnya berpikir bahwa ini keragaman tinggi adalah hasil dari tingkat spesiasi lebih tinggi di daerah tropis, namun studi terbaru yang ditemukan lebih tinggi tingkat spesiasi di lintang tinggi yang diimbangi dengan tingkat kepunahan yang lebih besar daripada di daerah tropis. Beberapa keluarga burung memiliki diadaptasi untuk hidup baik di lautan di dunia dan di dalamnya, dengan beberapa spesies burung laut yang datang ke pantai hanya untuk berkembang biak dan beberapa penguin telah direkam menyelam hingga 300 meter (980 kaki).


Banyak jenis burung telah membentuk populasi berkembang biak di daerah-daerah yang mereka telah diperkenalkan oleh manusia. Beberapa dari perkenalan ini telah disengaja; yang Ring-necked Pheasant, misalnya, telah diperkenalkan di seluruh dunia sebagai permainan burung. Lain-lain telah disengaja, seperti pembentukan parkit Monk liar di beberapa kota di Amerika Utara setelah pelarian mereka dari tahanan. Beberapa spesies, termasuk Cattle Egret, Yellow-headed Caracara dan Galah, telah menyebar secara alamiah jauh melebihi rentang asli mereka sebagai praktek pertanian yang dibuat sesuai habitat baru.


Anatomi dan kondisi fisik


Terdiri dari kerangka tulang sangat ringan. Mereka memiliki besar rongga berisi udara (disebut pneumatik rongga) yang terhubung dengan sistem pernapasan. Tulang tengkorak yang menyatu dan tidak menunjukkan jahitan tengkorak. Orbit yang besar dan dipisahkan oleh sekat yang kurus. Memiliki tulang belakang leher, dada, pinggang dan daerah caudal dengan jumlah serviks (leher) vertebra terutama sangat bervariasi dan fleksibel, tapi berkurang dalam gerakan anterior vertebra toraks dan kemudian absen di tulang belakang. Yang terakhir adalah melebur dengan panggul untuk membentuk synsacrum. Rusuk adalah rata dan tulang dada adalah keeled untuk otot penerbangan lampiran kecuali dalam perintah burung terbang. Para forelimbs yang diubah menjadi sayap.


Seperti reptil, burung terutama uricotelic, yaitu ginjal mereka ekstrak limbah nitrogen dari aliran darah dan mengeluarkan mereka sebagai asam urat, bukan urea atau amonia melalui ureter ke dalam usus. Burung tidak memiliki kandung kemih atau uretra eksternal pembukaan dan asam urat diekskresikan bersama feses sebagai limbah semisolid. Namun, seperti burung kolibri dapat facultatively ammonotelic, sebagian besar buang air limbah nitrogen sebagai amonia. Mereka juga mengeluarkan creatine, daripada kreatinin seperti mamalia. Materi ini, serta output dari usus, muncul dari kloaka burung. The kloaka adalah multi-tujuan pembukaan: limbah dikeluarkan melalui itu, burung-burung kawin dengan bergabung kloaka, dan betina bertelur dari itu. Selain itu, banyak spesies burung memuntahkan pellet. Sistem pencernaan burung unik, dengan tanaman untuk penyimpanan dan tenggorok yang berisi batu untuk menggiling menelan makanan untuk mengimbangi kekurangan gigi. Kebanyakan burung sangat disesuaikan untuk pencernaan cepat untuk membantu dengan penerbangan. Beberapa burung migran telah diadaptasi untuk menggunakan protein dari banyak bagian tubuh mereka, termasuk protein dari usus, sebagai tambahan energi selama migrasi.


Burung memiliki salah satu yang paling kompleks sistem pernapasan dari semua kelompok hewan. Setelah inhalasi, 75% dari udara segar bypasses paru-paru dan mengalir langsung ke posterior kantung udara yang memanjang dari paru-paru dan berhubungan dengan ruang-ruang udara dalam tulang dan mengisinya dengan udara. Lain 25% dari udara langsung masuk ke paru-paru. Ketika burung mengembuskan napas, udara yang digunakan mengalir keluar dari paru-paru dan udara segar yang disimpan dari kantung udara posterior secara bersamaan dipaksa masuk ke dalam paru-paru. Dengan demikian, paru-paru burung terus-menerus menerima suplai udara segar selama kedua menghisap dan membuang napasnya. Produksi suara dicapai dengan menggunakan Syrinx, sebuah ruang berotot menggabungkan beberapa membran timpani yang menyimpang dari ujung bawah trakea. Jantung burung memiliki empat kamar dan hak lengkungan aorta menimbulkan sirkulasi sistemik (tidak seperti di mamalia di mana lengkungan kiri yang terlibat). The postcava menerima darah dari anggota tubuh melalui sistem portal ginjal. Tidak seperti pada mamalia, sel-sel darah merah pada unggas mempunyai nukleus.


Sistem saraf besar relatif terhadap ukuran burung. Yang paling berkembang bagian otak adalah salah satu yang mengontrol fungsi-fungsi yang berhubungan dengan penerbangan, sementara gerakan koordinat serebelum dan serebrum kontrol pola-pola tingkah laku, navigasi, kawin dan membangun sarang. Kebanyakan burung memiliki indera penciuman miskin dengan pengecualian termasuk kiwi, burung bangkai Dunia Baru dan tubenoses. Avian sistem visual biasanya sangat maju.


Burung air fleksibel khusus lensa, memungkinkan akomodasi untuk penglihatan di udara dan air. Beberapa spesies juga memiliki dual fovea. Burung tetrachromatic, memiliki ultraviolet (UV) sensitif sel-sel kerucut pada mata serta hijau, merah dan biru. Hal ini memungkinkan mereka untuk melihat sinar ultraviolet, yang terlibat dalam pacaran.


Banyak burung menunjukkan pola bulu ultraviolet yang tak terlihat mata manusia; beberapa burung jenis kelamin yang muncul mirip dengan mata telanjang dibedakan dengan adanya reflektif ultraviolet tambalan di bulu mereka. Male Blue Tits memiliki mahkota reflektif ultraviolet patch yang ditampilkan dalam berpacaran oleh sikap dan meningkatkan bulu tengkuk mereka. Sinar ultraviolet juga digunakan dalam mencari makan-Kestrels telah terbukti untuk mencari mangsa dengan mendeteksi urin reflektif UV meninggalkan jejak tanda di tanah oleh tikus.
Kelopak mata seekor burung tidak digunakan dalam berkedip. Sebaliknya mata adalah nictitating dilumasi oleh membran, kelopak mata ketiga yang bergerak secara horizontal. Nictitating membran yang juga mencakup mata dan bertindak sebagai lensa kontak di banyak perairan burung. Retina burung memiliki kipas berbentuk sistem suplai darah yang disebut pecten. Kebanyakan burung tidak bisa bergerak mata mereka, walaupun ada pengecualian, seperti Great Cormorant.


Burung dengan mata di sisi kepala mereka memiliki berbagai bidang visual, sementara burung dengan mata di bagian depan kepala mereka, seperti burung hantu, memiliki visi teropong dan dapat memperkirakan kedalaman lapangan. Tidak memiliki telinga avian pinnae eksternal tetapi ditutupi oleh bulu-bulu, meskipun di beberapa burung, seperti Asio, Otus Bubo dan burung hantu, bulu-bulu tersebut membentuk gumpalan yang menyerupai telinga. Telinga bagian dalam memiliki siput, tetapi tidak spiral seperti pada mamalia.


Beberapa spesies dapat menggunakan pertahanan kimia terhadap predator; beberapa Procellariiformes dapat mengeluarkan minyak yang tidak menyenangkan terhadap agresor, dan beberapa spesies dari New Guinea pitohuis punya racun saraf yang sangat kuat dalam kulit dan bulu.
Kromosom


Burung memiliki dua jenis kelamin: laki-laki dan perempuan. Burung jenis kelamin ditentukan oleh Z dan W seks kromosom, bukan oleh kromosom X dan Y ada di mamalia. Burung laki-laki memiliki dua kromosom Z (ZZ), dan burung-burung betina memiliki kromosom W dan Z kromosom (WZ).


Dalam hampir semua jenis burung, jenis kelamin seorang individu ditentukan pada fertilisasi. Namun, satu studi baru-baru ini bergantung pada suhu menunjukkan penentuan seks di antara Australia Brush-kalkun, yang selama inkubasi suhu yang lebih tinggi mengakibatkan perempuan yang lebih tinggi untuk rasio jenis kelamin laki-laki. Berlanjut ke halaman 6


Bulu, dan sisik
(Maaf, tulisan pada halaman ini belum dilakukan editing dari penerjemahan langsung melalui google)


Bulu adalah sebuah fitur karakteristik burung (meskipun juga hadir dalam beberapa dinosaurus saat ini tidak dianggap benar burung). Mereka memfasilitasi penerbangan, menyediakan insulasi yang membantu dalam termoregulasi, dan digunakan di layar, kamuflase, dan sinyal. Terdapat beberapa jenis bulu, setiap porsi set sendiri tujuan. Pertumbuhan epidermis bulu yang menempel pada kulit dan muncul hanya dalam kulit tracts spesifik disebut pterylae. Pola distribusi bulu ini traktat (pterylosis) digunakan dalam taksonomi dan sistematika. Pengaturan dan penampilan bulu pada tubuh, yang disebut bulu burung, mungkin berbeda dalam spesies oleh usia, status sosial, dan seks.


Bulu secara teratur moulted; standar bulu burung yang berkembang biak moulted setelah dikenal sebagai "non-peternakan" bulu, atau - dalam terminologi Humphrey-Parkes - "dasar" bulu; pembiakan plumages atau variasi bulu dasar yang dikenal dengan Humphrey-sistem Parkes sebagai "alternatif" plumages. Moulting adalah tahunan di kebanyakan spesies, walaupun beberapa mungkin memiliki dua moults setahun, dan burung-burung pemangsa besar mungkin meranggas hanya sekali setiap beberapa tahun. Pola Moulting bervariasi di antara spesies. Dalam Passeriformes, bulu penerbangan diganti satu per satu waktu dengan dasar terdalam menjadi yang pertama. Ketika kelima dari keenam utama diganti, tertiaries terluar mulai turun. Setelah tertiaries terdalam adalah moulted, yang sekunder mulai dari yang terdalam mulai drop dan hasil ini untuk bulu luar (sentrifugal meranggas).


Semakin besar bulu primer adalah selaras dengan moulted utama overlap. Sejumlah kecil spesies, seperti bebek dan angsa, kehilangan semua bulu penerbangan mereka sekaligus, sementara menjadi terbang. Sebagai aturan umum , ekor dan bulu tersebut diganti moulted dimulai dengan pasangan terdalam. sentripetal dari moults Namun bulu ekor yang terlihat di Phasianidae. The sentrifugal meranggas ini dimodifikasi dalam bulu ekor burung pelatuk dan treecreepers, dalam arti bahwa hal itu dimulai dengan sepasang terdalam kedua bulu dan diakhiri dengan sepasang pusat bulu burung sehingga mempertahankan memanjat fungsional ekor. Pola umum terlihat di Passeriformes adalah bahwa pemilihan pendahuluan diganti lahiriah, sekunder ke dalam, dan ekor dari pusat ke luar. Sebelum bersarang, betina sebagian besar jenis burung mendapatkan merenung telanjang patch oleh kehilangan bulu dekat dengan perut. Kulit ada baik disertakan dengan pembuluh darah dan membantu burung di inkubasi.
Nuri merah kuning tagihan dan sayap bulu di tagihan


Bulu burung memerlukan pemeliharaan dan bersolek atau laki-laki mereka setiap hari, pengeluaran rata-rata sekitar 9% dari waktu sehari-hari mereka ini. RUU ini digunakan untuk menyeka partikel asing dan menerapkan lilin uropygial sekresi dari kelenjar; sekresi ini melindungi bulu-bulu 'fleksibilitas dan bertindak sebagai agen antimikroba, menghambat pertumbuhan bakteri bulu-merendahkan martabat. Hal ini dapat dilengkapi dengan sekresi dari asam format dari semut, yang burung terima melalui perilaku yang dikenal sebagai anting, untuk menghilangkan bulu parasit .


Timbangan burung terdiri dari keratin yang sama seperti paruh, cakar, dan taji. Mereka ditemukan terutama pada jari kaki dan metatarsus, tetapi mungkin ditemukan lebih lanjut di atas pergelangan kaki di beberapa burung. Kebanyakan burung sisik tidak tumpang tindih signifikan, kecuali dalam kasus kingfishers dan burung pelatuk. Timbangan burung dianggap homolog kepada mereka reptil dan mamalia.


Terbang


Sebagian besar burung bisa terbang, yang membedakan mereka dari hampir semua kelas vertebrata lain. Penerbangan adalah sarana utama penggerak bagi sebagian besar jenis burung dan digunakan untuk berkembang biak, makan, dan pemangsa menghindari dan melarikan diri. Burung memiliki berbagai penyesuaian untuk penerbangan, termasuk kerangka yang ringan, dua penerbangan besar otot, yang pectoralis, yang menyumbang 15% dari total massa burung, dan supracoracoideus, serta yang dimodifikasi forelimb (sayap) yang berfungsi sebagai aerofoil. Wing bentuk dan ukuran umumnya menentukan jenis burung 'jenis penerbangan; banyak burung menggabungkan powered, mengepak penerbangan dengan kurang energi-intensif penerbangan melonjak. Masih ada sekitar 60 spesies burung terbang, seperti juga banyak burung punah. terbang sering muncul pada burung di pulau-pulau terpencil, mungkin karena sumber daya yang terbatas dan tidak adanya predator tanah. Meskipun terbang, penguin menggunakan otot-otot dan gerakan serupa untuk "terbang" melalui air, seperti halnya auks, shearwaters dan dippers.


Kebanyakan burung diurnal, tetapi beberapa burung, seperti banyak spesies burung hantu dan nightjars, aktif di malam hari atau kusam (aktif selama senja jam), dan banyak makan Waders pantai saat pasang surut sesuai, siang atau malam hari.
Diet dan makan


Birds 'diet yang bervariasi dan sering termasuk nektar, buah-buahan, tanaman, biji-bijian, bangkai, dan berbagai hewan kecil, termasuk burung-burung lain. Karena burung tidak memiliki gigi, sistem pencernaan mereka disesuaikan untuk memproses makanan unmasticated item yang menelan seluruh .


Burung yang mempekerjakan banyak strategi untuk mendapatkan makanan atau memberi makan pada berbagai makanan disebut generalis, sementara yang lain bahwa waktu dan usaha yang berkonsentrasi pada makanan tertentu atau memiliki satu strategi untuk mendapatkan makanan yang dianggap ahli. Burung 'strategi pemberian makanan berbeda di setiap spesies. Banyak burung memungut serangga, invertebrata, buah, atau biji. Beberapa berburu serangga dengan tiba-tiba menyerang dari cabang. Nektar pengumpan seperti kolibri, sunbirds, lories, dan lorikeets antara lain memiliki lidah seperti sikat khusus diadaptasi dan dalam banyak kasus tagihan yang dirancang untuk memenuhi diadaptasi bersama-bunga. Kiwi dan shorebirds dengan tagihan panjang probe untuk invertebrata; shorebirds 'tagihan bervariasi panjang dan metode makan mengakibatkan pemisahan pasar khusus ekologi. burung-burung, menyelam itik, penguin dan auks mengejar mangsanya di bawah air, dengan menggunakan sayap atau kaki mereka untuk propulsi, sementara udara predator seperti sulids, kingfishers dan Terns terjun menyelam setelah mangsanya. Flamingo, tiga spesies prion, dan beberapa itik adalah filter feeder. Angsa dan berkecimpung itik adalah terutama grazers.


Beberapa spesies, termasuk frigatebirds, burung camar, dan skuas, terlibat dalam kleptoparasitism, mencuri makanan dari burung lain. Kleptoparasitism adalah dianggap sebagai suplemen makanan yang diperoleh dengan berburu, bukan merupakan bagian penting dari setiap jenis 'diet; sebuah studi Frigatebirds Great Boobies mencuri dari Masked Diperkirakan bahwa mencuri frigatebirds paling banyak 40% dari makanan mereka dan rata-rata hanya mencuri 5%. burung lainnya pemulung, beberapa di antaranya, seperti burung pemangsa, adalah pemakan bangkai khusus, sementara yang lain, seperti burung camar, corvids, atau burung pemangsa, adalah oportunis.


Berlanjut ke halaman 7


Air dan minum
(Maaf, tulisan pada halaman ini belum dilakukan editing dari penerjemahan langsung melalui google)


Air yang dibutuhkan oleh banyak burung walaupun cara mereka dan kurangnya ekskresi kelenjar keringat mengurangi tuntutan fisiologis. Beberapa burung gurun dapat memperoleh kebutuhan air sepenuhnya dari uap air dalam makanan mereka. Mereka mungkin juga memiliki adaptasi lainnya seperti membiarkan suhu tubuh mereka naik, menghemat kerugian dari menguapkan uap air cooling atau terengah-engah. burung laut dapat minum air laut dan memiliki kelenjar garam di dalam kepala yang menghilangkan kelebihan garam keluar dari lubang hidung.


Kebanyakan burung air scoop di paruh mereka dan mengangkat kepala mereka untuk membiarkan air mengalir ke dalam tenggorokan. Beberapa spesies, terutama dari zona kering, milik merpati, finch, mousebird, tombol-puyuh dan keluarga Bustard mampu menyedot air tanpa harus miring ke belakang kepala mereka. Beberapa burung gurun tergantung pada sumber air dan sandgrouse terutama terkenal sehari-hari mereka di waterholes jemaat. Nesting sandgrouse membawa air untuk anak-anak mereka dengan membasahi perut mereka.


Beberapa burung gurun bergantung pada sumber air dan sandgrouse sangat terkenal sehari-hari mereka di waterholes jemaat. Nesting sandgrouse membawa air untuk anak-anak mereka dengan membasahi bulu-bulu perut mereka.


Migrasi


Banyak jenis burung yang bermigrasi untuk mengambil keuntungan dari perbedaan global musiman suhu, sehingga mengoptimalkan ketersediaan sumber makanan dan perkembangbiakan habitat. Perpindahan ini bervariasi di antara kelompok-kelompok yang berbeda. Banyak landbirds, shorebirds, dan tahunan waterbirds melakukan migrasi jarak jauh, biasanya dipicu oleh panjang siang hari serta kondisi cuaca. Burung ini dicirikan oleh musim kawin dihabiskan di beriklim atau arktik / antartika daerah dan non-musim kawin di daerah tropis atau belahan bumi yang berlawanan. Sebelum migrasi, burung-burung dapat meningkatkan lemak tubuh dan cadangan dan mengurangi ukuran beberapa organ mereka. Migrasi sangat menuntut penuh semangat, terutama sebagai kebutuhan burung padang pasir dan menyeberangi lautan tanpa pengisian bahan bakar.


Landbirds memiliki kisaran penerbangan sekitar 2.500 km (1.600 mi) dan shorebirds bisa terbang hingga 4.000 km (2.500 mi), meskipun Bar-tailed Godwit mampu penerbangan non-stop hingga 10.200 km (6.300 mi ). burung laut lama juga melakukan migrasi, migrasi tahunan yang paling lama menjadi orang-orang yang Sooty Shearwaters, yang bersarang di Selandia Baru dan Chili dan menghabiskan musim panas utara makan di Pasifik Utara dari Jepang, Alaska dan California, perjalanan putaran tahunan dari 64.000 km (39.800 mi). lain bubar setelah penangkaran burung laut, bepergian secara luas tetapi tidak memiliki rute migrasi ditetapkan. Albatrosses bersarang di Samudra Selatan melingkari sering melakukan perjalanan antara musim perkembangbiakan.
Peta Samudra Pasifik dengan beberapa baris berwarna yang mewakili rute burung berlari dari Selandia Baru ke Korea.


Beberapa jenis burung yang melakukan migrasi lebih pendek, hanya bepergian sejauh diperlukan untuk menghindari cuaca buruk atau memperoleh makanan. Irruptive spesies seperti finch boreal adalah satu kelompok seperti itu dan biasanya dapat ditemukan di lokasi yang dalam satu tahun dan tidak ada berikutnya. Migrasi jenis ini biasanya terkait dengan ketersediaan makanan. Spesies mungkin juga perjalanan jarak pendek di atas bagian dari jangkauan mereka, dengan individu-individu dari lintang tinggi bepergian ke kisaran yang ada conspecifics; orang lain melakukan migrasi parsial, di mana hanya sebagian kecil dari populasi, biasanya subdominant perempuan dan laki-laki, bermigrasi.


Partial migrasi dapat membentuk suatu persentase besar dari perilaku migrasi burung di beberapa daerah; di Australia, survei menemukan bahwa 44% dari non-berkenaan dengan burung gereja burung dan 32% dari Passeriformes adalah sebagian migrasi. Altitudinal migrasi adalah suatu bentuk migrasi jarak pendek di mana burung-burung menghabiskan musim kawin pada ketinggian ketinggian yang lebih tinggi dan pindah ke yang lebih rendah selama kondisi suboptimal. Hal ini paling sering dipicu oleh perubahan suhu dan biasanya terjadi ketika wilayah normal juga menjadi tidak ramah karena kekurangan makanan. Beberapa spesies mungkin juga nomaden, tidak memegang wilayah tetap dan bergerak sesuai dengan cuaca dan ketersediaan pangan. Parrots sebagai sebuah keluarga yang sangat banyak tidak berpindah atau berpindah-pindah tetapi dianggap berupa dispersif, irruptive, nomaden atau melakukan migrasi kecil dan tidak beraturan.


Kemampuan burung untuk kembali ke lokasi tepat di jarak yang luas telah dikenal selama beberapa waktu, dalam percobaan yang dilakukan pada 1950-an yang Manx Shearwater dirilis di Boston kembali ke koloni di Skomer, Wales dalam waktu 13 hari, yang berjarak 5.150 km ( 3.200 mi). Burung menavigasi selama migrasi menggunakan berbagai metode. Untuk diurnal migran, matahari digunakan untuk menavigasi siang hari, dan sebuah bintang kompas digunakan pada malam hari. Burung yang menggunakan matahari mengkompensasi perubahan posisi matahari di siang hari dengan menggunakan clock internal. Orientasi kompas dengan bintang tergantung pada posisi dari rasi bintang Polaris sekitarnya. ini yang didukung di beberapa spesies oleh kemampuan mereka untuk merasakan Bumi geomagnetism melalui fotoreseptor khusus.


Burung terutama berkomunikasi menggunakan sinyal visual dan pendengaran. Sinyal dapat antarspesies (antara spesies) dan intraspecific (dalam spesies).
Burung kadang-kadang menggunakan bulu untuk menilai dan menegaskan dominasi sosial, untuk menampilkan kondisi peternakan di spesies yang dipilih secara seksual, atau untuk membuat display yang mengancam, seperti dalam Sunbittern's mimikri dari pemangsa besar untuk menangkis elang dan melindungi anak ayam muda. variasi dalam bulu juga memungkinkan untuk identifikasi burung, terutama antar spesies. Visual komunikasi di antara burung-burung mungkin juga melibatkan ritualised display, yang telah dikembangkan dari non-isyarat tindakan seperti bersolek, penyesuaian dari posisi bulu, mengetik, atau perilaku lain. Ini tampilan mungkin sinyal agresi atau penyerahan atau dapat berkontribusi untuk pembentukan pasangan-obligasi. yang paling rumit menampilkan terjadi selama masa pacaran, di mana "tarian" sering terbentuk dari kombinasi kompleks banyak kemungkinan komponen gerakan; laki-laki ' perkembangbiakan kesuksesan mungkin tergantung pada kualitas display tersebut.


Burung panggilan dan lagu, yang dihasilkan dalam Syrinx, adalah sarana utama yang berkomunikasi dengan suara burung. Komunikasi ini dapat menjadi sangat kompleks; beberapa spesies dapat mengoperasikan dua sisi Syrinx secara independen, yang memungkinkan produksi secara simultan dari dua lagu yang berbeda. Panggilan akan digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk daya tarik pasangan, evaluasi potensi teman, ikatan formasi, mengklaim dan pemeliharaan dari daerah-daerah, identifikasi individu lain (seperti ketika orangtua mencari cewek-cewek di koloni atau ketika teman-teman bersatu kembali pada awal musim kawin) , dan peringatan burung potensial lainnya predator, kadang-kadang dengan informasi spesifik tentang sifat ancaman. Beberapa burung juga menggunakan suara untuk pendengaran mekanis komunikasi. Snipes yang Coenocorypha Selandia Baru drive udara melalui bulu-bulu mereka, pelatuk drum teritorial, dan Palm Kakatua menggunakan alat-alat untuk drum. (Maaf, tulisan pada halaman ini belum dilakukan editing dari penerjemahan langsung melalui google).

Selasa, 30 Maret 2010

Foto-foto burung kolibri

Kolibri termasuk dalam keluarga Trochilidae. Mereka masuk dalam kelompok burung kecil, dan salah satu jenis kolibri yakni Kolibri Lebah, adalah burung terkecil di dunia yang pernah ditemuka. Mereka dapat melayang-layang di udara dengan mengepakkan sayapnya 12-90 kali per detik (tergantung dari spesies). Mereka juga dapat terbang mundur, dan merupakan satu-satunya kelompok burung yang bisa melakukan hal itu melakukannya. Nama Inggris mereka diambil dari karakteristik dengungan yang dibuat oleh sayap yang mereka kepakkan dengan cepat. Kolibri dapat terbang dengan kecepatan lebih dari 15 m/ detik (54 km / jam, 34 mil / jam).


Kolibri minum nektar, cairan manis di dalam bunga. Seperti lebah, mereka mampu menilai jumlah gula dalam nektar yang mereka makan; mereka tidak mendekati jenis bunga yang menghasilkan madu yang kadar gulanya kurang dari 10% dan lebih menyukai bunga dengan kadar gula yang tinggi. Nektar adalah sumber makanan yang miskin nutrisi, sehingga kolibri memenuhi kebutuhan protein, asam amino, vitamin, mineral, dll dengan makan serangga dan laba-laba, terutama ketika mereka memberi makan anak-anaknya.


Kebanyakan kolibri memiliki paruh yang panjang dan lurus atau hampir lurus, tapi dalam beberapa jenis bentuk paruhnya pendek sebagai kebutuhan untuk memberi makan anak-anaknya. Ketika kolibri memakan nektar, paruh hanya dibuka sedikit, dan dia memasukkan palung seperti lidah yang bagai anak panah menusuk keluar dan masuk ke bagian dalam bunga untuk mengambil nektar.


Seperti burung pemakan nektar lainnya dan tidak seperti burung-burung jenis lain, kolibri minum dengan menggunakan protrusible berlekuk atau palung-seperti lidah. Kolibri tidak menghabiskan sepanjang harinya dengan terbang, karena akan menyedot banyak energi, dan sebagian besar kegiatan mereka hanya duduk atau bertengger. Kolibri harus banyak makan, dan mereka makan banyak invertebrata kecil dalam makan nektar dalam jumlah lima kali berat badan mereka sendiri dalam sehari. Mereka menghabiskan rata-rata 10-15% dari waktu mereka untuk makan dan 75-80% untuk bertengger dan mencerna makanan.


Dengan pengecualian serangga, kolibri yang bisa mencapai usia 10-12 tahun ini memiliki proses metabolisme tertinggi di antara makhluk yang bisa terbang dan ini merupakan kebutuhan dalam rangka mendukung gerak cepat sayap mereka. Denyut jantung kolibri dapat mencapai 1.260 kali per menit.Burung kolibri harus mengunjungi ratusan bunga dalam keseharian mereka untuk kebutuhan makan. Kolibri mampu memperlambat metabolisme mereka pada malam hari, atau kapan pun ketika makanan tidak tersedia. Lihat artikel lain tentag kolibri di artikel: Burung kolibri harus konsumsi bahan pangan 5 kali berat badannya.


Berikut ini galeri foto kolibri. Untuk melihat secara lebih jelas, klik saja salah satu gambar di dalam galeri. Selanjunya, klik icon gambac di samping kanan atau kiri bawah Anda.


GALERI I:




[gallery columns="4" orderby="rand"]

Galeri gambar kolibri atau hummingbird. Sumber foto: http://www.shutterstock.com

Minggu, 28 Maret 2010

Lintang Songo BF mendapat ijin penangkaran dan komersial Jalak Bali




Anakan-anakan siap jual Lintang Songo BF


Setelah melalui usaha yang panjang, akhirnya Lintang Songo Bird Farm milik teman Om Kicau, Ir. Samino, Solo, secara resmi mendapat ijin untuk menangkarkan dan mengedarkan (usaha komersial) jalak bali atau Leucopsar rothschildi.


Pada saat ini UD Lintang Songo telah mengantungi ijin penangkaran dari Balai Konservasi Sumber Data Alam (BKSDA) dengan SK.32/IV.K13/PKHM/2010 Tanggal 8 Februari 2010.
Beralamat di Jalan Mulwo No. 16 RT 02 RW 09 Karangasem, Laweyan Solo, Lintang Songo BF mengawali sukses penangkaran sejak pertengahan dekade 1990, dengan berbagai jenis burung, antara lain anis kembang, kacer, murai batu, jalak suren, jalak putih, cucakrowo dan cucak ijo.


Karena ingin berkonsentrasi agar mencapai hasil terbaik untuk penangkaran maupun burung hasil tangkarannya, Lintang Songo BF saat ini membatasi diri menangkarkan secara intensif burung cucakrowo dan jalak bali.


Lintang Songo merintis usaha penangkaran dimulai dari tahun 1998 dengan jenis satwa jalak uren dan tahun 2006 UD. Lintang Songo mendatangkan/membeli anakan jalak bali dari penangkaran UD Star Jaya Surakarta dan PD Maju Terus Bandung.yang diperuntukan sebagai Indukan Penangkaran.


Menurut Mas Samino, dorongan mengusahakan penangkaran satwa jenis jalak bali dari hasil penangkaran adalah membantu Pemerintah dalam upaya konservasi jenis dan mengembangbiakan jenis satwa langka yang terancam bahaya kepunahan. "Selain itu, satwa jalak bali memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi serta prospek kedepan yang menjanjikan," kata dia.


Dia berharap pada tahun-tahun mendatang, dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan jenis satwa yang dilindungi melalui penangkaran, jalak bali dapat berkembang di mana-mana dengan pesat. "Selain tidak akan mengganggu keberadaan satwa alam di habitatnya, harga jalak bali tidak mahal lagi sehingga dapat dimiliki oleh banyak orang dari hasil penangkaran," tegasnya.


Anda berminat? Ya silakan saja kunjungi website Mas Samino di Lintang Songo.Com.

Jumat, 26 Maret 2010

Harga burung, antara pasar burung Muntilan dan Ambarawa

[caption id="attachment_11780" align="alignleft" width="300" caption="Pasar Pon (Pasar Hewan) Ambarawa (Foto:http://kembarrabbit.blogspot.com)"][/caption]

Hunting burung di pasar burung, bagi penghobi burung adalah kesenangan tersendiri. Ada seni tersendiri. Baik seni menawar, maupun seni "mencuri dengar" suara burung yang belum sempat didengarkan penjualnya. Lho kok? Ya, itu ada cerita tersendiri. Saya sekarang mau cerita dulu tentang dua pasar burung yang terkenal masih "miring" harganya, alias lebih murah dibandingkan harga burung di tempat lain dan satu pasar lagi yang relatif sudah mahal dibanding di pasar burung kota lain. Dua pasar yang mau saya ceritakan adalah pasar burung Ambarawa dan pasar burung Muntilan. Keduanya di Jawa Tengah.


Saya sendiri sering heran, meskipun pasar burung Ambarawa berada di "pelosok" (Kecamatan Ambarawa masuk Kabupaten Semarang), justru di pasar itu sering ditemui burung-burung yang tidak bisa ditemukan di pasar burung yang lebih besar, Pasar Burung Depok Solo misalnya.


Di Pasar Amvarawa, pernah ada pedagang yang menjajakan Gouldamadine, Green Siskin dan Red Siskin (jenis finch/ gelatik), yang sering diburu penangkar untuk disilangkan dengan kenari. Di pasar yang berjarak sekitar 1 km dari Bawen, dan berada di sebelah timur Kota Ambarawa ini, juga sering banyak dijual burung-burung "jadi" dengan harga murah. Ada cucakrowo yang sudah gacor bahkan hanya dijual dengan harga Rp. 2,5 juta. Padahal kalau di Pasar Burung Depok atau di Pasar Burung Karimata Semarang misalnya, bisa jadi burung seperti itu sudah dibandrol Rp. 5 juta.


Di pasar burung Ambarawa, yang biasanya ramai pada pasaran Pon (penanggalan Jawa),  bisa kita dapati ayam hutan, tledekan atau sulingan, decu, kacer hitam dan beberapa jenis burung lokal dengan harga murah. Harga beberapa jenis burung yang saya sebut terakhir itu relatif murah karena memang burung-burung tersebut memiliki habitat di wilayah seputaran Ambarawa.


Namun Anda jangan berharap bisa mendapatkan harga murah untuk burung-burung baru/bakalan yang datangnya dari wilayah lain, misalnya bakalan anis merah, bakalan cucakrowo atau bakalan cucak hijau. Harga burung jenis-jenis itu bisa lebih mahal ketimbang Pasar Depok Solo atau Karimata Semarang. Anehnya, untuk burung-burung anis merah, cucak ijo atau cucakrowo yang relatif sudah jadi (jika pas tersedia), harga burung di sini lebih murah ketimbang harga burung jadi di pasar-pasar burung kota besar.


Mengapa harga burung yang sudah gacor justru murah di Ambarawa ketimbang di Solo misalnya? Ada kemungkinan disebabkan burung jadi memang "kurang peminatnya" di sana. Para penghobi di seputaran kota kecil itu, umumnya merasa lebih baik membeli bakalan dan kemudian membesarkannya atau menjadikannya gacor.


Tetapi ya itu, namanya penghobi burung kebanyakan mudah bosan dengan satu dua burung dan ingin memelihara burung lainnya. Ketika dana mepet atau terbatas, maka biasanya mereka menjual burung yang sudah jadi untuk mendapatkan dua-tiga ekor burung bakalan. Biasanya, burung yang sudah jadi itu dijual dengan harga "asal dapat dua-tiga burung bakalan". Artinya, mereka mau dibayar berapa saja yang penting dapat dana untuk membeli burung bakalan.


Penyebab kondisi itu antara lain juga karena kurangnya sarana latihan bersama para penghobi untuk mencoba burung-burung mereka. Dengan kerterbatasan kesempatan latihan bersama, maka di antara mereka sangat kurang kesempatan untuk berkomunikasi, misalnya untuk saling berjual-beli burung dengan "harga sesama penghobi". Karena itulah mereka terbiasa menjual burung ke pedagang di pasar. Harganya pun, seperti Anda tahu, akan diharga "bantingan" oleh pedagang di pasar burung.


Ya kalahnya penghobi burung memang pada "kesenangan" itu sendiri. Kalau kita punya keinginan membeli burung, wah semua "daya upaya" kita keluarkan. Begitu bosan dengan burung tertentu dan jatuh cinta ke burung lain, maka burung lama akan dijual murah asal bisa memperoleh dana tambahan untuk membeli burung baru yang sedang jadi idaman.


Pasar Muntilan


Nah sekarang saya mau cerita tentang pasar burung Muntilan. Pasar burung yang ramai pada hari pasaran Pon dan Kliwon (terutama jika jatuh hari Sabtu atau Minggu) ini, dulu juga memiliki karakter pengunjung dan pedagang yang sama dengan pasar burung Ambarawa. Dulu di pasar ini harga burung-burung jadi dan burung-burung lokal relatif murah. Namun sekarang ini, minimal menurut cerita Om Budi, kawan penghobi burung yang aseli Boyolali tetapi sekarang tinggal di Muntilan, harga burung di pasar Muntilan rata-rata sudah tinggi.


Menurut dia, para penghobi burung di seputaran Muntilan dan Magelang, sudah "mematok tinggi" harga burung. "Sekarang bawa uang satu juta rupiah untuk cari murai batu sumatera yang sudah bunyi nggak akan dapat," kata Om Budi.


Menurut Om Budi, terutama di pasar burung Magelang, kalau ada murai batu sudah bunyi, pedagang akan menawarkan dengan harga di atas Rp. 2 juta. "Penghobi burung Magelang rata-rata punya gengsi tinggi. Makanya harga burung di sana relatif tinggi, mengalahkan harga burung di Pasar Depok Solo," katanya.


Nah itulah cerita tentang dua pasar burung di Ambarawa dan Muntilan.


Mencuri kesempatan


Sekarang saya mau cerita seninya hunting burung di pasar dan kesenangan yang kita peroleh kalau kita berhasil mendapatkan burung bagus dengan harga murah. Hal ekstrim yang bisa saya ceritakan di sini adalah pengalaman saya membeli sepasang burung cucakrowo di Pasar Burung Karimata, di kios Pak Tholib (belakangan aktif jadi juri lomba di wilayah Jateng).


Waktu itu tahun 1992 atau 1993 saya tidak begitu pasti, harga bakalan cucak rowo masih Rp. 70.000/ekor. Saya saat itu benar-benar sedang gila dengan cucakrowo. Dan menumpuk beberapa ekor cucakrowo di rumah.


Begitu datang di Karimata dan saya belum sempat melihat-lihat burung, Pak Tholib sudah merangkul saya sambil berkata, "Mas, ada cucakrowo bagus. Pasangan. Lihat tuh," kata dia. Sayapun melihatnya dan dengan sedikit bersiul kedua burung cucakrowo itu mengangkat bunyi bersahutan. Baru mendengar sekilas, saya lalu bilang oke. Jadilah sepasang cucakrowo itu saya bayar Rp. 425.000.


Pendengaran saya mengatakan bahwa salah satu burung itu, yang betina, bersuara ropel meski saya hanya mendengar sekilas. Dan memang, burung yang bersuara murni ropel, akan terdengar ropelannya meski hanya baru angkatan dan meski juga sedang bersahutan dengan pasangannya (suara nggandheng).


Sesampai rumah, kedua burung itu saya pisah. Yah, benar ternyata. Yang betina bersuara full ropel. Keesokan harinya, yang jantan saya jual kembali ke Pak Tholib seharga Rp. 200.000. Artinya, saya beli betinanya Rp. 225.000. Tetapi saya tidak cerita mengenai burung itu ke Pak Tholib meski akhirnya belakangan dia tahu juga setelah diberitahu Pak Hartono, waktu itu Ketua PBI Sragen. Ceritanya begini....


Dua atau tiga hari setelah saya mendapat cucakrowo ropel, datang banyak sekali bakalan cucakrowo di tempat Pak Tholib. Karena dana kosong tetapi hati ngebet, maka saya pun pasang iklan jual burung di Suara Merdeka, koran tempat saya bekerja saat itu. "Dijual Cucakrowo ropel.... bla-bla-bla", maka berdatangnlah calon pembeli ke rumah saya di Banyumanik.


Banyak yang datang dengan kecele karena burung tidak juga mau bunyi karena seperti terlihat stress karena dipisah dari pasangannya. Atau burung hanya bunyi sebentaran dan mereka merasa tidak yakin kalau burung itu ropel. Ya sudah, silakan pergi, begitu kata saya dalam hati kalau ada orang yang tidak bisa menanda suara cucakrowo ropel tetapi pengin mendengar suara ropel. Percuma, pikir saya.


Datanglah kemudian calon pembeli yang belakangan saya tahu adalah Pak Hartono, Ketua PBI Sragen. "Mana burungnya Mas? tanyanya. Setelah saya tunjukkan burung cucakrowo yang mungil (ya burungnya relatif kecil untuk ukuran cucakrowo), kami ngobrol sembari menunggu cucakrowo bunyi.


Tak lama kemudian, cucakrowo itu pun mengangkat suara. Hanya terdengar sebentar, ya hanya angkatannya saja. Tetapi Pak Hartono langsung bangkit dari duduk dan bertanya, "harga pas berapa Mas?".  Saya ulangi lagi, "Itu sudah pas Pak, satu setengah juta," kata saya.


Tawar-menawar tak berlangsung lama dan harga deal tetap Rp. 1,5 juta rupiah. Yaah, akhirnya dapat juga dana untuk beli bakalan cucakrowo. Burung satu bisa saya gunakan untuk membeli lebih dari 20 burung cucakrowo bakalan.


Dan apa kata Pak Tholib setelah medengar cerita dari Pak Hartono ketika keduanya bertmu di Karimata? "Hoalah dasarrrr... iki jenenge bakul kapusan karo pembeli (dasar... ini namanya pedagang ketipu sama pembeli)," sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.


Saya hanya bisa terbahak-bahak sambil tidak lupa memberi lagi "persen" ke Pak Tholib Rp. 100.000 (yang saat itu bisa untuk membeli bakaln cucakrowo plus kandang yang bagus). Saya perlu memberi dia tips agar kali lain kalau dia punya "burung bagus" akan ditawarkan pertama kali ke saya dulu sebelum ditawarkan ke orang lain.


Nah itu cerita menyenangkan hunting burung di pasar burung.


Sedangkan cerita tidak menyenangkannya walah... banyak juga, tetapi tidak perlu saya cerita di sini, hehehe malu-maluin. Yang jelas, hari-hari pertama mengenal Pasar Burung Karimata Semarang, saya dan isteri kena tipu penjual poksay betina yang dibungkus kardus seharga Rp. 75.000. Bukan hanya sekali, tetapi dua kali....hwahahahaha... celaka dua belas!!! (OmKicau)

Rabu, 24 Maret 2010

Lelang dan lomba burung ramaikan peringatan HUT ke-4 KicauMania.Org

Menyambut ulang tahun keempat tahun ini, Komunitas Kicau Mania Indonesia akan menggelar lomba burung DAN YONKAV-9 BU COBRA di Lapangan Tembak YON KAV-9 BU (Cobra). Tepatnya di Jalan Serpong Raya KM 10 atau seberang Union Honda Serpong Alam Sutera, Tangerang.  Gelaran lomba burung pada 4 April 2010 ini merupakan kerja sama KicauMania.Org yang berulang tahun keempat pada 20 Mei 2010 dan YON KAV 9 BU BSD TANGERANG.


Dalam acara yang menyertai pertemuan akbar anggota Komunitas KicauMania.Org itu juga akan dilakukan lelang burung dengan peserta member KicauMania.Org.


Untuk itu, pastikan bahwa Anda bisa mengikuti acara tersebut. Yang belum daftar sebagai member KM, silakan segera daftar dan dapatkan hak membership KM.




[caption id="attachment_11617" align="alignleft" width="121" caption="Ketua KM, Christ Murdock (Foto: Profil FB)"][/caption]

Terbuka untuk umum, tiket lomba sudah bisa dipesan secara online di KM. Pembayaran pemesanan tiket paling lambat tanggal 2 April 2010. Lebih dari tanggal tersebut, tiket akan dijual kembali. "Khusus kelas Love Bird Ebod Jaya, tiket hanya dapat dibeli di lapangan. Dan dikarenakan banyaknya animo rekan kicau mania di luar KM, maka untuk pemesanan tiket akan ditutup maksimum satu minggu sebelum perlombaan," kata Ketua KM, Christ Murdock.


Berikut ini burung dan kelas lomba KM - YON KAV 9 BU BSD TANGERANG.


Kelas DANYON
- ANIS MERAH
Penyisihan A – B
Harga Tiket : Rp. 150.000,-
HADIAH:




  • Juara I: Rp. 10.000.000,-

  • Juara II: Rp. 2.500.000,-

  • Juara III: Rp. 1.250.000,-

  • Juara IV: Rp. 600.000,-

  • Juara V: Rp. 300.000,-

  • Juara VI ~ X: Rp. 150.000,-


Kelas COBRA
- MURAI BATU ( + Rp. 500.000,- )

- ANIS MERAH
Harga Tiket : Rp. 125.000,-
HADIAH:




  • Juara I : Rp. 2.000.000,-

  • Juara II : Rp. 1.000.000,-

  • Juara III : Rp. 500.000,-

  • Juara IV : Rp. 250.000,-

  • Juara V : Rp. 200.000,-

  • Juara VI ~ X : Rp. 125.000,-


Kelas KOMPI PENYERBU
- ANIS MERAH 91
- ANIS MERAH 92
- MURAIBATU
- CUCAK HIJAU
- KENARI
- KACER
- PENTET
- ANIS KEMBANG
Harga Tiket : Rp. 80.000,-
HADIAH :




  • Juara I : Rp. 1.000.000,-

  • Juara II : Rp. 500.000,-

  • Juara III : Rp. 250.000,-

  • Juara IV : Rp. 150.000,-

  • Juara V : Rp. 100.000,-


Juara VI ~ X : Rp. 80.000,-


Kelas PAKAN EBOD
(Sertakan 3 bungkus pakan Ebod Kenari/Lovebird)
- LOVE BIRD
Harga Tiket : Rp. 50.000,- (Tiket di beli di Lapang atau tidak dijual OnLIne)
HADIAH :




  • Juara I : Rp. 1.000.000,-

  • Juara II : Rp. 500.000,-

  • Juara III : Rp. 250.000,-

  • Juara IV : Rp. 150.000,-

  • Juara V : Rp. 100.000,-

  • Juara VI ~ X : Rp. 50.000,-


Kelas WWW.KICAUMANIA.ORG
- ANIS MERAH
- LOVE BIRD
- KACER
- LOVE BIRD
- CIBLEK
- CUCAK IJO
- CUCAK JENGGOT
- TLEDEKAN
Harga Tiket : Rp. 50.000,-
HADIAH :




  • Juara I : Rp. 500.000,-

  • Juara II : Rp. 250.000,-

  • Juara III : Rp. 150.000,-

  • Juara IV : Rp. 100.000,-

  • Juara V : Rp. 75.000,-

  • Juara VI ~ X : Rp. 50.000,-


Sumber: KicauMania.Org