Rabu, 18 Agustus 2010

Waspadai anis merah macet pasca transfer


Anis merah dikenal sebagai burung yang sangat sensitif terhadap lingkungan baru. Terlebih lagi perubahan suhu alam yang mencolok akan membuat burung menjadi stress. Burung yang dibesarkan di desa yang dingin jika dibawa ke kota yang bersuhu panas dipastikan akan mengalami shock.

Begitu juga perubahan menu pakan atau suasana yang berbeda dari tempat pertama akan juga memicu guncangan mental. Kasus seperti ini juga bisa menimpa anis merah asal Bali. "Namun stress mental akibat perubahan suasana sesungguhnya bisa dicegah," kata Mr Baim dari Jalak Bali Team kepada Agrobis Burung.

Antara anis bakalan dari desa dan anis yang sudah biasa mengenyam lapangan.diperlakukan hampir sama jika berpindah lokasi agar tidak shock. Biasanya anis yang berpindah tangan mesti dibiarkan menggunakan sangkar asli dan dibawa dalam kondisi dikerodong. Di rumah yang baru anis tersebut diusahakan digantung mirip dengan suasana di rumah pertama. Misalnya terbiasa di dalam kamar sendirian, atau di luar gabung dengan burung lain. Sehari burung dibiarkan dalam kondisi dikerodong. Jika terdengar mengeluarkan suara atau ngeplong-ngeplong kerodong bisa dibuka. Selanjutnya dimandikan untuk meredam stres di lokasi baru. Jika burung sudah tampak nyaman dan gacor, sangkar sudah bisa diganti.

Perlu dipahami, kata pemilik Raja Langit ini, burung dalam kondisi fit jika berpindah lokasi di tempat yang baru ia akan tampil dahsyat. Itu akan berlangsung beberapa saat saja dan kemudian akan kembali normal seperti sedia kala mengikuti karakternya.

Pengalaman merawat Raja Langit yang juga sering diinapkan di beberapa lokasi di Jawa dan tetap bisa tampil di lapangan membuktikan bahwa memahami karakter anis merah sehingga kontinuitas kenyamanan dan kondisi tubuhnya tetap terjaga, menjadi menjadi kunci mempertahankan perfoma anis merah.

Hal yang sama juga dilontarkan:Santo Utoyo, pemain anis merah yang sudah banyak mengorbitkan jawara-jawara nasional seperti Raja Petir. Anis merah bakalan jika berpindah lokasi mesti diperlakukan hati-hati agar terhindar dari stress. Sejak akan dibawa dari desa yang dingin sebaiknya dimandikan sebelum dibawa dengan membiarkan tetap menggunakan sangkar aslinya plus kerodong.

Di dalam perjalanan diusahakan tidak sampai tergoyang-goyang. Sampai di rumah langsung dimandikan. Jika tidak bisa mandi bak bisa dengan jalan disemprot. "Yang terpenting jangan sampai berangkat mengangkut burung pada malam hari," ungkap Santo Utoyo.

Bagi burung yang sudah malang melintang di arena kontes, berpindah tangan tentu sudah menjadi hal biasa. Burung tersebut biasanya sudah terbiasa berada di atas kendaraan/mandi, dikerodong atau ditempel dengan burung-burung lain sehingga secara mental sudah tidak diragukan lagi. Cuma, kata Santo Utoyo, tetap saja anis tersebut kemungkinan akan stress jika kita tidak memahami perawatan dan kebiasaan burung di lokasi biasanya dia tinggal atau di lokasi pertama. Suasana baru yang terlalu ekstrem dipastikan akan berpengaruh terhadap mental burung. Misalnya burung yang sudah biasa digantang dekat lampu, disendirikan atau digantang di kamar mandi akan stress jika digantang berlawanan dengan suasana sebelumnya.

Begitu juga soal pakan dan waktu mandi-jemur mesti sesuai dengan takaran dan waktu yang tepat. "Kalau burung juara biasanya jarang stress jika berpindah tangan," ungkap Santo Utoyo yang menambahkan jika ternyata burung stress ya tentunya perlu diragukan ketangguhan mentalnya.

Secara umum, tambah Santo, jika anis merah berpindah tangan biasanya akan bisa tampil maksimal jika setelah mengalami ngurak pertama di lokasi baru. Di saat ngurak itulah, anis tersebut akan “back to basic”. Si perawat bisa mensetup ulang burung tersebut. Bukan bertambah buruk, tetapi kalau lebih jeli akan menemukan karakternya akan menambah membuat penampilan yang lebih dahsyat dari si momongan.

Tidak ada jaminan
Anis merah atau punglor merah harus diakui sudah menjadi kelas tertinggi di pentas kicauan nasional. Tingginya gengsi dan gedenya hadiah yang selalu dipropagandakan panitia kontes menjadi daya hipnotis super kuat buat kicaumania.

Banyak yang rela untuk inden ke beberapa pengepul atau langsung turun ke kawasan yang dikenal sebagai penghasil punglor merah berkualitas. Mereka memburu materi dari kawasan-kawasan seantero Bali untuk mendapatkan yang terbaik.

Tapi tidak serta merta mereka langsung dapat mencicipi manisnya gelar di kelas tersebut. Sebab, tidak sedikit yang putus asa ketika berulang kali gagal mengorbitkan burung jenis ini. Akhirnya, ada keyakinan bahwa mereka lebih baik memilih materi siap pakai yang banyak ditemui di lomba atau latber. Stabilitas mental menjadi pilihan merahmania.

Lantas itu kah solusi untuk mengatasi “masalah” perburuan gelar di kelas anis merah? Belum tentu juga. Beli burung hasil besutan lapangan juga masih menyisakan tanda tanya. Misalnya macet tampil pasca pindah rumah, padahal burung itu didapat dari hasil pantauan di lapangan. “Untuk mengorbitkan punglor merah tidak semudah bayangan, meski sudah pernah juara di latber misalnya, setelah transfer dan pindah rumah bisa saja macet nggak bisa tampil,” kata Hendy, merahmania Sidoarjo yang pernah punya pengalaman seperti itu.

Diasumsikan, punglor merah memiliki sensitifitas relatif tinggi. “Pindah rumah misalnya, meski dengan pola perawatan tetap belum tentu bisa langsung tampil di lapangan. Entah punglor merah seperti itu berasal dari Jabar atau Bali, yang jelas saya beli di latber dan sudah sering juara,” ujarnya.

Menurut pengalaman para pengorbit punglor merah, habitat aseli burung juga memberikan karateristik tersendiri pada si burung. Namun untuk memberi penanganan secara umum bukan serta merta bertumpu pada habitat.

Amati dulu karakternya, materi yang ditonjolkan dan pola perawatannya. Hal yang terakhir akan menjadi penting buat mereka yang tak ingin tersandung dengan rumitnya merawat anis merah.

Boleh saja kualitas nomor wahid menjadi pertimbangan untuk mentransfer atau rentetan juara di lapangan. Tetapi poin tersebut akan menjadi bumerang buat merahmania apabila selama perawatan stabilitas performa burung tidak terjaga.

Singkat kata memang, mental dan stabilitas menjadi poin terpenting sebelum merahmania memutuskan membeli burung. Hal lainnya adalah kematangan usia. Semakin tua usia punglor merah, akan semakin matang penampilan dan mentalnya. (Agrobis Burung)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan tidak mengirim SPAM.
Terima kasih.