Rabu, 25 Agustus 2010

Poksay jambul dari Thailand

Poksai jambul putih (Garrulax leujcolophus/white crested lauhging thrush) dikenal sebagai rajanya poksai. Burung ini berhabitat aseli Thailand dan pada beberapa waktu lampau banyak diimpor ke Indonesia.

Tingkah lakunya mudah dikenali karena selalu bergerak di dalam sangkar.
A. Ciri-Ciri Fisik
Bulunya didominasi warna putih dan cokelat. Bulu bagian kepala sampai ke batas mantel dan bagian bawahnya hingga ke perut berwarna putih. Bulu hitam tampak membentang menyerupai pita dari pangkal paruh melewati garis mata hingga ke bagian telinga. Bulu sayap sampai ke ekornya berwarna cokelat, sedangkan pada bagian ujung bulu sekunder warna cokelatnya tampak lebih tua.
Paruh poksai jambul putih berwarna hitam, kekar, dan lebih besar dari kerabatnya yang lain. Matanya lebar dan hitam bersinar. Kakinya yang hitam dan kokoh membuatnya tampak kekar dan berwibawa saat berkicau.
Jenis burung lokal yang tampak mirip dengan poksai jambul putih dan sering pula ditawarkan sebagai burung cina adalah poksai medan. Kedua burung ini mempunyai ciri sehingga mudah dibedakan. Poksai medan tubuhnya lebih kecil. Walaupun bulu kepalanya berwarna putih, poksai medan tidak memiliki jambul di kepalanya. Perbedaan yang mencolok tampak pada bulu sayap, dada, dan ekor poksai medan yang berwarna kehitaman. Suara poksai jambul putih, sekaligus menjadi ciri khasnya, lebih besar dan lebih keras terasa enak didengar.
B. Habitat dan Pakan Alami
Di alam bebas, poksai jambul putih suka hidup bersama secara berkelompok, walaupun tidak dalam jumlah banyak. Lingkungan yang disukainya adalah hutan yang agak terbuka, penuh dengan semaksemak dan juga banyak ditumbuhi pohon bambu.
Pada saat berkembang biak, poksai jambul putih membuat sarangnya di pucukpucuk pohon dan terkadang di semaksemak. Sekali berkembang biak, celur yang dihasilkan bisa mencapai 3—6 butir. Telur yang dierami biasanya menetas scmua atau jarang ada yang gagal.
Di alam, poksai jambul putih mencari pakan di tanah atau percabangan pohon yang lebih rendah. Pakannya berupa serangga di antara dedaunan, bijibijian, atau buahbuahan yang terjatuh.
C. Perbedaan Jantan dan Betina
Jantan dan betina poksai jambul putih agak sulit dibedakan. Jantan dan betina itu tidak bisa dibedakan dari ukuran tubuh atau dari panjang ekor. Warna bulunya juga sulit untuk membedakan jantan dan betina kaj;ena hampir tidak menunjukkan adanya perbedaan.
Secara ilmiah, untuk membedakan burung jantan dan betina dilakukan dengan analisis kotoran di laboratorium, teknik endoskopis, atau dengan cara meneliti bulu yang baru tumbuh (seksing bulu). Namun, caracara tersebut hanya bisa dilakukan oleh para ahli dan tentu saja membutuhkan biaya tidak sedikit. Para penggemar, khususnya pedagang burung, membedakan jenis kelamin poksai jambul putih dengan cara membedakan suaranya.
Suara yang dikeluarkan poksai jambul putih jantan selalu diawali dengan kwa ... kwa ... kwa ... kwa... kwa ... kuk ... kwak ... klik ... kluk, sedangkan yang betina hanya kwa ... kwa ... kwa .... Poksai jambul putih bukan burung peniru sehingga selamanya suara yang dikeluarkan seperti itu.
D. Daya Tarik Poksai Jambul Putih
Daya tarik yang memikat dari poksai jambul putih berhubungan dengan penampilan dan tingkah lakunya.
1. Gagah
Penampilannya selalu tegak dan tidak loyo seperti burung berkicau jenis lainnya. Kegagahannya akan lebih terlihat bila burung ini sudah terpelihara dengan baik dalam waktu beberapa minggu dan sering pula dimandikan, apalagi bila sudah mau diadu sesama jenisnya. Tandanya, jambul burung ini akan mengembang dan bulu sayapnya bergetar pada saat berkicau. Burung ini juga aktif bergerak pada saat berkicau sehingga sangkarnya terus bergoyang. Pada saat seperti ini penampilannya bisa dikatakan luar biasa, terutama jika sudah terlatih dengan baik.
2. Penakluk burung lain
Poksai jambul putih juga dijuluki penakluk burung lain karena suara kicauan dan gerakannya selalu membuat burung lain yang ada di sekitarnya menjadi ketakutan. Kebiasaan lainnya yaitu sering ikut berkicau ketika ada burung lain di sekitarnya berkicau. Hal inilah yang menjadikannya dikucilkan oleh para penggemar burung, kalau saja penggemar tersebut sudah memahami benar karakter poksai jambul putih.
3. Raja tertawa
Poksai jambul putih digelari raja tertawa karena kicauannya seperti orang tertawa terbahakbahak, terutama burung yang betina. Di habitatnya, poksai jambul putih selalu berkicau bersamaan, sambil menunggu suasana sepi untuk kemudian menyelinap ke bagian bawah semaksemak mencari makanan. Uniknya, ketika burung ini berkicau di alam bebas bisa berhenti seketika seperti dikomando dan akan kembali berkicau bila ada isyarat dari burung lain sejenisnya. Hal ini pula yang menyebabkannya dijuluki burung "penyanyi rimba" oleh para ahli burung yang melakukan penelitian pada burung tersebut.
E. Kelemahan Poksai Jambul Putih
Kelemahan poksai jambul putih terletak pada tingkah lakunya yang dianggap terlalu agresif dan sifatnya yang liar. Karakternya yang keras terus terbawa saat burung tersebut diburu, ditangkap pemikat, dan dipelihara penggemarnya. Berikut ini kelemahan yang dimilikinya.
1. Sulit dijinakkan
Salah satu kriteria agar burung peliharaan dapat rajin berkicau adalah harus jinak, setidaknya tidak merasa ketakutan bila sangkarnya digantung pada tempat yang agak rendah. Hal seperti ini rasanya agak sulit diharapkan dari poksai jambul putih, canpa ada burung lain berada di dekatnya. Dari pengamatan tingkah laku poksai jambul putih, dapat diambil kesimpulan bahwa poksai jambul putih memerlukan perawatan khusus untuk membuatnya lebih berani pada lingkungan dan lebih rajin berkicau.
2. Kukunya mudah patah dan terluka
Poksai jambul putih yang diimpor umumnya mempunyai kuku (biasanya kuku jari belakang) patah atau terlepas. Cacat kuku ini hampir pasti ditemukan pada poksai jambul putih yang sudah dewasa karena buruknya kandang penampungan atau sifat liar burung tersebut yang sulit ditenangkan dalam waktu singkat. Hal ini menunjukkan bahwa burung itu sangat liar, meskipun masih muda sehingga dapat dipahami jika burung ini relatif sulit dijinakkan.
F. Petunjuk Pembelian
Sebelum membeli poksai jambul putih, beberapa hal perlu dipertimbangkan, termasuk kisaran harganya.
1. Ciri bakalan yang baik
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan pada saat membeli bakalan poksai jambul putih adalah sebagai berikut.
a. Tidak cacat
Poksai jambul putih yang akan dibeli harus diteliti dahulu kelengkapan atau keutuhan fisiknya secara menyeluruh. Cacat pada burung dapat mengurangi kepuasan pemeliharanya, sekalipun burung itu memiliki suara cukup baik atau benarbenar rajin berkicau.
Selain kuku poksai jambul putih yang mudah patah, bagian tubuh lain yang sering menimbulkan cacat setelah burung tersebut dipelihara dalam waktu lama adalah paruhnya. Paruh yang bakal menyebabkan cacat dapat diketahui dari pengamatan rahang atas, yaitu pada saat mengatup seperti ada lubang di antara paruhnya (tidak tertutup dengan baik). Kelak cacat ini akan cepat terlihat bila perawatannya kurang baik.
b. Masih muda
Bakalan burung berkicau yang baik adalah yang masih tergolong muda atau tidak anakan lagi (sering disebut dengan istilah "muda hutan"). Pada umumnya burung yang masih muda hutan lebih mudah dijinakkan. Suaranya pun tidak kalah baik dengan burung dewasa, apalagi poksai jambul putih bukanlah tipe burung peniru. Poksai jambul putih yang masih muda ada di pasaran antara Maret sampai Mei. Itu pun kalau iklim habitatnya stabil seperti tahuntahun sebelumnya.
Poksai jambul putih muda hutan dapat dibedakan dengan yang sudah dewasa. Bulu burung muda masih tampak bersih dan matanya seperti kecokelatan, sedangkan bulu burung dewasa tampak kusam dan kasar (kasap). Bakalan poksai jambul putih yang akan dibeli sebaiknya sudah didengar suaranya dengan jelas dan bisa dipastikan bahwa burung tersebut jantan. Bagi penggemar yang belum berpengalaman memilih bakalan sebaiknya bersabar karena secara sepintas burung betina ini memiliki suara yang tidak jauh berbeda dari burung jantan.
Sebaiknya burung bakalan yang dibeli lebih dari seekor, meskipun jumlahnya harus tetap dibatasi. Poksai jambul putih di habitatnya sangat menyukai berkicau bersama sehingga bila hanya ada seekor maka dikhawatirkan burung tersebut terlalu lama dapat menyuarakan kicauannya. Burung ini hanya menarik bila berkicau berbarengan dengan burung sejenisnya.
Sebaiknya poksai jambul putih yang dipelihara terdiri dari jantan dan betina atau lebih baik lagi keduaduanya jantan. Lebih dari jumlah tersebut bukannya tidak baik, tetapi perawatannya lebih sulit karena penempatannya perlu saling berjauhan. Pemeliharaan poksai jambul putih sebenarnya seperti cucakrawa karena suara jantannya secara samar agak mirip. Perbedaan yang cukup jelas adalah suara awalnya yang sangat mirip dengan orang lagi tertawa. Hal ini perlu menjadi pertimbangan bagi penggemar yang berkeinginan memeliharanya.
2. Kisaran harga
Harga poksai jambul putih sekarang sudah tidak dianggap mahal karena beberapa tahun tidak mengalami kenaikan yang berarti. Seekor poksai jambul putih jantan, dewasa maupun muda hutan, dihargai Rp 60.000,00Rp 88.000,00 (awal tahun 1998).
G. Petunjuk Perawatan
Perawatan poksai jambul putih menyangkut sarana atau sangkar dan perlengkapan lain. Selain itu, juga berkaitan dengan lingkungan penempatan sangkarnya.
1. Sangkar dan perlengkapan
Sangkar dan perlengkapannya harus memadai agar burung tetap menarik di dalamnya. Idealnya, sangkar yang digunakan minimal berukuran panjang 50 cm, lebar 50 cm, tinggi 70 cm, dan bentuknya segi empat. Sebelum digunakan, kualitas sangkar ditingkatkan, misalnya dengan dicat. Dengan demikian, bagian permukaan jeruji sangkar yang kasar dan tajam dapat tertutupi sehingga burung bakalan yang masih liar dan terus berlompatan tidak mudah terluka jari kaki maupun kukunya.
Sebelum digunakan, bau cat sangkar dipastikan telah hilang. Tenggeran sebaiknya terbuat dari kayu asem, jambu batu, jambu air, dan kayu duri hutan dengan ukuran diameter minimal 2,5 cm. Tenggeran untuk poksai jambul putih yang masih bakalan dan benarbenar liar sebaiknya terdiri dari dua buah dan ditempatkan menyilang. Tujuannya agar burung tidak menggunakan jeruji sangkar untuk bertengger.
Salah satu tenggeran, terutama tenggeran yang di bagian atas, dapat diambil setelah 3—4 bulan burung tersebut dipelihara. Dalam selang waktu tersebut, burung sudah cukup terbiasa dengan lingkungannya dan gerakannya pun sudah tidak terlalu liar.
Wadah untuk pakan buatan sebaiknya berukuran agak besar, sedangkan wadah ulatnya berukuran sedang. Tempat minuman dipilihkan yang bagian permukaannya agak kecil (hanya dapat dimasuki kepala burung) agar air yang ada di dalamnya tidak digunakan untuk mandi. Adakalanya burung suka menggunakan air minumnya untuk mandi. Hal itu perlu dicegah agar dasar sangkar tidak basah sehingga tidak cepat rusak. Selain itu, percikan air yang mengenai kotoran juga akan menimbulkan bau.
2. Penempatan sangkar
Lingkungan yang tenang dapat mempercepat burung mau berkicau. Burung harus dihindarkan dari gangguan binatang seperti kucing atau tikus yang bisa membuatnya stres. Begitu pula bau yang menyengat seperti bahan kimia maupun asap dapur yang berlebihan. Sangkar untuk burung yang masih bakalan sebaiknya ditempatkan minimal setinggi tangan tidak bisa menyentuhnya dan semakin tinggi akan semakin membuat burung lebih tenang. Penempatan burung pada tempat yang lebih rendah harus dilakukan secara bertahap.
Sangkar sebaiknya ditempatkan dengan jarak saling berjauhan, burung juga tidak boleh saling melihat. Dengan hanya mendengar suaranya, sesama poksai jambul putih akan mudah terpancing untuk berkicau bersahutsahutan. Bila memungkinkan, sebaiknya dipelihara burung betina yang sudah rajin berkicau atau burung betina yang lenjeh dengan jantan sejenis.
Burung betina yang demikian akan mempercepat burung jantan untuk terus berkicau. Burung jantan dan betina dipertemukan 3 atau 4 hari sekali dalam waktu 10—15 menit. Seperti kebanyakan burung impor, salah satu cara untuk membuat jantan mau berkicau adalah dengan memanfaatkan betinanya. Begitu pula dengan poksai jambul putih yang sangat temperamental atau galak pada burung lain, dapat mudah dijinakkan dengan cara mendampingkan betinanya yang lenjeh. Sumber: Rusli Turut, Sukses Memelihara Burung Berkicau dari Thailand

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan tidak mengirim SPAM.
Terima kasih.