Kamis, 19 Agustus 2010

Penanganan parkit holland perlu hati-hati

Penanganan parkit holland, yang badannya relatif lebih besar ketimbang parkit lokal yang sudah ada selama ini, ternyata perlu ekstra hati-hati. Sebab, sebagai burung impor, dia memerlukan penyeseuaian dengan lingkungan baru di Indonesia. Berikut ini, cerita tentang parkit holland yang saya ambil dari Agrobur.


Setelah sukses menangkarkan jalak bali, cucakrawa dan lovebird, Harvey menambah koleksi burung ternaknya, dengan mendatangkan parkit import dari Belanda. Parkit jenis holland ini sebelumnya sudah pernah ia datangkan beberapa waktu yang lalu.


Sebagai coba-coba, waktu itu ia mengimport sebanyak 10 pasang. Namun, karena kendala cuaca dan kesalahan teknis dalam penempatan semua burung terserang penyakit, kemudian tidak lama kemudian mati. "Waktu import pertama, kita tempatkan di kandang besar, disatukan. Ditambah lagi waktu itu cuaca di sini tidak menentu, sehingga burung mudah terserang penyakit," jelas Ikin, perawat yang dipercaya mengelola peternakan milik Harvey.


Belajar dari pengalaman pertamanya itu, kemudian ia kembali mendatangkan lagi sebanyak 40 pasang parkit Holland. Kali ini ia lebih hati-hati dalam melakukan penempatan di tempat barunya, yang memerlukan adaptasi, karena perbedaan cuaca. "Kali ini, begitu burung datang langsung dipisah-pisahkan. Setiap pasang ditempatkan di satu kandang tersendiri, berukuran kira-kira 40 x 40 x 60 cm. Ternyata dengan perlakuan seperti ini burung bisa bertahan dan kondisinya sehat," tambah Ikin.


Proses penjodohan dilakukan sebelum pasangan ditempatkan di kandangnya masing-masing. Setelah terlihat menjodoh, setiap pasangan dipisahkan untuk dimasukkan ke kandang produksi. Di dalam kandang sudah tersedia box sebagai tempat betina bersarang.


Untuk menyesuaikan dengan postur parkit Holland ukurannya lebih besar dari parkit lokal, maka ukuran kandang dan box lebih besar sedikit. "Proses penjodohan hampir sama dengan lovebird. Kalau pasangan tidak menjodoh biasanya saling menjauh, maka secepatnya diganti pasangannya," katanya.


Makanan pokok parkit tidak jauh beda dengan love bird, yang didominasi biji-bijian. Sebagai makanan tambahan, diberikan multivitamin untuk menyesuaikan dengan cuaca setempat. Kebetulan, cuaca di Bandung cukup sejuk dan tidak terlalu panas, sehingga proses adaptasi dan penyesuaian dengan lingkungan tidak terlalu lama.


Parkit Holland memiliki kelebihan tersendiri, dibandingkan parkit lokal. Selain postur yang lebih besar, juga suara lebih besar dan kencang. Selain itu variasi warna lebih banyak sehingga nampak lebih unik menarik. Keberadaannya juga terbilang langka, sehingga tidak mengherankan jika harganya pun cukkup tinggi. Apalagi, saat ini di beberapa daerah sudah mulai dilombakan kelas khusus parkit.


Respon penggemar buru kicauan terhadap jenis ini cukup bagus, yakni sebagai alternatif dari rasa jenuh kicaumania terhadap jenis-jenis yang sudah ada sebelumnya. Di samping itu parkit juga bisa menjadi salah satu burung pemaster andalan untuk beberapa jenis burung lomba. (*)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan tidak mengirim SPAM.
Terima kasih.