Rabu, 18 Agustus 2010

Burung-burung pasar yang namanya melejit di arena lomba..

[caption id="attachment_21269" align="alignleft" width="250" caption="MODAL INSTING. Bukan semata-mata isi kocek."][/caption]

[caption id="attachment_21268" align="alignleft" width="250" caption="BURUNG PASAR. Jadi jawara nggak harus mahal."][/caption]




[caption id="attachment_21270" align="alignleft" width="250" caption="JUARA NASIONAL Asal muasalnya dari burung pasar."][/caption]

Burung juara nan istimewa umumnya diidentikkan dengan burung yang harganya mahal, seringkali tidak masuk akal dan tidak kebayang banget. Jadi, hanya mereka yang berduit lebih yang bisa mengoleksi burung juara dan stabil tampilnya. Logika di atas tentu tak salah, tapi juga tak sepenuhnya benar. Ternyata, ada juga, bahkan tak sedikit, kicaumania yang berburu jagoan prospek, belum tampak di lapangan, atau baru mau muncul sudah langsung "ditubruk" sehingga harganya masih miring.


Kalau pinter dan kuping tajam, kita bisa mendapatkan burung sang prospek saat masih di rumah atau pemiliknya mungkin bukan pelomba sehingga tak sadar bila burungnya bisa dibandrol sangat mahal. Atau ketika burung masih digantung di kios burung, entah kios lepasan maupun kios di pasar burung. Meskipun sang bakul mungkin tahu lomba, ada peluang sang bakul tidak minta dengan harga mahal sekali.


Ada yang mendapatkan burung yang kemudian menjadi jagoan terkenal dengan harga ratusan ribu rupiah, hingga beberapa juta rupiah. Yang jelas, belum sampai puluhan juta. Salah satu contohnya, Handi Hoho mendapatkan cucak hijau Presiden dengan harga "hanya" 5 juta rupiah, saat mengikuti latber di Pasar Plembon, Klaten. Di tangan Hoho, Presiden sangat stabil, langganan juara, dan tentu saja menjadi not for sale, atau kalaupun di lepas, pasti harganya tak terbilang.


Masih dari Klaten, H Suwadi, juga sangat jeli dalam memburu calon jagoan, khususnya jenis murai batu, kacer, dan kenari. Gurita, murai batu juara 2 di Gubernur Cup Jawa Tengah (18/7), dibelinya dengan harga 800 ribu rupiah. Setelah itu, Suwadi kembali mendapatkan jagoan seharga 1,3 juta dan sudah mendapatkan bendera nominasi saat diikutkan di Janoko Cup Jogja (15/8).


Ovan dari Jogja ternyata juga mendapatkan cucak hijau Marvel yang begitu flamboyan, antara lain menjadi juara di Bali Shanti, di pasar burung dengan harga hanya 850 ribu rupiah. Bahkan cucak jenggot Fortuner, kini milik Bismo, yang menjadi juara di Bali dan Piala Raja, dulunya juga didapat Bang Bajil di pasar burung Magelang.


Resep


Salah satu resep "rahasia" mengincar burung juara atau prospek juara di rumah, pasar burung, atau di latihan, adalah harus teliti, telaten, dan sabar. Insting pemburu harus benar-benar dilatih.


Kita juga harus hapal jadwal pasar burung tradisional, yang biasanya punya hari pasaran sendiri-sendiri, seperti Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan seterusnya. Di beberapa tempat, ada semacam gantangan yang biasa dipakai untuk melatih bersama-samai atau di beberapa tempat disebut sebagai gantangan bursa.


Misalnya di Pasar Burung Pedan, Klaten, yang hari pasarannya adalah Wage. Dari pasar ini, sejumlah burung juara memang sudah sering dimunculkan. Di sini, sekarang juga sudah banyak hunter yang bermata tajam dan bertelinga lebar.


Nugroho anak didik dari Mr Suwadi Klaten yang mengorbitkan murai batu laba-laba memilih burung dipasar tradisional hanya melihat dari segi karakter saja, yang dipastikan burung tersebut sehat, tidak cacat, volume keras, roll panjang, speed rapat.


Jika kita bertemu kriteria di atas, kemudian burung kita coba di lapangan, asal burung tersebut tidak kelaparan, pasti mampu kerja dengan baik, walau tanpa setelan yang maksimal.


Burung yang didapat dengan melihat karakter tersebut di atas misalnya murai batu Tes Pen-nya Friday Timbul Artha. "Saya dulu beli hanya satu juta perak, kemudian pindah tangan ke Tony KP dengan bandrol 30 juta. Di Piala Raja kemarin masih masuk 8 besar, namanya Willys 08," kata Friday TA.


Yang lebih murah lagi juga ada. Bayu Jember mendapatkan jagoan lovebird Untul hanya 150 ribu, sementara lovebird Awon juga hanya dibandrol 450 ribu dari tangan Subur atau Burwanto Depok Solo. Demikian juga dengan lovebird Kendil Mas, dapat di Pasar Depok Solo, juga dengan harga murah.


Begitu juga Supri, spesial kenari dan kacer, yang di rumahnya juga menjadi breeder kenari, mengaku ada beberapa jagoan kacernya berasal dari pantaun pasar.


"Kacer Himalaya yang sekarang sudah di tangan Pak Edy PLN yang juara 3 dan 4 di PBI Sragen itu asalnya burung dari Pasar Pedan", jelas Supri.


Friday yang pengembar berat burung jenis murai batu hampir semua jagonya berasal dari pantaunya di pasar. Kini banyak jagonya yang sudah punya nama sebut saja Jendral, Mayor, Tespen ketiganya asal usulnya burung dari pasar. Kini hanya Jendral yang masih ada di tangan Friday dan kondinya sedang mabung.


Moyor dan Tespen sendiri sudah lama pindah tangan. "Tespen dibeli Tony KP 30 juta dan kemarin di Piala Raja masuk 8 besar, tapi namanya sudah diganti Willis 08," jelas Friday.


Dari Muntilan misalnya, ada Manto yang majikan anis kembang Valentino. Ania kembang ini hampir tiap pekan diturunkan di arena lomba dan hampir dipastikan pulang membawa gelar juara. "Valentino kita beli asli dari pasar Muntilan seharga Rp. 1,25 juta, kita lihat memiliki speet rapat dan juga ngerol. Saya ambil saja. Tiga bulan dipoles di rumah dan kita cas dengan anis merah perempuan. Pertama di coba di Latberan kerjanya benar-benar edan dan langsung juara satu,” kata si majikan.


Sudah banyak prestasi yang diukir Valentino. Di antaranya juara 5 di Kapolri, juara 5 di Valentin dan juara 2 di Trah Abe.


Sebelumnya, Manto juga punya jago anis merah, Anak Muda, yang dibelinya di Pasar Muntilan sejak trotol seharga Rp. 500.000.


Setelah usia 9 bulan dicoba di arena lomba Temanggung Bersatu dan mendapat gelar juara 1. Karena ada yang meminatinya dan harga cocok, burung itu laku Rp.17,5 juta.


Bang Bajil dari Jogja yang pertama kali memiliki cucak jenggot Fortuner, yang sekarang sudah milik Bismo, juga mendapatkan burung itu di pasar.


"Fortuner dulu saya dapat dari Pasar Magelang.  Waktu itu saya dengar burung ini memang memiliki bunyi aneh ketimbang burung-burung yang lain, makanya saya berani mahal 3 juta. Padahal rata-rata di pasar harganya kisaran 200 - 500 ribuan kala itu," jelas Bang Bajil.


Gacoan berharga miring tapi dengan prestasi berlimpah, juga bisa dilihat pada cucak jenggot Anak Mas milik Mr Johan Banjarnegara. Raihan prestasinya sudah tak terhitung lagi. Bahkan sering menang nyeri, bilamana panitia membuka dua kelas jenggot. Even di blok tengah dan barat, sudah pernah disambanginya dengan hasil yang memuaskan.


Burung yang didapat dari saudara Zezen BM, salah satu penjual burung prospektif yang buka kios burung di Jl. Tirtosari sebelah timur kantor Polres Banjarnegara, tak disangka-sangka akan terus melambung namanya seiring prestasi yang diraihnya.


Rata-rata burung yang dijual pedagang itu masih tergolong bakalan, namun bakalan yang berkualitas. "Pertama mendapat Anak Mas, saya langsung optimis kalau burung ini bisa diandalkan untuk mendulang prestasi. Soalnya, kualitas yang dimiliki sangat komplit. Volume keras, speed rapat, dan lagu isian tanpa ada suara cucak jenggotnya," tutur Zezen BM.


Tidak mudah





[caption id="attachment_21272" align="alignleft" width="250" caption="Udin Parung"][/caption]

Mencetak burung jawara di lapangan memang tidak mudah. Apalagi kalau burung didapat dari pasar, sering dianggap tidak mungkin untuk bisa berpresatasi di arena lomba dan karenanya akan sangat kecil peluangnya.


Tapi, coba dengar cerita Udin Parung. Ia mampu menepis anggapan bahwa burung pasar tidak akan pernah bisa.berprestasi di lapangan.


Buktinya, kicaumania asal Tangerang ini mampu mencetak beberapa burung potensial dan berprestasi di berbagai lomba di blok barat yang didapatnya dari kios dan pasar burung. Seperti, Bejo, Super Star dan Ducati di kelas anis merah dan Ronggeng dikelas cucak ijo.


Bejo yang saat ini berada ditangan Mr Oda mampu tampil mencorong di berbagai lomba di Jabodetabek. Begitu pun dengan Ducati dan Super Star.


Burung polesan Udin Parung ini didapatkan dari Pasar Burung Cikupa. Bahkan, setiap kali tampil, kedua burung tersebut selalu berada di posisi puncak.


Selain anis merah, Udin Parung pun mempunyai salah satu burung handal di kelas cucak ijo yang prestasinya cukup mumpuni. Seperti Ducati dan Super Star, Ronggeng burung potensial di kelas cucak ijo pun dia dapatkan di Pasar Burung sekitar daerah Parung, Tangerang.


Menurut Udin, untuk mendapatkan burung tangguh dari kios dan pasar burung harus melihat dari katurangganya. Bila sudah terlihat katurangganya serta sesuai dengan karakter burung maka burung tersebut bisa berpresatsi di lapangan. Tentunya, setelah memboyong burung dari pasar dan cocok untuk dikoleksi, pola perawatan dan stelan burung pun disesuaikan dengan pola perawatan yang selama ini dia gunakan.


Seperti biasa, pola perawatan kesehariannya pun cukup sederhana. Setiap pagi, pukul 07.30, beberapa burung potensialnya dikeluarkan untuk melakukan aktifitas mandi. Setelah itu, baru dijemur selama 2 jam dan diangin-angin sebetar sebelum dimasukan ke kandang harian. Selama penjemuran, biasanya Udin Parung memberikan extrafooding berupa jangkrik sebanyak 3 ekor. Kemudian sore harinya, Udin memberikan extrafooding sebanyak 3 ekor lagi.


Untuk menambah stamina, menu lainnya pun seperti buah pepaya dan pisang kapok diberikan secara bergantian.


Bertutur tentang Ronggeng, burung yang didapatnya berdasarkan feeling saja itu, dia perkirakan bakal bisa menjadi ancaman burung papan atas di kelasnya. "Saya beli burung ini di bawah satu juta, namun sekarang sudah mendapat penawar di atas Rp10 juta," kata Udin kepada Agrobur.



Di Bekasi





[caption id="attachment_21274" align="alignleft" width="250" caption="Tirta Bekasi"][/caption]

Sementara itu Tirta, kicau mania yang biasa menggunakan bendera 1168 SF Bekasi, punya cerita yang hampir sama.


Menurut dia, membeli burung prospek tidak hanya di arena lomba ataupun latber. Setidaknya dia punya contoh dua kacer jawaranya, Black Zombie dan Rasdan.


"Ya, saya dapat burung itu memang dari kios," tandasnya mantap tanpa sungkan.


Meskipun kedua burung yang belakangan jadi dua gaco andalannya ini didapatinya di kios, bukan berarti dia tak mampu membeli burung di lapangan. Dari total 6 ekor jawaranya, dua ekor tadilah yang didapatkannya di kios. Jagoan lainnya seperti Rinjani dia beli di lapangan. "Beli di lapangan maupun kios atau lomba, sama saja. Yang penting kita jeli," ungkap pria muda yang juga usahawan di bidang peternakan sapi ini.


Lantas, bagaimana kiat Tirta membidik kacer di kios yang belum tampak kinerjanya? Nah, dia lebih mengandalkan feeling khususnya pada patokan katuranggan burung yang dipantaunya.


Gambaran dasarnya, dia lebih memfokuskan pada bagian permukaan burung dengan diamati dimulai dari alisnya yang tebal. Jika ada bulu tempurnya, maka menandakan burung tersebut fighter. Soal kaki, dia pilih yang warna hitam pekat. Namun demikian diakuinya, ciri fisik memang tidak sepenuhnya menandakan kebenaran bila tidak didukung dengan mendengar suara secara langsung.


Biasanya, dia mencobanya dengan cara mentreknya dengan 3-4 ekor burung. Bagaimana perilakunya saat bertemu lawan hingga variasi lagu maupun tembakannya, perlu dilihat.


"Diusahakan ya kita pilih yang ngeroll-lah, sesekali nembak. Tinggal kita melengkapi variasi lagu lainnya," ungkapnya.


Setelah dibeli, burung kemudian dikondisikan. Yang lazim dilakukannya adalah burung dibikin mabung terlebih dahulu. Kroto diberikan full, juga jangkriknya.


Lewat proses masa mabung, maka kita akan mudah dalam menyeting pola pakannya. Atau dimulai dari titik nol lagi. Bahkan khusus Black Zombie, dia butuh waktu 6 bulan hingga burung mencapai kondisi top formnya.


Di saat pasca mabung itulah, stelan burung mulai ditata mulai dari pola eksfood jangkrik, kroto hingga ulat bambu, dan juga pola mandi dan pola waktu jemurnya. Untuk kebutuhan eksfood biasanya dia memberikan takaran dasar standar 5-5 ekor jangkrik. Pemberian kroto dilihat dari koridisi burung, Pun halnya dalam pemberian tambahan ulat bambu ataupun ulat hongkong.


Untuk kebutuhan mandi juga dipantau, cocoknya jam berapa burung sudah harus mandi, begitu juga penjemuran idealnya. Bahkan untuk mandi, disesuaikan kemauan burung. Khusus Black Zombie misalnya, justru lebih stabil kinerjanya di lapangan saat mandinya di malam hari. Biasanya dia menjemur tidak lama, 2-3 jam saja. Sesekali burung masuk kandang umbaran. Tambahan materi lagu atau isian bisa didekatkan ke burung colibri sebagai variasi suara burung. Juga didekatkan dengan burung pentet gacor sebagai tambahannya.


Nah jika burung sudah siap, bisa dicoba di latberan. Di sini dilihat apakah setingan sudah cocok atau belum. Kemudian dianalisis dan dicobakan pada latber berikutnya hingga ketemu setingan yang cocok dan pas.


Jadi beli burung di kios maupun dari lapangan tak masalah, buktinya kedua gacoannya bisa malang melintang meraih kemenangan di beragam even di Jabodetabek bahkan di Piala Raja masuk diposisi tiga besar.


Perlu kepintaran





[caption id="attachment_21275" align="alignleft" width="250" caption="Ibnu Nawawi Bali"][/caption]

Berburu gacoan di pasar burung atau outlet-outlet burung di pinggir jalan membutuhkan kepintaran tersendiri bagi si pembeli. Tanpa berbekal pemahaman perihal ciri-ciri bakalan yang bagus, tak akan bakal menemukan jago yang diinginkan. Padahal pasar burung sebenarnya bak permata di dalam lumpur, gudangnya bakalan-bakalan lomba yang membutuhkan cermatan orang-orang yang jeli memilih dan mengasahnya.


Nah ini lagi-lagi contoh jago yang moncer dan berasal dari pasar. Di Bali, anis merah Raja Semper yang pernah menjuarai final Jalak Bali Cup merupakan burung Pasar Sanglah. Love bird milik Dedi Bali berselang dua minggu diambil di pasar Sanglah dengan harga cuma 300 ribu juga berhasii menjuarai kelas love bird di Bali.


Ada lagi kenari-kenari yang seringkali diorbitkan oleh Ibnu Nawawi yang tinggal di Pasar Sanglah. "Kenari dan love bird lebib cepat bisa dikondisikan setelah diambil dari pasar," kata Ibnu.


Sedangkan burung-burung jenis lain, seperti anis merah, cendet, cucak hijau, tledekan, murai batu perlu mengalami proses rontok bulu dulu sebelum bisa dikondisikan secara sempurna.


Rata-rata burung pasar tetap butuh penyesuaian tangan majikannya dan lingkungan tinggalnya. Orientasi itu akan lebih baik dan mudah jika melalui masa rontok bulu terlebih dahulu. "Pasalnya saat rontok akan menjadi mudah untuk mensetup ulang," tambah Awi.


Berbeda dengan jenis kenari dan love bird. Awi yang sering nongkrong di pasar burung Malang jika mencari bakalan lomba atau terkadang datang ke peternak rumahan, hanya butuh sebulan untuk mengkondisikan sampai turun lomba. "Untuk mengintensifkan perawatan menjelang lomba paling butuh waktu seminggu lagi dan sudah langsung bisa dilombakan," ungkap Awi.


Memilih bakalan di pasar, kata Awi, memang harus tahu ciri burung yang bagus dan punya prospek ke depan. Sebut saja kenari. Selain mentalnya kelihatan lebih dibanding lainnya, juga didengar lagu yang dibawakan. “Mesti sesuai dengan pakem yang kita cari. Walaupun hanya dikeluarkan sebentar, itu sudah cukup dan tinggal memoles sedikit.”


Burung yang dijual di pasar, kata Awi, tidak akan terlihat istimewa. Hal ini disebabkan kondisi pasar yang tidak memungkinkan. Namun, bagi yang jeli melihatnya, tidak sedikit burung-burung pasar punya masa depan. Terlebih lagi kini banyak sekali penghobi rumahan yang menjual atau nitip burungnya ke pasar atau outlet yang terkadang punya dasaran berkualitas. Artinya, tinggal butuh rajin nongkrong di pasar saja jika kepingin mendapat burung bagus dengan barga miring.


Ada burung yang eks juara dijual murah di pasar lantaran tidak bisa ditampilkan kembali, namun tidak sedikit pula burung eks juara itu bisa tampil lagi di tangan perawat lain. "Keistimewaan belanja di pasar, harganya jelas lebih murah dibandingkan dengan berburu burung di latber, apalagi di lomba,” tegasnya. (Agrobur)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan tidak mengirim SPAM.
Terima kasih.