Rabu, 02 Juni 2010

Umbaran dan doping untuk burung lomba

Ada thread di kicaumania.org yang menggelitik saya untuk menulis lagi soal umbaran untuk burung lomba. Thread tersebut adalah tentang bagaimana membuat burung bisa bernyanyi 35 menit non-stop. Dan satu lagi, yang meski tidak berhubungan secara langsung adalah soal bagaimana membuat burung menjadi jawara.


Thread pertama ditulis oleh Om Cj (Yogi Suprayogi) dan satunya oleh Om ATM.


Pada thread tentang bagaimana burung bisa  bernyanyi non-stop 35 menit itu saya menulis perlunya stop umbaran dan stop kerodong-maniak sebagai berikut. (Sebaiknya baca dulu tulisan "8 dari 10 jawara tidak kenal umbaran" dan "Mengapa saya anti umbaran untuk burung lomba").


Percaya silakan tidak percaya ya mangga saja, namanya juga pendapat:


1. Jangan suka main umbaran. Nafas jadi kuat? Iya betul kali, tetapi Anda melombakan burung adalah melombakan suaranya. Bukan melombakan burung untuk berjumpalitan di sangkar karena terbiasa gerudak-geruduk di umbaran.




  • Burung yang diumbar (apalagi ekstrim) tidak rajin bunyi tetapi rajin "lari pagi".

  • Burung yang diumbar tidak pernah berlatih bunyi dalam waktu lama, tetapi mahir terbang dalam waktu lama.

  • Burung yang suka diumbar, sangat sensitif degan lambaian tangan. Ada tangan gerak sedikit saja, dia akan segera nabrak jeruji karena dia ingat sekali bahwa gerakan tangan majikan selama ini adalah pertanda agar dirinya terbang dari satu sisi sangkar umbaran ke sisi lainnya.

  • Burung umbaran tidak konsisten untuk mau nagen di satu tempat dan bernyanyi senyaring-nyaringnya.

  • Burung uimbaran = burung jelek; tidak akan pernah stabil dalam waktu lama (ya itu lagi-lagi menurut saya).


Contoh kasus: MB Alpacino Jr 1 dan Jr 6 yang terbiasa diumbar gerudak-geruduk oleh majikan lama (Mas Samino) terlalu banyak ulah kalau di arena lomba. Menjengkelkan. Alpacino Jr 5 yang sejak kecil di tempat saya kemudian ketika dioper ke Om Arief Sidoarjo tetap tanpa umbaran ("Saya manut Om Duto saja sejak dulu, bahkan kandang umbaran saya tidak punya," kata Om Arief) kalau di lapangan nyaris tidak pernah ngeruji. Nagen sepanjang waktu lomba/ latber, sampai para juri (khususnya di Latberan terakhir) bergerombol persis di bawah Alpacino Jr 5 mengagumi tembakan-tembakan dan tarian-di-tempat si Alpacino Siodarjo tersebut.


Itu adalah contoh kasus pada MB dari indukan yang sama, kualitas suara sama dan mental yang sama pula, tetapi dengan perlakuan yang berbeda. Karena itulah saya sudah berpesan dengan sangat kepada para majikan baru Alpacino 1 dan 6 untuk "STOP UMBARAN" dan memulai MB untuk berlatih bernyanyi dalam waktu lama dan bukan berlari-lari dalam waktu lama.


Contoh burung MB non-umbaran yang namanya sudah melejit dan selalu stabil di arena (kecuali masa mau masuk mabung atau baru saja mabung dan rekondisi belum full) adalah Suara Sakti. Tanya yang empunya, apakah Suara Sakti main umbaran?....


Nah ini memang khusus MB. Tetapi bagaimana burung lain? Hampir sama... Saya belum pernah mendengar jawara-jawara anis merah yang bisa turun di 4 sampai 5 kelas pada satu kali lomba tetap fit adalah hasil umbaran.


MB atau AM yang tahan banting bisa bernyanyi lama di arena adalah mereka yang biasa bernyanyi lama di rumah, bukan beterbangan lama di umbaran.


Kita melatih burung untuk bernyanyi, sebagai penyanyi, bukan sebagai petinju yang harus tajam jab-nya dan cepat langkahnya. Kalau petinju dilatih bernyanyi juga pasti fatal akibatnya. Pas bertinju dia membuka mulut untuk bernyanyi, pasti langsung rontok semua giginya ketika diterjang upper-cut lawan. Nggak percaya? Coba tanya Chris Jhon, hehehe...


2. Jangan kerodong-maniak.


Jika tidak ada keperluan untuk mengistirahatkan burung agar fit pada masa-masa menjelang lomba, atau melindungi dari terpaan angin malam hari, atau serangan rombongan nyamuk, burung tidak perlu main kerodong.


Kerodong cenderung membuat burung membisu dan karenanya tidak berlatih untuk selalu bernyanyi sepanjang hari. Para kerodong-maniak adalah pelatih burung untuk suka tidur.... Logikanya sama dengan main umbaran... bedanya, yang satu melatih burung jadi petinju, satunya melatih burung jadi pemalas.


DOPING UNTUK BURUNG


Pada thread ini saya menulis tentang "doping" begini:


Kalau ada yang penasaran, saya ada saran yang rada-rada menjerumuskan nih...  pakai doping saja agar burung jadi jawara. Nama tabletnya ******, produk dari ****farm Australia yang biasa untuk kuda, sapi dan merpati balap serta ayam aduan. Isinya, antara lain adalah steroid anabolik. (Titik-titik memang sengaja tidak saya tulis di sana).


Apa itu steroid anabolik?
Secara alamiah, steroid anabolik di dalam hewan atau juga manusia adalah apa yang biasa kita sebut testosteron (jantan dan betina sama-sama memproduksi ini, tetapi untuk jantan 20 kali lebih besar ketimbang betina).
Secara alamiah (mirip pada manusia) testosteron:




  • - menyebabkan "pecahnya" suara burung dan menyebabkan suara burung jantan menjadi dalam sekaligus melengking dan nyaring. Testosteron ini biasnya lebih banyak diproduksi ketika burung sudah beranjak dewasa (akil balik pada manusia).

  • - bertanggungjawab terhadap pembentukan warna jelas pada bulu, memaksimalkan pertumbuhan bulu, atau juga taji pada ayam dsb.

  • - membentuk dan memelihara struktur tulang

  • - membantu pembentukan sel-sel darah merah

  • - membentuk dan memelihara otot-otot

  • - mempertahankan daya juang, konsentrasi, keseimbangan mental, dan secara psikologis mempengaruhi mood (suasana hati) burung

  • - penentu bentuk sempurna tubuh/body burung.

  • - pemain utama pengatur hasrat dan fungsi seksual burung.


Testis sebagai penghasil testosteron pada burung jantan tidak selalu bisa memproduksi testosteron secara maksimal. Nah, oleh karena itulah agar burung bisa kerja maksimal pada waktu yang kita inginkan, kita beri dia steroid anabolik dari luar. Maka disuapilah si burung mak cup... cup.. cup atau disuntik mak juss... dengan steroid anabolik.


Nah karena pekerjaan pemberian testosteron pada hewan adalah tugas dokter hewan, maka untuk mengetahui rahasia yang tepat pemberian testosteron pada burung ya tanya saja ke dokter hewan. Kalau saya memberi resep di sini, pastilah saya akan disebut dokter hewan gadungan.


Yang jelas, kesalahan pada pemberian steroid anabolik akan berakibat fatal pada burung. Ya burung bisa tewas seketika ataupun perlahan-lahan setelah melalui masa ketergantungan yang panjang. Oleh karena itu saran saya pacu saja produksi testosteron alamiah di dalam tubuh burung dengan nutrisi dan sejumlah vitamin serta mnieral yang terukur secara tepat.


Untuk pemberian vitamin, mineral dan sebagainya itupun ada rahasia yang perlu Anda ketahui. Salah satu contoh misal adalah bahwa segala jenis vitamin D tidak akan pernah bisa diserap/diproses oleh metabolisme burung kecuali vitamin D3.


Sebenarnya masih ada tahasia lainnya soal memacu produktivitas testosteron melalui asupan makanan, tetapi ya mohon maaf, karena saya adalah bakul obat, tentunya itu merupakan rahasia dagang. Kalau dibuka semuanya, kan obat saya nggak laku... hwakakaka....


Nah itu teman-teman sedikit sharing atas pendapat saya pada forum kicaumania.org. Kalau belum gabung, silakan gabung.


Salam, Om Kicau

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan tidak mengirim SPAM.
Terima kasih.