Jumat, 26 Maret 2010

Harga burung, antara pasar burung Muntilan dan Ambarawa

[caption id="attachment_11780" align="alignleft" width="300" caption="Pasar Pon (Pasar Hewan) Ambarawa (Foto:http://kembarrabbit.blogspot.com)"][/caption]

Hunting burung di pasar burung, bagi penghobi burung adalah kesenangan tersendiri. Ada seni tersendiri. Baik seni menawar, maupun seni "mencuri dengar" suara burung yang belum sempat didengarkan penjualnya. Lho kok? Ya, itu ada cerita tersendiri. Saya sekarang mau cerita dulu tentang dua pasar burung yang terkenal masih "miring" harganya, alias lebih murah dibandingkan harga burung di tempat lain dan satu pasar lagi yang relatif sudah mahal dibanding di pasar burung kota lain. Dua pasar yang mau saya ceritakan adalah pasar burung Ambarawa dan pasar burung Muntilan. Keduanya di Jawa Tengah.


Saya sendiri sering heran, meskipun pasar burung Ambarawa berada di "pelosok" (Kecamatan Ambarawa masuk Kabupaten Semarang), justru di pasar itu sering ditemui burung-burung yang tidak bisa ditemukan di pasar burung yang lebih besar, Pasar Burung Depok Solo misalnya.


Di Pasar Amvarawa, pernah ada pedagang yang menjajakan Gouldamadine, Green Siskin dan Red Siskin (jenis finch/ gelatik), yang sering diburu penangkar untuk disilangkan dengan kenari. Di pasar yang berjarak sekitar 1 km dari Bawen, dan berada di sebelah timur Kota Ambarawa ini, juga sering banyak dijual burung-burung "jadi" dengan harga murah. Ada cucakrowo yang sudah gacor bahkan hanya dijual dengan harga Rp. 2,5 juta. Padahal kalau di Pasar Burung Depok atau di Pasar Burung Karimata Semarang misalnya, bisa jadi burung seperti itu sudah dibandrol Rp. 5 juta.


Di pasar burung Ambarawa, yang biasanya ramai pada pasaran Pon (penanggalan Jawa),  bisa kita dapati ayam hutan, tledekan atau sulingan, decu, kacer hitam dan beberapa jenis burung lokal dengan harga murah. Harga beberapa jenis burung yang saya sebut terakhir itu relatif murah karena memang burung-burung tersebut memiliki habitat di wilayah seputaran Ambarawa.


Namun Anda jangan berharap bisa mendapatkan harga murah untuk burung-burung baru/bakalan yang datangnya dari wilayah lain, misalnya bakalan anis merah, bakalan cucakrowo atau bakalan cucak hijau. Harga burung jenis-jenis itu bisa lebih mahal ketimbang Pasar Depok Solo atau Karimata Semarang. Anehnya, untuk burung-burung anis merah, cucak ijo atau cucakrowo yang relatif sudah jadi (jika pas tersedia), harga burung di sini lebih murah ketimbang harga burung jadi di pasar-pasar burung kota besar.


Mengapa harga burung yang sudah gacor justru murah di Ambarawa ketimbang di Solo misalnya? Ada kemungkinan disebabkan burung jadi memang "kurang peminatnya" di sana. Para penghobi di seputaran kota kecil itu, umumnya merasa lebih baik membeli bakalan dan kemudian membesarkannya atau menjadikannya gacor.


Tetapi ya itu, namanya penghobi burung kebanyakan mudah bosan dengan satu dua burung dan ingin memelihara burung lainnya. Ketika dana mepet atau terbatas, maka biasanya mereka menjual burung yang sudah jadi untuk mendapatkan dua-tiga ekor burung bakalan. Biasanya, burung yang sudah jadi itu dijual dengan harga "asal dapat dua-tiga burung bakalan". Artinya, mereka mau dibayar berapa saja yang penting dapat dana untuk membeli burung bakalan.


Penyebab kondisi itu antara lain juga karena kurangnya sarana latihan bersama para penghobi untuk mencoba burung-burung mereka. Dengan kerterbatasan kesempatan latihan bersama, maka di antara mereka sangat kurang kesempatan untuk berkomunikasi, misalnya untuk saling berjual-beli burung dengan "harga sesama penghobi". Karena itulah mereka terbiasa menjual burung ke pedagang di pasar. Harganya pun, seperti Anda tahu, akan diharga "bantingan" oleh pedagang di pasar burung.


Ya kalahnya penghobi burung memang pada "kesenangan" itu sendiri. Kalau kita punya keinginan membeli burung, wah semua "daya upaya" kita keluarkan. Begitu bosan dengan burung tertentu dan jatuh cinta ke burung lain, maka burung lama akan dijual murah asal bisa memperoleh dana tambahan untuk membeli burung baru yang sedang jadi idaman.


Pasar Muntilan


Nah sekarang saya mau cerita tentang pasar burung Muntilan. Pasar burung yang ramai pada hari pasaran Pon dan Kliwon (terutama jika jatuh hari Sabtu atau Minggu) ini, dulu juga memiliki karakter pengunjung dan pedagang yang sama dengan pasar burung Ambarawa. Dulu di pasar ini harga burung-burung jadi dan burung-burung lokal relatif murah. Namun sekarang ini, minimal menurut cerita Om Budi, kawan penghobi burung yang aseli Boyolali tetapi sekarang tinggal di Muntilan, harga burung di pasar Muntilan rata-rata sudah tinggi.


Menurut dia, para penghobi burung di seputaran Muntilan dan Magelang, sudah "mematok tinggi" harga burung. "Sekarang bawa uang satu juta rupiah untuk cari murai batu sumatera yang sudah bunyi nggak akan dapat," kata Om Budi.


Menurut Om Budi, terutama di pasar burung Magelang, kalau ada murai batu sudah bunyi, pedagang akan menawarkan dengan harga di atas Rp. 2 juta. "Penghobi burung Magelang rata-rata punya gengsi tinggi. Makanya harga burung di sana relatif tinggi, mengalahkan harga burung di Pasar Depok Solo," katanya.


Nah itulah cerita tentang dua pasar burung di Ambarawa dan Muntilan.


Mencuri kesempatan


Sekarang saya mau cerita seninya hunting burung di pasar dan kesenangan yang kita peroleh kalau kita berhasil mendapatkan burung bagus dengan harga murah. Hal ekstrim yang bisa saya ceritakan di sini adalah pengalaman saya membeli sepasang burung cucakrowo di Pasar Burung Karimata, di kios Pak Tholib (belakangan aktif jadi juri lomba di wilayah Jateng).


Waktu itu tahun 1992 atau 1993 saya tidak begitu pasti, harga bakalan cucak rowo masih Rp. 70.000/ekor. Saya saat itu benar-benar sedang gila dengan cucakrowo. Dan menumpuk beberapa ekor cucakrowo di rumah.


Begitu datang di Karimata dan saya belum sempat melihat-lihat burung, Pak Tholib sudah merangkul saya sambil berkata, "Mas, ada cucakrowo bagus. Pasangan. Lihat tuh," kata dia. Sayapun melihatnya dan dengan sedikit bersiul kedua burung cucakrowo itu mengangkat bunyi bersahutan. Baru mendengar sekilas, saya lalu bilang oke. Jadilah sepasang cucakrowo itu saya bayar Rp. 425.000.


Pendengaran saya mengatakan bahwa salah satu burung itu, yang betina, bersuara ropel meski saya hanya mendengar sekilas. Dan memang, burung yang bersuara murni ropel, akan terdengar ropelannya meski hanya baru angkatan dan meski juga sedang bersahutan dengan pasangannya (suara nggandheng).


Sesampai rumah, kedua burung itu saya pisah. Yah, benar ternyata. Yang betina bersuara full ropel. Keesokan harinya, yang jantan saya jual kembali ke Pak Tholib seharga Rp. 200.000. Artinya, saya beli betinanya Rp. 225.000. Tetapi saya tidak cerita mengenai burung itu ke Pak Tholib meski akhirnya belakangan dia tahu juga setelah diberitahu Pak Hartono, waktu itu Ketua PBI Sragen. Ceritanya begini....


Dua atau tiga hari setelah saya mendapat cucakrowo ropel, datang banyak sekali bakalan cucakrowo di tempat Pak Tholib. Karena dana kosong tetapi hati ngebet, maka saya pun pasang iklan jual burung di Suara Merdeka, koran tempat saya bekerja saat itu. "Dijual Cucakrowo ropel.... bla-bla-bla", maka berdatangnlah calon pembeli ke rumah saya di Banyumanik.


Banyak yang datang dengan kecele karena burung tidak juga mau bunyi karena seperti terlihat stress karena dipisah dari pasangannya. Atau burung hanya bunyi sebentaran dan mereka merasa tidak yakin kalau burung itu ropel. Ya sudah, silakan pergi, begitu kata saya dalam hati kalau ada orang yang tidak bisa menanda suara cucakrowo ropel tetapi pengin mendengar suara ropel. Percuma, pikir saya.


Datanglah kemudian calon pembeli yang belakangan saya tahu adalah Pak Hartono, Ketua PBI Sragen. "Mana burungnya Mas? tanyanya. Setelah saya tunjukkan burung cucakrowo yang mungil (ya burungnya relatif kecil untuk ukuran cucakrowo), kami ngobrol sembari menunggu cucakrowo bunyi.


Tak lama kemudian, cucakrowo itu pun mengangkat suara. Hanya terdengar sebentar, ya hanya angkatannya saja. Tetapi Pak Hartono langsung bangkit dari duduk dan bertanya, "harga pas berapa Mas?".  Saya ulangi lagi, "Itu sudah pas Pak, satu setengah juta," kata saya.


Tawar-menawar tak berlangsung lama dan harga deal tetap Rp. 1,5 juta rupiah. Yaah, akhirnya dapat juga dana untuk beli bakalan cucakrowo. Burung satu bisa saya gunakan untuk membeli lebih dari 20 burung cucakrowo bakalan.


Dan apa kata Pak Tholib setelah medengar cerita dari Pak Hartono ketika keduanya bertmu di Karimata? "Hoalah dasarrrr... iki jenenge bakul kapusan karo pembeli (dasar... ini namanya pedagang ketipu sama pembeli)," sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.


Saya hanya bisa terbahak-bahak sambil tidak lupa memberi lagi "persen" ke Pak Tholib Rp. 100.000 (yang saat itu bisa untuk membeli bakaln cucakrowo plus kandang yang bagus). Saya perlu memberi dia tips agar kali lain kalau dia punya "burung bagus" akan ditawarkan pertama kali ke saya dulu sebelum ditawarkan ke orang lain.


Nah itu cerita menyenangkan hunting burung di pasar burung.


Sedangkan cerita tidak menyenangkannya walah... banyak juga, tetapi tidak perlu saya cerita di sini, hehehe malu-maluin. Yang jelas, hari-hari pertama mengenal Pasar Burung Karimata Semarang, saya dan isteri kena tipu penjual poksay betina yang dibungkus kardus seharga Rp. 75.000. Bukan hanya sekali, tetapi dua kali....hwahahahaha... celaka dua belas!!! (OmKicau)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silakan berkomentar dengan tidak mengirim SPAM.
Terima kasih.